Materi Khutbah Jumat Bahaya Legalisasi Khamr

2 2,054

Materi Khutbah Jumat
Bahaya Legalisasi Khamr

Oleh: Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.I

 

 

*) Link download PDF materi khutbah Jumat ada di akhir tulisan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَإنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد

Segala puji bagi Allah Ta’ala menjelaskan halal haram bagi hamba-Nya, supaya ia bisa memilih mana yang dan meninggalkan yang buruk.

Allah berfirman,

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ اِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ اِلَيْهِ ۗوَاِنَّ كَثِيرًا لَّيُضِلُّوْنَ بِاَهْوَاۤىِٕهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗاِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِيْنَ

Padahal Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya kepadamu, kecuali jika kamu dalam keadaan terpaksa. Dan sungguh, banyak yang menyesatkan orang dengan keinginannya tanpa dasar pengetahuan. Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-An’am: 119)

Shalawat dan salam semoga tercurah untuk baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menyampaikan pengajaran yang jelas dalam perkara halal dan haram.

Sebagaimana sabdanya,

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas, di antara keduanya ada perkara syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.” (HR. Muslim)

Mari kita semua berusaha untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla dengan jalan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran: 102)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Allah Pemilik Syariat Halal Haram Serta Hikmahnya

Syariat Allah subhanahu wata’ala telah menjelaskan perkara halal dan haram kepada manusia secara jelas dan gamblang. Segala perkara yang diharamkan dan dilarang itu pasti berlawanan dengan perkara yang diperbolehkan.

Semuanya sebagai bentuk ujian bagi manusia, apakah ia bersedia memilih yang halal lagi baik atau justru lebih condong kepada yang haram lagi buruk.

Allah berfirman,

وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Allah subhanahu wata’ala mengharamkan zina dan menghalalkan nikah, mengharamkan riba dan membolehkan jual beli, mengharamkan khamr dan menghalalkan semua makanan dan minuman yang baik.

Manakala manusia mau berpegang teguh kepada syariat Islam ini, maka tidaklah mereka tertimpa kekacauan dan ketakutan dalam hidup, dan tidak pula mereka mengeluhkan akan kekurangan dan kelaparan.

Karena tidaklah manusia lebih memilih sesuatu yang dilarang Allah melainkan akan menimbulkan kerusakan.

Allah berfirman,

اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS. Al-Maidah: 91)

 

4 Tahapan Syariat Pengharaman Khamr

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Tentang pengharaman khamr, ia merupakan perkara yang berat bagi bangsa arab pada waktu itu.

Sebagaimana Sahabat Anas bin Malik pernah berkata, “Saat khamr diharamkan, tidak ada suatu perkara yang membuat mereka terkejut kecuali hal itu. Dan tidak ada pengharaman yang paling berat (menerimanya) kecuali khamr.”

Bangsa arab sudah sangat akrab dengan khamr. Bagi mereka, minum khamr itu ibarat minum teh bagi orang sekarang, di mana di setiap rumah menyediakan. Di setiap perkumpulan menjadi suguhan. Di setiap perayaan menjadi pelengkapnya. Bahkan ia menjadi kebanggaan masyarakat Arab zaman dahulu.

Dikarenakan khamr menjadi sesuatu yang dicintai, bahkan dibanggakan oleh bangsa arab, setiap waktu mereka meminumnya.

Maka di antara hikmah Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya adalah mengharamkan khamr secara bertahap (tadarruj). Hal itu supaya mereka tidak merasakan keberatan sehingga dalam melaksanakannya didasari pada kesadaran.

Allah berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ

Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama.” (QS. Al-Hajj: 78)

Firman-Nya yang lain,

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Tahapan pengharaman khamr terjadi dalam beberapa fase berikut ini.

Fase Pertama: Tidak ada anjuran, belum ada larangan

Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَمِنْ ثَمَرٰتِ النَّخِيْلِ وَالْاَعْنَابِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْهُ سَكَرًا وَّرِزْقًا حَسَنًاۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.” (QS. An-Nahl: 67)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan dua perkara, di mana dalam hal khamr Allah mendiamkannya sementara dalam rezeki yang baik Allah menjelaskan sifat baiknya.

Ini menunjukkan secara halus akan tercelanya minuman khamr akan tetapi masih tetap diperbolehkan.

Fase Kedua: Penegasan dampak negatif khamr lebih besar dari manfaatnya

Sebagaimana dalam firman-Nya,

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)

Fase Ketiga: Pelarangan dalam satu keadaan dan belum dilarang dalam keadaan lain

Sebagaimana dalam firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ

Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan.” (QS. An-Nisaa’: 43)

Fase Keempat: Pernyataan tegas hukum haram khamr

Sebagaimana dalam firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 90)

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”  (QS. Al-Isra’: 70)

Ayat di atas menjelaskan akan keutamaan manusia atas makhluk lainnya dengan akal yang ada pada dirinya. Dengan itu pula beban melaksanakan syariat jatuh kepadanya.

Dari sinilah syariat benar-benar memerhatikan masalah penjagaan akal, di samping penjagaan terhadap alasan pensyariatan lainnya baik penjagaan agama, jiwa, harta, dan kehormatan.

Syariat melarang keras untuk merusak akal, bahkan terdapat ancaman hukuman pada hal tersebut. Karena manusia yang hidup tanpa akal dalam dirinya, tak ubahnya seperti binatang yang hanya memperturutkan nafsu.

Di dunia, orang yang meminum khamr telah ditetapkan hukuman bagi mereka. Apabila ada seorang mukalaf berada dalam keadaan tidak terpaksa meminum khamr, sedangkan ia tahu bahwa yang ia minum adalah khamr, maka ia dicambuk empat puluh kali.

Jika perlu, hakim boleh menambahnya hingga delapan puluh kali. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah yang mencambuk peminum khamr 40 kali. Sahabat Abu bakar juga mencambuk peminum khamr 40 kali. Umar mencambuk peminum khamr 80 kali.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا سَكِرَ فَاجْلِدُوهُ، ثُمَّ إِنْ سَكِرَ فَاجْلِدُوهُ، ثُمَّ إِنْ سَكِرَ فَاجْلِدُوهُ ثُمَّ قَالَ فِي الرَّابِعَةِ: فَاضْرِبُوا عُنُقَهُ

Apabila ada seorang yang mabuk, maka cambuklah ia, apabila mengulangi maka cambuklah ia. Kemudian beliau bersabda pada kali yang keempat: Apabila ia mengulanginya maka penggalah lehernya.” (HR. Nasa’i No. 5662)

Orang yang tercela lantaran khamr tidaklah hanya peminumnya atau orang yang menjualnya, akan tetapi ada sepuluh golongan manusia yang terlaknat karena khamr.

Artikel Sejarah: Membaca Sejarah Mazhab Fikih dalam Islam

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لُعِنَتْ الْخَمْرُ عَلَى عَشَرَةِ أَوْجُهٍ بِعَيْنِهَا، وَعَاصِرِهَا، وَمُعْتَصِرِهَا، وَبَائِعِهَا، وَمُبْتَاعِهَا، وَحَامِلِهَا، وَالْمَحْمُولَةِ إِلَيْهِ، وَآكِلِ ثَمَنِهَا، وَشَارِبِهَا، وَسَاقِيهَا

Khamr dilaknat pada sepuluh hal; pada zatnya, pemerasnya, orang yang memerasnya untuk diminum sendiri, penjualnya, pembelinya, pembawanya, orang yang meminta orang lain untuk membawanya, orang yang memakan hasil penjualannya, peminumnya dan orang yang menuangkannya.” (HR. Ibnu Majah No. 3380)

Sementara di akhirat ia mendapatkan ancaman hukuman, di antaranya adalah terhalang untuk masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌّ، وَلَا مَنَّانٌ، وَلَا مُدْمِنُ خَمْرٍ

Tidak akan masuk surga orang yang durhaka kepada orangtua, orang yang suka menyebut-nyebut pemberian, dan pecandu khamr.” (HR. Ad-Darimi No. 2139)

Dalam hadits lain disebutkan,

ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَقَاطِعُ الرَّحِمِ، وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ، وَمَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ، سَقَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ، قِيلَ: وَمَا نَهْرُ الْغَوْطَةِ؟ قَالَ: نَهْرٌ يَخْرُجُ مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِمْ

Tiga golongan yang tidak akan masuk surga; Pecandu khamr, pemutus silaturahmi, orang yang mempercayai sihir. Barang siapa meninggal dunia sebagai pecandu khamr maka Allah akan memberinya air dari sungai Ghuthoh. Ada yang bertanya: Apakah itu sungai ghuthoh? Sungai yang (airnya) mengalir dari kemaluan wanita pezina, yang mana baunya dapat mengganggu para penghuni neraka.” (HR. Ibnu Hibban No. 5346)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Di antara maksud daripada syariat itu diturunkan kepada manusia adalah agar memperoleh maslahat dan terhindar dari mafsadat.

Demikian halnya dalam pengharaman khamr, di sana ada maksud intinya yaitu menghindarkan manusia dari mafsadat yang ada pada khamr. Meskipun jika seseorang mengatakan hanya mengonsumsi dengan kadar yang sedikit hingga tidak sampai memabukkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,

كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، وَمَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ، فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ

Setiap yang memabukkan haram hukumnya dan setiap yang memabukkan sedikit atau banyaknya adalah haram.” (HR. Ibnu Majah No. 3392)

4 Dampak Kerusakan dari Khamr

Maka di antara kerusakan yang ditimbulkan manakala khamr atau yang disebut miras ini dikonsumsi atau dengan sengaja dilegalkan adalah sebagai berikut.

Khamr membuka pintu kerusakan

Manakala khamr dikonsumsi secara bebas bahkan dilegalkan, maka bersiaplah akan munculnya kerusakan-kerusakan lain, seperti perjudian akan merajalela, perzinaan di mana-mana, pembunuhan tidak bisa dibendung lagi.

Sahabat Abu Darda’ berkata bahwasanya kekasihku memberiku wasiat :

وَلَا تَشْرَبْ الْخَمْرَ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ

Dan janganlah engkau meminum khamr sesungguhnya ia adalah pintu segala macam keburukan.” (HR. Ibnu Majah No. 4034)

Khamr dapat menghapus amal shalih

Meminum khamr termasuk dari perbuatan dosa besar yang dapat menghapus kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَمْ يَقْبَلْ اللَّهُ لَهُ صَلَاةً أَرْبَعِينَ صَبَاحًا

Barangsiapa yang meminum khamr maka Allah tidak akan menerima sholatnya empat puluh hari. (HR. Ahmad No. 21502)

Khamr menjadi pemicu pertikaian antara manusia

Jika manusia akalnya telah dikuasai oleh pengaruh khamr maka hal tersebut dapat memicu terjadinya pertikaian hingga berujung pembunuhan. Maka bagaimanakah jadinya masyarakat manakala di dalamnya terus terjadi pertikaian atau permusuhan satu sama lain.

Allah berfirman,

اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS. Al-Maidah: 91)  

Khamr dapat menghapus kesempurnaan iman

Iman dalam diri adalah yang mendorong seseorang untuk taat dan patuh terhadap semua aturan-aturan Allah, selanjutnya ia pula yang dapat menjadikan seseorang kuat mengekang hawa nafsunya. Tidaklah setiap dosa dan pelanggaran itu dilakukan kecuali karena keimanan yang sedang menurun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Tidaklah seorang pezina ketika ia berzina itu dalam keadaan mukmin, dan tidaklah ia meminum khamr ketika meminumnya dalam keadaan mukmin, dan tidaklah seorang pencuri ketika ia mencuri itu ia dalam keadaan mukmin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Demikian materi khutbah Jumat ini kami sampaikan, semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari bahaya minuman keras yang memabukkan dan semoga Allah menghalangi serta membatalkan makar orang-orang yang ingin melegalkannya. Amin

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

 

 

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat dakwah.id
Bahaya Legalisasi Khamr
di sini:

DOWNLOAD PDF

Semoga bermanfaat!

Materi Khutbah Jumat Sebelumnya:
Petaka Ketiadaan Ulama di Tengah Umat

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat
2 Komen
  1. Carno berkata

    Jazaakumullah
    Terimakasih atas terbitnya ini saya sangat terbantu dengan materi khutbah Jum’at yang update dimasyarakat…
    Sekali ijinkan materi materi jadi referensi
    Khutbah

    1. Sodiq Fajar berkata

      Alhamdulillah, semoga manfaatnya hingga menyentuh pelosok negeri.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.