materi khutbah jumat Memuliakan Ramadhan ala Ulama Salaf dakwah.id

Khutbah Jumat: Memuliakan Ramadhan ala Ulama Salaf

Terakhir diperbarui pada ·

Materi khutbah Jumat berjudul Memuliakan Ramadhan ala Ulama Salaf ini mengulas cara generasi salaf dan para ulama besar dalam mengagungkan bulan Ramadhan. Pemateri memaparkan tiga teladan utama, dimulai dari para sahabat Nabi yang tekun berdoa memohon perjumpaan dengan bulan suci serta diterimanya amal mereka.

Selain itu, dijelaskan pula disiplin Imam Malik yang menghentikan majelis hadis demi berfokus pada tilawah Al-Quran, serta kegigihan Imam Syafii yang mengkhatamkan Al-Quran berkali-kali selama sebulan.

Naskah khutbah Jumat terbaru ini mengajak umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah personal dan memprioritaskan interaksi dengan kitab suci sesuai momentum syar’i.

Secara keseluruhan, teks khutbah Jumat ini bertujuan memotivasi jamaah agar tidak hanya menahan lapar, tetapi juga meneladani kesungguhan spiritual para pendahulu yang saleh.

Khutbah Jumat
Memuliakan Ramadhan ala Ulama Salaf

Pemateri: Ustadz Zaki Abu Barbarosa

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْكَرِيمِ الْمَنَّانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْنَا مِنْ إِدْرَاكِ شَهْرِ الصِّيَامِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَاهْتَدَى بِسُنَّتِهِ وَهُدَاهُ.

أَيُّهَا الصَّائِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا، فَاتَّقُوا رَبَّكُمْ تَعَالَى وَأَطِيعُوهُ، وَاعْمُرُوا أَوْقَاتَكُمْ بِمَا يُرْضِيهِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah subhanahu wataala, Rabb semesta alam, yang senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga pada hari yang mulia ini kita dapat berkumpul di rumah-Nya untuk menunaikan ibadah Jumat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, teladan umat, pembawa risalah rahmat, yang telah membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kesesatan menuju jalan hidayah.

Jamaah yang dimuliakan Allah

Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa adalah bekal terbaik menuju akhirat. Takwa adalah cahaya bagi hati yang gelap. Takwa adalah jalan menuju surga yang penuh kenikmatan dan ridha Allah.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah waktu terbaik untuk menanam amal, melipatgandakan pahala, dan memperbaiki kualitas diri. Generasi pilihan umat ini, para sahabat dan ulama salaf, menyambut Ramadhan dengan persiapan dan kesungguhan yang istimewa.

Orang-orang saleh terdahulu tidak menjalani Ramadhan sebagaimana hari-hari biasa. Mereka menyusunnya dengan target, memperbanyak ibadah dengan penuh kesungguhan, serta menjaga keikhlasan agar amalnya diterima. Ramadhan bagi mereka adalah proyek tahunan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan meningkatkan derajat ketakwaan.

Teladan Salaf dalam Memuliakan Ramadhan

Lalu, bagaimana teladan nyata mereka dalam meraih keberkahan Ramadhan?

Pada kesempatan khutbah Jumat siang ini, khatib akan menyampaikan tiga teladan salaf dalam memuliakan Ramadhan yang patut kita renungkan dan amalkan. Yakni teladan dari sahabat Nabi, Imam Malik, dan teladan dari Imam Syafii rahimahullah.

Pertama: Para Sahabat Berdoa 6 Bulan Agar Dipertemukan Ramadhan

Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah

Teladan pertama adalah, para sahabat berdoa 6 bulan lamanya agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Sebaik-baik generasi adalah generasinya para sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari hadits nomor 3651 dan imam Muslim hadits nomor 2533,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sezamanku), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka.

Imam an-Nawawi berkata, dalam Syarh Shahih Muslim hlm. 85,

فِيهِ تَفْضِيلُ هَذِهِ الْقُرُونِ الثَّلَاثَةِ، وَفَضِيلَةُ الصَّحَابَةِ ثُمَّ التَّابِعِينَ ثُمَّ أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ

Hadits ini menunjukkan keutamaan tiga generasi tersebut, yaitu sahabat, kemudian tabiin, kemudian tabiut tabiin.”

Hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam dan keterangan Imam Nawawi di atas menunjukkan bahwa generasi terbaik adalah generasi sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Terbaik dan unggul dalam hal apapun.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam kitab Fathul Bari jilid 7 halaman 5, “Keutamaan mereka karena kuatnya iman, kedekatan dengan wahyu, kemurnian akidah, minimnya bid’ah, besarnya pengorbanan dalam membela Islam.”

Maka dari itu, jamaah sekalian, sahabat unggul dalam segala bidang, salah satunya ibadah. Para sahabat sangat berharap jauh sebelum Ramadhan tiba agar bisa dipertemukan dengannya. Mereka sudah menanti-nanti 6 bulan sebelum Ramadhan.

Khutbah Jumat Singkat: Menyambut Ramadhan Syahrun Mubarak

Dalam kitab Lathaif al-Maarif halaman 148 terdapat sebuah riwayat tentang kerinduan mereka dalam momen penantian Ramadhan,

كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

Mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan berikutnya berdoa agar amal mereka diterima.”

Ibnu Rajab mencantumkan atsar ini dalam konteks penjelasan tentang perhatian besar salaf terhadap Ramadhan, khususnya pada aspek persiapan sebelum Ramadhan dan kekhawatiran terhadap qabul al-amal (diterimanya amal).

Dengan demikian, riwayat ini dipahami sebagai deskripsi historis mengenai semangat ibadah salaf, bukan dalil normatif yang berdiri sendiri, namun selaras dengan prinsip Qur`ani bahwa Allah hanya menerima amal dari orang-orang bertakwa sebagaimaan dalam al-Quran Surat al-Ma’idah: 27.

Riwayat ini menunjukkan adanya kesadaran spiritual jangka panjang terhadap Ramadhan. Orientasi mereka bukan hanya menjalankan ibadah, tetapi memastikan amal tersebut diterima (maqbul). Senada dengan itu, al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Kitab al-Ikhlas halaman 55–56,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ جَمَعَ إِحْسَانًا وَخَشْيَةً، وَإِنَّ الْمُنَافِقَ جَمَعَ إِسَاءَةً وَأَمْنًا

Sesungguhnya seorang mukmin menggabungkan antara amal kebaikan dan rasa takut (tidak diterima), sedangkan orang munafik menggabungkan antara keburukan dan rasa aman.”

Oleh karena itu, meneladani semangat sahabat dalam menyambut dan menghidupkan Ramadhan bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan upaya mengikuti generasi terbaik yang telah dipuji oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits sahih di awal.

Dengan demikian, semangat dan antusiasme para sahabat dalam Ramadhan merupakan teladan normatif yang diperkuat oleh nash hadits sahih dan penegasan para ulama sepanjang sejarah Islam.

Kedua Imam Malik Menghentikan Majelis Hadits di Bulan Ramadhan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Teladan kedua dari Imam Malik yang menghentikan mejelis hadis di bulan Ramadhan.Imam Malik adalah pendiri mazhab Maliki dan salah satu imam empat mazhab fikih Ahlus Sunnah. Beliau lahir dan wafat di Madinah, serta dikenal sebagai Imam Darul Hijrah.

Karya monumentalnya adalah al-Muwatta’, salah satu kitab hadits dan fikih tertua dalam Islam. Para ulama seperti Imam asy-Syafi‘i memuji beliau dengan berkata sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah halaman 333, “Apabila disebut nama ulama, maka Malik adalah bintangnya.”

Ramadhan adalah bulan al-Quran karena pada bulan inilah Kitabullah diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Oleh sebab itu, para ulama salaf menjadikan tilawah dan tadabbur al-Quran sebagai prioritas utama selama Ramadhan.

Mereka memahami bahwa setiap waktu memiliki ibadah yang paling utama, dan di bulan ini ruhnya adalah al-Quran. Dari prinsip inilah kita memahami sikap Imam Malik rahimahullah ketika memasuki Ramadhan.

Imam Malik ketika memasuki Ramadhan beliau meninggalkan kesibukannya, bahkan beliau menghentikan kegiatan majelis ilmu dan hadits. Beliau sendiri lebih menyibukkan diri dengan membaca al-Quran.

Hal ini sebagaimana riwayat tentang Imam Malik di bulan Ramadhan yang dikutip dalam kitab Latha’if al-Ma’arif halaman 141,

كَانَ مَالِكٌ إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فَرَّ مِنْ قِرَاءَةِ الْحَدِيثِ وَمُجَالَسَةِ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَأَقْبَلَ عَلَى قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ مِنَ الْمُصْحَفِ

Apabila masuk bulan Ramadhan, Imam Malik meninggalkan pembacaan hadits dan majelis ilmu, lalu beliau fokus membaca al-Quran dari mushaf.”

Praktik Imam Malik menunjukkan prinsipfikih al-awlawiyyat (prioritas ibadah). Meskipun majelis hadits adalah amal mulia, namun karena Ramadhan adalah bulan al-Quran, maka beliau memfokuskan diri pada tilawah. Ini bukan meremehkan ilmu, tetapi menempatkan ibadah sesuai momentum syar‘i.

Ketiga: Imam Asy-Syafi’I Khatam Al-Quran 60 Kali selama Ramadhan

Hadirin sidang shalat Jumat yang berbahagia

Dan teladan ketiga dari Imam asy-Syafi’i yang khatam al-Quran 60 kali selama Ramadhan. Ia bernama lengkap Muḥammad bin Idris bin al-‘Abbas asy-Syafi‘i al-Muttalibi al-Qurasyi, lahir di Gaza tahun 150 H dan wafat di Mesir tahun 204 H.

Imam asy-Syafi’i adalah pendiri mazhab Syafi‘i dan dikenal sebagai peletak dasar ilmu ushul fikih melalui karya monumentalnya ar-Risalah. Beliau belajar kepada Imam Malik di Madinah dan menjadi salah satu imam besar Ahlus Sunnah.

Ramadhan bagi para imam besar adalah bulan kembali sepenuhnya kepada al-Quran. Jika Imam Malik memprioritaskan tilawah, maka Imam asy-Syafi‘i menunjukkan kesungguhan yang lebih menakjubkan lagi. Beliau menjadikan Ramadhan sebagai musim intensif bersama Kalamullah. Dari sinilah tampak bagaimana para ulama memuliakan bulan suci dengan amal terbaiknya.

Terdapat banyak kisah tentang kesungguhan ibadah Imam asy-Syafi’i, termasuk banyaknya tilawah di bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa kesibukan ilmiah tidak menghalangi beliau untuk memperbanyak ibadah personal. Sebagaimana riwayat dari al-Baihaqi dalam Manaqib asy-Syafi’i halaman 255 tentang jumlah khataman Imam asy-Syafi’i di bulan Ramadhan,

كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ خَتْمَةً

Imam asy-Syafii mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadhan sebanyak enam puluh kali.”

Berdasarkan riwayat di atas, amal yang dilakukan oleh Imam asy-Syafi’I menjadi teladan bagi kita. Perbuatan beliau menunjukkan bahwa pada bulan Ramadhan para imam dan ulama sangat antusias dan semangat dalam menjalaninya. Bahkan, mereka menjadikkanya sebagai ajang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Hadits Puasa #6: Keutamaan Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan

Teladan mereka sesuai sekali dengan perkataan Imam an-Nawawi dalam at-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur-an halaman 74, “Dianjurkan memperbanyak tilawah al-Quran pada waktu-waktu yang mulia, terlebih lagi pada bulan Ramadhan.”

Keteladanan Imam asy-Syafi‘i dalam mengkhatamkan al-Quran enam puluh kali pada bulan Ramadhan menunjukkan tiga hal utama: (1) Kecintaan mendalam terhadap al-Quran, (2) pemahaman terhadap keutamaan waktu, dan (3) kesungguhan dalam memanfaatkan musim pahala.

Beliau adalah ulama besar yang tetap menempatkan ibadah personal sebagai prioritas di bulan mulia. Teladan ini mengajarkan bahwa kesibukan dunia, bahkan kesibukan ilmu sekalipun, tidak boleh mengurangi kedekatan seorang mukmin dengan al-Quran di bulan Ramadhan.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Ramadhan bukan sekadar kewajiban tahunan, tetapi momentum agung yang dimuliakan secara luar biasa oleh generasi terbaik umat ini. Para sahabat menunjukkan kesungguhan dengan mempersiapkan diri sebelum Ramadhan dan merasa cemas apakah amal mereka diterima.

Imam Malik mencontohkan prioritas yang tepat dengan memusatkan perhatian pada tilawah al-Quran, sementara Imam asy-Syafi‘i memperlihatkan intensitas ibadah yang tinggi dengan memperbanyak khataman.

Ketiganya menggambarkan satu benang merah, yaitu memahami keutamaan waktu, menguatkan hubungan dengan al-Quran, serta menggabungkan amal saleh dengan rasa takut kepada Allah. Inilah teladan konkret bagaimana meraih keberkahan Ramadhan secara utuh dengan ilmu, kesungguhan, dan ketundukan hati.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا طَيِّبًا كَثِيرًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِيْ الصُّدُوْرُ، وَاغْفِرْ اَللَّهُمَّ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ شَهْرَ عِزٍّ، لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ شَهْرًا لِلنَّصْرِ وَالتَّمْكِيْنِ لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، فِيْ كُلِّ مَكَانٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Memuliakan Ramadhan ala Ulama Salaf
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading