Materi khutbah Jumat Menjadi Hamba Rabbani Pasca Ramadhan karya Ustadz Zaki Abu Barbarosa ini memotivasi umat Muslim untuk menjadi hamba Rabbani yang konsisten beribadah setelah bulan Ramadhan berakhir.
Penulis menekankan bahwa bukti keberhasilan ibadah puasa terletak pada keistikamahan seseorang dalam menjaga ketaatan di bulan-bulan berikutnya.
Terdapat tiga langkah utama yang diuraikan untuk mencapai derajat tersebut, yaitu menjaga shalat berjamaah, senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran, serta memurnikan niat dan keikhlasan dalam setiap amal perbuatan.
Penjelasan ini didukung oleh berbagai kutipan ayat suci, hadits, serta keteladanan para ulama salaf dalam mengamalkan ilmu mereka. Inti dari pesan ini adalah ajakan untuk tidak menjadi penyembah bulan tertentu, melainkan menjadi hamba Allah yang setia sepanjang hayat.
Melalui panduan ini, jamaah diharapkan mampu mempertahankan kualitas iman dan takwa yang telah dibentuk selama masa pelatihan di bulan suci.
Materi Khutbah Jumat
Menjadi Hamba Rabbani Pasca Ramadhan
Pemateri: Ustadz Zaki Abu Barbarosa
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِيمَانِ، وَزَيَّنَ قُلُوبَنَا بِالْقُرْآنِ، وَجَعَلَ الطَّاعَةَ سَبَبًا لِلرِّضْوَانِ، وَالْمَعْصِيَةَ سَبَبًا لِلْخُسْرَانِ، نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنَجِّينَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْأَهْوَالِ وَالْأَحْزَانِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَقَامَ وَاسْتَقَامَ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِي الْفَضْلِ وَالْإِكْرَامِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْمُؤْمِنِينَ، وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ، وَبِهَا يَفُوزُ الْفَائِزُونَ، وَيَنْجُو الْمُتَّقُونَ، وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Marilah kita panjatkan puji dan syukur atas ke hadirat Allah subhanahu wata’ala, Tuhan semesta alam, yang senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada hari yang mulia ini kita dapat berkumpul di rumah-Nya untuk menunaikan ibadah Jumat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, teladan umat, pembawa risalah rahmat, yang telah membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kesesatan menuju jalan hidayah.
Jamaah yang dimuliakan Allah
Saya berwasiat kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa adalah bekal terbaik menuju akhirat. Takwa adalah cahaya bagi hati yang gelap. Takwa adalah jalan menuju surga yang penuh kenikmatan dan ridha Allah.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, dalam al-Quran Surat Ali Imran: 102,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Ramadhan belum lama meninggalkan kita. Seolah baru kemarin kita berdiri dalam shalat malam. Seolah baru kemarin lisan kita basah dengan al-Quran. Dan hati kita begitu dekat dengan Allah.
Para ulama salaf telah mengingatkan sebuah kaidah penting dalam kehidupan seorang mukmin. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Amradhul Qulub wa Syifa`iha halaman 39,
إِنَّ مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا وَإِنَّ مِنْ عُقُوْبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.
“Sesungguhnya tanda diterimanya suatu kebaikan adalah adanya kebaikan setelahnya,dan tanda ditolaknya adalah keburukan setelahnya.”
Maka jika setelah Ramadhan kita masih menjaga shalat, masih dekat dengan al-Quran, masih ringan bersedekah, itulah tanda bahwa Ramadhan kita berhasil. Namun jika kita kembali lalai, maka kita harus khawatir.
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Artinya, kita tidak boleh hanya menjadi hamba Allah di bulan Ramadhan saja, tetapi harus menjadi hamba-Nya sepanjang kehidupan. Maka dari itu, jadilah hamba pilihan Allah, sebagaimana yang terdapat pada firman-Nya, al-Quran Surat Ali Imran: 79,
وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ
“Jadilah kalian hamba-hamba Rabbani.”
Lalu siapa itu hamba Rabbani?
Hamba Rabbani adalah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qurtubi rahimahullah, dalam Tafsir al-Qurthubi, jilid 4, halaman 122,
فَمَعْنَى الرَّبَّانِيِّ الْعَالِمُ بِدِيْنِ الرَّبِّ الَّذِيْ يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ
“… orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.”
Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa hamba Rabbani adalah mereka yang berilmu, mengamalkan ilmunya, membimbing manusia, dan istikamah dalam ketaatan.
Baca juga: Jahiliyah Sebagai Sebuah Kondisi dan Sifat, Tidak Terbatas Pada Identitas Zaman dan Waktu
Namun perlu kita sadari, hamba Rabbani bukanlah yang rajin hanya di bulan Ramadhan, tetapi yang tetap taat setelahnya.
Maka pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar kita bisa menjadi hamba Rabbani setelah Ramadhan? Dan bagaimana agar kita tetap istikamah di luar bulan Ramadhan?
Maka pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungi bersama: 3 langkah nyata menjadi hamba Rabbani pasca Ramadhan.
Menjadi Hamba Rabbani Pasca Ramadhan
Jamaah Jumat rahimakumullah
Pertama: Menjaga Shalat
Langkah pertama untuk menjadi hamba Rabbani setelah Ramadhan adalah menjaga shalat, terutama shalat berjamaah.
Kenapa shalat?
Karena shalat adalah tiang agama, tanda pertama kedekatan seorang hamba dengan Allah, dan menjadi ukuran pertama keistikamahan seorang hamba.
Satu hal penting yang Allah janjikan bagi hamba yang melaksanakan shalat adalah akan dijauhkan dari sifat-sifat buruk dan kemaksiatan. Allah berfirman dalam Surat al-‘Ankabut: 45,
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
Perhatikan bagaimana para ulama menjaga shalat mereka. Diriwayatkan tentang Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah, beliau berkata,
مَا فَاتَتْنِي التَّكْبِيرَةُ الْأُولَى مُنْذُ خَمْسِينَ سَنَةً وَمَا نَظَرْتُ فِي قَفَا رَجُلٍ فِي الصَّلَاةِ مُنْذُ خَمْسِينَ سَنَةً
“Tidak pernah luput dariku takbiratul ihram selama 50 tahun, dan aku tidak pernah melihat punggung orang lain dalam shalat selama 50 tahun.” (Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hilyatul Auliya`, 2/163)
Artinya, selalu shalat berjamaah, ikut takbiratul ihram bersama imam, dan selalu shalat di shaf pertama selama 50 tahun.
Subhanallah, empat puluh tahun, tanpa meninggalkan shalat berjamaah. Kita baru satu bulan Ramadhan rajin ke masjid, namun setelah itu saf shalat mulai berkurang. Sedangkan para ulama, menjaga shalat berjamaah puluhan tahun. Sudah seharusnya kita menjadikan para ulama sebagai teladan.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Jika kita ingin menjadi hamba Rabbani, maka jangan tinggalkan shalat. Jika kita ingin menjaga iman setelah Ramadhan, maka jagalah shalat berjamaah. Karena bisa jadi, yang membedakan antara istikamah dan future, antara dekat dan jauh dari Allah adalah shalat kita.
Semoga Allah selalu menggerakkan hati dan langkah kita untuk senantiasa mendirikan shalat berjamah di masjid.
Kedua: Dekat dengan Al-Quran
Jamaah Jumat rahimakumullah
Langkah ke dua untuk menjadi hamba Rabbani pasca Ramadhan adalah senantiasa dekat dengan al-Quran.
Bukan hanya membaca al-Quran di bulan Ramadhan, tetapi menjadikannya sahabat sepanjang kehidupan. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Quran, Surat Al-Isra`: 9,
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ
“Sesungguhnya al-Quran ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus.”
Ayat ini menegaskan kepada kita, wahai jamaah sekalian, bahwa al-Quran bukan sekadar bacaan, tetapi petunjuk hidup. Maka siapa yang jauh dari al-Quran, sejatinya ia sedang menjauh dari arah hidup yang lurus.
Coba kita renungkan bersama. Di bulan Ramadhan, lisan kita basah dengan tilawah. Namun setelah Ramadhan berlalu, berapa banyak di antara kita yang masih membuka mushaf?
Apakah al-Quran masih kita baca, atau justru kita tinggalkan? Inilah ujian keimanan yang sebenarnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, hadits riwayat Muslim No. 804,
اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ.
“Bacalah al-Quran,karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”
Bayangkan, wahai jamaah… Di saat manusia sibuk dengan hisabnya masing-masing, al-Quran yang kita baca akan datang membela kita.
Tetapi pertanyaannya… sudahkah kita memberi kesempatan al-Quran untuk membela kita?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Para ulama terdahulu memberikan teladan yang luar biasa dalam kedekatan mereka dengan al-Quran.
Dikisahkan bahwa Imam an-Nawawi rahimahullah hampir tidak pernah menyia-nyiakan waktunya tanpa membaca atau mengkaji al-Quran. Bahkan beliau dikenal mampu mengkhatamkan al-Quran dengan sangat rutin di tengah kesibukannya sebagai ulama besar.
Artikel Fikih: Puasa Syawal Pengertian, Dalil, Hukum, Tata caranya
Ini menunjukkan kepada kita bahwa kesibukan bukan alasan untuk jauh dari al-Quran. Justru, orang yang sibuk dengan ilmu, seperti Imam an-Nawawi pun, tetap menjadikannya prioritas.
Oleh karena itu, ukuran keberhasilan Ramadhan kita bukan pada banyaknya ibadah kita saat bulan Ramadhan semata, tetapi juga pada seberapa kuat hubungan kita dengan al-Quran setelahnya.
Mulailah dari yang ringan. Satu halaman setiap hari, satu ayat dengan tadabur, namun istikamah. Karena hamba Rabbani adalah mereka yang hidupnya selalu dipandu oleh wahyu, bukan oleh hawa nafsu.
Ketiga: Menjaga Hati dan Keikhlasan dalam Beramal
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Langkah ketiga untuk menjadi hamba Rabbani setelah Ramadhan adalah menjaga hati dan keikhlasan dalam beramal.
Karena boleh jadi seseorang rajin beribadah, namun jika hatinya rusak, maka amalnya pun bisa gugur di sisi Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman, Quran Surat al-Bayyinah: 5,
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah).”
Para ulama tafsir menjelaskan, ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama seluruh ibadah adalah keikhlasan.
Imam Fahruddin ar-Razi rahimahullah, dalam Mafaatiihul Ghaib, jilid 32, halaman 243, ketika menafsirkan Surat al-Bayyinah: 5, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mukhlisina lahud-din adalah,
… فَيَأْتِي بِالْفِعْلِ لِوَجْهِهِ مُخْلِصًا لِرَبِّهِ، لَا يُرِيْدُ رِيَاءً وَلَا سُمْعَةً وَلَا غَرَضًا آخَرَ.
“… memurnikan seluruh amal hanya untuk Allah, tanpa dicampuri riya’, sum’ah, atau keinginan duniawi lainnya.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Coba kita tanyakan pada diri kita masing-masing, shalat yang kita lakukan, tilawah yang kita baca, sedekah yang kita keluarkan. Apakah benar semuanya karena Allah? Ataukah masih terselip keinginan ingin dipuji manusia?
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan dalam sabdanya, hadits riwayat Muslim, no. 2564, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
Maka yang Allah nilai bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apa yang ada di dalam hati kita.
Para ulama terdahulu sangat takut terhadap hilangnya keikhlasan. Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam Jami’al-’Ulum wal Hikam, halaman 41, meriwayatkan bahwa Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata,
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِيْ؛ لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perbaiki daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Perkataan ini mengajarkan kepada kita, jika ulama sebesar Sufyan ats-Tsauri saja masih merasa berat menjaga niatnya, lalu bagaimana dengan kita?
Maka setelah Ramadhan berlalu, jangan hanya menjaga amal, tetapi jagalah hati di balik amal itu. Perbaiki niat, luruskan tujuan, dan sembunyikan amal semampu kita.
Karena hamba Rabbani adalah mereka yang beramal bukan untuk dilihat manusia, tetapi untuk mendapatkan ridha Allah semata.
Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita semua hamba-hamba Rabbani pasca Ramadhan dan hamba-hamba yang senantiasa istikamah dalam beribadah.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ أَعْمَالِنَا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُومِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ بَعْدَ رَمَضَانَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَعْبُدُكَ فِي شَهْرٍ وَيَتْرُكُكَ فِي شَهْرٍ.
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ الْقَادِمَ، وَنَحْنُ فِي صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَإِيمَانٍ، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا أَعْوَامًا كَثِيرَةً وَأَزْمِنَةً مَدِيدَةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلِّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Download PDF Materi Khutbah Jumat
Menjadi Hamba Rabbani Pasca Ramadhan
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?