Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Imam Mazhab Mengimbau Umat Untuk Meninggalkan Pendapat yang Menyelisihi Sunnah

57

Abu Hanifah, Imam mazhab Hanafi

إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ؛ فَهُوَ مَذْهَبِيْ

Beliau berkata, “Jika suatu hadits itu shahih, itulah mazhabku.” (Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/63; Rasmul Mufti, 1/4; Majmu’ah Rasail Ibnu Abidin, 1/4)

 

Imam Abu Hanifah Berkata,

لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا؛ مَا لَمْ يُعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

“Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

حَرَامٌ عَلَى مَنْ لَمْ يَعْرِفْ دَلِيْلِي أَنْ يُفْتِيَ بِكَلَامِيْ

“Haram bagi orang yang belum mengetahui argumetasi (dalil) saya berfatwa dengan pendapat saya.”

(Al-Intiqa fi Fdhail ats-Tsalatsah al-Aimmah al-Fuqaha, Ibnu Abdil Barr, 145; I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 2/309; Hasyiyah al-Bahri ar-Raiq, Ibnu Abidin, 4/293; Rasmul Mufti, 29,32)

 

Imam Abu Hanifah berkata,

إِذَا قُلْتُ قَوْلاً يُخَالِفُ كِتَابَ اللهِ تَعَالَى، وَخَبَرُ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَاتْرُكُوْا قَوْلِي

“Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan al-Quran dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tinggalkanlah pendapatku itu.” (Al-Iqazh, Shalih Al-Fulani, 50)

 

Imam Malik bin Anas, Imam mazhab Maliki

Imam Malik bin Anas berkata,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ، فَاْنظُرُوا فِي رَأْيِي؛ فَكُلُّ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَخُذُوْهُ، وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَاتْرُكُوْهُ

“Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, tinggalkanlah.” (Ushul Ahkam, Ibnu Abdil Barr, 6/419; Al-Iqazh, Shalih Al-Fulani, 72)

 

Imam Malik bin Anas berkata,

لَيْسَ أَحَدٌ -بَعْدَ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِلَّا وَيَؤْخُذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيَتْرُكُ؛ إِلَّا النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tak seorangpun—setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—kecuali dapat diambil dan ditinggalkan perkataannya, kecuali hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Irsyadus Salik, Ibnu Abdil Hadi, 1/227; Al-Jami’, Ibnu Abdil Barr, 2/91; Ushulul Ahkam, Ibnu Hazm, 6/145)

Baca Juga: Wudhu Anda Sudah Benar? Mari Cek Di sini

Ibnu Wahab berkata, “Aku pernah mendengar Malik menjawab pertanyaan orang tentang menyela-nyela jari kaki dalam wudhu. Beliau menjawab, ‘Itu bukan urusan manusia.’ Ibnu Wahab berkata, Lalu aku tinggalkan beliau sampai orang-orang yang mengelilinginya tinggal sedikit. Kemudian aku berkata kepadanya, ‘Kita mempunyai hadits tentang hal tersebut.’ Imam Malik bertanya, ‘Bagaimana hadits tersebut?’ Aku menjawab, ‘Laits bin Sa’ad, Ibnu Luhai’ah, Amr bin Harits, meriwayatkan kepada kami dan Yazid bin Amr al-Mu’airifi, dari Abi Abdirrahman al-Habali, dari Mustaurid bin Syadad al-Qurasyiyi, ujarnya, ‘Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggosokkan jari manisnya pada celah-celah jari kaki beliau.’ Malik menyahut, ‘Hadits ini hasan, saya tidak mendengar ini sama sekali, kecuali kali ini.’

Kemudian di lain waktu aku mendengar ia ditanya orang tentang hal yang sama, lalu beliau menyuruh orang itu menyela-nyela jari kakinya.” (Al-Jarh wa at-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 31-32)

 

Imam Asy-Syafi’i, Imam Mazhab Syafi’i

Imam asy-Syafi’i berkata,

مَا مِنْ أحَدٍ إِلَّا وَتَذْهَبُ عَلَيْهِ سُنَّةً لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَعْزُبُ عَنْهُ، فَمَهْمَا قُلْتُ مِنْ قَوْلٍ، أَوْ أَصَّلْتُ مِنْ أَصْلٍ، فِيْهِ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَافُ مَا قُلْتُ؛ فَالْقَوْلُ مَا قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ قَوْلِي

“Setiap orang harus bermazhab dan mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apapun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah yang menjadi pendapatku.” (HR. Hakim dengan sanad yang bersambung kepada imam asy-Syafi’i, Tarikh Damsyiq, Ibnu Asakir, 15/1/3; I’lamul Muwaqqi’in, 2/363; Al-Iqadz, 100)

 

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّ مَنْ اِسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةً عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang.” (Ibnul Qayyim, 2/361; Shalih al-Fulani, 68)

 

إِذَا وَجَدْتُمْ فِيْ كِتَابِي خَلَافُ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَقُوْلُوا بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَدَعُوا مَا قُلْتُ

“Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, peganglah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dan tinggalkanlah pendapatku.” (Dzammul Kalam, Al-Haqi, 3/47/1; Al-Ihtijaj bi asy-Syafi’i, Al-Khatib, 8/2; Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 1/6)

 

إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ؛ فَهُوَ مَذْهَبِي

“Bila suatu hadits shahih, maka itulah mazhabku.” (Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 1/63; Asy-Sya’rani, 1/57; Al-Fulani, 100)

Baca Juga: Azimah; Hukum yang Boleh Ditinggalkan Karena Adanya Uzur

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِالْحَدِيْثِ وَالرِّجَالِ مِنِّي، فَإِذَا كَانَ الْحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ؛ فَأَعْلِمُوْنِي بِهِ – أَيْ شَيْءٌ يَكُوْنُ: كُوْفِيّاً، أَوْ بَصْرِياً، أَوْ شَامِياً -؛ حَتَّى أَذْهَبُ إِلَيْهِ إِذَا كَانَ صَحِيْحاً

“Kalian lebih tahu tentang hadits dan para perawinya daripada aku. Apabila suatu hadits itu shahih, beritahukanlah kepadaku biar di manapun orangnya, apakah di Kuffah, Bashrah, atau Syam, sampai aku pergi menemuinya.” (Ucapan Imam asy-Syafi’i kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Adabu asy-Syafi’i, 94-95; Al-Hilyah, Abu Nu’aim, 9/106; Al-Ihtijaj, Al-khatib, 8/1; Manaqib Imam Ahmad, 499)

 

كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلَافِ مَا قُلْتُ؛ فَأَنَا رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي، وَبَعْدَ مَوْتِي

“Bila setiap persoalan ada hadits shahihnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kalangan ahli hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati.” (Al-Hilyah, Abu Nu’aim, 9/107; Al-Harawi, 47/1; I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 2/363, Al-Iqadz, Shalih al-Fulani, 104)

 

إِذَا رَأَيْتُمُوْنِي أَقُوْلُ قَوْلاً، وَقَدْ صَحَّ عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَافُهُ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ عَقْلِي قَدْ ذَهَبَ

“Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, ketahuilah bahwa itu berarti pendapatku tidak berguna.” (Adabu asy-Syafi’i, Ibnu Abi Hatim, 93; Al-Amali, Abul Qasim as-Samarqandi, 1/234; Al-Hilyah, Abu Nu’aim, 9/106)

 

كُلُّ مَا قُلْتُ؛ فَكَانَ عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَافُ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ؛ فَحَدِيْثُ النَّبِي أَوْلَى، فَلَا تُقَلِّدُوْنِي

“Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hadits nabi lebih utama dan kalian jangan bertaklid kepadaku.” (Ibnu Abi Hatim, 93; Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir, 15/9/2)

 

كُلُّ حَدِيْثٍ عَنْ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَهُوَ قَوْلِي، وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوْهُ مِنِّي

“Setiap Hadits yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti itu pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya sendiri dariku.” (Ibnu Abi Hatim, 93-94)

 

Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Mazhab Hanbali

Ahmad bin Hanbal merupakan seorang imam yang paling banyak menghimpun hadits dan berpegang teguh padanya. Sehingga beliau benci menjamah kitab-kitab yang memuat masalah furu’ dan ra’yu. (Al-Manaqib, Ibnul Jauzi, 192)

 

لَا تُقَلِّدُنِي، وَلَا تُقَلِّدْ مَالِكاً، وَلَا الشَافِعِي، وَلَا الْأَوْزَاعِي، وَلَا الثَّوْرِي، وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا

“Janganlah engkau taklid kepadaku atau kepada Malik, asy-Syafi’i, Al-Auza’i, dan ast-Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113; I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 2/302)

 

لَا تُقَلِّدْ دِيْنَكَ أَحَداً مِنْ هَؤُلَاءِ، مَا جَاءَ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ؛ فَخُذْ بِهِ، ثُمَّ التَّابِعِيْنَ بَعْدُ؛ الرَّجُلُ فِيْهِ مُخَيَّرٌ

“janganlah kamu taklid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi’in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima).”

Baca Juga: Nalar Fikih Hukum Qashar Shalat Fardhu Seorang Muslim Saat Safar

 

اَلْاِتِّبَاعُ: أَنْ يَتْبَعَ الرَّجُلُ مَا جَاءَ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ أَصْحَابِهِ، ثُمَّ هُوَ مَنْ بَعْدَ التَّابِعِيْنَ مُخَيَّرٌ

“Yang disebut Ittiba’ yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sedangkan yang datang dari Tabi’in boleh dipilih.” (Masa’il Imam Ahmad, 276-277)

 

رَأْيُ الأَوْزَاعِي، وَرَأْيُ مَالِك، وَرَأْيُ أَبِي حَنِيْفَة؛ كُلُّهُ رَأْيٌ، وَهُوَ عِنْدِي سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْحُجَّةُ فِي الْآثَارِ

“Pendapat Al-Auza’i, Malik, dan Abu Hanifah adalah ra’yu. Bagi saya, semua ra’yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada atsar (hadits).” (Al-Jami’, Ibnu Abdil Barr, 2/149)

 

مَنْ رَدَّ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ

“Barangsiapa menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia sedang berada di tepi kehancuran.” (Ibnul Jauzi, 182)

Selain pernyataan para imam mazhab yang empat di atas, ada banyak sekali imbauan dan nasehat dari para Ulama murid-murid mereka hingga era kontemporer untuk menjauhi taklid buta dan untuk tidak menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam. [Shodiq/dakwah.id]