Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Ikhtilaf Shalat Tathawwu’ yang Mengikuti Shalat Fardhu

7,097

Ikhtilaf Shalat Tathawwu’ yang Mengikuti Shalat Fardhu — Shalat tathawwu’ adalah shalat yang dituntut pelaksanaannya dari seseorang yang telah mukallaf (mencapai kriteria untuk dibebani hukum syar’i) sebagai amalan tambahan atas shalat fardhu dengan kadar tuntutan yang tidak mutlak.

Shalat tathawwu’ ada yang tidak terkait dengan shalat fardhu seperti shalat istisqa’, shalat Kusuf, shalat Khusuf, dan shalat Tarawih. Ada pula shalat tathawwu’ yang mengikuti shalat fardhu seperti shalat qabliyah (dilaksanakan sebelum shalat fardhu) dan ba’diyah (dilaksanakan setelah shalat fardhu).

Shalat tathawwu’ yang mengikuti shalat fardhu dikenal secara umum dikenal dengan istilah shalat rawatib atau shalat ratibah. Disebut dengan rawatib karena shalat-shalat ini selalu dilaksanakan. Rawatib adalah jamak dari ratibah, artinya terus berulang dan selamanya. (Mu’jam Mushthalahat wa al-Alfadz al-Fiqhiyyah, Muhammad Abdurrahman Abdul Mun’im, 2/111)

Ditinjau dari segi hukum pelaksanaannya, ada yang hukumnya sunnah, mandub, dan raghibah. Nah, dalam ranah inilah para ulama mazhab yang empat memiliki pendapat yang beragam. Mereka juga bersilang pendapat soal jumlah shalat dan rekaatnya.

 

Shalat Tathawwu’ yang Mengikuti Shalat Fardhu Menurut Mazhab Hanafi

Dalam mazhab Hanafi, shalat tathawwu’ yang mengikuti shalat fardhu diklasifikasikan menjadi dua kategori. Pertama shalat tathawwu’ yang hukumnya sunnah. Kedua, shalat tathawwu yang hukumnya mandub.

Shalat tathawwu’ yang hukumnya sunnah ada lima; dua rekaat sebelum Subuh, empat rekaat sebelum shalat Zuhur yang dilaksanakan dengan satu kali salam, dua rekaat setelah shalat Zuhur—selain waktu shalat Jumat, sebab setelah shalat Jumat disunnahkan shalat empat rekaat sebagaimana disunnahkan shalat empat rekaat sebelum shalat Jumat, dua rekaat sebelum shalat Maghrib, dua rekaat setelah shalat Isya.

Baca juga: Qiyamul Lail Beda dengan Shalat Tahajud, Baru Tahu? Baca Ini

Sedangkan shalat tathawwu’ yang hukumnya mandub yaitu; empat rekaat sebelum shalat Ashar—jika mau boleh dua rekaat, enam rekaat setelah shalat Maghrib, empat rekaat sebelum shalat Isya, dan empat rekaat setelah shalat Isya.

Dalilnya hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ يُصَلِّي الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى أَهْلِهِ، فَيَرْكَعُ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ، وَيَنَامُ

Beliau (Rasulullah) biasa mengerjakan shalat Isya dengan berjamaah, kemudian kembali kepada keluarganya dan mengerjakan shalat (sunnah) empat rekaat, setelah itu beliau pergi ke tempat tidurnya, lalu beliau tidur.” (HR. Abu Daud No. 1346)

 

Shalat Tathawwu’ yang Mengikuti Shalat Fardhu Menurut Mazhab Maliki

Dalam mazhab Maliki, shalat tathawwu’ yang mengikuti shalat fardhu diklasifikasikan menjadi dua; shalat tathawwu’ rawatib, dan shalat tathawwu’ ghairu rawatib.

Shalat tathawwu’ rawatib antara lain shalat tathawwu’ sebelum shalat Zuhur, setelah masuk waktu Zuhur, setelah shalat Zuhur, sebelum shalat Ashar, setelah masuk waktu Ashar, dan setelah shalat Maghrib. Ini adalah penetapan ulama-ulama Iraq mazhab Maliki, bukan penetapan imam Malik.

Ibnu Hajib al-Kurdi al-Maliki menyatakan,

هَلْ كَانَ مَالِكٌ يُؤَقِّتُ قَبْلَ الظُّهْرِ وَبَعْدَهَا وَقَبْلَ الْعَصْرِ وَبَعْدَ الْمَغْرِبِ وَبَعْدَ الْعِشَاءِ؟ قَالَ: لا، إِنَّمَا يُؤَقِّتُ أَهْلُ الْعِرَاقِ.

Apakah imam Malik menetapkan waktu-waktu sebelum Zuhur dan setelahnya, sebelum Ashar, setelah Maghrib, dan setelah Isya’?”

Tidak, yang menetapkan itu adalah ulama Iraq.” (Jami’ al-Ummahat, Ibnu Hajib al-Kurdi al-Maliki, 133)

Dalam mazhab Maliki tidak ada batasan jumlah tertentu dalam pelaksanaan shalat tathawwu’ rawatib. Namun, mazhab ini menyatakan lebih utama untuk mengikuti jumlah sebagaimana yang terdapat dalam hadits dalam rangka meraih pahala keutamaannya. Yakni empat rekaat sebelum shalat Zuhur, empat rekaat setelah shalat Zuhur, empat rekaat sebelum shalat Ashar, enam rekaat setelah shalat Maghrib. Hukum pelaksanaan shalat ini adalah mandubah nadban akkidan (sunnah yang sangat ditekankan).

Baca juga: Makna Bid’ah Versi Mazhab Muwassi’in dan Mudhayyi’qin

Syihabuddin al-Maliki menyatakan,

يُبَاحُ التَّنَفُّلُ فِي سَائِرِ الأَوْقَاتِ، إِلاَّ بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ. وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ، …وَلَيْسَ مَعَ الصَّلَوَاتِ رَوَاتِبُ مَحْدُودَةٌ وَهِيَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى، وَالأَفْضَلُ الْجَهْرُ فِي اللَّيْلِ، وَالسِّرُّ فِي النَّهَارِ،

Boleh melaksanakan shalat nafilah (shalat sunnah) di seluruh waktu, kecuali setelah Subuh hingga matahari meninggi, dan setelah Ashar hingga matahari tenggelam,… tidak ada batasan jumlah rekaat shalat rawatib yang menyertai shalat fardhu yang dilaksanakan pada malam dan siang hari dua rekaat-dua rekaat. Lebih utama untuk mengeraskan bacaan pada malam hari dan melirihkan bacaan pada siang hari.” (Irsyadu as-Salik ila Asyrafi al-Masalik fi Fiqh al-Imam Malik, Syihabuddin al-Maliki, 23)

Sebagai catatan, mazhab Maliki berpendapat bahwa shalat tathawwu’ sebelum Maghrib hukumnya makruh karena sempitnya waktu kesempatan untuk melaksanakannya. Sementara untuk shalat Isya, mazhab ini berpendapat bahwa tidak ada nash sharih yang menyebutkan adanya shalat tathawwu’ yang mengikutinya.

Kemudian, shalat tathawwu’ ghairu rawatib antara lain dua rekaat shalat Fajar. Hukum pelaksanaan shalat ini adalah raghibah. Ini adalah istilah dalam mazhab Maliki untuk menyebut level hukum di atas mustahab namun tidak sampai level sunnah muakkadah.

Selain dua rekaat shalat fajar, ada shalat tathawwu’ ghairu rawatib lagi yang bernama asy-Syaf’u. Minimal pelaksanaannya adalah dua rekaat, maksimalnya tidak ada batasan. Shalat ini dilaksanakan setelah shalat Isya dan batas akhirnya sebelum shalat Witir. Shalat ini hukumnya an-Nadbu (dianjurkan).

Kemudian ada pula shalat tathawwu’ ghairu rawatib lain, yakni shalat Witir. Shalat ini hukumnya sunnah muakkadah yang sangat ditekankan setelah shalat dua rekaat ketika thawaf.

 

Shalat Tathawwu’ yang Mengikuti Shalat Fardhu Menurut Mazhab Syafi’i

Dalam mazhab Syafi’i, shalat tathawwu’ yang mengikuti shalat fardhu diklasifikasikan dalam dua kategori; shalat tathawwu’ muakkad; dan shalat tathawwu’ ghairu muakkad.

Shalat tathawwu’ muakkad antara lain; dua rekaat fajar (sebelum shalat Subuh), dua rekaat sebelum shalat Zuhur atau Jumat, dua rekaat setelah shalat Zuhur atau Jumat, dua rekaat setelah shalat Maghrib, dan dua rekaat setelah shalat Isya. (Fathu ar-Rahman bi Syarh Zubad Ibni Ruslan, Syihabuddin ar-Ramli, 257)

Baca juga: Imam Mazhab Mengimbau Umat Untuk Meninggalkan Pendapat yang Menyelisihi Sunnah

Shalat inilah yang disebut sebagai shalat rawatib dalam mazhab Syafi’i. Shalat rawatib yang dilaksanakan sebelum shalat fardhu disebut sebagai shalat rawatib qabliyah, sedangkan shalat rawatib yang dikerjakan setelah shalat fardhu disebut sebagai shalat rawatib ba’diyah.

Dalam mazhab ini, shalat Witir masuk dalam kategori shalat tathawwu’ muakkad.

Kemudian, shalat tathawwu’ ghairu muakkad ada 12 rekaat; dua rekaat sebelum shalat Zuhur, dua rekaat setelah shalat Zuhur, empat rekaat sebelum shalat Ashar, dua rekaat sebelum shalat Maghrib, dan dua rekaat sebelum shalat Isya.

 

Shalat Tathawwu’ yang Mengikuti Shalat Fardhu Menurut Mazhab Hanbali

Dalam mazhab Hanbali, shalat tathawwu’ yang mengikuti shalat fardhu itu diklasifikasikan menjadi dua; ratibah dan ghairu ratibah.

Shalat tathawwu’ ratibah ada sepuluh rekaat; dua rekaat sebelum Zuhur, dua rekaat setelah Zuhur, dua rekaat setelah Maghrib, dua rekaat setelah Isya, dan dua rekaat sebelum Subuh.

Jumlah ini didasarkan pada hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ»

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku hafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rekaat: dua rekaat sebelum Zuhur, dua rekaat setelahnya, dua rekaat setelah Maghrib di rumah beliau, dua rekaat setelah Isya di rumah beliau, dan dua rekaat sebelum shalat Subuh. (HR. Al-Bukhari No. 1109; HR. Muslim No. 729)

Dari sisi hukum, mengerjakan shalat ini hukumnya sunnah muakkadah. Jika ketinggalan, boleh melakukan qadha’ selama belum bertemu dengan shalat wajib berikutnya. Ini berlaku untuk selain shalat tathawwu’ ratibah Subuh.

Materi Khutbah Jumat : Rahmat Allah Begitu Luas

Sedangkan shalat tathawwu’ ghairu ratibah ada dua puluh; empat rekaat sebelum Zuhur, empat rekaat setelah Zuhur, empat rekaat sebelum Ashar, empat rekaat setelah Maghrib, empat rekaat seteah Isya, dan mubah hukumnya melaksanakan dua rekaat setelah azan Maghrib dan sebelum shalat Maghrib.

Dalilnya hadits Anas radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ مُخْتَارِ بْنِ فُلْفُلٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنِ التَّطَوُّعِ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَقَالَ: «كَانَ عُمَرُ يَضْرِبُ الْأَيْدِي عَلَى صَلَاةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ، وَكُنَّا نُصَلِّي عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ»، فَقُلْتُ لَهُ: أَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّاهُمَا؟ قَالَ: «كَانَ يَرَانَا نُصَلِّيهِمَا فَلَمْ يَأْمُرْنَا، وَلَمْ يَنْهَنَا»

Dari Mukhtar bin Fulful, ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang shalat tathawwu’ setelah Ashar. Ia berkata, “Umar pernah memukul tanganku karena aku melaksanakan shalat setelah Ashar, padahal pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kami melaksanakan shalat dua rekaat setelah matahari tenggelam sebelum shalat maghrib.” Aku berkata kepadanya, “Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaksanakan shalat itu?” ia berkata, “Beliau melihat kami melaksanakan shalat itu, namun beliau tidak memerintah kami juga tidak melarang kami.” (HR. Muslim no. 302)

Untuk shalat Jumat, terdapat shalat tathawwu’ ratibah yang dilaksanakan setelah shalat Jumat. Minimal dua rekaat. Maksimal enam rekaat. Disunnahkan pula untuk shalat empat rekaat sebelum shalat Jumat. Ini terkategori sebagai shalat tathawwu’ ghaira ratibah, sebab shalat Jumat tidak memiliki ratibah qabliyah. Wallahu a’lam [dakwah.id/Sodiq Fajar. Tulisan ini pernah diterbitkan oleh Majalah Fikih Islam Hujjah edisi 53 dengan judul Ikhtilaf Ulama Soal Shalat Tathawwu’ yang Mengikuti Shalat Fardhu]