Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Hadits Maudhu’ Tentang Malam Nishfu Sya’ban yang Perlu Diketahui

214

Tak banyak yang tahu kalau ternyata amalan yang dikhususkan di malam nishfu Sya’ban itu dalilnya menggunakan hadits lemah, bahkan hadits maudhu’. Padahal, sebuah ibadah itu sudah semestinya diamalkan atas dasar keyakinan dan kebenaran akan adanya dalil shahih sebagai argumentasi. Tujuannya, agar ibadah tersebut benar-benar terjamin sesuai dengan syariat yang diturunkan Allah ‘Azza wa Jalla dan didakwahkan oleh rasul-Nya.

Bahkan, untuk memudahkan masyarakat Muslim memahami perkara keharusan beribadah atas dasar adanya dalil shahih, para ulama merumuskan sebuah kaidah,

اَلْأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ التَّحْرِيْمُ

“Hukum asal amal Ibadah adalah haram.”

Maksud dari kaidah ini, seluruh bentuk ibadah itu harus memiliki dasar hukum atau dalil yang jelas dari syariat. Jika tidak, maka bentuk ibadah tersebut tidak boleh dilaksanakan.

Berikut ini kami tampilkan beberapa hadits maudhu’ tentang malam nishfu Sya’ban yang sering dijadikan dalil atas adanya amalan tertentu pada malam tersebut.

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: يُعْطَى بِكُلَّ حَرْفٍ أَلْفُ أَلْفِ حَوْرَاء، وَمَنْ أَحْيَا سَاعَةً مِنْ سَاعَاتِ تِلْكَ اللَّيْلَة يُعْطَى بِعَدَدٍ مَا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ جَنَّات، فِيْ كُلِّ جَنَةٍ بَسَاتِيْنٌ وَيَرْفَعُ لَهُ تَعَالَى أَلْفَ أَلْفِ مَدِيْنَةٍ فِي الْجَنِّةِ، فِي كُلِّ مَدِيْنَةٍ أَلْفُ أَلْفِ قَصْرِ، فِي الْقَصْرِ أَلْفُ أَلْفِ دَارٍ، فِي الدَّارِ أَلْفُ أَلْفِ صفة، فِي الصفة أَلْفُ أَلْفِ وِسَادَةٍ وَأَلْفُ أَلْفِ زَوْجَةْ مِنْ الحُوْرِ، لِكُلِّ حَوْرَاءٍ أَلْفُ أَلْفِ خَادِمٍ، فِي الْبَيْتِ أَلْفُ أَلْفِ مَائِدَةٍ عَرْضُهَا كَمَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ إِلَى الْمَغْرِبِ، عَلَى كُلِّ مَائِدَةٍ أَلْفُ أَلْفِ قَصْعَةٍ، فِي كُلِّ قَصْعَةٍ أَلْفُ أَلْفِ لَوْنٍ

Abu Hurairah radhyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada setiap huruf akan diberi sejuta bidadari. Barangsiapa menghidupkan satu jam saja dari waktu malam itu ia akan diberi sejumlah Jannah selama matahari dan bulan terbit. Pada tiap jannah itu terdapat banyak taman, kemudian Allah ‘Azza wa Jalla mendirikan sejuta kota di satu jannah. Pada setiap kota terdapat sejuta istana. Pada tiap istana terdapat sejuta ruangan. Pada tiap ruangan terdapat sejuta tenda. Di dalam tenda itu terdapat sejuta bantal dan sejuta istri dari kalangan bidadari. Setiap bidadarinya memiliki sejuta pembantu. Di dalam rumah tersebut terdapat sejuta meja hidangan yang luasnya seperti jarak antara timur dan barat. Di atas tiap meja hidangan terdapat sejuta mangkuk. Pada tiap mangkuknya terdapat sejuta warna.

Keterangan:

Imam adz-Dzahabi mengatakan bahwa ini hadits maudhu’. (Mizanul I’tidal, 3/566)

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan puasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421. HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 3/378)

Keterangan:

Hadits di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Hadits dengan redaksi di atas adalah hadits maudhu’ (palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya muttaham bil kadzib (tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam kitab At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”(Lihat Silsilah adh-Dha’ifah, no. 2132)

Baca juga: Shalat Alfiyah Nishfu Sya’ban itu Bagaimana sih Asal Usulnya?

Hadits Ibnu Kardus

عَنِ ابْنِ كَرْدُوْسٍ، عَنْ أَبِيْهِ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَىْ الْعِيْدُ وَلَيْلَةَ النَّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ لَمْ يَمُتْ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ.

Dari Ibnu Kardus, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menghidupkan dua malam ‘Id (‘Idul Fitri dan Idul Adha) dan malam nishfu Sya’ban, hatinya tidak mati di saat semua hati itu mati.”

Keterangan:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi, beliau menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih dari Nabi. Imam adz-Dzahabi menyatakan hadits ini Munkar Mursal. (Al-‘Ilal al-Mutanahiyah, 2/562. Mizanul I’tidal, 3/308)

Sementara Ibnu Hajar mengomentari, “Di dalamnya ada perawi bernama Marwan, dia statusnya matruk muttaham bil kidzbi.” (Al-Ishabah, 3/290)

 

Hadits Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,

عَن معَاذ بن جبل رَضِي الله عَنهُ قَالَ قَالَ رَسُول اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْيَا اللَّيَالِي الْخمس وَجَبت لَهُ الْجنَّة: لَيْلَة التَّرويَة وَلَيْلَة عَرَفَة وَلَيْلَة النَّحْر وَلَيْلَة الْفطر وَلَيْلَة النّصْف من شعْبَان. رَوَاهُ الْأَصْبَهَانِيّ

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menghidupkan lima malam-malam ini, ia wajib masuk Jannah; 1) malam tarwiyah; 2) malam arafah; 3) malam Nahr; 4) malam Idul Fitri; dan 5) malam nishfu Sya’ban.”

Keterangan:

Hadits diriwayatkan oleh al-Ashbahani (At-Targhib wat Tarhib, Al-Munziri, 2/158) Syaikh Nashiruddin al-Albani menyatakan itu hadits maudhu’. (Dha’ifu at-Targhib wat Tarhib, no. 557) (M.Shodiq/dakwah.id)