Fenomena Tabarruj Muslimah Modern

0 1,805

Artikel yang berjudul “Fenomena Tabarruj Muslimah Modern” ini adalah artikel ke-15 dari serial artikel #MadrasahRamadhan

 

Jagat media sosial hari ini penuh dengan gambar dan video wanita yang pandai menari dan bernyanyi. Bahkan video-video pendek biasa muncul di beranda media sosial tanpa perlu dicari.

Media sosial dengan fitur-fiturnya yang ada saat ini memang sangat mendukung penggunanya yang ingin aktualisasi diri melalui media visual foto atau pun video. Setiap orang dengan hanya bermodalkan smartphone bisa mengunggah video kreasi diri dengan berbagai aksi.

Memang ada sisi positifnya, bagi mereka yang concern di bidang seni positif, teknologi sosial media sangat membantu mereka dalam meningkatkan skill. Namun sayangnya, berbagai aplikasi tersebut ternyata tanpa disadari telah menggerogoti satu sifat manusia yang esensial. Sifat malu.

Sifat malu menjadi sifat yang langka pada diri seseorang di era keterbukaan seperti sekarang ini. Pergeseran standar malu hari ini sudah jauh berubah dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Perkembangan zaman berikut teknologinya membuat banyak hal berubah, termasuk sifat malu pada diri manusia. Semakin berlarinya waktu, sifat malu sedikit demi sedikit menuju kehilangan.

Artikel tentang Jahiliyah: Pembaruan Ajaran Agama di Era Jahiliyah

Terkhusus bagi kaum hawa, lebih khusus lagi para muslimah. Mereka menjadi komoditi utama yang meramaikan jagat media sosial. Mereka menjadi objek sorotan dan tontonan semua orang.

Di ‘layar kaca lima inci’, setiap pria bisa saja dengan mudah menyaksikan gemulai tarian wanita dengan make up sensual dan mode busana yang dianggap sebagai sebuah tren kekinian.

Namun, dampak seperti itu seolah tidak diperhatikan oleh para wanita ber-KTP Islam yang sering mengaktualisasikan diri di sosial media atas nama kebebasan.

Rasa malu itu nyaris hilang terbawa arus teknologi yang tidak diiringi dengan adab dan sikap bijak. Padahal, teknologi itu ibarat dua sisi mata pisau; baik dan buruk. Namun sepertinya, bilah sisi keburukan itu lebih tajam melukai.

 

Tabarruj  Wanita Jahiliyah

Allah memerintahkan para wanita muslimah untuk tetap berdiam di rumah mereka. Karena dengan berdiam diri di rumah, lebih aman dan jauh dari fitnah.

Sebagaimana yang telah Allah perintahkan lewat firman-Nya,

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ وَأَقِمۡنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِيرا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Artikel Fikih: Wanita Muslimah Bekerja di Luar Rumah, Apa Syaratnya?

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini, meskipun objeknya (mukhathab) adalah istri-istri Nabi, akan tetapi hal tersebut berlaku kepada seluruh wanita yang beriman. Berisi perintah kepada mereka untuk menetap di dalam rumah dan tidak keluar kecuali dalam keadaan yang diperlukan. Dan dalam ayat ini pula, Allah melarang para wanita muslimah untuk melakukan tabarruj seperti wanita Jahiliyah. (Al-Jami’ Li Ahkam al-Quran, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, 17/142)

 

Apa Arti tabarruj?

Tabarruj ((تبرج berasal dari kata (برج)  yang bermakna menampakkan atau menyingkap. Adapun dalam konteks ayat ini adalah seorang wanita yang menampakkan diri dan kecantikannya. (Al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Ar-Raghib al-Ashfahani, 53)

Dalam makna yang lain, tabarruj adalah wanita yang menampakkan kecantikan tubuhnya kepada pria asing yang bukan mahramnya (ajnabi). (Ma’alim at-Tanzil, al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, 6/349)

Artinya bersolek dan menampakkan tubuh mereka di hadapan pria asing yang bukan mahramnya adalah termasuk dalam kategori tabarruj.

Artikel Fikih: Hukum Jual Pakaian Wanita Seksi dan yang Semisalnya

Untuk mendapatkan pemahaman yang baik tentang adanya larangan tabarruj dalam syariat Islam, perlu melihat bagaimana posisi wanita sebelum Islam datang. Agar memahami bahwa pada dasarnya Islam tidak mengekang wanita. Justru Islam hadir untuk melindungi kehormatan wanita.

Sayyid Quthb rahimahullah menjelaskan bahwa sebelum Islam datang, wanita adalah objek pemuas nafsu dan syahwat semata. Di mana posisi wanita di tengah masyarakat begitu direndahkan. Di mana yang ditampakkan dari sosok wanita adalah kecantikan, lekuk tubuh, dan keindahan fisik yang keseluruhannya adalah objek dari seksualitas belaka.

Kemudian Islam datang dengan menata dan mengatur kembali kekacauan sistem kehidupan yang berlaku ketika itu. Islam, dengan syariat yang memuliakan wanita, memperbaiki bagaimana seharusnya wanita diperlakukan dan dimuliakan. (Tafsir Fii Zilaal al-Quran, Sayyid Qutb, 9/260)

Berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah terdahulu,” kata Jahiliyah dalam ayat ini diperdebatkan oleh para ulama tafsir akan masa waktunya. Akan tetapi mereka sepakat dalam menyebutkan bentuk kejahiliyahan wanita pada masa itu.

Menurut Abul ‘Aliyah, bentuk tabarruj wanita pada masa itu adalah mereka menggunakan pakaian yang dihiasi mutiara tanpa berjahit kedua sisinya, pakaian tersebut tipis (transparan) sehingga terlihat tubuh mereka.

Al-Kalbi berpendapat bahwa contoh tabarruj wanita pada masa itu adalah para wanita menggunakan baju zirah dengan manik-manik dari mutiara, kemudian mereka berjalan di jalanan dan menawarkan diri mereka kepada para pria.

Dalam pendapat lain, jahiliyah pada masa itu sama dengan apa yang akan terjadi pada akhir zaman kelak. (Ma’alim at-Tanzil, Al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, 6/349-350)

Ikhtilath antara laki-laki dan perempuan juga termasuk bagian dari tradisi Jahiliyah, sebagaimana disebutkan oleh Mujahid.  (Al-Jami’ Li Ahkami al-Quran, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, 17/142)

Artikel tentang Jahiliyah: Jahiliyah Sebagai Sebuah Kondisi dan Sifat, Tidak Terbatas Pada Identitas Zaman dan Waktu

Pendapat-pendapat yang telah disebutkan di atas, mengerucut pada satu sifat yang melekat pada wanita pada masa itu. Yaitu, tidak adanya rasa malu pada diri mereka, sehingga wanita-wanita pada masa Jahiliyah tersebut dengan senang hati bersolek dan berdandan menampakkan kecantikan dan keindahan tubuh mereka untuk dipandang laki-laki asing.

Mereka berlomba menawarkan diri mereka untuk menjadi yang paling menarik dan dilirik. Maka mereka menampakkan bagian dari tubuhnya untuk jadi tontonan, agar para pria mendekat dan memberikan perhatian.

 

Tabarruj Wanita Modern

Hari ini, di era yang telah mencapai masa milenium ketiga, di mana manusia telah mencapai sebuah peradaban yang begitu maju dan pesat, dengan pengetahuan yang terus berkembang membuat manusia-manusia modern terus berlari menuju kemajuan.

Namun tidak semua hal menjadi maju. Beberapa hal justru mundur jauh ke belakang. Terkhusus akhlak para muslimah hari ini, para wanita yang Allah telah muliakan dengan syariat-Nya dan Allah tinggikan derajat dan kedudukan mereka.

Islam telah menjadikan wanita begitu mulia dengan peran dan porsinya. Penjagaan Islam terhadap para wanita dengan syariat hijab dan lainnya, tidak lain untuk menjadikan mereka permata yang paling berkilau.

Namun menyedihkan, smartphone berikut platform aplikasi aktualisasi diri telah membuat mereka lupa diri. Para muslimah yang seharusnya menutup diri mereka dari pandangan mata para pria, justru sedang berlomba unjuk gigi; menunjukkan siapa yang paling diminati.

Jika dahulu para wanita bertabarruj harus keluar rumah terlebih dahulu, pergi ke tempat-tempat keramaian dan perkumpulan orang-orang. Menunjukkan diri mereka, menampakkan lekuk tubuh dan keelokan paras mereka. Hari ini tidak perlu lagi begitu.

Artikel Sejarah Islam: Kemunduran Turki Utsmani Dipicu Oleh Beberapa Faktor Ini

Cukup dengan di rumah saja, wanita-wanita tersebut bisa membuat diri mereka ditonton jutaan pasang mata di luar sana. Menjangkau penglihatan manusia dari berbagai negara dan lintas benua.

Berbagai aplikasi kekinian memfasilitasi mereka untuk berbuat dosa; tabarruj dengan sistem yang modern. Wajah close up full make up, bedak dan gincu, lekuk tubuh dan gemulai gerak direkam, untuk kemudian dipertontonkan kepada jutaan pasang mata yang tidak halal melihatnya.

Tidak hanya para wanita haus popularitas saja yang terkena dosa, setiap mata yang menyaksikan penampilan mereka juga dapat bagian dosanya. Sudah sebegitu hilangkah rasa malu pada diri sehingga mempertontonkan diri itu seakan menjadi prestasi?

 

Menjadi Pemalu itu selalu Baik

Salim bin Amru asy-Sya’ir pernah menuliskan bait syairnya tentang sifat malu:

Tidak perlu engkau bertanya kepada seseorang tentang akhlaknya
Karena pada wajahnya telah terdapat tanda yang menunjukkannya

Tanda kebaikan itu; ketenangan dan rasa malu,
sedangkan tanda keburukan; tidak punya malu dan mulut yang kotor

Imam al-Mawardi berkomentar tentang bait syait ini, “Cukuplah sifat malu menjadi petunjuk kebaikan, dan cukuplah kata-kata kotor dan tidak malu menjadi petunjuk pada keburukan. (Adab ad-Dunya wa ad-Din, Ali bin Muhammad al-Mawardi, 394)

Sifat malu itu secara umum selalu menunjukkan pada kebaikan akhlak seseorang. Di mana seseorang memiliki satu perisai dalam diri dalam melakukan banyak hal yang dianggapnya tidak pantas untuk dilakukan. Dan sifat malu tersebut yang menghalanginya untuk berbuat sesuatu yang buruk.

Artikel Tsaqafah: Trend Mengikuti Tradisi Non Muslim: Pintu Kehancuran Generasi Islam

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menyebutkan bahwa sifat malu itu bagian dari keimanan seseorang yang dapat menghantarkannya menuju Surga. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ، وَالإِيمَانُ فِي الجَنَّةِ، وَالبَذَاءُ مِنَ الجَفَاءِ، وَالجَفَاءُ فِي النَّارِ.

Malu itu bagian dari iman, dan iman itu tempatnya di Surga. Sedangkan perkataan kotor itu adalah bagian dari perangai yang buruk, dan perangai buruk itu tempatnya di Neraka.” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam hadist lain, Rasulullah juga menyebutkan bahwa sifat malu adalah perhiasan pada perangai seseorang, memperindah dan menghiasinya dengan kebaikan.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

مَا كَانَ الفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ، وَمَا كَانَ الحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah perbuatan keji itu melekat pada sesuatu kecuali akan menjatuhkannya, dan tidaklah rasa malu itu ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (HR. At-Tirmidzi)

Tentu yang dimaksud sifat malu dalam tulisan ini adalah malu karena melanggar batas-batas yang telah Allah tetapkan, malu karena bermaksiat kepada Allah, dan malu karena tidak menaati aturan-aturan-Nya.

 

Belajar Malu Dari Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha

Mari takjub dengan sifat malu Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Tentang bagaimana sifat malu itu benar-benar menyatu dalam setiap gerak. Bagaimana menjadikan sifat malu itu menjadi bagian akhlak diri. Karena rasa malu itu mampu membentengi seseorang dari melakukan perbuatan tidak terpuji.

Mari simak bagaimana Ibunda orang-orang beriman dengan sifat malunya bertutur,

كُنْتُ أَدْخُلُ بَيْتِي الَّذِي دُفِنَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي فَأَضَعُ ثَوْبِي فَأَقُولُ إِنَّمَا هُوَ زَوْجِي وَأَبِي فَلَمَّا دُفِنَ عُمَرُ مَعَهُمْ فَوَاللَّهِ مَا دَخَلْتُ إِلَّا وَأَنَا مَشْدُودَةٌ عَلَيَّ ثِيَابِي حَيَاءً مِنْ عُمَرَ

Dahulu setiap kali memasuki rumahku; yang di dalamnya terkubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ayahku (Abu Bakar ash-Shiddiq) aku tidak memakai hijabku. Aku berkata, ‘Keduanya hanyalah suami dan ayahku” maka ketika Umar juga dimakamkan bersama mereka, sungguh demi Allah tidak pernah aku masuk kecuali menutup hijabku karena malu kepada Umar.” (HR. Ahmad)

Materi Khutbah Jumat: 4 Cara Meraih Ridha Allah ‘azza wajalla

Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun malu harus memasuki bilik kamarnya sendiri karena di dalamnya terdapat makam Umar bin Khattab yang bukan mahramnya.

Sifat malu itu tidak hanya kepada mereka yang hidup. Bahkan ‘Aisyah malu harus terlihat bagian kepalanya tanpa hijab di hadapan Umar yang sudah terkubur berkalang tanah.

Duhai muslimah, di mana rasa malu itu sekarang?

Tulisan ini hanya sebuah refleksi dari keresahan penulis atas fenomena yang terjadi. Bukan bermaksud menghakimi. Karena di luar sana masih banyak juga muslimah yang tetap teguh menjaga kehormatan dan kemuliaan dirinya.

Namun segelintir wanita muslimah terjatuh dalam kesalahan tersebut, sehingga tulisan ini sebagai bentuk kritik yang semoga jadi bagian dari nasehat; untuk mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Wallahu a’lam bisshawab (Fajar Jaganegara/dakwah.id)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.