Gambar Lengkap! 7 Doa Saat Turun Hujan, Angin Kencang, dan Petir Sesuai Sunah dakwah.id

Lengkap! 7 Doa Saat Turun Hujan, Angin Kencang, dan Petir Sesuai Sunah

Terakhir diperbarui pada ·

Hujan itu rahmat atau azab? Temukan pandangan Islam, adab, serta kumpulan doa turun hujan, angin kencang, hingga petir sesuai sunah di sini.

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, sebuah negeri tropis, hujan menjadi bagian dari keseharian, seakan menjadi ‘sajian’ yang akrab kita rasakan hampir setiap waktu. Ia datang seakan tak mengenal waktu: pagi, siang, sore, hingga malam, akan turun ketika musimnya tiba.

Namun, karena begitu seringnya kita menjumpainya, tidak jarang kita menjadi terbiasa, bahkan lalai dalam memaknai kehadirannya.

Alih-alih melihatnya sebagai rahmat dan keberkahan, sebagian dari kita justru memandang hujan sebagai penghalang aktivitas dan rutinitas, terlebih dengan adanya dampak yang ditimbulkan.

Kita mengeluh ketika ia turun, merasa terganggu, bahkan lupa bahwa setiap tetesnya membawa kebaikan yang Allah turunkan untuk kehidupan.

Lalu, bagaimana sejatinya Islam memandang hujan? Dan bagaimana adab yang seharusnya dijaga oleh seorang muslim agar tidak kehilangan nilai ibadah di momen turunnya hujan? Berikut ini penjelasannya.

Hujan dalam Pandangan Islam: Rahmat atau Azab?

Dalam pandangan Islam, hujan bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan rahmat dan keberkahan yang Allah turunkan dari langit.

Al-Quran menyebutnya sebagai air yang penuh berkah (an mubârakan), yang dengannya Allah menghidupkan bumi yang mati, menumbuhkan tanaman, serta menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk.

Allah subhanahu wataala berfirman,

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen.” (QS. Qaf: 9)

Meskipun kenyataan, Allah juga menjadikan rahmat-Nya ini sebagai hukuman dan teguran bagi hamba-hamba yang durhaka kepada-Nya.

Sebagaimana riwayat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam begitu khawatir dengan mendung hitam, beliau khawatirkan itu adalah azab.

Aisyah radhiyallahu anha menceritakan, “Jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.”

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,jika orang-orang melihat mendung,mereka akan begitu girang.Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau.Jika melihat mendung,terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.”

Beliau pun bersabda, “Wahai Aisyah,apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah azab. Dan pernah suatu kaum diberi azab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum Aad) ketika melihat azab, mereka mengatakan, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’” (HR. Al-Bukhari no. 4551; HR. Muslim no. 899)

Materi Khutbah Jumat: Nikmat Hujan Menguatkan Iman

Para ulama menjelaskan bahwa hadits di atas berisi tentang bagaimana Rasulullah mengajarkan umatnya agar tidak lalai dari sanksi Allah. Selain itu, agar selalu mawas diri untuk tidak mengejarkan hal-hal yang menjadikan turunnya azab Allah sebagaimana yang ia turunkan kepada kaum terdahulu.

Adapun sifat sejatinya hujan adalah rahmat dan berkah dari Allah subhanahu wataala.

Dalam riwayat disebutkan Umar bin Abdul Aziz berada dalam suatu perjalanan bersama Sulaiman bin Abdul Malik.

Tiba-tiba mereka ditimpa hujan yang disertai petir, kilat, kegelapan, dan angin yang sangat kencang, hingga mereka merasa ketakutan karenanya. Namun, Umar bin Abdul Aziz justru tertawa.

Maka Sulaiman berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu tertawa, wahai Umar?! Tidakkah engkau melihat keadaan yang sedang kita alami?”

Umar menjawab, “Wahai Amirul Mukminin! Ini adalah bagian dari rahmat-Nya, yang di dalamnya saja terdapat kesulitan seperti yang engkau lihat. Maka bagaimana kiranya dengan dampak dari kemurkaan dan murka-Nya?” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, 5/201)

Maka, sebagai seorang mukmin, seyogianya ketika turun hujan kita sambut dengan penuh syukur dan keyakinan bahwa hujan turun semata-mata karuniadan rahmat Allah (sunah qalbiyah), seraya menyeimbangkan antara rasa harap dan cemas.

Kita berharap agar hujan yang Allah turunkan benar-benar menjadi rahmat dan keberkahan bagi kehidupan.

Namun, di saat yang sama, kita juga senantiasa merasa cemas dan takut, jangan sampai karena kemaksiatan kita, rahmat yang turun itu justru Allah jadikan sebagai bentuk teguran dan peringatan bagi kita.

Di samping itu juga, hendaknya menjaga bentuk-bentuk adab dan anjuran, baik secara qauliyah, filiyah, maupun fikriyah saat turun hujan. Dengan demikian, hujan yang turun juga menambah nilai kebaikan dan pahala.

Kumpulan 7 Doa Turun Hujan Sesuai Sunnah

Di antara adab ataupun anjuran yang harusnya dijaga seorang muslim ketika turun hujan adalah doa.

Berikut ini beberapa doa yang dianjurkan berkaitan seputar hujan. Mulai dari saat melihat mendung, saat hujan, hingga ketika hujan selesai.

1.   Doa Ketika Melihat Mendung dan Awan Hitam

Dalam hadits yang diriwayatkan Ibunda Aisyah, beliau menjelaskan,

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika melihat awan hitam di langit, beliau langsung meninggalkan pekerjaan, meskipun beliau sedang melakukan shalat. Setelah itu, beliau berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا.

Allâhumma innî a’ûdzu bika min syarrihâ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan awan ini.’” (HR. Abu Daud no. 5099)

2.   Doa Turun Hujan agar Bermanfaat (Doa Utama)

Ibunda Aisyah radhiyallahu anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila melihat hujan, maka beliau berdoa,

‌اللَّهُمَّ ‌صَيِّبًا ‌نَافِعًا.

Allâhumma shayyiban nâfi’an

Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat.’” (HR. Ahmad no. 24144)

3.   Doa Meminta Diturunkan Hujan

Terdapat juga doa ketika hujan yang turun sedikit atau bahkan tidak sama sekali.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata, “Sesungguhnya seorang laki-laki masuk pada hari Jumat melalui pintu yang menghadap mimbar, sementara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khotbah Jumat.

Ia lalu menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak telah binasa,dan jalan-jalan terputus,maka berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan kepada kami.’

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun mengangkat kedua tangan beliau seraya berdoa,

اللَّهُمَّ اسْقِنَا، ‌اللَّهُمَّ ‌اسْقِنَا، ‌اللَّهُمَّ ‌اسْقِنَا.

Allâhummas-qinâ, Allâhummas-qinâ, Allâhummas-qinâ.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.’” (HR. Al-Bukhari no. 967)

4.   Doa Turun Hujan yang Disertai Angin Kencang

Jika hujan juga disertai angin kencang, maka juga dianjurkan untuk membaca doa yang diriwayatkan juga oleh Ibunda Aisyah.

Beliau berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila melihat angin kencang, beliau berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا، وَخَيْرِ مَا فِيْهَا، وَخَيْرِ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، ‌وَشَرِّ ‌مَا ‌فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ.

Allâhumma innî as-aluka min khairihâ, wa khairi mâ fîhâ, wa khairi mâ ursilat bihi, wa a‘ûdzu bika min sharrihâ, wa sharri mâ fîhâ, wa sharri mâ ursilat bihi.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang dengannya ia diutus. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan yang ada di dalamnya, serta keburukan yang dengannya ia diutus.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3449)

5.   Doa Ketika Mendengar Guntur dan Petir

Dari Abdullah bin az-Zubair bahwa beliau apabila mendengar suara petir, beliau menghentikan pembicaraan lalu berdoa,

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ ‌وَالْمَلائِكَةُ ‌مِنْ ‌خِيفَتِهِ.

Subḥāna alladzī yusabbiḥu ar-ra‘du biḥamdihī, wal-malā’ikatu min khīfatihī

Mahasuci Allah yang petir bertasbih dengan memuji-Nya, dan para malaikat (juga bertasbih) karena takut kepada-Nya.”

Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya ini adalah ancaman yang sangat keras bagi penduduk bumi.” (Al-Bukhari, Adab al-Mufrad, no. 723)

6.   Doa Agar Hujan Berhenti dan Cuaca Cerah

Nabi shallallahu alaihi wasallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah.

Baca Juga: Doa Rasulullah ketika Hujan Deras – Teks Arab Latin dan Terjemah

Nabi shallallahu alaihi wasallam berdoa,

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ، وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ، وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ.

Allâhumma ḥawâlainâ wa lâ ‘alainâ. Allâhumma ‘alal âkâmi wal jibâli, wal âjâmi, wazh zhirâbi, wal audiyati, wa manâbitisy syajari.

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke perbukitan, pegunungan, tempat-tempat yang ditumbuhi pepohonan lebat, dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Al-Bukhari no. 967)

7.   Doa Setelah Hujan Reda

Disunahkan untuk banyak bersyukur setelah selesai turun hujan. Di antaranya dengan melafazkan doa,

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ.

Muthirnâ bi-fadhlillâhi wa raḥmatihî.

Kami diberi hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 810; HR. Muslim no. 71)

Waktu Mustajab: Keutamaan Memperbanyak Doa Saat Turun Hujan

Para ulama menjelaskan bahwa di antara waktu yang mustajab dan disunahkan untuk melantunkan doa dan permohonan kepada Allah subhanahu wataala adalah saat turun hujan.

Sebagaimana dalam hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

‌ثِنْتَانِ ‌مَا ‌تُرَدَّانِ: الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَتَحْتَ الْمَطَرِ.

Ada dua doa yang tidak akan ditolak: doa ketika azan dikumandangkan dan doa di bawah (saat) hujan.” (HR. As-Suyuthi dalam Jami al-Ahadits, no. 11324. Dinilai ḥasan oleh al-Albani, dalam Shahih al-Jamiʿ hadits no. 3078).

Ibnu al-Mundzir meriwayatkan dari Tsabit radhiyallahu anhu, ia berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa doa itu dikabulkan ketika turun hujan.” Kemudian ia membaca ayat ini, “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa(QS. Asy-Syura: 28). (As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr, 7/354)

Baca Juga: Doa Mustajab, Apa dan Bagaimana?

Demikian juga yang dijelaskan oleh Imam asy-Syafi’i bahwa beliau telah menghafal dari lebih dari satu orang (ulama) tentang dianjurkannya mencari (waktu) dikabulkannya doa ketika turunnya hujan dan saat didirikannya shalat. (Imam asy-Syafii, al-Umm, 1/289)

Sunah Selain Doa Turun Hujan: Bolehkah Hujan-hujanan?

Selain dari sunah-sunah qauliyah atau ucapan yang dianjurkan saat turun hujan sebagaimana pembahasan di atas, terdapat kesunahan lain berupa filiyah atau tindakan.

Air hujan penuh dengan keberkahan dan rahmat. Oleh karena itu, di antara petunjuk Nabi adalah supaya ketika turun hujan seorang muslim membiarkan atau bahkan menyengaja agar tubuhnya terkena air hujan. Bahasa mudahnya yang kita pahami yaitu ‘hujan-hujanan’.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Kami pernah terkena hujan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lalu beliau menyingkap pakaiannya hingga tubuh beliau terkena air hujan.

Kami pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini?’ Beliau menjawab, ‘Karena hujan ini baru saja berasal dari Rabb-nya (Allah) Taala.’” (HR. Muslim no. 898)

Imam an-Nawawi berkata, “Hadits ini menjadi dalil bagi pendapat ulama kami bahwa dianjurkan pada saat awal turunnya hujan untuk menyingkap (bagian tubuh) selain aurat agar terkena air hujan.”

Adapun Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma apabila hujan turun, beliau berkata, “Wahai budak perempuan, keluarkan pelanaku, keluarkan pakaianku.”

Lalu beliau membaca ayat, “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah(QS. Qaf: 9). (Al-Albani, Shahih al-Adab al-Mufrad, 476)

Tafakkur: Mengambil Hikmah dari Peristiwa Turunnya Hujan

Salah satu bentuk sunah fikriyah dan amal yang amat berfaedah adalah merenungi setiap tanda kekuasaan Allah subhanahu wataala (tafakur). Sebab, tafakur adalah satu di antara tangga seorang muslim untuk meniti puncak keimanan.

Amir bin Abd Qays rahimahullah berkata, “Aku mendengar bukan hanya satu, dua, atau tiga orang, tetapi banyak dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan bahwa sinar iman atau cahaya iman itu adalah tafakur.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, 2/185)

Dalam peristiwa turunnya hujan mengandung hikmah yang luar biasa. Salah satunya bahwa hujan menghidupkan bumi yang mati. Hal ini menjadi pengingat tentang kekuasaan Allah menghidupkan manusia setelah mati (hari kebangkitan).

Allah subhanahu wataala berfirman,

فَانْظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِير

Perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sesungguhnya (Zat yang melakukan) itu pasti berkuasa menghidupkan orang yang telah mati. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ar-Rum: 50)

Selain dari itu, masih banyak hikmah yang Allah tetapkan dalam peristiwa turunnya hujan sebagai pelajaran berharga bagi manusia.

Demikian, beberapa adab ataupun sunah yang Rasulullah ajarkan, baik berupa qalbiyah, qauliya, filiyah, maupun fikriyah yang mengiringi turunnya hujan.

Selain daripada itu ada beberapa hukum fikih yang terpengaruh tersebab hujan, seperti shalat Istisqa`, jamak mathar, dan perbedaan lafaz azan ketika hujan. Wallahu alam. (Rusydi Rasyid/dakwah.id)

Penulis: Rusydi Rasyid
Editor: Ahmad Robith

Artikel Doa & Dzikir terbaru:

Topik Terkait

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading