Materi Khutbah Jumat
3 Harta yang Lebih Bernilai dari Emas dan Perak
Pemateri: Ustadz Rusydi Rasyid (Kepala RQ Limbangan Purbalingga)
Mukadimah Khutbah Jumat
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ ذِكْرَهُ خَيْرَ الذَّخَائِرِ، وَشُكْرَهُ أَعْظَمَ الْمَكَاسِبِ، وَطَاعَتَهُ أَشْرَفَ الْمَفَاخِرِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَى خَيْرِ الْكُنُوزِ، وَأَرْشَدَهَا إِلَى مَا يُقَرِّبُهَا إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ هِيَ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، وَبِهَا يَنَالُ الْفَلَاحَ وَالسَّعَادَةَ.
Khutbah Pertama
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Segala puji hanya milik Allah subhanahu wata’ala, Tuhan semesta alam. Dialah yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, kesempatan, dan berbagai kenikmatan yang tidak akan mampu kita hitung satu per satu.
Hanya kepada-Nya kita menyembah, hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan, dan hanya kepada-Nya kita memohon ampunan atas segala dosa dan kekhilafan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, nabi terakhir yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Semoga shalawat dan salam juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Ketahuilah bahwa takwa adalah bekal terbaik dalam mengarungi kehidupan ini. Dengan takwa, hati menjadi tenang, amal menjadi berkah, dan kehidupan akan dipenuhi dengan petunjuk serta pertolongan dari Allah.
3 Harta yang Lebih Bernilai dari Emas dan Perak
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Belum lama ini jagat maya digemparkan oleh berita penggeledahan di rumah seorang pejabat negeri ini. Aparat menemukan uang tunai mencapai ratusan miliar rupiah serta emas batangan hingga berkilo-kilo. Setelah ditelusuri, harta tersebut diduga berasal dari praktik korupsi.
Peristiwa seperti ini menyadarkan kita bahwa kecintaan manusia terhadap harta dunia sering kali membuat seseorang lupa akan halal dan haram. Korupsi dianggap sebagai jalan cepat menuju kekayaan. Belum lagi maraknya pencurian, pembegalan, penipuan, perjudian, dan berbagai bentuk kejahatan lain yang semuanya berorientasi pada satu tujuan: menguasai harta dunia.
Padahal, harta sebanyak apa pun tidak akan mampu menyelamatkan seseorang dari azab Allah. Jangankan harta yang haram, bahkan harta halal pun apabila hanya ditumpuk dan tidak digunakan untuk kebaikan pasti akan membawa keburukan.
Khutbah Jumat Singkat: Kedudukan Harta dalam Islam
Marilah kita renungkan sejenak nasihat agung yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi hadits nomor 3094, dari Sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, beliau mengisahkan bahwa ketika turun ayat berikut dalam Surah At-Taubah ayat 34:
وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah…”
Saat itu Tsauban radhiyallahu ‘anhu sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu perjalanan. Sebagian sahabat lalu berkata, “Ayat ini turun tentang emas dan perak, seandainya kita mengetahui harta apakah yang paling baik, niscaya kita akan memilih dan memilikinya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَفْضَلُهُ لِسَانٌ ذَاكِرٌ، وَقَلْبٌ شَاكِرٌ، وَزَوْجَةٌ مُؤْمِنَةٌ تُعِينُهُ عَلَى إِيمَانِهِ.
“Harta yang paling utama adalah lisan yang senantiasa berzikir, hati yang selalu bersyukur, dan istri beriman yang membantu suaminya dalam menjaga keimanannya.”
Sebagai seorang mukmin, hadits ini semestinya mengubah cara pandang kita terhadap hakikat kekayaan.
Selama ini, manusia menganggap emas, perak, tanah, rumah, jabatan, atau besarnya saldo rekening sebagai ukuran keberhasilan hidup. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru mengajarkan standar yang berbeda.
Rasulullah tidak menyebut emas, perak, tanah, rumah, ataupun perdagangan sebagai harta terbaik. Sebaliknya, beliau menyebut tiga perkara yang nilainya jauh melampaui seluruh kekayaan dunia.
Sebab, ketiganya bukan hanya mendatangkan kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadi bekal yang menyelamatkan pemiliknya di akhirat. Maka, marilah kita renungkan satu per satu tiga harta paling berharga yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut.
Pertama: Lisan yang Selalu Berzikir kepada Allah
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Harta yang lebih bernilai dari emas dan perak pertama adalah lisan yang selalu berzikir kepada Allah.
Lisan yang senantiasa basah dengan zikir adalah harta yang nilainya jauh melampaui emas dan perak. Sebab, dari lisan yang berzikir lahir keberkahan dunia sekaligus pahala akhirat.
Bukankah Allah menjanjikan bahwa orang yang memperbanyak istigfar akan dibukakan jalan keluar dari berbagai kesulitan? Nabi Nuh ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam Surah Nuh ayat 10-12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu.”
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya hadits nomor 1518, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.
“Barang siapa membiasakan istigfar, Allah akan memberikan kelapangan dari setiap kesempitan, jalan keluar dari setiap kesusahan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Lalu, bukankah kalimat “subhanallahi wa bihamdih” yang begitu ringan diucapkan ternyata termasuk kalimat yang paling dicintai Allah dan sangat berat dalam timbangan amal pada hari kiamat?
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari hadits nomor 6682 dan Imam Muslim hadits nomor 2694 (muttafaq ‘alaih), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ.
“Ada dua kalimat yang ringan di lisan, berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu: subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim.”
Maka sungguh mengherankan apabila manusia rela menghabiskan waktu berjam-jam mengejar dunia, tetapi begitu berat meluangkan beberapa menit untuk membasahi lisannya dengan zikir.
Padahal, boleh jadi zikir-zikir sederhana itulah yang kelak menjadi pemberat timbangan amalnya ketika tidak lagi berguna emas, perak, jabatan, maupun kekayaan yang dahulu begitu dibanggakan.
Kedua: Hati yang Pandai Bersyukur
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Harta yang lebih bernilai dari emas dan perak kedua adalah hati yang pandai bersyukur.
Hati yang bersyukur akan selalu merasa cukup. Orang yang bersyukur tidak iri melihat kekayaan orang lain. Ia menikmati nikmat Allah dan menggunakannya dalam ketaatan.
Sebaliknya, hati yang dipenuhi keserakahan tidak akan pernah merasa puas. Hari ini memiliki satu miliar, ingin sepuluh miliar. Setelah memiliki sepuluh miliar, ingin seratus miliar. Sampai akhirnya ia menghalalkan segala cara.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya hadits nomor 6081, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati.”
Ketiga: Pasangan Beriman yang Membantu dalam Ketaatan kepada Allah
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Harta yang lebih bernilai dari emas dan perak ketiga adalah pasangan beriman yang membantu dalam ketaatan kepada Allah. Inilah salah satu nikmat terbesar dalam kehidupan.
Betapa banyak orang memiliki harta melimpah, namun rumah tangganya dipenuhi pertengkaran. Sebaliknya, banyak keluarga yang hidup sederhana, tetapi dipenuhi ketenangan karena saling mengingatkan untuk shalat, membaca al-Quran, mendidik anak-anak di atas keimanan, dan saling menguatkan dalam ketaatan.
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan secara khusus pasangan seperti ini. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya hadits nomor 1450, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ.
“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu shalat, kemudian ia membangunkan istrinya lalu istrinya pun shalat. Jika istrinya enggan bangun, ia memercikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di malam hari lalu shalat, kemudian ia membangunkan suaminya lalu suaminya pun shalat. Jika suaminya enggan bangun, ia memercikkan air ke wajahnya.”
Materi Khutbah Jumat: Golongan Manusia dalam Harta dan Ilmu
Kisah indah tentang hal ini juga tergambar dari keluarga ulama. Sebagaimana dikisahkan Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (juz 2, hlm. 53), dahulu salah seorang wanita dari kalangan salaf radhiyallahu ‘anhum berkata kepada suaminya setiap kali hendak keluar mencari rezeki:
يَا أَبَا فُلَانٍ … اتَّقِ اللَّهَ فِيْنَا وَلَا تُطْعِمْنَا الْمَالَ الْحَرَامَ، فَإِنَّا نَصْبِرُ عَلَى الْجُوْعِ وَلَكِنَّا لَا نَصْبِرُ عَلَى النَّارِ.
“Wahai Abu Fulan, … bertakwalah kepada Allah dalam urusan kami dan janganlah engkau memberi kami makan dari harta yang haram. Sesungguhnya, kami sanggup menahan lapar, tetapi kami tidak sanggup menahan panasnya api neraka.”
Perhatikanlah nasihat seorang istri yang salihah dalam riwayat tersebut. Ia tidak mendesak suaminya mencari harta sebanyak-banyaknya, apalagi dengan menghalalkan segala cara. Baginya, hidup sederhana dengan rezeki yang halal jauh lebih mulia daripada bergelimang harta yang akan menyeret keluarganya ke dalam azab Allah.
Inilah makna “zaujatun mukminatun tu’inuhu ala imanihi“, yaitu pasangan yang senantiasa mendorong suami atau istrinya untuk menjaga keimanan, ketakwaan, dan kehalalan rezeki.
Maka sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pasangan yang saleh bukan sekadar teman hidup di dunia, tetapi merupakan investasi terbesar seorang mukmin. Ia menjadi penyejuk hati, penjaga agama, pendidik bagi anak-anak, serta—dengan izin Allah—menjadi sebab keselamatan menuju surga.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Apabila tiga perkara ini dimiliki, maka sungguh seseorang telah memiliki kekayaan yang tidak dapat dibeli dengan emas maupun perak. Ia tidak lagi terpesona secara berlebihan oleh gemerlap harta dunia, apalagi sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Sebab ia yakin, kekayaan yang sesungguhnya bukanlah banyaknya harta, melainkan hati yang dekat kepada Allah, lisan yang senantiasa berzikir, dan keluarga yang saling menguatkan dalam keimanan.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa harta yang paling berharga bukanlah banyaknya emas dan perak. Kekayaan yang sesungguhnya adalah lisan yang senantiasa mengingat Allah, hati yang selalu bersyukur atas segala nikmat-Nya, serta kehidupan rumah tangga yang dibangun di atas keimanan, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah.
Karena itu, marilah kita membiasakan lisan kita basah dengan zikir, memenuhi hati kita dengan rasa syukur, dan membangun keluarga yang saling menguatkan dalam ibadah serta menjauhkan diri dari segala yang diharamkan Allah. Sebab, itulah hakikat kekayaan yang sebenarnya di dunia, sekaligus jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan di akhirat.
Demikian materi khutbah Jumat yang dapat khatib sampaikan. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengaruniakan kita nikmat tiga harta paling berharga ini. Mari kita tundukkan hati, berdoa kepada Allah Ta’ala.
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا لِسَانًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا شَاكِرًا، وَزَوْجًا وَذُرِّيَّةً صَالِحَةً تُعِينُنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَجَنِّبْنَا الْحَرَامَ وَالشُّبُهَاتِ، وَاغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Download PDF Materi Khutbah Jumat
3 Harta yang Lebih Bernilai dari Emas dan Perak
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?