Teladan Salaf Menyikapi Berita Kematian Perusak Islam

1 1,004

Jati diri seorang muslim sejati akan tampak jelas ketika menyikapi berita kematian seseorang. Muslim sejati akan bersedih jika ada ulama, dai, ustadz, atau sesama muslim yang meninggal.

Sebaliknya, muslim sejati akan bergembira jika ada berita kematian orang yang aktif mempropagandakan narasi kesesatan, kerusakan, dan kebatilan yang bertentangan dengan prinsip Islam. Entah itu buzzer, influencer, apalagi tokoh think thank-nya.

Dalam hadits disebutkan, ketika ada jenazah yang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ

Telah tiba gilirannya seorang mendapat ketenangan atau yang lain menjadi tenang.”

Para sahabat bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالمُسْتَرَاحُ مِنْهُ؟

Wahai Rasulullah, apa maksud Anda ada orang yang mendapat ketenangan atau yang lain menjadi tenang?”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

اَلعَبْدُ المُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ

Seorang hamba yang beriman akan memperoleh kenyamanan dari kelelahan dunia dan kesulitan-kesulitannya menuju rahmat Allah.”

Lanjur beliau,

وَالعَبْدُ الفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ العِبَادُ ‌وَالبِلَادُ، ‌وَالشَّجَرُ ‌وَالدَّوَابُّ

Sebaliknya, hamba yang jahat, manusia, negeri, pepohonan, atau hewan menjadi nyaman karena kematiannya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari pada hadits nomor 6512. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim pada hadits nomor 950. Keduanya dari jalur perawi Abu Qadatah bin Rib’i.

Para ulama salaf juga telah memberikan teladan secara tegas dalam hal ini.

Ketika berita kematian Bisyr bin Ghiyats al-Muraisi tersebar, kaum muslimin yang teguh berpendirian pada al-Quran dan as-Sunnah sangat berbahagia.

Bisyr bin Ghiyats al-Muraisi adalah seorang tokoh Muktazilah yang menolak sejumlah prinsip keyakinan dalam Islam, seperti keyakinan melihat Allah ketika di akhirat dan keyakinan adanya azab kubur.

Ia juga menolak keyakinan adanya syafaat dan yaumul mizan (hari timbangan amal).

Atas kematian Bisyr bin Ghiyats al-Muraisi ini, hingga saat itu ada yang berucap,

‌وَالْحَمْدُ ‌ِللهِ ‌الَّذِيْ ‌أَمَاتَهُ

Puji syukur kepada Allah yang telah mematikannya.” (Tarikh Baghdad, Abu Bakar al-Khatib al-Baghdadi, 7/70)

Suatu ketika ada orang yang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Ada seseorang yang bahagia dengan apa yang menimpa teman-temannya Ibnu Abi Dua’ad (seorang tokoh aliran sesat Jahmiyah), apakah itu berdosa?”

Jawab Imam Ahmad, “Kenapa tidak bahagia?” (As-Sunnah, Abu Bakr bin al-Khalal No. 1769, 5/121)

Dalam daftar sejarah aliran sesat, terdapat nama Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawwad. Dia adalah salah satu tokoh sentral aliran sesat Murji’ah di masanya.

Ketika tersiar berita kematian Abdul Majid, saat itu tahun 206 Hijriyah, salah seorang tokoh ahlu sunnah, Abdurrazaq ash-Shan’ani, mengucapkan,

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرَاحَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مِنْ عَبْدِ الْمَجِيْدِ

Segala puji bagi Allah yang telah menenangkan umat Muhammad dari ulah Abdul Majid.” (Tahdzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal, 18/275)

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengomentari berita kematian salah seorang tokoh sentral Syiah Rafidhah, Al-Hasan bin Shafi bin Bazdan at-Turki,

“Allah subhanahu wata’ala telah memberikan kenyamanan kepada kaum muslimin pada bulan Dzulhijjah tahun ini. ia dikuburkan di rumahnya. Kemudian jasadnya dipindahkan ke kuburan orang-orang Quraisy. Fa lillahi al-Hamdu wal Minnah. Ketika ia meninggal, kaum muslimin ahlu sunnah luar biasa bahagia. Mereka pun menampakkan rasa syukur kepada Allah. Tidak dijumpai seorang pun kecuali saat itu sangat bahagia.” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, Abu al-Fida’ Ibnu Katsir, 12/338)

Dikisahkan pula ketika Bisyr bin Ghiyats al-Muraisi meninggal, ada salah seorang ahlu sunnah yang yang mendatangi prosesi penguburan jasadnya. Namanya Ubaid asy-Syunaizi. Padahal saat itu tidak ada seorang ahlu sunnah pun yang menghadiri prosesi penguburannya.

Setelah kaum muslimin melakukan klarifikasi kepada Ubaid asy-Syunaizi, ternyata kedatangannya tersebut bukan dalam rangka menghormatinya, akan tetapi dalam rangka ingin mendoakan kebinasaan tokoh kesesatan tersebut tepat di atas makamnya. (Tarikh Baghdad, Abu Bakar al-Khatib al-Baghdadi, 7/70; Naqdhu ad-Darimi ‘ala al-Muraisi, Abu Sa’id ad-Darimi as-Sijistani, 1/70)

Demikian sederet teladan para salaf dalam menyikapi informasi kematian orang yang menampakkan permusuhan, merusak, dan berusaha menghancurkan prinsip-prinsip dalam Islam.

Maka, jika mendapat berita kematian orang yang aktif merusak Islam, menebar ajaran kesesatan dan kebatilan, ungkapkan rasa syukur,

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَرَاحَ الْمُسْلِميْنَ مِنْهُ

Segala puji bagi Allah yang telah menenangkan kaum muslimin dari ulah keburukannya.”

Semoga Allah subhanahu wata’ala melindungi kita dari sikap yang berlawanan dari karakteristik muslim sejati; gembira atas wafatnya ulama umat yang berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah, dan bersedih atas meninggalnya tokoh-tokoh kejahatan, aliran sesat, dan perusak Islam. Wallahu a’lam (Sodiq Fajar/dakwah.id)

 

Artikel selanjutnya:
Khutbah Jumat: Peristiwa Mendebarkan Setelah Kematian

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
1 Komen
  1. […] diri seorang muslim sejati akan tampak jelas ketika menyikapi berita kematian seseorang. Muslim sejati akan bersedih jika ada ulama, dai, ustadz, atau sesama muslim yang […]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.