Tarbiyah Jihadiyah Sebagai Konsep Pendidikan Islam

0 490

Tarbiyah Jihadiyah Sebagai Konsep Pendidikan Islam

 

 

Pendidikan secara umum memiliki definisi sebagai proses pewarisan nilai-nilai atau kebudayaan dari satu generasi ke generasi selanjutnya atau dalam istilah lain disebut Transformation of Values. Sebuah proses untuk mewariskan visi dan misi sebuah komunitas dari generasi tua ke generasi penerusnya dengan harapan nilai-nilai yang diyakini akan terus eksis.

Seperti apa yang dituliskan oleh Hasan Langgulung yang menyatakan, “Dengan kata lain pendidikan adalah suatu tindakan (action) yang diambil oleh suatu masyarakat, kebudayaan, atau peradaban untuk memelihara kelanjutan hidupnya.” (Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, Hasan Langgulung, 91-92)

Lebih lanjut, Hasan Langgulung berpendapat bahwa pendidikan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi masyarakat dan dari segi individu. Dari segi masyarakat, pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan.

Baca juga: Iman, Islam, dan Korelasi Antara Keduanya

Sementara dari segi individu, pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi. Dari situ, ia menarik kesimpulan bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai pewarisan kebudayaan sekaligus pembangunan potensi-potensi.” (Asas-Asas Pendidikan Islam, Hasan Langgulung, 3)

Senada dengan apa yang ditulis Hasan tentang pewarisan nilai dalam proses pembentukan karakter peserta didik. Abuddin Nata menyatakan bahwa kata pendidikan adalah terjemahan dari kata atTarbiyah yang dapat diartikan; proses menumbuhkan dan mengembangkan potensi yang terdapat pada diri seseorang, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.

Selain kata tarbiyah juga dapat berarti menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik, memperbaiki, menguasai urusan, memelihara dan merawat, memperindah, memberi makna, mengasuh, memiliki, mengatur dan menjaga kelangsungan maupun eksistensi seseorang. (Sejarah Pendidikan Islam, Abuddin Nata, 14-15)

 

Nilai dan Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam atau Tarbiyah Islamiyah tidak jauh berbeda dengan definisi pendidikan secara umum, akan tetapi yang menjadikannya unik dan spesifik adalah standar nilai yang menjadi acuan dan sumber pewarisan nilai-nilai yang akan diajarkan.

Dalam definisi pendidikan secara umum, nilai-nilai yang menjadi acuan adalah apa yang ditentukan dan ditetapkan oleh masyarakat tertentu. Akan tetapi, Islam memiliki sumber dan standar penilaiannya sendiri, yaitu nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri, yang bersumber dari al-Quran dan Hadist Nabi.

Urgensi penetapan sumber dan acuan dalam menentukan nilai-nilai pendidikan, moral dan pengetahuan menjadi sangat penting. Karena ia akan menjadi timbangan segala sesuatu.

Standar baik-buruk bukan ditentukan orang per orang atau masyarakat tertentu, akan tetapi nilai-nilai Islam yang baku yang menjadi acuan serta standar penentuan nilai-nilai tersebut. Sehingga nilai-nilai pendidikan tersebut tidak berubah-ubah, karena ada standar nilai yang menjadi acuan dalam mencetak generasi penerus.

Sehingga orientasi dan tujuan pendidikan Islam menjadi terukur dan jelas, yaitu mencetak generasi yang ukhrawi oriented: manusia yang bertujuan pada akhirat. Karena dalam Islam, tujuan diciptakannya manusia adalah untuk menjadi hamba yang mengabdikan diri kepada Allah semata.

Ahmad Dhaifullah Umar memberikan definisi pendidikan Islam adalah tentang membentuk karakter manusia islami dengan proses yang terukur dan bersumber dari nilai-nilai yang ditetapkan oleh syariat Islam.

“Pendidikan Islami adalah proses yang dilakukan dengan sengaja (sadar), kontinu, dan komprehensif, mencakup semua aspek individu. Sebuah proses dalam rangka menyiapkan manusia yang saleh dan sempurna baik dari aspek agama maupun dunia yang selaras dengan sumber-sumber syariat Islam. Sehingga individu tersebut mempunyai kemampuan berinteraksi dengan realitas kekinian.” (Malamih At-Tarbiyah Al-Jihadiyah wa Tathbiqatuha At-Tarbawiyah, Ahmad Dhaifullah Umar, 20)

Baca juga: Loss of Adab, Salah Langkah atau Salah Arah Pendidikan?

Maka nilai-nilai Islam yang baku serta dinamis tersebut akan selalu mampu mencetak generasi pelanjut estafet perjuangan Islam di setiap zaman.

Karena nilai-nilai yang termaktub dalam al-Quran dan Hadist dijamin oleh Rasulullah keotentikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, tidak akan tersesat selamanya jika kalian berpegang teguh kepada keduanya; ialah kitabullah (Al-Quran) dan Sunah Nabi-Nya.” (Al-Muwatha’, Imam as-Suyuthi, No. 1628)

Nilai-nilai ini yang menjadikan konsepsi pendidikan Islam memiliki prinsip-prinsip yang permanen namun elastis dan universal.

Karena nilai-nilai yang tersebut selaras dengan fitrah dalam seluruh dimensi kehidupan manusia.

Dan inilah yang membuat pendidikan Islam menjadi lebih utama dibandingkan beragam bentuk pendidikan di dunia ini.

Maka output yang dihasilkan dari model pendidikan Islam ini adalah lahirnya generasi dengan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran Islam yang memiliki karakter manusia yang bertakwa.

Karena karakter manusia bertakwa adalah hasil akhir yang diinginkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

 

Tarbiyah Jihadiyah dalam Pendidikan Islam

Kata tarbiyah adalah istilah baru yang muncul belakangan, atau istilah lengkapnya adalah Tarbiyah Islamiyah (pendidikan Islam).

Jika merujuk pada al-Quran dan Hadits, maka tidak ditemukan kata tarbiyah dalam kata atau istilah yang digunakan secara khusus.

Namun jika merujuk pada akar katanya, maka akan ditemukan keterkaitannya. Sebagaimana kata rabba dalam firman Allah ‘azza wajalla,

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.(QS. Al-Isra’: 24)

Achmadi menjelaskan dalam bukunya Ideologi Pendidikan Islam bahwa kata tarbiyah berasal dari kata rabba yang memiliki kaitan dengan makna pendidikan.

“Kata kerja rabba yang masdarnya adalah tarbiyatan memiliki beberapa arti, antara lain mengasuh, mendidik, dan memelihara. Di samping kata rabba, ada kata-kata yang serumpun dengannya yaitu rabba yang berarti memiliki, memimpin, memperbaiki, menambah. Rabba juga berarti tumbuh dan berkembang.” (Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris, Achmadi, 27)

Istilah tarbiyah lebih populer digunakan di abad modern dan sering digunakan dalam banyak karya para ulama dan cendikiawan muslim,  di antantaranya: At-Tarbiyah Al-Jihadiyah wa Al-Bina’ karya Syaikh Abdullah Azzam, At-Tarbiyah Al-Jihadiyah fi as-Sirah An-Nabawiyah karya Syaikh Munir Ghadban, At-Tarbiyah Al-Jihadiyah karya Nasir Al-Julayyil, As-sirah An-Nabawiyah li At-Tarbiyah Al-Jihadiyah karya Syaikh Munir Ghadban, At-Tarbiyah Al-Jihadiyah min Khilali Surati Al-Anfal karya Ahmad Tali Idris, Tarbiyah Jihadiyah Imam Bukhari karya DR. Anung Al-Hamat, dan lain sebaginya.

Baca juga: Fikih Siyasah: Formulasi Penyatuan Islam dan Negara(O

Dalam karya-karya ini kebanyakan kata tarbiyah disandingkan dengan kata jihad. Hal tersebut karena istilah Tarbiyah Jihadiyah merupakan bagian dari pendidikan Islam.

Khalid Ahmad Syantut menjelaskan,

Bahwa Tarbiyah Jihadiyah adalah bagian dari pendidikan Islam dan umat membutuhkan hal tersebut. Dan dengan pendidikan tersebut kaum muslimin akan senantiasa bisa siap untuk jihad di jalan Allah, karena jihad merupakan sebuah kewajiban bagi setiap kaum muslimin.” (Al-Muslimun wa at-Tarbiyah Al-‘Askariyah, Khalid Ahmad Syantut, 5)

Secara historis, generasi pertama umat Islam dari kalangan para sahabat telah menerapkan pendidikan jihad kepada anak-anak mereka.

Seperti pernyataan sahabat Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu,

Dahulu kami (para sahabat) senantiasa mengajarkan kepada anak-anak kami peperangan Rasul dan para pahlawan (para sahabatnya).” (Dauru Al-Mar’ah Al-Muslimah fi Tarbiyati Abnaiha ‘Ala Al-Jihad, Sulaiman Musa Al-Hissi, 40)

Dengan demikian bisa dipastikan bahwa Tarbiyah Jihadiyah merupakan bagian dari pendidikan Islam yang krusial dan fundamental. Karena di dalamnya mengandung aspek akal, rohani dan jasmani.

Dengan ungkapan lain bahwa bagian dari pendidikan Islam adalah Tarbiyah Jihadiyah. Hal ini dikarenakan beberapa hal,

Pertama, jihad merupakan bagian dari ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, pendidikan Islam harus bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, terlebih masyarakat muslim. Dan khususnya pendidikan yang bisa menghidupkan ruhul jihad.

Ketiga, pendidikan Islam merupakan pendidikan yang integral, komprehensif, dan proporsional.

Namun demikian, perlu dipahami dengan benar bahwa Tarbiyah Jihadiyah bukan hanya berkutat tentang kemiliteran atau pendidikan kelaskaran.

Anung Al-Hamat menekankan bahwa Tarbiyah Jihadiyah tidak mengabaikan aspek pendidikan lainnya. Akan tetapi Tarbiyah Jihadiyah adalah untuk menanamkan ruh jihad baik dalam skala individual maupun sosial dan menjadikan ruh jihad sebagai pengikat di antara sektor-sektor pendidikan lainnya.  (Tarbiyah Jihadiyah Imam Bukhari, Anung Al-Hamat, 127)

Maka maksud Tarbiyah Jihadiyah adalah mencetak manusia yang siap hidup dalam rangka memajukan Islam, manusia yang mengetahui betapa besar perannya dalam Islam, manusia yang hatinya senantiasa terpaut dengan Allah dan hari akhir, manusia yang tidak hidup untuk dunia dengan mendahulukan kepentingan akhirat dalam segenap aktivitasnya.

Baca juga: Pembunuhan Khalifah Umar bin Khattab

Ahmad Tali Idris menjelaskan urgensi dari Tarbiyah Jihadiyah dalam dua garis besar; individu dan masyarakat, adapun poin-poinnya sebagai berikut:

Pertama, urgensi yang berkaitan pada individu:

  1. Merupakan tuntutan keimanan dan bukti keikhlasan.
  2. Jihad menanamkan sifat-sifat mulia seperti; sabar, percaya, kekuatan, dan kemuliaan dalam setiap pribadi muslim. Maka mereka yang tumbuh dalam Tarbiyah Jihadiyah akan berhias dengan kesabaran dan keteguhan.
  3. Jihad akan menjadikan seseorang lebih tinggi daripada dunia. Dalam arti segala kegiatannya akan menjadi berorientasi pada akhirat.

Kedua, urgensi yang berkaitan dengan masyarakat:

  1. Jihad mampu menyatukan umat dalam satu barisan. Karena dibutuhkan persatuan untuk mengalahkan musuh, bahu membahu, dan tolong menolong.
  2. Jihad menjadikan umat mulia dan disegani oleh pihak lawan.
  3. Dengan adanya jihad, menjadikan umat senantiasa melakukan persiapan dan memiliki kekuatan.
  4. Jihad merupakan sarana terkuat untuk membebaskan manusia dari beragam kezaliman, ketertindasan, dan kediktatoran. Sehingga wajar jika musuh senantiasa berupaya menjauhkan umat dari jihad. (At-Tarbiyah Al-Jihadiyah min Khilali Surati Al-Anfal, Ahmad Tali Idris, 91)

Maka dapat disimpulkan beberapa poin tentang Tarbiyah Jihadiyah sebagai berikut:

Pertama, Tarbiyah Jihadiyah merupakan bagian dari pendidikan Islami dengan karakter yang komprehensif dan seimbang.

Kedua, Tujuan dari Tarbiyah Jihadiyah adalah membentuk pribadi muslim yang berkarakter rabbani. Yaitu karakter para pejuang dengan sifat-sifat mulia yang siap berjuang demi tegaknya Islam.

Ketiga, Tarbiyah Jihadiyah adalah konsepsi pendidikan yang menumbuhkan nilai-nilai persatuan, keadilan, dan anti kezaliman. (Fadjar Jaganegara/dakwah.id)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.