Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Penyakit Riya’ Sering Menjangkiti Para Da’i. Begini Cara Mengobatinya

562

Riya’ itu menghapus amal, dan menjadi penyebab datangnya kemurkaan dan kemarahan Allah ‘Azza wa Jalla. Riya’ merupakan salah satu penyakit yang menghancurkan. Syaikh Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani menyebutkan, penyakit riya’ lebih berbahaya bagi seorang Muslim ketimbang Dajjal.

Seorang Muslim—terutama para Da’i—yang telah terjangkiti penyakit riya’, hendaknya ia segera menguatkan niat dan betul-betul serius dalam usaha mengobatinya. Memutus seluruh jalur peredaran dan mencabut penyakit riya’ tersebut sampai ke akar-akarnya.

Syaikh Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani menawarkan lima belas cara untuk mengobati penyakit riya’ yang sering menjangkiti para aktivis dakwah Islam di manapun dan di level apapun mereka berdakwah.

 

Cara 1: Kenali Identitas Penyakit Riya’

Seorang dokter tidak akan melakukan tindakan medis sebelum benar-benar mengenali apa penyakit yang diderita pasiennya. Demikian pula dalam proses mengobati penyakit riya’. Orang yang sudah terlanjur terjangkiti penyakit ini harus berusaha mengenali dengan baik identitas penyakit riya’. Apa itu riya’, seperti apa macam-macam riya’ yang biasa menjangkiti hati manusia, faktor apa saja yang mendorong manusia berbuat riya’, bagaimana bisa penyakit riya’ mengontaminasi hati seorang Muslim, dan bagaimana cara mencabut penyakit riya’ dari dalam hati. Semua itu harus dipelajari dengan baik agar bisa menyimpulkan cara yang tepat untuk mengobatinya.

 

Cara 2: Mengobati Penyakit Riya’ dengan Merenungi Keagungan Allah ‘Azza wa Jalla

Seorang Muslim yang telah terjangkiti riya’ hendaknya menyisihkan waktu terbaiknya untuk merenungi keagungan Allah ‘Azza wa Jalla. Mengenali dengan baik nama-nama dan sifat Allah ‘Azza wa Jalla. Mengenali perbuatan (af’al) Allah ‘Azza wa Jalla yang dibangun di atas dasar pemahaman yang benar terhadap al-Quran dan as-Sunnah berdasar pemahaman Ahlu Sunnah wal Jamaah.

Seorang hamba jika telah mengetahui bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang memberi manfaat dan menolak bahaya, yang memuliakan dan yang menghinakan, yang merendahkan dan yang mengangkat derajat seseorang, yang memberi dan yang menahan, yang menghidupkan dan yang mematikan, yang mengetahui sesuatu yang disembunyikan kedipan mata dan mengerti tentang itu, serta dia mengerti bahwa Allah lah Dzat yang berhak diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya, maka pengetahuan yang seperti ini akan membuahkan sifat Ikhlas dan kejujuran bersama Allah ‘Azza wa Jalla. Seorang Muslim perlu mengetahui macam-macam tahuid secara keseluruhan dengan pengetahuan yang benar.

 

Cara 3: Mengobati Penyakit Riya’ dengan Membangun Kesadaran Adanya Alam Akhirat

Seorang Muslim yang terjangkiti penyakit riya’ harus menyadari bahwa alam Akhirat itu ada. Bahwa di alam tersebut Allah ‘Azza wa Jalla telah menyiapkan nikmat dan azab, kengerian saat kematian, dan azab di alam kubur.

Jika seorang hamba telah berhasil membangun kesadaran itu dalam dirinya, dengan sendirinya akan terbangun kekuatan untuk lari dan menghindarkan diri dari penyakit riya’ menuju keikhlashan yang sempurna.

 

Cara 4: Membangun Rasa Takut Terhadap Penyakit Riya’

Orang yang takut terhadap sesuatu tentu ia akan selalu berada pada posisi waspada terhadap kehadiran sesuatu tersebut. Orang yag takut terhadap sesuatu, ia kan berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan dirinya dari sesuatu itu.

Demikian pula dengan penyakit riya’, jika seorang Muslim telah berhasil membangun rasa takut terhadap penyakit riya’, maka ia akan berusaha sekuat mungkin untuk menghindakar diri dan menyembunyikan dirinya dari penyakit riya’.

Seorang Muslim yang telah menyadari adanya indikasi munculnya gejolak keinginan terhadap gila pujian, sanjungan dan popularitas, maka wajib bagi dirinya untuk mengingatkan diri kepada bahaya-bahaya riya’ dan kemurkaan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla siapkan bagi para hamba yang terjangkiti penyakit riya’.

Seorang ulama salaf berkata,

جاهد نفسك في دفع أسباب الرياء عنك، واحرص أن يكون الناس عندك كالبهائم والصبيان فلا تفرق في عبادتك بين وجودهم وعدمهم، و علمهم بها أو غفلهم عنها واقنع بعلم الله وحده

“Paksalah jiwamu untuk menolak faktor penyebab riya’, dan berusahalah menjadikan keberadaan manusia di sisimu seperti binatang ternak dan anak kecil, tak perlu engkau bedakan antara keberadaan dan ketiadaan mereka dalam ibadahmu, antara pengetahuan dan ketidak tahuan mereka terhadap ibadahmu, cukuplah hanya dengan sepengetahuan Allah saja.” (Ikhlash wa Syirkul Ashghar, 15)

Baca juga: Tradisi Syirik Pada Valentine Day Yang Harus Anda Ketahui

Dengan perasaan takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan takut akan hangusnya amal, maka orang yang memiliki bekal ilmu dan iman bisa selamat dari penyakit riya’ dan terhapusnya amal.

Diriwayatkan dari Muhamad bin Lubaid secara marfu kepada Nabi, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.”

Para sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Yaitu riya’, kelak pada hari kiamat Allah akan berfirman kepada mereka ketika semua amal manusia telah diberi balasan, “Pergilah kalian kepada orang yang kalian pameri (dengan amal kalian) waktu di dunia, maka perhatikanlah apakah kalian mendapatkan dari mereka sebuah pahala?” (Musnad Ahmad, 5/428; Shahih Jami ash-Shaghir, 2/45)

Tersebab bahaya riya’ yang begitu besar ini, para sahabat Rasulullah, para tabi’in, dan para ahlul ilmi wal iman sangat takut jika mereka tertimpa bencana penyakit yang sangat membahayakan ini.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun: 60)

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah dia itu adalah orang yang berzina, mencuri, dan yang minum khamr?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar, tetapi dia adalah orang yang berpuasa, bersedekah, dan shalat, dan ia sangat takut kalau semua amalnya itu tidak diterima.” (HR. Ibnu Majah, 2/1404; Shahih Ibnu Majah, 1/109)

Ibnu Abi Malikah berkata, “Aku telah bertemu tiga puluh sahabat Nabi, semuanya sangat takut terhadap kemunafikan, dan tidak satupun dari mereka yang berkata, ‘Sesungguhnya dia berada di atas iman Jibril dan Mikail.” (Fathul Bari, 1/110)

Ibrahim at-Tamimi berkata, “Aku tidak menimbang ucapanku atas perbuatan kecuali aku takut kalau aku adalah seorang pembohong.” (Fathul Bari, 1/110)

Diriwayatkan dari Hasan, ia berkata, “Tidak ada yang takut terhadap riya’ kecuali seorang mukmin, tidak ada yang merasa tenang dengan riya’ kecuali orang munafik.” (Fathul Bari, 1/111)

Umar bin Khattab berkata kepada Hudzaifah, “Aku menyumpahmu atas nama Allah ‘Azza wa Jalla, apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadamu, bahwa beliau menyebutku termasuk dari golongan mereka (orang-orang munafik)?” Hudzaifah berkata, “Tidak, aku tidak akan menganggap suci kepada seorangpun setelahmu.” (Bidayah wa Nihayah, 5/19; Shifatul Munafiqin, Ibnul Qayyim, 32)

Abu Darda’ berkata, “Ya Allah, aku berlindung diri kepadamu dari kekhusyukan nifaq.” Kemudian ada yang berkata, “Apakah yang dimaksud dengan kakhusyukan nifaq?” Beliau menjawab, “Engkau melihat badan seseorang dalam keadan khusyuk, sedangkan hatinya tidak khusyuk.” (Shifatul Munafiqin, Ibnul Qayyim, 36)

Di kesempatan lain, Abu Darda’ pernah berkata, “Jika aku telah yakin bahwa Allah menerima satu dari ibadah shalatku, itu lebih aku cintai daripada dunia seisinya. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/41)

Abdurrahaman bin Abi Laila berkata, “Aku telah bertemu dengan serratus dua puluh sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari golongan Anshar, salah satu mereka ditanya tentang suatu masalah, tetapi tak satupun dari mereka yang menjawab kecuali merasa cukup dengan jawaban yang diberikan oleh temannya.” (HR. Ad-Darimi dalam Sunan-nya, 1/53)

 

Cara 5: Mengobati Penyakit Riya’ dengan Menghindarkan Diri dari Celaan Allah

Salah satu penyebab marasuknya penyakit riya’ pada diri seseorang adalah gengsi bila dicela manusia, sehingga ia berusaha sebisa mungkin untuk menghindarkan diri dari celaan manusia. Padahal, orang yang berakal itu akan lebih memilih menghindarkan diri dari celaan Allah ‘Azza wa Jalla karena celaan Allah ‘Azza wa Jalla itu akan meninggalkan aib di dalam diri.

Seorang laki-laki pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya pujianku adalah hiasan dan celaanku adalah aib.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang demikian itu hanyalah Allah.” (Musnad Imam Ahmad, 3/488, 6/394; HR. At-Tirmidzi no. 3263)

Jika seorang hamba sangat takut kepada manusia dan justru rela dengan murka Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan benar-benar murka dan marah kepadanya, dan Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikan manusia marah kepadanya. Maka, sangat keliru jika seorang Muslim takut terhadap kemarahan manusia padahal Allah ‘Azza wa Jalla lebih berhak untuk ditakuti murkanya.

 

Cara 6: Mengobati Penyakit Riya’ dengan Mencari Tahu Kelemahan Setan

Cara lain untuk mengobati penyakit riya’ dari dalam diri seorang Muslim adalah dengan mencari tahu kelemahan setan. Apa saja yang ditakuti setan. Berusaha membuat setan lari terbirit-birit menjauh dari diri seorang Muslim. Kenapa? Karena setan adalah sumber penebar virus penyakit riya’ dan biang bencana yang mencelakai manusia.

Al-Quran dan as-Sunnah telah memberikan beberapa petunjuk tentang titik kelemahan setan. Setan akan lari terbirit-birit jika mendengar bacaan isti’adzah. Setan akan takut dan menjauh dari pintu rumah jika ada yang membaca basmalah ketika masuk dan keluar rumah. Setan akan menjauh dari pintu-pintu masjid manakala ada ada seorang Muslim yang masuk dan keluar masjid dengan membaca doa atau dzikir. Dan setan akan kesulitan merasuki seorang Muslim dengan bisikan dan was-was jika orang tersebut membiasakan diri dengan dzikir pagi dan petang, dzikir setelah shalat, dan dzikir-dzikir lain yang disyariatkan. (lihat kitab Maqamiusy Syaithan fi Dhauil Kitab was Sunnah, Salim Al-Hilali; Al-Ikhlash, Husain al-‘Uwaisyah, 57-63)

 

Cara 7: Mengobati Penyakit Riya’ dengan Memperbanyak Amal Kebaikan

Memperbanyak amal kebaikan dan mengerjakan ibadah-ibadah tersembunyi dapat menjadi penawar hati yang terjangkiti penyakit riya’. Seperti shalat malam, shadaqah yang dilakukan tanpa sepengetahuan manusia, menangis dan merenung menyendiri karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mengerjakan berbagai shalat nafilah, dan mendoakan saudara seiman.

Sa’ad bin Abi Waqash mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mencintai hamba yang takwa lagi bersih (hatinya) dan menyembunyikan amal ibadahnya.’” (HR. Muslim, Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi, 18/100)

Penyakit Riya’ Sering Menjangkiti Para Da’i 2- dakwah id

Cara 8: Mengobati Penyakit Riya’ dengan Memperkuat Proteksi Diri Dari Celaan

Seseorang yang ingin sembuh dari penyakit riya’ harus berusaha memperkuat diri agar tidak mudah terpengaruh dengan celaan ataupun pujian manusia. Memahamkan kepada diri sendiri bahwa celaan ataupun pujian manusia itu pada hakikatnya sama sekali tidak mendatangkan manfaat ataupun juga tidak membahayakan diri. Ketakutannya ia fokuskan hanya untuk takut kepada celaan Allah ‘Azza wa Jalla, dan kegembiraannya ia fokuskan hanya untuk bergembira manakala mendapat keutamaan dan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Baca juga: Ternyata Ada Viralisasi Kemunkaran Dalam Valentine Day

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58) 

Seorang Muslim harus yakin betul pengetahuannya bahwa tak ada seorangpun yang bisa memberinya manfaat dengan pujiannya, dan tidak ada yang bisa membahayakan dirinya dengan celaan yang dilemparkan kepadanya. Yang bisa melakukan itu semua hanya Allah ‘Azza wa Jalla semata.

Jika ada orang lain yang mencela, jika ia memang benar-benar jujur dalam mencela, maka anggaplah itu sebagai nasehat karena ia telah menunjukkan letak aib pihak yang dicela. Namun jika celaan yang dilemparkan oleh orang tersebut hanyalah kebohongan dan dusta, maka orang tersebut tidak lain hakikatnya sedang menebar dosa pada dirinya sendiri. Semua itu akan menjadi penebus dosa-dosa pihak yang dicela jika ia mau bersabar dan ikhlas. Oleh sebab itu, jika ada seorang Muslim yang mengalami kejadian demikian, sikap yang tepat adalah memaafkan si pencela dan tetap berbuat baik kepadanya. Jika perlu, mohonkan ampun untuk dirinya.

 

Cara 9: Mengobati Penyakit Riya’ dengan Dzikrul Maut

Dzikrul Maut atau mengingat kematian adalah upaya untuk menyadarkan diri bahwa masih ada kehidupan lain setelah usainya kehidupan dunia. Segala apa yang ia perbuat di dunia akan dimintai pertanggung jawaban secara detail.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Dalam ayat lain Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

 

Cara 10: Mengobati Penyakit Riya’ dengan Menanamkan Rasa Takut Terhadap Suu’ul Khatimah

Setelah seorang Muslim menyadari bahwa masih ada kehidupan lagi setelah kehidupan alam dunia ini, makai a harus berfikir bagaimana caranya ketika mati nanti ia mati dalam kondisi terbaik. Nah, menanamkan rasa takut terhadap kematian dengan kondisi buruk (Suu’ul Khatimah) ini menjadi penting dan berfungsi pula sebagai penguat mental agar senantiasa menghindarkan diri dari perbuatan buruk. Riya’ merupakan perbuatan buruk yang menjangkiti tiap jiwa yang kering dari unsur iman kepada hari akhir.

 

Cara 11: Obati Penyakit Riya’ dengan Pergaulan yang Positif

Cara lain untuk mengobati penyakit riya’ adalah keluar dari lingkaran pergaulan dengan orang-orang yang memiliki penyakit yang sama, dan beralih ke lingkungan pergaulan dengan saudara-saudara Muslim lain yang terbukti selalu menjaga keikhlasan dalam beramal dan senantiasa merawat kualitas takwanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Bergaul dengan orang-orang yang ikhlas dan bertakwa sama sekali tidak akan membuat diri tertinggal dalam mendapat kebaikan. Justru, dengan sering-sering bergaul bersama mereka secara tidak langsung berfungsi sebagai contoh positif bagi diri sendiri sehingga dapat memompa semangat untuk lebih berani meninggalkan penyakit riya’.

 

Cara 12: Obati Penyakit Riya’ dengan Banyak Berdoa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menunjukkan kepada para sahabatnya sebuah doa untuk memproteksi diri dari virus riya’ yang sewaktu-waktu dapat merasuk ke dalam jiwa manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai manusia, takutlah kalian kepada syirik jenis ini (riya’), karena ia lebih tersembunyi daripada seekor semut hitam.”

Para sahabat bertanya,

“Bagaimana kita menghindarinya sementara ia lebih tersembunyi daripada semut hitam?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Berdoalah dengan doa,

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئاً نَعْلَمُهُ وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ

Allahumma inna na’udzubika an nusyrika bika syaian na’lamuhu wa astaghfiruka lima laa a’lamuhu

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami sadari. Dan kami memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4/403)

 

Cara 13: Obati Penyakit Riya’ dengan Mendahulukan Cinta untuk Menyebut Allah dari selain-Nya

Seorang Muslim selayaknya untuk selalu mendahulukan cintanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla di atas cintanya kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Mendahulukan penyebutan Allah ‘Azza wa Jalla terhadapnya di atas cinta pujian dan sanjungan manusia.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

 

Cara 14: Obati penyakit Riya’ dengan Membersihkan Diri dari Sifat Tamak

Seorang Muslim akan kesulitan terbebas dari penyakit riya’ selama dirinya masih sulit untuk ikhlas. Dan keikhlasan pada diri seseorang akan sulit tumbuh manakala dalam dirinya masih tertanam sifat tamak terhadap sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain.

Seorang Muslim akan sulit menyembuhkan penyakit riya’ dari dalam dirinya jika dalam hatinya masih tertanam sifat tamak. Sifat tamak ini menjadi salah satu ganjalan untuk mencabut penyakit riya’ dari dalam hati.

Tanamkan pada diri bahwa tak ada sesuatu yang diinginkan oleh seseorang kecuali itu ada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada seorangpun yang memilikinya kecuali hanya Allah ‘Azza wa Jalla saja. Dan tak ada seorang hamba pun yang mampu melakukannya selain Allah ‘Azza wa Jalla.

 

Cara 15: Sadari Buah Keikhlasan, Maka Jiwa akan Sembuh dari Penyakit Riya’

Ikhlas adalah faktor kemenangan umat. Ikhlas akan menyelamatkan seseorang dari azab Allah ‘Azza wa Jalla. Ikhlash akan mengangkat derajat dan kedudukan seorang hamba baik di dunia maupun di akhirat. Ikhlas akan menyelamatkan manusia dari kesesatan di dunia. Dan ikhlas akan mendatangkan cinta Allah ‘Azza wa Jalla dan cinta seluruh penghuni langit dan bumi.

Oleh sebab itu, mengetahui dan menyadari betapa mulianya buah dari keikhlasan, menyadari betapa banyak kebaikan-kebaikan yang akan ia tinggalkan di dunia dan di akhirat jika ia ikhlas, akan membantu mengobati jiwa yang terjangkit penyakit riya’.

Baca juga: Keislaman Abu Bakar Ash-Shiddiq Dan Pengaruhnya Terhadap Dakwah

Seorang Da’i yang mengharapkan kesuksesan dakwahnya, dan senantiasa mengharap keselamatan dan cinta dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka hendaknya ia beramal dengan sungguh-sungguh dalam meraih keikhlasan dan menghindarkan diri dari penyakit riya’. Dengan begitu, semoga Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar menurunkan pertolongannya dalam aktivitas dakwah, menyeru manusia untuk hanya beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla saja dan meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya. Wallahu a’lam (Disadur dari kitab Muqawwimat ad-Da’iyyah an-Najih, Syaikh Said bon Ali bin Wahf al-Qahthani/Shodiq/dakwah.id)