Ngaji Fikih #9: Melakukan Fardhu Wudhu Secara Berurutan

0 179

Pada artikel sebelumnya, Ngaji Fikih #8, telah diulas pembahasan fardhu wudhu yang kelima, yaitu membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Artikel Ngaji Fikih #9 kali ini insyaallah akan membahas fardhu wudhu yang keenam, yaitu melaksanakan fardhu wudhu secara berurutan.

Untuk membaca kembali artikel Ngaji Fikih seri 1-8 yang disarikan dari kitab Al-Bayan wa At-Ta’arif bi Ma’ani Wasaili Al-Ahkam Al-Mukhtashar Al-Lathif karya Ahmad Yusuf An-Nishf, silakan klik link berikut ini:

Ngaji Fikih

Baik, kita lanjutkan.

Fardhu wudhu yang terakhir, yang keenam, adalah melakukan seluruh fardhu wudhu secara berurutan.

Pertama-tama niat, kemudian mencuci wajah, mencuci kedua tangan sampai siku-siku, mengusap sebagian kepala, dan mencuci kedua kaki sampai mata kaki.

Konsultasi: Vaksinasi Hepatitis pada Bayi, Boleh atau Tidak?

Berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

Ayat di atas menyebutkan fardhu wudhu secara berurutan. Selain itu, Rasulullah selalu berwudhu secara berurutan seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

Beliau juga bersabda: “Mulailah dengan apa yang Allah memulai dengannya.” (HR. An-Nasai)

Seseorang yang mendahulukan anggota wudhu dari urutannya maka anggota wudhu tersebut tidak dianggap telah dilakukan.

Contohnya, mendahulukan kedua kaki daripada wajah. Kedua kaki yang didahulukan tidak dianggap, meskipun pembasuhan wajah tetap dianggap.

Artikel Fikih: Hukum Melaksanakan Beberapa Shalat dengan Satu Wudhu

Sehingga cukup meneruskan dengan mencuci kedua tangan sampai siku, mengusap sebagian kepala, dan seterusnya. Tidak perlu mengulangi wudhu dari pertama.

Orang yang menenggelamkan tubuhnya ke dalam air; baik air sedikit maupun banyak, dan diawali dengan niat berwudhu maka wudhunya dianggap sah. Sekalipun lamanya tenggelam kurang dari kebiasaan seseorang melakukan wudhu secara tertib.

Misalnya, untuk berwudhu secara berurutan seseorang membutuhkan waktu 30 detik, meskipun lamanya tenggelam kurang dari 30 detik maka wudhunya tetap dianggap sah.

Kecuali mengambil pendapat Imam Ar-Rafi’i, menurut beliau lamanya tenggelam tidak boleh kurang dari kebiasaan seseorang melakukan wudhu secara tertib. Wallahu a’lam. [Arif Hidayat/dakwah.id]

 

(Disarikan dari kitab: Al-Bayan wa At-Ta’arif bi Ma’ani Wasaili Al-Ahkam Al-Mukhtashar Al-Lathif, Ahmad Yusuf An-Nishf, hal. 55-56, Dar Adh-Dhiya’, cet. 2/2014).

 

 

 

QUOTE

 

Ngaji Fikih 9 melaksanakan Fardhu wudhu secara berurutan dakwah.id

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.