Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Teori Menghafal Hadits Untuk Kalangan Pelajar Ala Dr. Hambal Shafwan

189

Menghafal hadits merupakan cara klasik yang digunakan oleh para ulama terdahulu dalam meniti tangga thalabul ilmi, karena dengan menghafal hadits seseorang akan memiliki pondasi dalam menguasai fikih, Al-Quran, Akhlaq, dan lainnya.

Seorang dosen hadits, Dr. Muhammad Hambal Shafwan, Lc., M.Pd.I menawarkan beberapa teori yang harus diperhatikan agar sukses dalam menghafal hadits:

 

Pertama, membaguskan niat sebelum menghafal hadits

Niat yang ikhlas adalah kunci kebaikan, kemudahan, dan keberkahan dalam thalabul ilmi. Al-Khatib dalam kitab al-Jami’ li Akhlaqi ar-Rawi wa Adab as-Sami’ (1780) menukilkan sebuah atsar dari Ibnu Abbas, bahwa ia mengatakan,

إِنَّمَا يَحْفَظُ الرَّجُلُ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ

Sesungguhnya kemampuan seseorang dalam menghafal itu tergantung kepada niatnya.

 

Kedua, Menjauhi maksiat dalam proses menghafal hadits

Maksiat adalah penghalang terbesar seorang thalabul ilmi untuk mampu menghafal hadits dan menjaga hafalannya. Oleh karena itu Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al-Ilmi (1195) menukilkan atsar dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia mengatakan,

إِنِّي لَأَحْسَبُ أَنَّ الرَّجُلَ يَنْسَى الْعِلْمَ قَدْ عَلِمَهُ بِالذَّنْبِ يَعْمَلَهُ

Sungguh aku memiliki prasangka kuat bahwa seseorang lupa terhadap ilmu yang telah dipelajarinya adalah karena dosa yang ia perbuat.

Baca juga: Hadits Maudhu’ Tentang Malam Nishfu Sya’ban Yang Perlu Diketahui

Oleh karena itu, Imam asy-Syafi’i mengatakan,

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

“Aku mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada guruku (Waki’), lalu ia memberikan petunjuk kepadaku agar aku meninggalkan kemaksiatan, dan ia mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”

 

Ketiga, Memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menghafal hadits

Waktu dan tempat sangat memengaruhi keberhasilan seseorang dalam menghafal. Setiap orang lebih tahu akan dirinya kapan waktu yang tepat baginya untuk menghafal, karena setiap orang memiliki kesibukan yang berbeda.

Namun para ulama salaf menganjurkan untuk memilih waktu malam untuk menghafal, terlebih waktu sahar (sepertiga malam terakhir).

Al-Khatib dalam kitab Al-Jami’ (1873) menukilkan atsar dari Ismail bin Abu Uwais, bahwa ia mengatakan,

إِذَا هَمَمْتَ أَنْ تَحْفَظَ شَيْئًا فَنَمْ وَقُمْ عِنْدَ السَّحَرِ فَأَسْرِجْ وَانْظُرْ فِيهِ فَإِنَّكَ لَا تَنْسَاهُ بَعْدُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Jika engkau berkeinginan untuk menghafal suatu ilmu maka tidurlah (di awal malam), lalu bangunlah di waktu sahar, lalu nyalakan lampu, lalu lihat dan hafalkan (apa yang ingin engkau hafal), maka insya Allah engkau tidak akan lupa setelahnya.

Adapun tempat yang tepat untuk menghafal hadits adalah tempat yang jauh dari keramaian dan tempat yang tenang seperti kamar, kelas, dan masjid.

Memilih masjid sebagai tempat menghafal adalah lebih utama, karena akan lebih khusyuk dan terlebih ia bisa langsung shalat sunah ketika sudah lelah menghafal dan akan kembali semangat setelahnya.

 

Keempat, Mengeraskan bacaan dalam menghafal hadits

Mengeraskan bacaan dalam menghafal hadits sangat membantu untuk lebih mempercepat hafalan masuk ke otak, karena beberapa anggota badan ikut berperan dalam menghafal, seperti mata fokus melihat ke kertas hafalan, lidah yang mengucapkan hafalan, dan telinga yang dipakai mendengar suara kita, maka hal itu lebih cepat dan kuat dalam melengketkan hafalan dalam otak.

 

Kelima, Memperkuat hafalan hadits dengan banyak mengulang bacaan dan hafalan

Menurut Ibnu Jauzi dalam kitab Al-Hatstsu ‘al Hifdzis Sunnah (49) bahwa metode untuk memperkuat hafalan hadits adalah dengan banyak mengulang, sementara manusia bertingkat-tingkat dalam hal menguatkan hafalan.

Ada orang yang hafalannya kuat dengan sedikit mengulang, ada pula orang yang tidak hafal kecuali setelah memperbanyak pengulangan.

Dahulu, Abu Ishaq asy-Syairazi mengulang pelajaran sampai 100 kali. Sementara Hasan bin Abi Bakr an-Naisaburi menuturkan,

لا يَحْصُلُ الْحِفْظُ إِلَيَّ حَتَّى يُعَادَ خَمْسِينَ مَرَّةً

Saya tidak bisa hafal kecuali setelah saya mengulanginya sebanyak 50 kali.”

Baca juga: Siapa Mahram Bagi Perempuan Yang Disebutkan Dalam Hadits Safar?

Hasan al-Bashri berkisah bahwa ada seorang ahli fikih banyak mengulang pelajaran di rumahnya, sehingga seorang nenek yang tinggal di rumahnya mengatakan, “Demi Allah, aku telah hafal.”

Kemudian Hasan al-Bashri mengatakan kepadanya, “Ulangilah!”, maka nenek tersebut bisa mengulanginya.

Setelah lewat beberapa hari, Hasan al-Bashri berkata kepada nenek tersebut, “Wahai nenek, ulangilah apa yang engkau dahulu hafal.”

Nenek tersebut menjawab, “Saya sudah tidak hafal.”

Maka Hasan al-Bashri mengatakan, “Oleh karena itu, saya senantiasa mengulangi hafalanku agar aku tidak lupa sepertimu.

 

Keenam, Mengelompokkan hafalan Hadits

Imam Ahmad ketika ditanya bagaimana cara beliau menjaga hafalan hadits ratusan ribu, maka beliau menjawab, “Aku mengelompokkannya.”

Mengelompokkan hafalan adalah upaya menertibkan hafalan hadits agar lebih mudah dihafal dan diingat, karena seseorang yang memasukkan hafalan ke otaknya secara tertib maka ia akan mudah mengeluarkannya secara tertib pula.

Cara mengelompokkan bisa dengan berpatokan pada angka seperti menggunakan kelipatan lima, sepuluh, dan lainnya, atau mengelompokkannya per bab.

 

Ketujuh, Menyetorkan hafalan hadits kepada kawan atau pembimbing secara rutin

Untuk lebih mudah dan lebih istiqamah dalam menghafal hadits, maka seorang penghafal hadits harus secara rutin menyetorkan hafalannya kepada kawan atau pembimbingnya. Karena seseorang jika menghafal sendirian maka ia akan lebih cepat bosan dan putus asa.

Dengan adanya tempat menyetor hafalan hadits, maka kita akan diingatkan jika ada bacaan yang keliru, dan ada orang yang akan selalu menagih dan menyemangati kita agar bisa selesai pada target yang diinginkan.

Baca juga: Penyakit Riya’ Sering Menjangkiti Para Da’i. Begini Cara Mengobatinya

Kedelapan, Menjaga hafalan hadits dengan senantiasa mengecek hafalan dan mengulanginya pada waktu yang berbeda

Hafalan walaupun kuat jika tidak pernah diulangi maka pasti lupa. Lupa adalah sifat bawaan manusia yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu, dengan sering mengecek hafalan hadits dan mengulanginya maka hafalan akan tetap terjaga.

Ada seseorang yang bertanya kepada al-Asma’i, “Bagaimana engkau bisa masih hafal, sedangkan temanmu yang lain sudah lupa?

Ia menjawab, “Aku selalu mengulanginya sementara temanku meninggalkannya.”

Seorang penghafal hadits harus memiliki jadwal khusus untuk mengulangi hafalan hadits yang pernah dihafalnya, baik jadwal harian, pekanan, atau bulanan. Dengan demikian ia akan bisa selalu mengecek hafalan hadits yang ia miliki.

 

Kesembilan, Mengamalkan hadits yang telah dihafal

Mengamalkan hadits-hadits yang telah dihafal adalah termasuk bagian dari Ihya’us Sunnah (menghidupkan sunah). Di samping hafalan akan semakin kuat menghujam dalam otak jika kita mengamalkannya.

Ibnu Abdil Barr dalam kitab Al-Jami’ Bayan al-Ilmi (1274) menukilkan sebuah atsar dari Sufyan ats-Tsauri, bahwa ia mengatakan,

الْعِلْمُ يَهْتِفُ بِالْعَمَلِ فَإِنْ أَجَابَهُ وَإِلَّا ارْتَحَلَ

Ilmu itu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilannya dijawab, maka ia akan tetap bersama pemiliknya, namun jika panggilannya tidak dijawab, maka ilmu itu akan pergi.

Al-Khatib al-Baghdadi menukil perkataan dari Ismail bin Ibrahim yang diriwayatkan dari Imam Waki’ dalam kitab Al-Jami’ Li Akhlaqir Rawi, , 2/258, ia berkata,

كُنَّا نَسْتَعِينُ عَلَى حِفْظِ الْحَدِيثِ بِالْعَمَلِ بِهِ

Kami membantu hafaan kami dengan mengamalkannya.” (Diadaptasi dari Hadits Arba’in Nawawiyah Untuk Hafalan, Penerbit Pustaka Arafah, Solo/Shodiq/dakwahi.id)