Membantah Syubhat Orientalis Tentang Keotentikan Hadits

0 526

Membantah Syubhat Orientalis Tentang Keotentikan Hadits | Hadits atau sunnah adalah salah satu sumber dari sumber-sumber hukum Islam yang disepakati oleh para ulama. Ia menduduki kedudukan kedua setelah  al-Quran. Oleh karenanya, kedudukan hadits dalam Islam sangat fundamental dan memiliki arti yang sangat penting sebagai sumber ilmu pengetahuan dan pensyariatan hukum dalam Islam.

Akan tetapi dalam perjalanannya, dan juga menjadi sunatullah bahwa ada sekelompok manusia (baca: Orientalis) yang berusaha merusak keotentikannya dengan berbagai syubhat yang mereka lontarkan.

Maka, dalam artikel ini penulis akan menyajikan tentang syubhat orientalis yang merusak dan mengaburkan keotentikan hadits, serta bantahan atas pandangan tersebut.

Jati Diri Orientalis dan Orientalisme

Sebelum mengetahui bagaimana pandangan dan syubhat orientalis terhadap keotentikan hadits. Penulis akan menjelaskan terlebih dahulu siapa yang disebut orientalis dan apa motif kajian mereka.

Secara bahasa, orientalisme (orientalism) berasal dari kata orient dan ism. Dalam bahasa Inggris, kata orient berarti direction of rising sun (arah terbitnya matahari).

Secara geografis, kata orient berarti dunia timur dan secara etnologis berarti bangsa-bangsa timur.

Dakwah Kit: Gratis Download Maktabah Syamilah Terbaru (Update Oktober 2020)

Sedangkan istilah Isme (ism) berarti aliran, pendirian, ilmu, paham, keyakinan, dan sistem. Dengan demikian, secara bahasa, orientalisme dapat diartikan sebagai ilmu tentang ketimuran atau studi tentang dunia timur. (Hadits & Orientalis, 1)

Kajian tentang Timur (orient) termasuk tentang Islam, yang dilakukan oleh orang Barat telah bermula sejak beberapa abad yang lalu. Namun gerakan pengkajian ketimuran ini diberi nama orientalisme baru abad ke-18. (The Oxford English Dictionary, 200)

Motif Orientalis Mengkaji Islam

Meskipun demikian, apakah mereka mengkaji Islam dengan tujuan ingin menyumbangkan tenaga dan pikirannya demi menghidupkan peradaban Islam? Tampaknya tidak demikian.

DR. Hamid Fahmy Zarkasyi menyebutkan sekurang-kurangnya terdapat dua motif utama kenapa Barat mengkaji Islam.

  1. Motif keagamaan.

Barat yang di satu sisi mewakili Kristen memandang Islam sebagai agama yang sejak awal menentang doktrin-doktrinnya. Sehingga motif orientalisme ini bersifat keagamaan, yaitu berkaitan dengan Kristen dan misionaris.

  1. Motif politik.

Barat sebagai peradaban yang baru bangkit dari kegelapan melihat Islam sebagai ancaman besar dan langsung bagi kekuasaan politik dan agama mereka. Barat sadar bahwa peradaban Islam memiliki khazanah dan tradisi ilmu pengetahuan yang tinggi. Oleh sebab itu, mereka perlu untuk merebut khazanah tersebut untuk kemajuan mereka dan sekaligus menaklukkan Islam.

Jadi, motif kajian-kajian orientalis ini bersifat politis, yaitu untuk tujuan kolonialisme. (Liberalisasi Pemikiran Islam, 58-59)

Oleh karenanya, meskipun terkadang kajian mereka ilmiah, tetapi jika cara pandang dan tujuannya diwarnai oleh latar belakang agama dan politik serta worldview Barat atau nilai-nilai peradaban Barat, kajian mereka itu lebih cenderung salah. Termasuk tentang keraguan mereka terhadap keotentikan hadits yang merupakan sumber hukum fundamental dalam Islam.

Origins of Muhammadan Jurispridence-dakwah.id

Tentang Periwayatan Hadits

Hadits yang merupakan panduan hidup umat Islam setelah al-Quran memiliki kemapanan dalam metode, teknik, dan proses periwayatannya yang bisa kita baca dalam literatur kitab turats karya para ulama.

Tradisi ini memang dimiliki secara khas oleh peradaban Islam, sehingga para orientalis yang memang tidak memiliki tradisi ini meragukan validitasnya.

Nah, para orientalis ini melempar syubhat bahwa literatur hadits yang dihasilkan oleh penyampaian lisan itu sangat riskan terhadap pemalsuan dan penyimpangan dalam periwayatan.

Artikel Dakwah: Keislaman Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Pengaruhnya Terhadap Dakwah

Anggapan ini didasarkan pada asumsi bahwa periwayatan hadits hanya melalui teknik hafalan di luar kepada, suatu teknik yang tak terbayangkan oleh mereka. Terlebih mereka berasumsi bahwa hadits baru tertuang dalam bentuk tulisan literatur hadits 200 tahun setelah Rasulullah wafat.

Bahkan, seorang tokoh orientalis, Joseph Schacht, berpendapat bahwa bagian terbesar dari sanad hadits adalah palsu. Menurutnya, semua orang mengetahui bahwa sanad pada mulanya muncul dalam bentuk yang sangat sederhana, kemudian mencapai tingkat kesempurnaan pada paruh kedua abad ketiga Hijriyah. (The Origins of Muhammadan Jurisprudence, 263)

Ia juga mengatakan bahwa sanad merupakan hasil rekayasa para ulama abad kedua Hijriyah dalam menyandarkan sebuah hadits kepada tokoh-tokoh terdahulu hingga akhirnya sampai kepada Nabi untuk mencari legitimasi yang kuat terhadap hadits tersebut. (On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence, 234)

Ushul at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid dakwah.id

Bantahan Atas Syubhat Orientalis

Bagi kaum muslimin, tentu anggapan seperti itu adalah salah dan menyesatkan. Jika diyakini akan menimbulkan keraguan dalam memandang dan menggunakan sumber hukum kedua dalam Islam ini.

Syubhat yang dilemparkan oleh Orientalis ini terbantah setidaknya dengan dua argumen berikut ini.

Pertama: Para ulama salaf (ahli hadits) memiliki kriteria yang sangat ketat dalam masalah sanad ketika mencari dan meriwayatkan hadits.

Sanad adalah hubungan antara seseorang dengan orang-orang sebelumnya dalam mencari atau meriwayatkan hadits yang nantinya akan bersambung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Misalnya, Abu Dawud meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal mengatakan kepada kami, Abdurrazaq mengatakan kepada kami, Ma’mar memberitakan kepada kami dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah, beliau berkata, telah bersabda Rasulullah, “Hendaklah orang yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” (HR. Abu Dawud)

Dengan adanya sanad tersebut, maka jelas kemurnian ajaran Islam akan terjaga.

Sanad merupakan kekhususan yang hanya dimiliki oleh peradaban Islam. Dari sanad tersebut kita akan melihat apakah yang disampaikan itu benar adanya atau tidak, bahkan kita bisa melihat apakah ada seorang pendusta atau seorang yang tidak adil dalam silsilah sanad tersebut, sehingga mengakibatkan tidak diterimanya sebuah hadits.

Karena sangat pentingnya masalah sanad, Syaikh Mahmud ath-Thahan pernah berkata bahwa wajib bagi setiap muslim untuk bersandar kepadanya (sanad) ketika menukil hadits (ucapan) dan kabar-kabar. (Ushul at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, 139)

Download PDF kitab Ushul at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid klik link ini.

Ibnu Mubarak juga pernah berkata,

Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Shahih Muslim, 15)

Kedua: Hadits Rasulullah sejak awal tidak hanya diriwayatkan melalui lisan saja, namun juga telah diriwayatkan melalui tulisan.

Misalnya sebagaimana contoh hadits di atas, yaitu perawi pada sanad hadits tersebut terdiri dari Abu Dawud (wafat 275 H/ 888 M) , Imam Ahmad (wafat 241 H/ 855 M), Abdurrazaq (wafat 211 H/ 826 M), Ma’mar (wafat 153 H/ 770), Hammam bin Munabih (wafat 131 H/ 748 M) dan Abu Hurairah (wafat 59 H/ 678 M), yang semuanya ternyata memiliki karya tulis mengenai hadits.

Abu Dawud menulis Sunan Abi Dawud, Imam Ahmad menulis Kitab Musnad, Abdurrazaq memiliki Kitab al-Mushannaf, Ma’mar punya Kitab al-Jami‘, Hammam memiliki kitab Shahifah dan Abu Hurairah memiliki lembaran-lembaran hadits yang banyak. Dari sini kita ketahui bahwa sejak awal-awal Islam telah banyak para penulis hadits. (Peranan Tulisan Dalam Periwayatan Hadits; Jurnal Islamia no.2/Juni-Agustus, 2004: hlm. 74)

Berkenaan dengan Abu Hurairah yang memiliki catatan hadits, bisa kita ketahui sebagaimana disebutkan Ibnu Abd al-Barr dari Amru bin Umayyah,

Beliau (Amru bin Umayyah) berkata, “Saya pernah menyampaikan sebuah hadits kepada Abu Hurairah, tetapi beliau tidak mengakuinya.”

Saya (Amru bin Umayyah) berkata (kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu), “Tapi saya mendengar hadits ini dari tuan sendiri.”

Lantas beliau (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) berkata, “Kalau kamu memang mendengar hadits ini dari saya, niscaya ia akan ada dalam catatan saya.”

Kemudian beliau mengajak saya ke rumahnya dan menunjukkan kepada saya buku-buku yang mengandung hadits Rasulullah yang banyak dan menemukan hadits tersebut di sana.

Abu Hurairah berkata lagi, “Bukankah sudah saya katakan, kalau benar saya menyebutkan hadits itu kepada kamu, niscaya itu akan ada dalam catatan saya.” (Jami‘ Bayani al-‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/324)

Rasulullah juga pernah bersabda,

Tulislah! Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah keluar dari mulutku ini kecuali kebenaran.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Juga sabda beliau ketika memerintahkan para sahabat untuk menuliskan hadits untuk Abu Syah, “Tulislah oleh kamu sekalian untuknya.” (HR. Al-Bukhari)

Dengan penalaran seperti ini, artinya sejak awal-awal Islam telah ada sebagian para sahabat yang mengumpulkan dan menulis hadits dari Rasulullah baik ketika masih hidup maupun setelah beliau wafat.

Sehingga periwayatan hadits pada awal-awal Islam tidak semata-mata menggunakan hafalan dan lisan saja sebagaimana syubhat yang dilontarkan para orientalis.

Walhasil, hadits telah memiliki kemapanan dalam metode, teknik, dan proses periwayatannya sejak awal, sehingga tidak mungkin diragukan keotentikannya.

Ini sekaligus menolak syubhat para orientalis yang mengatakan bahwa literatur hadits riskan dengan pemalsuan dan penyimpangan karena hanya disandarkan pada penyampaian lisan.

Juga menolak pendapat bahwa hadits baru tertuang dalam bentuk tulisan literatur hadits sekitar 200 tahunan setelah Rasulullah wafat. Sebab, faktanya dokumentasi dan periwayatan hadits dalam bentuk tulisan juga telah dilakukan sejak era sahabat. Wallahu a’lam (Amir Sahidin/dakwah.id)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.