Jalan panjang menuju cakrawala dengan pohon peneduh, gambaran tujuan hidup menuju akhirat

Materi Khutbah Jumat: Menjadikan Akhirat sebagai Tujuan Hidup

Terakhir diperbarui pada ·

Materi Khutbah Jumat:
Menjadikan Akhirat sebagai Tujuan Hidup

Pemateri: Ustadz Fairuz An Nafidz

Mukadimah Khutbah Jumat

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْحَكِيْمِ، الْخَلَّاقِ الْعَلِيْمِ، خَلَقَ لِلدُّنْيَا أُنَاسًا يَطْلُبُوْنَهَا، وَلَا يَرْجُوْنَ غَيْرَهَا، وَخَلَقَ لِلْآخِرَةِ عِبَادًا يَرْجُوْنَهَا، وَيَسْعَوْنَ لِلْفَوْزِ فِيْهَا، نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا، وَنَشْكُرُهُ شُكْرًا مَزِيْدًا.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، جَعَلَ الدُّنْيَا دَارَ ابْتِلَاءٍ وَامْتِحَانٍ، وَجَعَلَ الْآخِرَةَ دَارَ جَزَاءٍ وَقَرَارٍ، فَرَفَعَ بِالْآخِرَةِ أَقْوَامًا فَأَقْبَلُوْا عَلَيْهَا بِقُلُوْبِهِمْ، وَخَفَضَ بِالدُّنْيَا آخَرِيْنَ فَرَكَنُوْا إِلَيْهَا.

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الدُّنْيَا، وَأَرْغَبُهُمْ فِي الْآخِرَةِ، خَيَّرَهُ رَبُّهُ سُبْحَانَهُ بَيْنَ الْمُلْكِ وَالْعُبُوْدِيَّةِ فَاخْتَارَ أَنْ يَكُوْنَ عَبْدًا رَسُوْلًا، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Khutbah Pertama

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia dengan tujuan hidup yang mulia, yaitu beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti petunjuknya hingga akhir zaman.

Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab takwalah bekal terbaik yang akan kita bawa menghadap-Nya.

Setiap Orang Memiliki Tujuan Hidup

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Setiap orang memiliki sesuatu yang menjadi perhatian utama dalam hidupnya. Ada yang mencurahkan hari-harinya untuk meraih kekayaan. Ada yang mengejar kedudukan. Ada pula yang mencari kesenangan sebanyak-banyaknya. Semua itu kita jalani dengan berbagai kesibukan dan cita-cita. Kesibukan dunia memang mudah menyita waktu, pikiran, dan tenaga kita.

Namun, ada pula orang yang menjadikan kehidupan dunia sebagai jalan untuk meraih rida Allah dan kebahagiaan akhirat. Karena itu, marilah kita bercermin sejenak sebelum menilai siapa pun. Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Apakah kita hanya mengejar apa yang bisa dinikmati hari ini? Ataukah kita juga mempersiapkan kehidupan setelah kematian?

Allah subhanahu wata’ala mengingatkan dalam Surah Fatir ayat 5:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُوْرُ.

“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan sampai penipu (setan) memperdayakan kamu tentang Allah.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia, dengan segala keindahan dan kesenangannya, dapat membuat manusia terlena hingga melupakan tujuan hidup yang sebenarnya. Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kesibukan yang kita jalani selama ini semakin mendekatkan kita kepada Allah, atau justru membuat kita semakin lalai dari-Nya?

Al-Quran juga menggambarkan perbedaan antara orang yang hanya mengharapkan kebaikan dunia dan orang yang mengharapkan kebaikan dunia sekaligus akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 200 sampai 201:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۝٢٠٠ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝٢٠١

“Di antara manusia ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan tidak ada baginya bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.'”

Mari kita perhatikan, jamaah sekalian. Keduanya sama-sama meminta kebaikan dunia. Namun, ada perbedaan penting di antara keduanya. Yang pertama hanya meminta kebaikan dunia, sedangkan yang kedua juga memohon kebaikan akhirat. Perbedaan ini mengajarkan kepada kita bahwa menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup bukan berarti mengabaikan dunia. Kita tetap boleh berusaha mencari rezeki, membangun kehidupan yang baik, dan meraih cita-cita. Akan tetapi, semua itu hendaknya tetap berada dalam tuntunan Allah dan menjadi jalan untuk meraih kebahagiaan akhirat.

Ketika Ambisi Kekayaan Mengalahkan Tujuan Hidup

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Bekerja keras dan mencari kekayaan bukanlah kesalahan. Islam justru menganjurkan kita mencari rezeki yang halal. Namun, persoalan muncul ketika ambisi mengumpulkan harta tidak lagi mengenal batas, hingga membuat seseorang melupakan kewajibannya.

Kehidupan modern mendorong kita untuk terus menambah penghasilan, memperluas usaha, dan mengejar standar keberhasilan tertentu. Keinginan memperbaiki hidup yang awalnya wajar, perlahan bisa berubah menjadi ambisi tanpa akhir. Seseorang semakin kaya, tetapi terus merasa kurang dan takut kehilangan hartanya.

Dalam keadaan seperti itu, banyak hak yang berisiko terabaikan: hak keluarga, kewajiban agama, kejujuran dalam usaha, dan kepedulian kepada sesama. Mungkin ada orang yang begitu sibuk mencari uang, sampai tidak punya waktu untuk anak dan istrinya. Mungkin ada pelaku usaha yang mengorbankan hak pekerjanya demi keuntungan. Mungkin ada pula yang terus menumpuk harta tanpa memperhatikan zakat yang telah menjadi kewajibannya. Contoh-contoh ini kita sebut bukan untuk menuduh siapa pun, apalagi menganggap semua orang kaya demikian. Kita menyebutnya agar masing-masing dari kita bermuhasabah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah asy-Syura ayat 20:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِيْ حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيْبٍ.

“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.”

Allah juga menjelaskan dalam Surah al-Isra ayat 18 sampai 19:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهٗ فِيْهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهٗ جَهَنَّمَ ۚ يَصْلٰىهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا ۝١٨ وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا ۝١٩

“Siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki. Kemudian, Kami sediakan baginya (neraka) Jahanam. Dia akan memasukinya dalam keadaan tercela lagi terusir (dari rahmat Allah). Siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, dan dia adalah mukmin, mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.”

Baca artikel terkait: Khutbah Jumat Singkat: Kedudukan Harta dalam Islam

Akibat Ketika Dunia Menjadi Perhatian Terbesar

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi ternyata tidak menjamin ketenangan. Bahkan ia bisa membuat seseorang terus dikuasai kecemasan.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah hadits nomor 4105, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

“Barang siapa menjadikan dunia sebagai perhatian utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakirannya berada di depan matanya, sedangkan ia tidak mendapat dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa menjadikan akhirat sebagai niatnya, Allah akan menyatukan urusannya, menjadikan kekayaan di dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.”

Hadits ini menjelaskan dua akibat bagi orang yang menjadikan dunia sebagai perhatian utamanya.

Pertama, urusan hidupnya terasa tercerai-berai. Pikirannya terus disibukkan oleh cara memperoleh harta yang lebih banyak, mempertahankan kedudukan, dan menghindari kerugian. Apa yang sudah dimiliki tidak lagi dinikmati, karena perhatiannya selalu tertuju pada apa yang belum diperoleh.

Kedua, rasa takut miskin terus menghantui. Harta yang banyak tidak otomatis membuat hati merasa cukup. Seseorang bisa merasa kekurangan meskipun telah memiliki banyak hal, sebab ukuran cukupnya selalu berubah mengikuti keinginannya. Tentu ini gambaran tentang hati yang dikuasai dunia, bukan berarti setiap orang yang bekerja keras pasti mengalaminya.

Baca artikel terkait: Khutbah Jumat Terbaru Bahaya Cinta Dunia

Menjadikan Akhirat sebagai Tujuan Hidup

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup bukan berarti kita berhenti mengejar keberhasilan di dunia. Artinya, kita menempatkan dunia sesuai fungsinya: sebagai sarana untuk beribadah, menunaikan amanah, dan berbuat baik. Kita tidak membiarkan keberhasilan dunia membuat kita lupa kepada Allah, mengabaikan hak sesama, atau melalaikan tanggung jawab yang kelak ditanyakan di akhirat.

Orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup memiliki arah yang jelas. Ia berusaha memperoleh rezeki yang halal. Ia menunaikan kewajibannya. Ia menerima rezeki dengan rasa syukur. Ia tidak mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta, tetapi juga dari ketaatannya dan manfaat yang ia berikan kepada orang lain. Kekayaan pun dapat menjadi sarana kebaikan, jika diperoleh dan digunakan dengan cara yang benar.

Inilah doa yang Allah ajarkan kepada kita dalam Surah al-Baqarah ayat 201:

رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝٢٠١

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Kita memohon kebaikan dunia, tetapi tidak berhenti di sana. Dan sebagaimana firman Allah dalam Surah asy-Syura tadi, siapa yang menghendaki hasil akhirat, Allah akan menambahkan hasil itu baginya.

Baca artikel terkait: Khutbah Jumat Singkat: Empat Kebaikan Dunia dan Akhirat

Keteladanan Rasulullah dalam Menyikapi Dunia

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi kita teladan bahwa kemuliaan hidup tidak ditentukan oleh banyaknya kemewahan. Ketika Allah memerintahkan beliau memberi pilihan kepada istri-istrinya, Allah berfirman dalam Surah al-Ahzab ayat 28 sampai 29:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ اِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا فَتَعَالَيْنَ اُمَتِّعْكُنَّ وَاُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيْلًا ۝٢٨ وَاِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَالدَّارَ الْاٰخِرَةَ فَاِنَّ اللّٰهَ اَعَدَّ لِلْمُحْسِنٰتِ مِنْكُنَّ اَجْرًا عَظِيْمًا ۝٢٩

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, aku akan berikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi orang-orang yang berbuat baik di antara kamu.'”

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari hadits nomor 4785 dan Imam Muslim hadits nomor 1475, Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Aku memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.” Istri-istri beliau yang lain pun memilih hal yang sama.

Kisah ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri. Ketika kepentingan dunia berbenturan dengan ketaatan kepada Allah, pilihan apa yang kita ambil? Perhatikan pula, Rasulullah tidak menolak seluruh urusan dunia. Beliau hanya tidak menjadikan kemewahan sebagai tujuan utama.

Baca artikel terkait: Kultum Ramadhan 04: Kiat Menumbuhkan Sifat Zuhud

Mengingat Kematian dan Singkatnya Kehidupan Dunia

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Lalu bagaimana kita menumbuhkan orientasi akhirat dalam keseharian? Langkah pertama adalah mengingat kematian. Manusia mudah terlena ketika merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal, berapa banyak orang yang dahulu terkenal, berkedudukan, dan berharta, kini telah meninggalkan dunia? Mengingat kematian bukan untuk melemahkan semangat bekerja, melainkan untuk menyadarkan kita bahwa kesempatan berbuat baik itu terbatas.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di atas tikar hingga bekasnya tampak di tubuh beliau. Para sahabat menawarkan untuk menyediakan alas yang lebih empuk.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi hadits nomor 2377 dan Imam Ibnu Majah hadits nomor 4109, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

مَا لِيْ وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا.

“Apa peduliku dengan dunia? Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.”

Membaca dan Merenungkan Al-Quran

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Langkah berikutnya adalah mendekat kepada al-Quran. Al-Quran terus mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia itu sementara. Kisah umat terdahulu menunjukkan bahwa kemegahan dunia tidak berlangsung selamanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah an-Nisa ayat 77:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰى

“Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit, dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa.'”

Allah juga berfirman dalam Surah al-A’la ayat 16 sampai 17:

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا ۝١٦ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى ۝١٧

“Tetapi kamu memilih kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

Maka membaca al-Quran hendaknya disertai usaha memahami dan mengamalkan pesannya.

Baca artikel terkait: Materi Kultum Ramadhan 18: Akhirat Kehidupan yang Hakiki

Menghadirkan Akhirat dalam Kehidupan Sosial

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Mengingat akhirat juga harus tercermin dalam perilaku kita, bukan berhenti pada renungan tentang kematian. Menunaikan hak keluarga, berlaku jujur dalam pekerjaan, tidak mengambil hak orang lain, dan membantu sesama adalah wujud tanggung jawab seorang muslim.

Orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup tidak hanya bertanya, “Berapa banyak yang berhasil saya kumpulkan?” Ia juga bertanya, “Sudahkah saya menunaikan hak-hak yang menjadi tanggung jawab saya?” Kekayaan yang disertai takwa dan kepedulian dapat menjadi jalan untuk memperluas manfaat. Maka orientasi akhirat harus membuat kita semakin bertanggung jawab terhadap kehidupan dunia, bukan menjadikannya alasan untuk mengabaikan kewajiban sosial.

Memperbanyak Doa agar Tujuan Hidup Tidak Bergeser

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Terakhir, marilah kita memohon kepada Allah agar hati kita tidak dikuasai oleh ambisi duniawi, dan agar urusan dunia menjadi penunjang ketaatan, bukan penghalang dari akhirat.

Di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi hadits nomor 3502, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:

وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.

“Janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai perhatian terbesar kami dan puncak pengetahuan kami.”

Jamaah yang berbahagia, marilah kita periksa kembali prioritas hidup kita. Harta, pekerjaan, dan kedudukan adalah bagian dari kehidupan yang kelak harus kita pertanggungjawabkan. Marilah kita perbarui niat dan tata kembali arah hidup kita. Tujuan hidup seorang muslim adalah mencari rida Allah dan mempersiapkan bekal akhirat, sambil tetap menjalankan tanggung jawab di dunia. Dan setiap dari kita bisa mulai memperbaikinya melalui pilihan-pilihan kecil setiap hari.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ الْعَنِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْإِيْغُوْرَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِي الصِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُضْطَهَدِيْنَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا.

اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ، اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ، اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ.

اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.

اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْنَ الصَّابِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلِّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Menjadikan Akhirat sebagai Tujuan Hidup
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading