khutbah jumat singkat empat kebaikan dunia dan akhirat dakwah.id

Khutbah Jumat Singkat: Empat Kebaikan Dunia dan Akhirat

Khutbah Jumat Singkat
Empat Kebaikan Dunia dan Akhirat

Pemateri: Nofriyanto, M.Ag

*) Link download PDF materi khutbah Jumat ada di akhir tulisan

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَاْلِايْمَانِ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْ جَعَلْتَنَا مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى فِيْ مُحْكَمِ آيَاتِهِ:

{…فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ * وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ * اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ نَصِيْبٌ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ}

وَيَقُوْلُ الرَّسُوْلُ نَبِيُّنَا وَمَوْلَانَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَدِيْثِهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَرْبَعٌ مَنْ أُعْطِيَهُنَّ، فَقَدْ أُعْطِيَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ: قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَبَدَنًا عَلَى الْبَلَاءِ صَابِرًا وَزَوْجَةً لَا تَبْغِيهِ ‌خَوْنًا ‌فِي ‌نَفْسِهَا، ‌وَلَا ‌مَالِهِ. أَمَّا بَعْدُ

Saudara seiman sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah!

Tidak lupa khatib senantiasa mengingatkan kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan iman dan takwa, istikamah dalam menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya. Nas-alullāh at-taufīq was sadād.

Saudara seiman sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah!

Di antara doa yang paling sering dilantunkan setelah shalat adalah doa rabbanā atinā fid dunyā hasanah wa fil ākhirati hasanah wa qinā ‘adzābannār. Yang artinya “Ya Allah, Ya Rabb Kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksaan api neraka.”

Lalu sejatinya apa itu kebaikan dunia dan apa itu kebaikan akhirat?

Marilah sejenak kita mentadaburi hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tadi kita dengar di awal khutbah.

أَرْبَعٌ مَنْ أُعْطِيَهُنَّ، فَقَدْ أُعْطِيَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ: قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَبَدَنًا عَلَى الْبَلَاءِ صَابِرًا وَزَوْجَةً لَا تَبْغِيهِ ‌خَوْنًا ‌فِي ‌نَفْسِهَا، ‌وَلَا ‌مَالِهِ

Ada empat perkara, barang siapa yang mendapatkannya maka berarti ia telah dianugerahi kebaikan dunia dan akhirat. Pertama, Orang yang mempunyai hati yang bersyukur. Kedua, orang yang lisannya selalu berzikir. Ketiga, orang yang selalu bersabar ketika mendapatkan bala’. Keempat, Orang yang mempunyai istri salihah yang tak berkhianat pada dirinya dan harta suaminya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh imam ath-Thabarani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Ausath hadits nomor 7212. Meskipun ada sebagian ulama yang menilai hadits ini dha’if, namun secara makna ada banyak hadits yang menguatkan kebenaran makna yang terkandung dalam hadits ini.

Melalui hadits di atas, baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajarkan umatnya tentang empat kebaikan yang mutu dan kualitasnya meliputi dunia dan akhirat. Apa saja keempat kebaikan tersebut?

Empat Kebaikan Dunia dan Akhirat

Pertama: hati yang bersyukur

Pertama, kebaikan dunia dan akhirat itu terletak pada hati yang bersyukur. Hati yang bersyukur itu sejatinya hati yang bagaimana?

Hati yang bersyukur itu hati yang senang melihat orang lain senang, susah melihat orang lain susah. Hati yang tahu cara berterima kasih kepada Allah subhanahu wataala dan orang berjasa kepada dirinya. Hati yang lapang menerima kebaikan dan kebenaran.

Hati yang bersyukur itu bukan hati yang penuh dengan penyakit dan keburukan seperti iri hati, dengki, tamak, prasangka buruk, dan semisalnya.

Bayangkan jika hati kita dipenuhi oleh penyakit-penyakit kronis ini. Bukankah akan banyak pintu-pintu kebaikan dunia dan akhirat yang tertutup karenanya? Dan pintu-pintu dosa akan terbuka lebar dengannya?

Bukankah orang yang iri dengki adalah orang yang tidak bersyukur dengan nikmat yang ada pada dirinya dan menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain? Kemudian akhirnya ia akan dekat dengan dosa-dosa memfitnah, gibah, namimah atau adu domba, tajassus atau suka mencari-cari kesalahan, dan lainnya?

Kedua: lisan yang senantiasa berzikir

Saudara seiman sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah!

Kedua, kebaikan dunia dan akhirat itu ada pada lisan yang senantiasa berzikir. Lisan yang manakah yang akan mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat? Lisan yang senantiasa terikat selalu basah berzikir menyebut nama-Nya.

Sebut bukan sekedar sebut. Tapi ucapan yang keluar dari mulut dan lisan hanyalah ucapan yang Allah cintai.

Lisan yang ketika ditimpa musibah dan mendapat cobaan berucap: Innā lillāhi wa innā Ilaihi rājiūn, lisan yang ketika mendapat nikmat senantiasa berucap: Alhamdulillāh, lisan yang ketika melihat sesuatu yang buruk berucap: Naudzubillāh wa maādzallāh, lisan yang jika berbuat salah langsung bersegera mengucap: Astaghfirullāh, dan lisan yang ketika mendapat sesuatu yang menakjubkan berucap: Subhānallāh wa tabārakallāh.

Bukan lisan yang senantiasa mencela, menghina, memaki, dan membaca aib-aib orang lain, bukan lisan yang suka menghina dengan sebutan binatang, bukan pula lisan yang terbiasa melukai hati dan perasaan orang lain.

Bukankah baginda Nabi pernah berpesan, orang muslim itu sejatinya ialah yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya? Dan di antara orang yang berat siksanya di akhirat adalah orang yang orang lain takut akan keburukan yang ada pada dirinya, baik buruknya lisan atau perbuatan.

Ketiga: jiwa yang sabar menghadapi ujian

Saudara seiman sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah!

Ketiga, kebaikan dunia dan akhirat itu ada pada jiwa dan raga yang sabar dan tegar menghadapi ujian. Ujian itu adalah sunatullah. Setiap makhluk pasti akan diuji. Entah kecil, entah besar.

Yang menjadi pembeda adalah sikap tatkala menerima ujian tersebut. Apakah ia sabar atau malah sebaliknya: mencaci maki ketentuan Allah, tidak menerima keputusan-Nya, bahkan wal iyadzubillah sampai menyalahkan kehendak-Nya.

Jika berkaitan dengan sabar jenis ini, alangkah baiknya kita belajar kepada makhluk kecil ciptaan Allah yaitu kelapa.

Bagaimana ia menjalani hidup penuh dengan ujian. Sejak awal tumbuh masih menjadi putik akan diuji dengan gangguan tupai, musang, kumbang, dan binatang-binatang lain. Setelah lulus dari ujian ini, ia akan diuji rasa tahan bantingnya tatkala diambil oleh penyantap.

Bukankah cara mengambil kelapa umumnya akan dilemparkan atau dijatuhkan dari atas pohonnya? Bayangkan jika ia jatuh di atas tanah yang keras, akan terkelupas kulitnya. Jika ia jatuh di tanah yang penuh lumpur, umumnya orang akan mengambilnya dengan menancapkan parang atau benda tajam lainnya untuk mengambilnya.

Ujian terus berlanjut sampai ketika ia dibawa ke rumah. Kulitnya akan dikelupas, dagingnya akan diparut menjadi santan. Setelah menjadi santan ia diuji dengan air panas menggelegak guna kepentingan lauk-pauk dan penyedap rasa “orang lain”, lalu dimasukkan daging ayam, telur, daging sapi, atau lainnya.

Pertanyaannya sekarang, apakah setelah lauk pauk itu siap saji dan siap santap, si penyantap akan bertanya, “Apakah kelapa telah masak?” atau justru yang ditanya sebaliknya, misalkan, “Apakah gulai ayam telah siap?”

Padahal siapakah yang sejatinya mengubah keadaan? Siapakah yang mendapat ujian paling berat dan paling banyak hingga lauk-pauk menjadi siap saji dan rasanya gurih? Bukankah kelapa?

Itulah contoh kecil ujian dari makhluk bernama kelapa.

Terkadang dalam kehidupan ini, kita yang berjasa, namun kita tidak dianggap berjasa. Kita yang beramal, namun orang lain yang mendapat apresiasi. Tidak mengapa. Bagi seorang mukmin yang ia harap hanya ridha Allah subhanahu wata’ala, bukan yang lain.

Bahkan tidak berlebihan dan tidak salah kita maknai bahwa kelapa dalam hal ini menjalankan prinsip hidup,

“Sebaik-baik makhluk adalah yang bertakwa dan senantiasa menyembunyikan kebaikannya. Mereka yang apabila hadir terkadang tidak dikenal oleh yang lain dan apabila pergi orang tidak merasa kehilangan. Dirinya seakan-akan asing di dunia, namun langit menyebut kebaikan-kebaikannya”.

Keempat: pasangan hidup yang saleh

Saudara seiman sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah!

Keempat, kebaikan dunia dan akhirat itu ada di pasangan hidup yang saleh dan salihah.

Memiliki pasangan hidup seperti ini tentulah memiliki kebahagiaan tersendiri. Sebab, setiap laki-laki bisa jadi suami. Sebagaimana setiap perempuan bisa jadi istri. Namun, tidak semua suami dan istri bisa menjadi pendamping hidup yang baik!

Cukuplah gambaran al-Quran tentang hal ini menjadi renungan kita bersama.

Bukankah dalam al-Quran ada kisah suami yang saleh bahkan menyandang status sebagai pembawa risalah, namun istrinya justru menjadi penentang dan berada dalam barisan kaum ingkar? Sebut saja Nabi Luth dan istrinya, atau Nabi Nuh dengan istrinya.

Selain itu, juga ada suami yang begitu nyata kekafirannya terhadap Allah, namun istrinya menjadi salah satu wanita terbaik. Dialah Siti Asiyah istri Firaun.

Atau yang lebih parah daripada itu suami dan istri bersekongkol menjadi penentang dakwah Nabi bahkan menjadi musuh utama dalam lisan dan perbuatan. Sebut saja Abu Lahab dan istrinya?

Sebagaimana pula Allah memberi pelajaran kepada kita melalui firman-Nya dengan gambaran pasangan hidup yang sama-sama baik. Pasangan suami istri yang berjalan searah tujuan, tolong-menolong dalam kebaikan, sabar dan taat dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya? Seperti Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam beserta para ummahatul mukminin, Nabi Ibrahim dan Siti Sarah juga Siti Hajar, dan lainnya.

Cukuplah al-Quran menjadi sebaik-baik pengingat dan pelajaran bagi kebaikan dunia dan akhirat kita.

Demikianlah penjelasan singkat tadabur hadits tentang empat kebaikan dunia dan akhirat. Dengan memohon pertolongan Allah subhanahu wataala semoga kita termasuk orang-orang yang dianugerahi oleh Allah subhanahu wataala untuk memilikinya. Aamiin Ya Rabbal Alamiin

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالْآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَانَجَاةَ التَّائِبِيْنَ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلهِ الدَّائِمُ تَوْفِيْقُهُ، اَلْمُتَوَاتِرُ عَطَاؤُهُ وَتَسْدِيْدُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْماً لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيُ لِرِضْوَانِهِ، وَالْهَادِيُ إِلَى إِحْسَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً إِلَى يِوْمِ لِقَائِهِ.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ءَالِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ءَالِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلْ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلْ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ العَجْزِ وَالكَسْلِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ الجُبْنِ وَالهَرَمِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ. الَلَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِيْنِ، وَأَنْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا، وَأَنْ تَقْبِضْنَا إِلَيْكَ غَيْرُ مَفْتُوْنِيْنَ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ كُلِّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat Empat Kebaikan Dunia dan Akhirat di sini:

Semoga bermanfaat!

Materi Khutbah Jumat terbaru:

Topik Terkait

Nofriyanto, M.Ag

Dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA GONTOR, Direktorat Islamisasi UNIDA GONTOR, Alumni Program Kaderisasi Ulama Gontor angkatan VII, Konsentrasi bidang pemikiran Islam

5 Tanggapan

Alhamdulillah telah terbantu seperti saya yang berada di daerah, izin untuk digunakan

Masyaallah mantap ustadz… terima kasih 🙏🙏🙏

Alhamdulillah. Semoga mencerahkan umat.

Support terus tim dakwah.id supaya istiqamah menebar ilmu dan manfaat.

Jika ingin berlangganan artikel dakwah.id & materi khutbah Jumat melalui WA, silakan daftar melalui link ini: http://bit.ly/daftardakwahid

Alhamdulillah sangat bermanfaat untuk kelangsungan sebuah kehidupan, jazhakallahu khoiron khatsiron,,,?🙏

Alhamdulillah, semoga bermanfaat untuk umat.

Dukung terus tim dakwah.id supaya istiqamah menebar ilmu dan manfaat.

Jika ingin berlangganan artikel dakwah.id & materi khutbah Jumat melalui WA, silakan daftar melalui link ini: http://bit.ly/daftardakwahid

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: