Materi Khutbah Jumat: Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur
Pemateri: Ustadz Muhammad Faishal Fadhli
Mukadimah Khutbah Jumat
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِظَاهِرِ النِّعَمِ وَبَاطِنِهَا، وَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِوَافِرِ إِحْسَانِهِ وَكَرَمِهِ، وَهَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِ الْأَنَامِ.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَنَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَوْلَانَا مِنْ آلَائِهِ وَنِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الشَّاكِرِيْنَ، وَإِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ سَبِيْلُ الْفَلَاحِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
وَقَالَ سُبْحَانَهُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ.
Khutbah Pertama
Keutamaan Bersyukur
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di antara buah ketakwaan yang paling agung adalah lahirnya hati yang senantiasa bersyukur kepada Allah. Seorang mukmin yang bertakwa akan menyadari bahwa seluruh nikmat yang ia rasakan—baik yang besar maupun yang tampak sederhana—bersumber dari kemurahan Rabb semesta alam.
Sejak kita membuka mata pagi ini, kita telah menikmati udara yang gratis, jantung yang terus berdetak tanpa kita perintah, mata yang masih mampu melihat, kaki yang masih sanggup melangkah, dan lisan yang masih dapat mengucapkan nama Allah. Betapa banyak nikmat yang Allah limpahkan kepada kita.
Namun, sering kali kita lebih mudah mengingat satu kekurangan daripada seribu karunia. Kita lebih sering menghitung apa yang belum Allah berikan daripada merenungkan betapa banyak yang telah Allah berikan.
Karena itulah Allah mengingatkan kita dengan sebuah janji yang agung, al-Quran Surah Ibrahim ayat 7,
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Ini bukan sekadar janji tentang bertambahnya harta. Ini adalah janji tentang bertambahnya keberkahan. Sebab tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, tetapi hidupnya sempit. Sebaliknya, ada orang yang hartanya sederhana, namun hatinya lapang, keluarganya tenteram, ibadahnya nikmat, dan hidupnya penuh keberkahan.
Itulah tambahan nikmat yang Allah janjikan kepada hamba-hamba yang pandai bersyukur. Namun, hamba yang benar-benar bersyukur itu sangat sedikit jumlahnya. Allah Ta’ala menegaskan, dalam al-Quran Surah Saba’ ayat 13,
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
Teladan Rasulullah
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Jika kita ingin belajar tentang syukur, maka rujukan tertinggi kita adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah seorang Nabi yang jaminan surganya sudah pasti dan dosa-dosanya telah diampuni. Secara nalar, beliau adalah orang yang tidak lagi memiliki beban apa pun di akhirat.
Namun, kenyataan yang kita lihat justru sebaliknya. Beliau adalah orang yang paling panjang shalat malamnya, bahkan hingga kedua kaki beliau membengkak.
Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya mengapa beliau masih beribadah sedemikian rupa padahal dosanya telah diampuni, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan singkat,
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang pandai bersyukur?”
Betapa indah jawaban ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak beribadah karena mengejar pujian, bukan pula karena memburu kedudukan. Beliau beribadah karena hatinya dipenuhi rasa syukur.
Semakin besar nikmat yang beliau rasakan, semakin dalam sujud yang beliau panjatkan. Semakin luas karunia yang Allah limpahkan, semakin tinggi penghambaan yang beliau persembahkan.
Amalan Doa Harian Rasulullah
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Syukur bukan hanya diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui qiamulailnya, tetapi juga melalui kebiasaan beliau dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Perhatikanlah, betapa banyak doa yang beliau ajarkan diawali dengan ucapan “Alhamdulillah”.
Pertama, doa bangun tidur. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari hadits nomor 6325, dari Hudzaifah bin al-Yaman dan Abu Dzarr al-Ghifari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bangun tidur membaca,
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami (tidur), dan kepada-Nyalah kebangkitan.”
Kedua, doa setelah makan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud hadits nomor 4043 dan at-Tirmidzi hadits nomor 3458, dari Mu’adz bin Anas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa selesai makan lalu membaca: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatanku,’ maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Materi Khutbah Jumat: Belajar Sabar dan Syukur dari Nabi
Ketiga, doa memakai pakaian. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud hadits nomor 4020 dan at-Tirmidzi hadits nomor 1767, dari Mu’adz bin Anas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ لَبِسَ ثَوْبًا فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلَا قُوَّةٍ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barang siapa mengenakan pakaian lalu membaca, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberiku pakaian ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatanku,’ maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Seakan-akan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin mendidik umatnya agar memulai setiap kesadaran terhadap nikmat dengan pujian kepada Allah. Bangun tidur, memuji Allah. Makan, memuji Allah. Berpakaian, memuji Allah.
Dengan demikian, syukur bukan menjadi ibadah yang dilakukan sesekali, melainkan menjadi napas yang mengiringi setiap aktivitas seorang mukmin.
Tiga Rukun Syukur
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Para ulama menjelaskan bahwa syukur yang mampu mengantarkan kita menjadi Abdan Syakuran—hamba yang pandai bersyukur—bukanlah amalan yang terpisah-pisah. Syukur adalah satu kesatuan utuh yang berdiri di atas tiga rukun yang saling mengikat.
Pertama: Syukur dengan Hati
Inilah fondasinya. Hati kita harus jujur dan tunduk mengakui bahwa setiap tetes nikmat murni datang dari Allah.
Ketika kita meraih kesuksesan, hati seorang Abdan Syakuran akan berbisik, “Ini bukan karena kita cerdas, bukan karena kita hebat, dan bukan semata-mata karena kerja keras kita.” Hati kita harus bersih dari rasa sombong, karena kita tahu kita tidak memiliki apa pun di hadapan Allah.
Kedua: Syukur dengan Lisan
Setelah hati mengakui, lisan bergerak memuji. Namun, lisan seorang Abdan Syakuran tidak sekadar mengucapkan alhamdulillah sebagai formalitas atau pemanis bibir belaka.
Lisan kita basah oleh pujian karena kita benar-benar merasa berutang budi kepada Allah. Kita menyebut-nyebut nikmat-Nya dengan tujuan mengagungkan Sang Pemberi Nikmat.
Ketiga: Syukur dengan Anggota Badan
Rukun ketiga ini adalah pembuktian nyata. Logikanya sederhana: jadikan setiap nikmat yang Allah berikan sebagai bahan bakar untuk kita semakin taat kepada-Nya.
Jika Allah memberi nikmat harta, maka wujud syukurnya adalah tangan kita yang ringan bersedekah dan membersihkannya dari yang haram.
Jika Allah memberi nikmat ilmu, maka wujud syukurnya adalah jiwa yang semakin tawaduk, tidak angkuh, serta ilmu yang diajarkan untuk menuntun sesama.
Jika Allah memberi nikmat kesehatan, maka wujud syukurnya adalah kaki kita yang ringan melangkah ke masjid dan tubuh yang lelah dalam ibadah.
Jika Allah memberi nikmat waktu luang, maka wujud syukurnya adalah waktu yang kita habiskan untuk menuntut ilmu agama, berzikir, dan produktif dalam kebaikan—bukan habis terbuang sia-sia untuk hal yang melalaikan.
Jika Allah memberi nikmat jabatan dan pengaruh, maka wujud syukurnya adalah pena dan kebijakan kita yang digunakan untuk membela agama Allah, menegakkan keadilan, dan mempermudah urusan orang banyak.
Jika Allah memberi nikmat keluarga dan anak-anak, maka wujud syukurnya adalah kesabaran kita dalam mendidik mereka menjadi generasi yang saleh dan taat, bukan membiarkan mereka jauh dari syariat.
Jika Allah memberi nikmat mata, telinga, dan pancaindra, maka wujud syukurnya adalah menundukkan pandangan dari yang haram, menyibukkan telinga mendengarkan lantunan ayat suci, dan menjaga lisan dari ghibah.
Tanpa pembuktian dari anggota badan ini, syukur kita timpang.
Jika kita mengaku bersyukur atas waktu luang dan keluarga, namun waktu kita habis untuk hal tak berguna dan keluarga kita dibiarkan asing dari agama, maka demi Allah, kita belum menjadi hamba yang bersyukur. Kita baru sampai pada tahap “pandai berucap”, belum menjadi Abdan Syakuran.
Dua Nikmat yang Paling Sering Membuat Manusia Tertipu
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari sekian banyak nikmat yang Allah curahkan kepada kita, ada dua nikmat yang secara khusus diingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Peringatan ini penting, karena di sinilah titik lemah kita.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari hadits nomor 6412, dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ.
“Ada dua nikmat yang membuat banyak manusia tertipu dan merugi, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
Kenapa kita begitu mudah tertipu? Kenapa dua nikmat ini sering kali kita lalaikan?
Karena kita mengukur sesuatu dari seberapa sering kita mendapatkannya, bukan dari seberapa berartinya ia bagi hidup kita.
Lihatlah sekeliling kita. Kita menghirup udara segar setiap pagi, tetapi kita tidak pernah menyadari bahwa di ruang ICU, udara itu dijual dengan harga jutaan rupiah per menitnya.
Kita melangkah dengan bebas ke mana saja, tetapi kita tidak pernah menyadari bahwa di atas kursi roda, orang-orang berlinang air mata merindukan sensasi menyentuh tanah dengan telapak kaki.
Kita membaca al-Quran dengan lantang, tetapi kita tidak pernah menyadari bahwa di kegelapan malam, ada yang buta dan memohon agar Allah mengembalikan sinar di matanya.
Pertanggungjawaban Amal dan Nikmat di Hari Kiamat
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa setiap nikmat juga merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Ta’ala berfirman, dalam Surah at-Takatsur ayat 8,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian, kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).”
Ayat ini mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan. Nikmat bukan hanya karunia, tetapi juga amanah. Di balik kesehatan ada pertanyaan. Di balik harta ada pertanyaan. Di balik ilmu, waktu, keluarga, dan kedudukan, semuanya ada pertanyaan yang kelak harus kita jawab di hadapan Allah.
Materi Khutbah Jumat: Empat Ciri Orang Lalai
Kesehatan akan ditanya, untuk apa tubuh ini digunakan. Harta akan ditanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Ilmu akan ditanya, apakah diamalkan atau hanya menjadi kebanggaan. Waktu akan ditanya, dihabiskan dalam ketaatan atau justru dalam kelalaian.
Maka seorang hamba yang pandai bersyukur bukanlah orang yang sekadar banyak menikmati nikmat Allah, melainkan orang yang berhati-hati dalam menggunakan setiap nikmat karena ia sadar bahwa semuanya akan dipertanggungjawabkan.
Belajar dari Kisah Qarun
Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah,
Mengapa hati manusia begitu mudah lalai dari bersyukur? Bukan karena nikmat Allah sedikit, tetapi karena hati terlalu sering memandang kepada diri sendiri; lupa memandang kepada Pemberi Nikmat. Penyakit inilah yang dahulu menjerumuskan Qarun.
Ketika diingatkan agar bersyukur kepada Allah, Qarun berkata, sebagaimana yang Allah abadikan dalam Surah al-Qashash ayat 78,
إِنَّمَا أُوْتِيْتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِيْ
“Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.”
Barangkali kita tidak pernah mengucapkan kalimat itu dengan lisan. Namun, jangan-jangan kita pernah merasakannya di dalam hati.
Ketika keberhasilan datang, kita sibuk menghitung kecerdasan, kerja keras, pengalaman, dan strategi, tetapi lupa bahwa kemampuan untuk berpikir, kesehatan untuk bekerja, serta kesempatan untuk berusaha, semuanya adalah karunia Allah.
Qarun bukan binasa karena hartanya banyak. Ia binasa karena hatinya tidak lagi melihat Allah sebagai Pemberi Nikmat. Maka marilah kita mengubah cara pandang kita. Jangan merasa memiliki, tetapi merasa dititipi.
Sebab apa pun yang hari ini berada di tangan kita, suatu saat akan lepas dari genggaman, lalu kembali menjadi bahan pertanyaan di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sebelum kita mengakhiri materi khutbah Jumat ini, marilah kita merenungkan firman Allah subhanahu wata’ala, al-Quran Surat Luqman ayat 20,
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin.”
Ayat yang mulia ini mengajarkan bahwa karunia Allah tidak hanya sesuatu yang tampak oleh mata, tetapi juga yang tersembunyi dari pandangan manusia.
Nikmat yang tampak adalah kesehatan yang menguatkan tubuh, keluarga yang menghangatkan rumah, rezeki yang mencukupi kebutuhan, dan segala kemudahan yang setiap hari kita rasakan.
Adapun nikmat yang tersembunyi, sering kali jauh lebih besar nilainya: iman yang bersemayam di dalam hati, hidayah yang menjaga langkah, dosa-dosa yang Allah tutupi, musibah yang Allah palingkan tanpa kita ketahui, doa-doa yang Allah kabulkan dengan cara terbaik, serta perlindungan-Nya yang setiap saat mengiringi kehidupan kita.
Semua itu nikmat-nikmat batin yang Allah karuniakan kepada kita.
Mungkin, beberapa nikmat telah kita syukuri. Namun, jauh lebih banyak nikmat yang bahkan tidak pernah kita sadari.
Karena itu, hendaknya kita mensyukuri nikmat, baik yang zahir maupun yang batin. Jangan menunggu sakit untuk mensyukuri sehat. Jangan menunggu sempit untuk mensyukuri kelapangan. Jangan menunggu perpisahan untuk menghargai kebersamaan.
Dan jangan menunggu datangnya kematian untuk menyadari bahwa setiap detik kehidupan adalah karunia yang tak ternilai.
Marilah kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sedikit jumlahnya, tetapi tinggi kedudukannya di sisi-Nya; yaitu hamba-hamba yang pandai bersyukur.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.
اَللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Download PDF Materi Khutbah Jumat
Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?