materi khutbah jumat mari tingkatkan keteguhan iman dakwah.id

Materi Khutbah Jumat: Mari Tingkatkan Keteguhan Iman

Terakhir diperbarui pada · 3,167 views

Materi Khutbah Jumat
Mari Tingkatkan Keteguhan Iman

Pemateri: Mubin Amrulloh, Lc., M.SI

*) Link download PDF materi khutbah Jumat ada di akhir tulisan

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ زَيّنَ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ بِأَنْوَارِ الوَفَاقِ، وَسَقَى أَسْرَارَ أَحِبَّائِهِ شَرَابًا لَذِيْذَ المَذَاقِ، وَأَلْزَمَ قُلُوْبَ الخَائِفِيْنَ الوَجَلَ وَالإِشْفَاقَ، فَلَا يَعْلَمُ الإِنْسَانُ فيْ أَيِّ الدَّوَاوِيْنَ كُتُباً وَلَا فِيْ أَيِّ الفَرِيقَيْنِ يُسَاقُ، فَإِنْ سَامَحَ فَبِفَضْلِهِ، وَإنْ عَاقَبَ فَبِعَدْلِهِ، وَلَا اعْتِرَاضَ عَلَى المَلِكِ الخَلَّاقِ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، إِلَهٌ عَزَّ مَنْ اعْتَزَّ بِهِ فَلَا يُضَامُ، وَذَلَّ مَنْ َتكَبَّرَ عَنْ أَمْرِهِ وَلَقِيَ الآثَامَ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَشَفِيْعَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ مِنْ خَلْقِهِ وَحَبِيْبِهِ، خَاتَمُ أَنْبِيَائِهِ، وَسَيِّدُ أَصْفِيَائِهِ، المَخْصُوْصُ بِالمَقَامِ المَحْمُوْدِ، فِيْ اليَوْمِ المَشْهُوْدِ، الَّذِيْ جُمِعَ فِيْهِ الأَنْبِيَاءُ تَحْتَ لِوَائِهِ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ، وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ، وَاقْتَدَى بِهَدْيِهِ، وَاتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَنَحْنُ مَعَهُمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Kaum muslimin jamaah sidang shalat Jumat yang berbahagia

Puji dan syukur alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah Rabbul’ izzati. Shalawat dan salam marilah kita sampaikan kepada uswatun hasanah kita, yaitu Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

Mengawali khutbah singkat pada kesempatan ini, sebagaimana biasa khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah, marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, yaitu dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kaum muslimin jamaah sidang shalat Jumat yang berbahagia

Salah satu ciri yang paling dominan dari seorang Mukmin yang hakiki adalah ia senantiasa konsisten dalam al-Haq (Kebenaran). Konsisten dalam kebenaran juga menjadi modal utama seorang dai dalam menyampaikan risalah kenabian.

Terlebih pada zaman di mana kebatilan lebih terorganisir dan masif, sementara pejuang al-Haq seolah tak berdaya. Zaman di mana fitnah bertebaran begitu dahsyatnya, dan zaman di mana beragam media dijadikan alat penyesatan serta perusakan karakter generasi bangsa. Sehingga, yang terjadi adalah mempertahankan agama hari ini seperti memegang bara api.

Dan Ahlul Haq yang konsisten dalam kebenaran merekalah yang paling sabar dalam menghadapi fenomena-fenomena tersebut.

‘Ibadallah, teguh dalam kebenaran merupakan karakter seorang hamba yang berakal sehat dan terbimbing dengan hidayah-Nya Allah shubhanahu wata‘ala.

Sementara itu, tingkat keteguhan iman seorang hamba yang paling tinggi adalah teguhnya hati dalam kebenaran, konsisten dalam beragama, dan selamatnya ia dari terombang-ambingnya hati.

Allah shubhanahu wata‘ala berfirman dalam banyak ayat-Nya tentang perintah untuk berpegang teguh dalam kebenaran.

Di antaranya adalah firman Allah shubhanahu wata‘ala yang memerintahkan kaum Muslimin untuk tetap teguh dalam menghadapi musuh-musuh, karena keteguhan iman mereka akan menghadirkan kebahagiaan.

Firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَٱثْبُتُوا۟ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS: Al-Anfal: 45)

Dalam ayat yang lain, Allah shubhanahu wata‘ala menjadikan keteguhan iman dalam memegang kebenaran sebagai syarat agar seorang hamba memperoleh pertolongan serta diteguhkan kedudukannya di hadapan Allah shubhanahu wata‘ala, selama ia tidak bermaksiat dan menyeleweng dari jalan yang Allah ridhai.

Ini seperti yang Allah shubhanahu wata‘ala firmankan,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Kaum muslimin jamaah sidang shalat Jumat yang berbahagia

Jika kita berkaca kepada perjalanan hidup orang-orang saleh generasi terdahulu–dan tentunya termasuk para Nabi dan Rasul, kita akan mendapati bagaimana mereka dibimbing oleh Allah shubhanahu wata‘ala secara langsung sehingga mereka mampu bertahan dan memegang erat agama ini walaupun harus berhadapan dengan ujian yang begitu beratnya.

Allah shubhanahu wata‘ala menegaskan tentang hal ini di dalam al-Quran surat Hud ayat ke-120.

Allah shubhanahu wata‘ala berfirman,

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِى هَٰذِهِ ٱلْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)

Dalam ayat ini Allah shubhanahu wata‘ala hanya mengkhususkan untuk orang-orang beriman. Sebab, hanya merekalah orang-orang yang dapat mengambil pelajaran dan peringatan.

Dan dalam surat ini juga terdapat kelebihan dalam hal pelajaran dan peringatan karena ia mengandung kisah-kisah para Nabi dengan umat mereka.

Kisah bagaimana para Nabi teguh dalam berdakwah mengajak umat mereka kepada Allah, kisah perdebatan antara para Nabi dengan kaumnya, bagaimana para Nabi bersabar dalam menghadapi sikap buruk kaum mereka, dan perincian bagaimana Allah menyelamatkan para Nabi dan orang-orang beriman serta bagaimana Allah membinasakan orang-orang zalim dan meninggalkan jejak kehidupan mereka sampai beberapa waktu.

Hal-hal inilah yang dapat menjadi peneguh hati Rasulullah dalam menjalankan dakwahnya, menjadi peringatan bagi orang-orang yang berada di jalan kebenaran tentang baiknya kesudahan mereka, yang pada akhirnya kemenangan akan datang untuk mereka di kemudian hari.

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat Jumat yang berbahagia

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhaa, suatu Ketika beliau bercerita, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam biasa memperbanyak doa:

Allaahumma muqallibal Quluub Tsabbit Qalby ‘alaa Diinika.” (Ya Allah Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam memegang teguh agama-Mu).

Lalu Ummu Salamah berkata, aku bertanya,

Wahai Rasulullah, sesungguhnya setiap hati itu selalu terombang-ambing?

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Tidaklah Allah shubhanahu wata‘ala menciptakan keturunan Adam dari umat manusia, kecuali hatinya ada di antara dua jari dari jemari-Nya Allah. Jika Allah berkehendak, Ia jadikan tegak berdiri, dan jika Ia berkehendak, ia jadikannya berpaling (menyimpang).” (HR. Imam Ahmad No. 26036)

Hadits tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwasanya tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang mampu dan sanggup menjaga serta menjamin hatinya dari kemungkinan tergelincir kepada kemaksiatan dan penyakit hati, kecuali dengan hidayah, bimbingan, dan pertolongan dari Allah shubhanahu wata‘ala sebagai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati.

‘Ibadallah, di antara contoh generasi sahabat yang Allah teguhkan hatinya dalam kebenaran adalah,

Pertama: Abu Bakar As-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu

Suatu ketika sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq berdiri di depan kabah lalu berkhutbah di hadapan kaum Musyrikin Mekkah.

Di saat beliau menyampaikan khutbahnya, tiba-tiba kaum musyrikin berdiri dan memukuli beliau dengan sendalnya sehingga mengharuskan Abu Bakar dibawa ke rumahnya.

Dalam riwayat disebutkan bahwa keadaan beliau saat itu antara hidup dan mati, namun walau keadaannya seperti itu, lisannya tidak kering dari berzikir kepada Allah dan amal dakwahnya tidak surut walau selangkah.

Kedua: Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘anhu

Ia seorang budak dari Umayyah bin Khalaf, apa yang dialami oleh sahabat Bilal bin Rabah ini merupakan ujian keimanan yang begitu berat.

Dikisahkan bahwa sahabat Bilal ini pernah mengalami siksaan dari majikannya berupa diikatnya leher beliau dengan seutas tali, lalu tali itu diserahkannya kepada anak-anak untuk kemudian anak-anak itu menariknya berkeliling di bukit-bukit sekitar Mekkah.

Tidak cukup di situ, sahabat Bilal dibiarkannya kelaparan, diikat lalu dipukuli badannya dengan tongkat.

Artikel Refleksi: 5 Tingkatan Khusyuk dalam Shalat. Kamu di Level Mana?

Dan apabila matahari sedang panas-panasnya, beliau dilemparkan ke tengah padang pasir Mekkah saat itu, kemudian ditindihkan di atas dadanya bongkahan batu yang besar, dan majikannya berkata kepadanya,

Demi Allah engkau akan seperti ini sampai engkau mati atau engkau ingkar kepada Muhammad dan menyembah Laata dan ‘Uzza.”

Lalu dengan keteguhan iman dan hati yang mendarah daging, beliau lantang mengucapkan, “Ahad, Ahad (Allah Yang Maha Esa).”

Ketiga: Khabbab Bin Al-‘Art Radhiyallahu ‘anhu

Seperti halnya sahabat Bilal bin Rabah, sahabat Khabbab pun mengalami siksaan yang begitu pedihnya dari kaum Musyrikin.

Dikisahkan bahwa pada suatu hari tubuh sahabat Khabbab ini diletakkan di atasnya besi yang sudah dipanaskan. Dan tidaklah api itu dipadamkan, kecuali ada minyak di punggungnya.

Hingga suatu hari sahabat ini bertemu dengan sahabat Umar bin Khattab dan Umar bertanya kepadanya tentang apa yang kaum Musyrikin lakukan atas dirinya?

Sahabat Khabbab pun menjawab,

Wahai Amirul Mukminin! Lihatlah punggungku.”

Maka Umar pun melihatnya dan terkejut,

Aku tidak pernah melihat punggung seseorang yang seperti ini!”

Khabbab berkata,

Sungguh api telah dinyalakan kepadaku, kemudian aku diseret pada api tersebut, hingga tidaklah ia padamkan api itu kecuali ada minyak di atas punggungku.”

Keempat: Zubair bin ‘Awwam Radhiyallahu ‘anhu

Ma’asyiral Muslimin, apa yang dialami oleh sahabat Zubair dalam hal siksaan tidak kalah beratnya dari sahabat-sahabat yang lainnya, bahkan beliau mengalaminya dari orang terdekatnya, yaitu pamannya sendiri.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Musnad-nya, dari Abul Aswad, dari sahabat ‘Urwah, beliau berkata,

“Zubair bin ‘Awwam masuk Islam di usia delapan tahun kemudian ikut hijrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam di usianya yang kedelapan belas tahun.

Dan saat itu pamannya bersama kaum Musyrikin Quraisy menyekap beliau dalam sebuah dedaunan jerami yang dipenuhi dengan asap api (hal ini bertujuan agar nafasnya sesak), lalu dikatakan kepada beliau, ‘kembalilah engkau kepada kekafiran’.

Maka lantas Zubai bin ‘Awwam menjawab dengan tegasnya, ‘Laa Akfuru abadan’ (Selamanya aku tidak akan Ingkar).” (HR. Al-Hakim No. 5601)

Ma’asyiral muslimin jamaah sidang shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah.

Perhatikanlah bagaimana Iman berbuat kepada pemeluknya!

Ketika Iman sudah mandarah daging dalam hati seseorang, maka ia sanggup melemahkan kepedihan yang dialami oleh diri. Sakit yang dialami seolah tiada arti apa-apa, tentu semua ini akan terjadi jika dilakukan dalam rangka mengharapkan ridha Allah shubhanahu wata‘ala dengan sebenarnya….

Ma’asyiral Muslimin, tentunya masih banyak contoh-contoh yang dapat kita teladani dari kisah perjalanan para salafusshalih dalam memegang teguh kebenaran.

Di antara mereka ada yang mengalaminya dari orang-orang terdekat dan juga dari orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Dasar itu semua adalah karena keimanan yang tertancap kokoh di dalam hati sanubari.

Karena itu ‘ibadallah, kita memohon kepada Allah semoga Allah sebagai Rabb Yang Maha Membolak-balikkan hati hamba-Nya, Ia tetapkan hati kita dalam iman dan ketaatan serta dijauhkan dari perilaku yang dapat menjerumuskan kita pada kekufuran.

Dan semoga khutbah yang singkat ini dapat kita ambil manfaatnya sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan yang abadi di akhirat nanti. Allahumma aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أكبر

Download PDF Materi Khutbah Jumat Singkat dakwah.id
Mari Tingkatkan Keteguhan Iman di sini:

Semoga bermanfaat!

Artikel Terbaru:

Topik Terkait

Mubin Amrullah

Direktur Markaz Tahfidz Daarut Tanziil Bogor Jawa Barat, Alumni LIPIA Jakarta dan Magister Dirasah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konsentrasi Syariah Islam (Ilmu Studi Islam).

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: