Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Materi Khutbah Jumat: Cara Berislam di Zaman Penuh Warna Islam

651

Cara Berislam di Zaman Penuh Warna Islam

Oleh: M. Shodiq

Download Materi Khutbah Jumat versi PDF DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا، أَمَّا بَعْدُ

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Pertama, kami wasiatkan kepada diri kami dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tanpa iman dan takwah, sungguh, kita sama sekali tiada artinya hidup di dunia ini kecuali hanya sosok makhluk yang menjalani hidup sebagaimana makhluk ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla yang lain.

Tanpa iman dan takwa, kita tidak akan memiliki kemuliaan sedikit pun. Tanpa iman dan takwa, mustahil kita akan selamat dari siksa neraka Jahannam yang suhu paling ringannya mampu membuat ubun-ubun mendidih.

Dengan iman dan takwa inilah manusia mendapat hak berbahagia di dunia dan di akhirat kelak. Dengan bekal iman dan takwa inilah Allah ‘Azza wa Jalla akan selalu mengalirkan kasih sayang-Nya kepada kita. Dengan iman dan takwa inilah Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan panasnya api neraka bagi kita, dan Allah ‘Azza wa Jalla menghalalkan Jannah-Nya kepada kita.

Kemudian, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan orang-orang shalih yang senantiasa istiqamah berada di atas manhajnya.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya telah berjuang hingga titik darah penghabisan dalam rangka mendakwahkan syariat Allah ‘Azza wa Jalla yang begitu sempurna ini. Dengan sepenuh pengorbanan jiwa, raga, pikiran, dan harta, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya telah membukakan jalan kemudahan bagi umat setelahnya dalam proses memahami kesempurnaan dinul Islam ini.

Begitu berat ujian dan cobaan yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya. Tak hanya mendapat tekanan mental saja, mereka juga mendapat tekanan fisik dari orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kebencian terhadap syariat Allah ‘Azza wa Jalla ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dituduh oleh orang-orang kafir Quraisy sebagai orang yang gila. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dituduh sebagai dukun. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dituduh sebagai penyihir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah diusir dari kampung halamannya.

Bahkan lebih dari itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dilempari batu. Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah dilempari kotoran manusia.

Sahabat Rasulullah, Bilal bin Rabbah, harus mengalami siksaan dari majikannya. Ia harus menangung perihnya ditindih batu besar di atas padang pasir yang panas. Semua itu ia lakukan dalam rangka mempertahankan kalimat tauhid yang telah menancap kuat dalam hatinya.

Ammar bin Yasir, harus menyaksikan perihnya siksaan orang-orang kafir terhadap orang tuanya di depan mata kepalanya sendiri sementara dirinya juga dalam kondisi sedang disiksa. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi uzur atas kalimat kufur yang terpaksa Yasir ucapkan karena tak kuat melihat penderitaan yang begitu berat dan menyakitkan.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Pengorbanan hamba-hamba Allah ‘azza wajalla yang paling mulia ini tak pernah terhenti hingga syariat Allah ‘azza wajalla mencapai kesempurnaannya.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Karena pengorbanan sedemikian beratnya itulah Allah ‘azza wajalla mengaruniai mereka kemenangan yang nyata.

Karena pengorbanan sedemikian beratnya itulah, Islam berhasil menguasai sepertiga dunia.

Karena pengorbanan sedemikian beratnya itulah, Allah ‘azza wajalla menempatkan mereka di sebaik-baik tempat di dalam Jannah.

Oleh sebab itu, sangat-sangat disayangkan sekali jika kita, hamba-hamba Allah ‘azza wajalla yang hidup berjarak lebih dari seribu tahun sejak perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, bermalas-malasan untuk menyambut kehadiran Islam di dalam diri dan lingkungan kita.

Sangat disayangkan sekali jika kita, hamba-hamba Allah ‘azza wajalla yang tidak mendapatkan ujian keimanan sebagaimana beratnya ujian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, mencampakkan syariat Islam seolah-olah itu tidak penting bagi masa depan kita.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Karena pengorbanan sedemikian beratnya itulah tiga generasi pertama umat Islam disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik.

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian manusia yang hidup pada masa berikutnya, kemudian manusia yang hidup pada masa berikutnya.” (HR. Bukhari (2652), Muslim (2533))

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang hidup di zamanku, kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dalam kehidupan sehari-hari mereka selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seluruh materi dan nilai-nilai dalam syariat ini mereka dapatkan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian generasi berikutnya adalah generasi tabi’in. Mereka adalah generasi terbaik setelah sahabat. Mereka adalah pewaris keotentikan ilmu Islam yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian generasi berikutnya adalah generasi tabi’ut tabi’in. Tabi’ut tabi’in adalah orang-orang beriman yang hidup setelah zaman tabi’in usai. Mereka adalah penerus perjuangan penegakan syariah Islam berikutnya. Merekalah para pemegang keotentikan ilmu-ilmu syariat Islam yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian para sahabat, kemudian para tabi’in.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah jauh meninggalkan kita. Kita hidup lebih dari seribu tahun sejak generasi terbaik di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi pembimbing umat secara langsung. Salah satu wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semestinya kita perhatikan dengan seksama adalah tentang wasiat perpecahan umat.

Dari Auf bin Malik ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ

Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, umatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka.” (HR. Ibnu Majah No: 2565)

Dalam hadits lain disebutkan,

إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَتفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إلَّا ملَّةً واحدَةً

“Sesungguhnya Bani Israel telah berpecah kepada 72 golongan, manakala umatku pula akan berpecah kepada 73 golongan. Mereka semua di neraka kecuali satu golongan saja.” (HR. Tirmidzi No. 2641; Hadist Hasan)

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Mengapa wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perpecahan umat tersebut sangat penting untuk kita jadikan bahan renungan? Karena tampaknya, dan kita khawatir, kita lah manusia-manusia yang berada dan hidup di akhir zaman sebagaimana kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Apa indikasnya? Indikasinya, kita dapati betapa banyak warna-warna Islam yang ada di sekeliling kita. Ada Islam A, ada Islam B, ada Islam C, Ada Islam D, Ada Islam E, dan Islam-Islam lainnya, kita temui berada di sekeliling kita. Kita berinteraksi dengan mereka, kita berkomunikasi dengan mereka, bahkan, kita juga bertetangga ataupun hidup satu atap bersama mereka yang menggenggam Islam beraneka warna tersebut.

Ini adalah indikasi kuat bahwa kita berada di zaman di mana Islam telah terpecah belah.

Selain itu, hampir setiap pekan kita mendengar informasi perselisihan antar kelompok yang sama-sama agamanya Islam. Kita dengar berita kelompok A serang kelompok B, kelompok C menjelek-jelekkan kelompok A, dan sebagainya, dan sebagainya,.. saling menjatuhkan, padahal, mereka semua beragama Islam.

Ini adalah indikasi kuat bahwa kita sedang berada di zaman di mana Islam dalam kondisi terpecah belah, berkelompok-kelompok, dan masing-masing merasa benar sendiri. Sehingga umat menjadi bingung, mana Islam yang benar-benar berada di atas al-Haq.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Maka, merenungi dan memaknai wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah hal yang penting bagi setiap individu muslim yang hidup di zaman ini.

Sebab, di dalam wasiat tersebut, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan sebuah kondisi umatnya di masa depan, beliau juga menyertakan solusi sebagai jawaban bagi setiap muslim untuk keluar dari bencana perpecahan tersebut.

Apa solusinya? Solusinya adalah sebagaimana disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di ujung kalimat dalam hadits tersebut, ketika para sahabat bertanya tentang siapa satu golongan yang selamat dari api neraka.

 قاَلَ: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

“(Para sahabat) bertanya, ‘Siapakah (golongan yang tersebut) wahai  Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Golongan yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.’” (Hadist Hasan, HR. Tirmidzi, 2641)

Dalam riwayat lain disebutkan,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ

“Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jamaah’.” (HR. Ibnu Majah, No: 2565)

Dengan sangat tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Golongan yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Ini adalah petunjuk yang sangat nyata bagi umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup di zaman perpecahan. Solusinya hanya satu, hendaknya kita selalu berada di atas jalan di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaiknya berada.

Solusinya, umat harus senantiasa berpegang dan berteladan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Umat harus berislam dengan Islam sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipahami oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Inilah yang dimaksud dengan istilah manhaj dalam berislam. Inilah yang dimaksud dengan istilah berislam berdasar manhaj para salafush shalih. Bukan berislam ala kelompok A, bukan berislam ala kelompok B, bukan berislam ala kelompok C.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Inilah usaha kita untuk semaksimal mungkin mendekatkan jarak antara kita dengan al-Haq atau kebenaran. Inilah usaha kita untuk memurnikan keislaman kita. Inilah jalan kita untuk keluar dari perpecahan umat. Dan inilah usaha kita untuk senantiasa bersatu di atas al-Haq. Bersatu di atas jalan di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para generasi terbaiknya juga berada di atasnya.

Maka, marilah kita terus tanpa putus melantunkan permohonan kepada Allah ‘azza wajalla agar senantiasa diletakkan di atas al-Haq. Senantiasa memohon agar Allah ‘azza wajalla menerima keimanan dan keislaman kita. Sehingga, kita benar-benar yakin akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat dan dijauhkan dari api neraka.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Pada khutbah yang kedua ini, kembali kami wasiatkan kepada diri kami dan juga kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah ‘azza wajalla.

Kemudian, hendaknya kita selalu mengevaluasi apakah Islam kita sudah benar. Apakah Islam kita sudah sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tiga generasi pertama penerusnya? Apakah keyakinan kita sudah sesuai dengan keyakinan para salafush shalih. Apakah pemahaman kita terhadap syariat Islam sudah sesuai dengan syariat yang dipahami oleh para sahabat, para tabi’in, dan para tabi’ut tabi’in? Apakah aktivitas keseharian kita mulai dari ibadah, muamalah, dan akhlaqiyah kita sudah selaras dengan apa yang diajarkan oleh tiga generasi pertama umat ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaklah selalu kita bawa ke mana pun kaki kita berpijak, agar kita senantiasa ingat bahwa diri kita ini adalah jiwa-jiwa yang dha’if, lemah, di hadapan Allah ‘azza wajalla dan sering berbuat alpa dan dosa.

Dengan begitu, kita berharap Allah ‘azza wajalla senantiasa meletakkan kita di atas manhaj dan jalan yang benar. Manhaj di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berdiri tegak di atasnya dengan segala konsekuensi yang dihadapi.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا وّالدِّيْنِ

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

اللَّهُمَّ إِخْوَانِنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَاتِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ فِي قُلٌوْبِهِمْ صَبْرًا، يَا إِلَهَ الْحَقُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ صُفُوْفَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، يَا عَزِيْزُ ذُو انْتِقَامٍ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ نِسَائَهُمْ وَصِبْيَانَ هُمْ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هُمْ، اللَّهُمَّ دَاوِ جَرْحَهُمْ وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

 

DOWNLOAD Khutbah Jumat versi PDF DI SINI