Materi Khutbah Jumat: 9 Pengaruh Maksiat Terhadap Kehidupan Seseorang

0 3,991

Materi Khutbah Jumat
9 Pengaruh Maksiat Terhadap Kehidupan Seseorang

Oleh: Sodiq Fajar

 

*) Link download pdf ada di akhir tulisan

 

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Kami wasiatkan kepada diri kami, juga kepada jamaah sekalian dengan wasiat yang sangat mulia. Mari tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah ‘azza wajalla. Mari pegang teguh syariat-syariat-Nya.

Mari tegakkan syariat shalat wajib lima waktu. Mari tunaikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba Allah ‘azza wajalla dengan sebaik-baiknya.

Baca juga: 5 Tingkatan Khusyuk dalam Shalat. Kamu di Level Mana?

Tidak ada bekal yang dapat menyelamatkan kita dari siksa api neraka kecuali dengan bekal iman dan takwa kepada Allah ‘azza wajalla.

Mari tingkatkan ketakwaan dan ketaatan kita kepada syariat Allah ‘azza wajalla. Ketahuilah, seburuk-buruk umat adalah umat yang suka melanggar syariat-syariat Allah ‘azza wajalla.

Seburuk-buruk umat adalah umat yang tidak mau taat kepada Allah ‘azza wajalla. Umat yang selalu bermaksiat dan menentang aturan-aturan Allah ‘azza wajalla baik secara sembunyi-sembunyi atau pun terang-terangan.

Baca juga: Amar Makruf Nahi Mungkar Ada Syaratnya, Apa saja?

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Ketahuilah, bahwa maksiat itu hukumnya haram. Maksiat itu perbuatan yang akan menjebloskan kita ke dalam jurang neraka.

Meski tampak indah namun maksiat itu ternyata sangat menyengsarakan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Jannah itu diliputi oleh perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi oleh perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)

Maksiat itu meski tampak indah dan menyenangkan, namun memiliki dampak negatif yang sangat mengerikan. Baik dampak di dunia atau pun di akhirat.

 

Ada banyak dampak negatif dari pengaruh maksiat terhadap kehidupan kita selama di dunia ini.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pengaruh maksiat pertama: Terhalangi dari ilmu

Pengaruh maksiat yang sangat mematikan adalah menghalangi pelakunya dari ilmu.

Bagi umat Islam, ilmu adalah cahaya. Dan kemaksiatan adalah kegelapan. Maka, jika seseorang melakukan kemaksiatan, itu artinya ia sedang menciptakan kegelapan dalam ruang hatinya. Ia akan terhalangi dari cahaya. Ia akan terhalangi dari ilmu.

Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, atau dikenal dengan nama imam asy-Syafi’i, adalah sosok ulama besar yang tak diragukan lagi keilmuannya. Terutama di bidang fikih dan hadits. Beliau adalah sosok ulama yang sangat cerdas. Sangat kuat hafalannya.

Ketika imam asy-Syafi’i duduk belajar di hadapan imam Malik, imam asy-Syafi’i membacakan hadits di hadapan imam Malik. Maka imam Malik dibuat kagum dan terpana dengan tingginya kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya. Sampai-sampai beliau berkata,

إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُوْراً، فَلَا تُطْفِئُهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَّةِ

Aku melihat bahwa Allah telah memberikan cahaya di dalam hatimu. Janganlah engkau memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Namun, sehebat apa pun kecerdasan imam asy-Syafi’i, jika sudah berhadapan dengan kemaksiatan, maka pengaruh maksiat itu akan menghalangi diri dari cahaya ilmu.

Imam asy-Syafi’i pernah berujar,

شَكَوتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ

فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

وَأَخبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ

وَنُوْرُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Aku pernah mengadu kepada Waki’,

Ia menasehatiku untuk meninggalkan maksiat,

Ia memberitahuku, ilmu itu adalah cahaya,

Dan cahaya Allah tak akan diberikan kepada pelaku maksiat.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pengaruh maksiat kedua: Terhalangi dari rezeki

Pengaruh maksiat yang kedua adalah terhalangi dari rezeki. Sebagaimana ketakwaan itu akan mendatangkan rezeki maka sebaliknya, meninggalkan ketakwaan berarti membuahkan kemiskinan dan kefakiran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ

Sesungguhnya seseorang terhalangi rezeki dikarenakan dosa yang dilakukannya.” (HR. Ibnu Majah No. 4022. Hadits Hasan)

Baca juga: 8 Cara Agar Pintu Rezeki Penuh Berkah

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pengaruh maksiat ketiga: Hati menjadi hampa

Merupakan pengaruh maksiat yang paling besar adalah hati menjadi hampa. Seorang yang berbuat maksiat akan mendapati kekosongan pada hatinya.

Orang yang melakukan maksiat, hatinya menjadi semakin jauh dari Allah ‘azza wajalla. Kekosongan hati ini tidak dirasakan kecuali oleh orang yang di dalam hatinya masih ada kehidupan.

Sebagaimana sakitnya Iuka yang hanya dirasakan oleh orang yang masih hidup, dan tidak dapat dirasakan oleh orang mati.

Kalaulah dosa-dosa itu tidak ditinggalkan karena akan adanya kekosongan hati, maka seorang yang berakal tentu bebas untuk meninggalkannya.

Dalam sebuah perkataan hikmah disebutkan,

فَإِنْ كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوْبَ

فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنَسَ

Jika dosa-dosa telah membuatmu hampa hati,

Maka tinggalkan saja dosa-dosa itu, jika engkau mau, pasti engkau akan merasa bahagia.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pengaruh maksiat keempat: Terkucil dari manusia yang baik

Jika Anda mendapati seseorang yang terkucil dari manusia yang baik, sangat mungkin sekali itu adalah pengaruh maksiat yang ia perbuat.

Seseorang yang terbiasa melakukan maksiat, secara tidak langsung ia sedang menjauh dari komunitas orang-orang yang gemar melakukan kebaikan.

Sehingga, terciptalah jarak antara dirinya dengan individu atau komunitas orang-orang yang gemar berbuat baik.

Apa akibat dari kondisi ini? ada dua kemungkinan:

Kemungkinan pertama, ia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan berkah dan manfaat dari keberadaan teman yang shalih. Tidak ada orang yang akan mengingatkan ketika dirinya berbuat dosa dan maksiat. Tidak ada orang yang akan mengajaknya untuk melakukan kebaikan. Sementara dirinya akan terus terseret semakin jauh ke dalam jurang dosa dan maksiat.

Kemungkinan kedua, ia akan bergabung dengan orang lain yang memiliki perilaku yang sama: sama-sama suka berbuat dosa dan maksiat. Mereka akan membentuk sebuah kekuatan. Yakni kekuatan keburukan dan kebatilan. Mereka berperilaku buruk. Gemar melakukan maksiat. Bahkan mengajak dan memengaruhi orang lain untuk berbuat dosa dan maksiat.

Pelaku maksiat yang terkucil dari teman atau komunitas orang-orang yang baik, ia akan merasa terasing. Bahkan, sangat mungkin rasa keterasingan ini akan terjadi antara dirinya dengan istrinya atau dengan anak-anaknya.

Salah seorang salaf berkata,

إِنِّي لَأَعْصِيَ اللَّهَ، فَأَرَى ذَلِكَ فِيْ خَلْقِ دَابَّتِيْ وَامْرَأَتِيْ

Sungguh, ketika aku berbuat maksiat kepada Allah, maka aku melihat pengaruhnya pada tingkah hewan tungganganku dan akhlak istriku.”

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pengaruh maksiat kelima: Urusan menjadi sulit

Pengaruh maksiat juga berdampak pada persoalan urusan yang dihadapi sehari-hari. Saat seseorang menghadapi sebuah masalah, tentu ia mengharapkan jalan keluar sesegera mungkin. Proses yang ia tempuh dalam mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi ini akan menjadi lebih sulit akibat dari kemaksiatan yang ia lakukan.

Persis seperti kebalikan dari takwa. Ketika seseorang menjaga dirinya untuk selalu bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla, maka Allah ‘azza wajalla ganjar upaya ketakwaan itu dengan kemudahan dalam menghadapi setiap urusan.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalāq: 4)

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pengaruh maksiat keenam: Hati jadi gelap

Apa yang akan kita rasakan ketika kita berada di sebuah ruangan yang gelap gulita tanpa ada cahaya sedikit pun?

Tentu yang kita lihat hanyalah kegelapan di sana-sini. Sesehat apa pun mata yang kita miliki, tak akan ada gunanya ketika berada di ruangan yang gelap dan pekat.

Apa yang akan kita lakukan ketika berada di jalanan yang gelap gulita tanpa cahaya? Tentu kita akan berjalan ke sembarang arah. Tabrak sana tabrak sini. Terperosok ke kanan terperosok ke kiri. Kita akan kehilangan arah. Kita akan tersesat.

Seperti itulah suasana hati ketika dipenuhi dengan kemaksiatan. Hati akan menjadi gelap gulita akibat pengaruh maksiat yang dilakukan oleh pemilik hati itu.

Baca juga: Materi Khutbah Jumat: Waspada Penyakit Ujub

Apabila hati telah gelap pekat, maka ia akan memberikan petunjuk yang tak berarah kepada anggota badan. Langkah kakinya akan tersesat. Gerakan tangannya akan tak terarah. Ia terlepas dari petunjuk/hidayah.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّ لِلْحَسَنَةِ نُوْرًا فِي الْقَلْبِ، وَزِيْنًا فِي الْوَجْهِ، وَقُوَّةً فِي الْبَدَنِ، وَسِعَّةً فِي الرِّزْقِ، وَمَحَبَّةً فِيْ قُلُوْبِ الْخَلْقِ. وَإِنَّ لِلسَّيِّئَةِ ظُلْمَةٌ فِي الْقَلْبِ، وَشَيْنًا فِي الْوَجْهِ، وَوَهْنًا فِي الْبَدَنِ، وَنَقْصًا فِي الرِّزْقِ، وَبَغْضَةً فِي قُلُوْبِ الْخَلْقِ

“Sesungguhnya kebaikan itu memiliki pancaran yang akan tampak di wajah, cahaya yang ada di dalam hati, keluasan di dalam rezeki, kekuatan di dalam badan, dan kecintaan di dalam hati-hati para makhluk. Sebaliknya, keburukan itu memiliki pancaran warna hitam yang tampak di wajah, kegelapan di dalam hati, kelemahan di dalam badan, kesempitan di dalam rezeki, serta kebencian di dalam hati-hati para makhluk.” (Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 441)

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pengaruh maksiat ketujuh: Hati dan badan menjadi lemah

Pengaruh maksiat juga berdampak pada lemahnya hati dan badan.

Hati yang sehat dan kuat adalah hati yang dipenuhi oleh cahaya sebagai buah dari ketaatan. Semakin banyak amal ketaatan, semakin banyak pula cahaya yang masuk ke dalam hati, maka hati juga menjadi semakin kuat dan sehat.

Sedangkan hati yang sakit dan lemah adalah hati yang dipenuhi dengan kegelapan sebagai buah dari kemaksiatan. Semakin banyak melakukan dosa dan kemaksiatan, semakin banyak pula kegelapan yang meliputi hati, maka hati juga menjadi semakin lemah dan sakit.

Orang jahat dan banyak dosa meski memiliki tubuh yang kekar, ia tetap saja disebut sebagai orang yang lemah. Kekuatan fisiknya akan selalu mengkhianatinya ketika jiwanya sedang membutuhkan.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pengaruh maksiat kedelapan: Berat untuk taat

Pengaruh maksiat yang tak kalah bahaya lainnya adalah menjadikan seseorang merasa berat untuk taat. Ketika seseorang sudah terjebak dalam kemaksiatan, noda-noda hitam kemaksiatan yang mengotori hati tersebut menjadikannya jauh dari ketaatan kepada Allah ‘azza wajalla.

Sebab, maksiat adalah kebalikan dari taat. Jika seseorang telah memutuskan untuk mendekat kepada maksiat, pada saat itu pula ia sedang berjalan menjauh dari taat. Orang yang terlanjur senang dengan maksiat, maka ia akan berat untuk taat.

Pengaruh maksiat tak hanya sekedar berat untuk taat. Bahkan, pengaruh maksiat sampai pada tahap menghalangi seseorang untuk taat. Meski amal ketaatannya ringan dan mudah dikerjakan.

Sering merasa berat untuk taat karena pengaruh maksiat adalah bagian dari karakter munafik.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ

Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa’: 142)

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pengaruh maksiat kesembilan: Memendekkan dan menghilangkan berkah usia

Mana bisa memendekkan usia manusia?

Bisa.

Perbuatan maksiat dapat memendekkan usia seseorang. Jelasnya, perjalanan usia seseorang itu selalu diiringi dengan keberkahan. Keberkahan itu hanya dapat diraih jika ia gunakan usianya untuk melakukan kebaikan dan ketaatan.

Sebaliknya, jika perjalanan usia seseorang hanya digunakan untuk melakukan kemaksiatan, maka ia akan kehilangan keberkahan, sementara usianya tidak akan pernah berhenti melaju.

Itulah yang dimaksud dengan memendekkan usia.

Jadi, pada prinsipnya, amal ketaatan itu akan menambah usia, sedangkan maksiat itu akan memendekkan usia. Usia kehidupan yang hakiki.

Jika usia yang sangat pendek yang kita miliki ini habis digunakan untuk maksiat, lantas apalah artinya kita hidup di dunia ini.

Percuma saja memohon kepada Allah ‘azza wajalla agar diberi panjang umur jika hanya akan menambah dosa dari kemaksiatan yang kita lakukan.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

يَوَدُّ اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍۚ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهٖ مِنَ الْعَذَابِ اَنْ يُّعَمَّرَۗ

Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab.” (QS. Al-Baqarah: 96)

 

Begitu dahsyatnya pengaruh maksiat terhadap kehidupan kita di dunia ini, semestinya membuat kita semakin takut kepada Allah ‘azza wajalla. Takut atas siksa-Nya.

Kemudian rasa takut tersebut semestinya menumbuhkan sikap taat dan patuh terhadap syariat-syariat Allah ‘azza wajalla. Lalu sikap taat dan patuh tersebut terwujud dalam bentuk melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Semoga kita semu diberi kemudahan oleh Allah ‘azza wajalla untuk menjadi hamba yang bertakwa. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ

اللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ

اللَّهُمَّ الْعَنِ الكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ

اللَّهُمَّ إِياَّكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفّارِ مُلْحِقٌ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْإِيْغُوْرَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِي الصِّيْنَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُضْطَهَدِيْنَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِي سُوْرِياَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُضْطَهَدِيْنَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ

اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا

اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ، اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ، اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ

وَصَلَّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصْحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Download PDF

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.