Maryam, Perempuan Suci Penjaga Baitul Maqdis

1 499

Sepanjang sejarah, hanya Maryam binti ‘Imran satu-satunya wanita yang mendapat keutamaan menjadi pelayan di Baitul Maqdis.

***

Yerussalem atau sekarang dikenal sebagai Palestina, pada tahun 21 SM, merupakan bagian dari Provinsi Yudea di bawah kekaisaran Romawi kuno yang tidak memeluk agama samawi. Mereka menyembah dewa-dewi dari berbagai mitologi: Romawi, Yunani, Mesir dan juga Persia.

Pemerintahan yang ketika itu diduduki oleh Kaisar Herodus, penuh dengan kezaliman dan kemungkaran. Seks bebas merajalela. Tidak ada yang mengimani Allah atau berpegang teguh kepada ajaran para nabi, kecuali hanya segelintir orang. Bahkan, Bani Israil yang mendaku diri sebagai pengikut Nabi Daud dan Nabi Sulaiman alaihimassalam, sudah begitu jauh melenceng dari ajaran yang lurus.

Di tengah kondisi yang sedemikian rusak ini, muncullah sesosok lelaki shaleh yang silsilahnya tersambung sampai ke Nabi Daud. Ia bernama ‘Imran; seorang imam dan pemimpin doa bagi kaumnya di Baitul Maqdis.

Di usia dewasa, ia menikahi gadis bernasab mulia; Hannah binti Faqudza, putri pemuka Yahudi yang juga pemimpin doa. Rumah tangga yang mereka bina begitu istimewa. Sepanjang sejarah umat manusia, hanya keluarga mereka yang dijadikan salah satu nama surah di dalam al-Quran: Ali ‘Imran.

Selain menjaga kemurnian tauhid, keutamaan apa kiranya yang mereka miliki, sehingga diagungkan sedemikian rupa?

Allah memilih keluarga ini kemudian disejajarkan dengan sederet nama para nabi sebagaimana tercantum dalam surah Ali ‘Imran ayat (3): 33. Jika kita mentadaburi ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, maka akan terungkaplah rahasia keistimewaan itu.

Salah satunya, mereka berhasil melalui ujian kesabaran. Yakni, sabar dalam menanti hadirnya buah hati. Doa selama puluhan tahun, baru diijabahi justru ketika Hannah sudah tua dan memvonis dirinya mandul. Tapi Allah Yang Maha Kuasa punya kehendak; kelak, bayi yang dikandung oleh Hannah, tumbuh sebagai ahli ibadah pengukir sejarah.

 

Kelahiran yang Menakjubkan

Karena merasa bahagia atas berita tak terduga itu, Hannah bernadzar, bahwa anaknya nanti akan ia wakafkan di jalan Allah dengan berkhidmat di Baitul Maqdis. Untuk itu, ia berharap melahirkan seorang putra.

Namun, takdir berkata lain. Bayi yang Allah anugerahkan kepadanya adalah perempuan. Meskipun tidak sesuai harapan, Hannah sangat bersyukur atas kelahiran yang dinanti-nati itu.

Al-Quran menyebutkan, Hannah sendirilah yang memberi nama putrinya. Tersirat petunjuk bahwa ‘Imran, suaminya, sudah wafat saat ia mengandung. Adapun nama yang ia berikan untuk anaknya adalah Maryam.  Maryam binti ‘Imran.

Para pakar dan peneliti, mencoba menjelaskan makna yang diinginkan dari nama itu. Lafal Maryam, diduga kuat berasal dari bahasa Aramaic. Ada dua kata yang digabungkan untuk membentuk nama Maryam: Mary dan Ama.

Mary, artinya tuhan. Ama artinya hamba. Apabila kata Mary ini disingkat menjadi Mar artinya tuan. Dari sinilah para saint (orang-orang suci gereja), mengawali nama mereka dengan Mar, seperti Mar George dan Mar Marcus.

Sedangkan Ama, persis seperti kata amatun dalam bahasa Arab yang memiliki arti seorang hamba perempuan. Misalnya, Amatullah; berarti hamba Allah. Sinonim lainnya dari kata Maryam dalam bahasa Arab adalah; ‘aabidah dan qaanitah.

Mengingat statusnya yang terlahir dari keluarga terpandang, para ahli ibadah dari kalangan Bani Israil berebut ingin mengasuh Maryam, dengan harapan besar mendapat berkah dari amanah yang mulia itu.

Akhirnya, mereka bersepakat untuk mengundi sebagai jalan keluar dari perdebatan. Dan undian pun dilakukan dengan beberapa cara.

Pertama, masing-masing ahli ibadah, termasuk di dalamnya Nabi Zakariya ‘alaihissalam, melemparkan anak panah. Lalu, seorang anak kecil yang masih polos, belum aqil baligh, diminta untuk memilih anak panah yang terkumpul. Ternyata, yang diambil adalah anak panah Zakariya.

Kemudian cara kedua, dilakukan dengan melemparkan pena ke sungai Yordan. Jika ada pena yang berhasil melawan arus, pemiliknya berhak merawat Maryam. Semua pena hanyut terbawa arus, kecuali milik Zakariya.

Masih tidak puas dengan hasilnya, ditempuhlah cara ketiga dengan ketentuan kebalikan dari cara kedua. Lagi-lagi, pena Zakariya yang lolos sebagai pemenang.

Maka, disepakatilah bahwa hak kepengasuhan Maryam diserahkan kepada Nabi Zakariya.

Kisah yang unik ini diabadikan dalam surah Ali ‘Imran ayat 44.

Tampaknya, Allah mengabulkan doa Hannah agar putrinya dilindungi dari kejahatan setan sebagaimana terukir dalam surah Ali ‘Imran ayat 36,

وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

Dan aku memohon perlindungan-Mu, untuknya, dan anak-cucunya, dari (gangguan) setan yang terkutuk.”

Demikianlah munajat terindah dari seorang ibunda. Jawaban dari doa itu, Allah menempatkan Maryam di rumah seorang nabi. Agar ia mendapat sentuhan tarbiyah nabawiyah. Sehingga ketika ia mencapai usia dewasa, nadzar sang ibunda bisa terpenuhi.

Adapun Zakariya, paman sekaligus pengasuhnya, menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Ia telah menyediakan mihrab; suatu tempat di dalam masjid yang ditabiri, khusus untuk Maryam.

Sepanjang sejarah, hanya Maryam binti ‘Imran satu-satunya wanita yang mendapat keutamaan menjadi pelayan di Baitul Maqdis.

 

Maryam, Ahli Ibadah Pengukir Sejarah

Putri ‘Imran yang mulia ini, menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah. Shiyam di siang hari, dzikir dan shalat di malam hari. Selebihnya, ia gunakan untuk mempelajari ilmu agama kepada Nabi Zakariya.

Rutinitas itu terus berjalan sehingga ia semakin dekat dengan Rabbnya. Kedekatan inilah yang membuatnya mendapatkan banyak karamah.

Al-Quran berkisah, ketika Zakariya mengunjungi Maryam di mihrab, ia mendapati di sana sudah tersedia makanan. Ketika ditanya dari mana ia memperolehnya, Maryam menjawab, Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Demikian keterangan dalam surah Ali Imran ayat 37.

Seiring bertambahnya usia, Zakariya merasa sudah tidak sanggup lagi mengasuh Maryam. Maka ia menyerahkan tugas itu kepada seorang ahli ibadah bernama Yusuf an-Najjar yang menyatakan kesanggupannya untuk memikul amanah tersebut. Di masa senjanya itulah Allah memberi kabar gembira kepada Zakariya bahwa ia akan memiliki seorang putra bernama Yahya.

Di bawah pengasuhan Yusuf, Maryam tetap istiqamah dalam beribadah. Ia semakin dicintai dan diberkahi oleh Allah. Demi mengangkat Maryam ke derajat yang lebih tinggi, Allah memberinya ujian yang sangat berat; menyesakkan dada, dan menekan jiwa.

Betapa tidak, Maryam yang dikenal akan kesuciannya, justru hamil di luar pernikahan. Masyarakat yang semula begitu hormat dan memuliakannya, dengan kehamilan itu, mengamuk dan menuduh Maryam telah berbuat dosa.

Kemudian mereka mengusir Maryam dari Baitul Maqdis. Padahal, kondisinya sedang hamil tua. Maka ia pergi menuju sebuah lembah yang disebut Betlehem.

Mungkin pengasingan itu memang lebih baik baginya, karena ia sendiri merasa malu dan tak kuasa menghadapi berbagai cacian dan tuduhan keji yang dilontarkan. Tapi, ketika mereka menyebarkan fitnah seperti itu, siapakah kiranya lelaki yang mereka tuduh sebagai pasangan Maryam?

Sungguh salah besar jika Yusuf an-Najjar yang dikambinghitamkan dalam hal ini hanya karena Maryam diasuh olehnya. Sebab, Yusuf sendiri bingung dan setengah tidak percaya dengan kehamilan tersebut.

Bahkan, ia sempat mencecar Maryam dengan beberapa pertanyaan yang menghujam, “Apakah ada sebatang pohon tumbuh tidak dari sebuah biji? Apakah ada tanaman tumbuh tanpa disiram? Apakah ada seorang anak tanpa ayah?”

Ya, ada.” Jawab Maryam dengan tegas.

Bukankah engkau tahu, Allah menciptakan pohon pertama kali tidak dari biji-bijian, dan menumbuhkan tanaman tanpa siraman air hujan. Apakah engkau mengira, bahwa Allah membutuhkan bantuan air untuk menumbuhkan itu semua, lalu, jika tidak begitu, Allah tidak memiliki kemampuan?”

Mendengar ‘serangan balik’ dari Maryam, Yusuf mengakui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kemudian, Maryam menambah penjelasannya, “Bukankah engkau tahu, Allah menciptakan Adam dan istrinya tanpa ayah dan ibu?” Dengan demikian, hilanglah prasangka buruk di hati Yusuf.

 

Mukjizat Nabi Isa bin Maryam

Tetapi tantangan yang Maryam hadapi masih belum selesai. Ia harus bersusah payah melewati proses melahirkan. Saat perutnya kian membesar, Maryam mencari tempat yang jauh dan sepi. Begitu rasa sakit akan melahirkan mulai ia alami, Maryam bersandar ke pohon kurma.

Ia sempat menyerah; mengharap kematian karena merasa sudah tidak sanggup lagi. Namun, di saat genting seperti itulah karamah datang. Terdengar suara dari bawahnya, yang diyakini oleh para ulama itu suara puteranya, Isa ‘alaihissalam.

Maryam kemudian menggendong bayi yang istimewa kepada kaumnya. Mereka murka, menghardik dan menuduh wanita suci telah berzina.

Bani Israil semakin geram karena merasa dihina dengan sikap diamnya dan hanya menunjuk ke arah puteranya ketika diajak bicara. Padahal, sebenarnya itu isyarat yang Maryam tunjukan bahwa bayinya itu ajaib.

Maka, tidak lama kemudian, terdengarlah suara kebenaran. Isa yang masih bayi itu berkata kepada mereka.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Isa berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada. Dan Dia memerintahkanku melaksanakan shalat, menunaikan zakat selama aku hidup dan berbakti kepada ibuku, dan Diat tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 30-31)

Kini, setelah menyaksikan kemukjizatan itu, akhirnya kaum Yahudi percaya bahwa Maryam terbebas dari dosa. Al-Quran juga telah menegaskan kesucian Maryam sebagaimana tercantum dalam surah at-Tahrim ayat 12.

Kemudian, episode kehidupan Maryam berlanjut dengan menjalankan tugas sebagai seorang ibu. Dengan curahan cinta dan kasih sayang, ia membesarkan Isa ‘alaihissalam.

Setelah semua penderitaan dan kesulitan yang ia hadapi, Maryam memetik buah manis dari kesabarannya.

Begitu dewasa, di usia 30 tahun, putranya itu diangkat menjadi nabi dengan berbagai mukjizat yang menakjubkan; menyembuhkan orang buta, bisu, dan tuli. Allah juga menganugerahinya mukjizat berupa menghidupkan orang mati dan membuat burung dari tanah hingga terbang dengan izin Allah.

Sedangkan Maryam sendiri kembali kepada aktivitasnya yang semula; kembali beribadah di Baitul Maqdis hingga akhir hayat. Salam sejahtera selalu tercurah kepadanya, perempuan mulia, Al-Qanitah, Ash-Shadiqah, Al-Batul dan Al-‘Adzra’.

 

Epilog: Hikmah dan Faidah

Dari kisah yang mulia ini, ada beberapa hikmah keteladanan yang bisa dipetik untuk dijadikan contoh kaum muslimah.

Pertama, belajar dari sosok Hannah, ibu yang melahirkan Maryam, dia selalu berdoa, tidak berhenti berharap, agar diberi karunia keturunan yang saleh dalam beribadah kepada Allah.

Kedua, adab dalam berdoa yang bisa dipelajari dari cara Hannah memohon kepada Allah. Dia merendahkan diri dengan menyebut “Ya Rabbi…”, dan bertawasul dengan nama-nama Allah seperti yang tercantum dalam surah Ali Imran ayat 35.

Ketiga, ridha terhadap ketetapan Allah. Meskipun Hannah berharap mendapat anak lelaki, dia tidak menggerutu saat diketahui bahwa ternyata bayinya berjenis kelamin perempuan.

Keempat meminta perlindungan kepada Allah agar anak keturunan dijaga dari godaan setan.

Kelima, kesabaran Maryam dalam menghadapi fitnah yang mungkin sulit untuk ditemukan tandingannya hari ini.

Keenam, sosok Maryam begitu lekat dengan semangat beribadah yang terus berkobar selayak api yang tak pernah padam.

Semoga kisah ini dapat meningkatkan kualitas ketakwaan para akhwat shalihah sekalian. Ammiin ya rabbal ‘alamin. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariq. (Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

 

Referensi:

Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran Al-‘Adzhim, Mu’assasah Qurthubah Lith Thab’ wan Nasyr wat Tauzi’, 1421 H/2000 M. vol. 3
Markaz Al-Minhaj, Al-Quran Tadabbur wa ‘Amal, 1438 H, cet. Ke-8. Mamlakah Arabiyah Su’udiyyah, Riyadh.
Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syari’ah wa Al-Minhaj, Darul Fikr, Damaskus, cet. Ke-10. 2009, vol. 2.
Akram Ridha, Al-Kamilat Al-Arba’ah wa Afdhal An-Nisa’, tanpa tahun. Muassasah Iqra.
Mushtafa Murad, Nisa’ Ahlil Jannah, Kairo: Darul Fajr lit Turats. 2005
Fuad Abdurrahman, Bidadari Stories, Jakarta: Zahira, cet. 1. 2015

 

Baca juga artikel tentang Tadabur atau artikel menarik lainnya karya Muhammad Faishal Fadhli.

 

 

Artikel sebelumnya:
Hikmah Tersembunyi di Balik Kata “Qulubukuma” Surat At-Tahrim Ayat 4

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat
1 Komen
  1. Haerul anwar berkata

    Alhamdulillah.
    Akhirnya yang kutunggu muncul juga.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.