Ramadhan merupakan bulan istimewa yang sangat dinanti oleh kaum muslimin. Ramadhan datang membawa banyak sekali keutamaan. Di antaranya, pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan setan-setan dibelenggu.
Keutamaan ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila bulan Ramadhan datang maka pintu-pintu surga dibuka,pintu-pintu neraka ditutup,dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Al-Bukhari no. 1899; Muslim no. 1079)
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menegaskan bahwa hadits ini adalah isyarat besarnya pertolongan Allah di bulan Ramadhan. Beliau melanjutkan, jika masih banyak kemaksiatan terjadi di bulan Ramadhan, maka itu bukan karena kuatnya setan, melainkan karena hawa nafsu yang tidak dikendalikan dan kebiasaan buruk yang terus dipelihara. (Lathaiful-Ma’arif, hlm. 279)
Oleh karena itu, hadits keutamaan Ramadhan di atas menjadi peringatan keras sekaligus kabar gembira. Peringatan keras bagi siapa saja yang menyia-nyiakan Ramadhan padahal pintu surga terbuka lebar, dan kabar gembira bagi siapa saja yang maksimal dan totalitas karena Allah telah memudahkan jalan menuju ampunan dan ridha-Nya.
Artikel Ramadhan: Ramadhan dan Nilai Ketakwaan Sosial
Bulan Ramadhan juga merupakan bulan ibadah. Pada bulan ini, kaum muslimin berlomba-lomba dalam memperbanyak amal kebaikan, seperti puasa, shalat, tadarus al-Quran, dan sedekah.
Namun, di balik semua itu ada satu perkara mendasar yang menentukan nilai seluruh ibadah Ramadhan, yaitu niat yang ikhlas.
Kedudukan Niat dalam Islam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meletakkan kaidah besar dalam agama ini melalui sabdanya,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR. Al-Bukhari No. 54; Muslim No. 1907)
Hadits ini menunjukkan bahwa nilai suatu amal di sisi Allah bukan ditentukan oleh besar atau kecilnya amal tersebut, melainkan oleh niat yang melatarbelakanginya. Amal yang tampak besar bisa menjadi kecil di sisi Allah jika tidak ikhlas, sementara amal yang tampak sederhana bisa menjadi agung jika dilandasi keikhlasan.
Niat dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting. Niat dapat memengaruhi nilai amal saleh, bahkan bisa jadi kunci diterimanya amal perbuatan tersebut. Sebagaimana yang diwartakan oleh Imam Ibnu Mubarak, “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat.” (Jami’ al-’Ulum wal-Hikam, jilid 1, hlm. 72)
Dan sebagaimana ditegaskan kembali oleh Imam Fudhail bin Iyadh,
إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ
“Sesungguhnya amal jika ikhlas tetapi tidak benar maka tidak diterima, dan jika benar tetapi tidak ikhlas maka tidak diterima.” (Ibnu al-Jauzi, Talbis Iblis, hlm. 19)
Tanpa niat yang benar, ibadah yang tampak besar bisa menjadi hampa. Sebaliknya, dengan niat yang ikhlas, ibadah yang sederhana dapat bernilai agung di sisi Allah. Inilah mengapa para ulama selalu menekankan bahwa niat adalah ruh dari setiap amal.
Makna Ikhlas dalam Puasa
Secara bahasa, ikhlas berasal dari kata أَخْلَصَ – يُخْلِصُ – إِخْلَاصًا yang berarti memurnikan dan membersihkan dari campuran. (Lisan al-’Arab, hlm. 29; al-Qamus al-Muhit, hlm. 636). Dari pengertian secara bahasa tersebut, ikhlas berarti memurnikan ibadah hanya untuk Allah subhanahu wata’ala.
Makna puasa Ramadhan itu sangat mendalam. Puasa, termasuk puasa Ramadhan, merupakan ibadah yang paling tersembunyi karena hanya Allah yang benar-benar mengetahui apakah seseorang berpuasa atau tidak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah ta’ala berfirman,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
‘Setiap amal anak Adam adalah untuknya,kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Al-Bukhari No. 1805; Muslim No. 1151)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ganjaran puasa dikhususkan oleh Allah karena puasa adalah ibadah yang paling jauh dari riya’. Sebab, hakikat puasa adalah menahan diri dan itu hanya benar-benar diketahui oleh Allah semata. (Syarh Shahih Muslim, 8/30)
Begitu juga dengan perkataan Ibnu Rajab al-Hanbali. Ia menyatakan bahwa maksud “puasa itu untuk-Ku” adalah “karena puasa mengandung kesempurnaan ikhlas, tidak ada bagian untuk hawa nafsu, pujian manusia, maupun kepentingan dunia”. (Lathaiful-Ma’arif, 275)
Para ulama juga menjelaskan bahwa ikhlas berarti memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata, tanpa mengharapkan pujian manusia, popularitas, atau tujuan duniawi lainnya. Dengan niat yang ikhlas, puasa akan melahirkan dampak positif dalam kehidupan seorang muslim, seperti lisan terjaga, akhlak diperbaiki, dan hati menjadi lebih dekat kepada Allah.
Hal ini sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan dalam haditsnya,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari No. 38; Muslim No. 760)
Hadits ini menegaskan bahwa puasa yang bernilai di sisi Allah adalah puasa yang dilakukan karena iman dan mengharap pahala, bukan sekadar menahan lapar dan haus, apalagi hanya karena tradisi atau kebiasaan tahunan.
Puasa yang secara lahir tampak ringan bisa menjadi sangat besar pahalanya jika dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah. Namun, puasa yang secara lahir tampak sempurna dapat kehilangan nilainya jika niatnya tercampur dengan riya’ atau sekadar kebiasaan.
Karena itu, keikhlasan dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi kunci agar puasa Ramadhan tidak hanya sah secara fikih, tetapi juga diterima dan bernilai di sisi Allah subhanahu wata’ala.
Tujuan Syariat Puasa Ramadhan
Wajib hukumnya puasa Ramadhan bagi seorang muslim. Puasa Ramadhan memiliki kedudukan sangat tinggi. Allah subhanahu wata’ala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ibnu Katsir berkata bahwa ayat ini menjelaskan kewajiban puasa Ramadhan atas umat Islam. Penyebutan “sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu” bertujuan menguatkan dan meringankan jiwa karena ibadah puasa bukanlah ibadah baru, tetapi syariat para nabi dan umat terdahulu.
Adapun tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan dengan menahan diri dari syahwat yang halal demi ketaatan kepada Allah sehingga lebih mudah menahan diri dari yang haram. (Tafsir al-Qur’an al-’Aẓim, jilid 1, halaman 497)
Baca Juga: 6 Hikmah Puasa Ramadhan — Hadits Puasa #1
Maka ayat ini menegaskan bahwa puasa Ramadhan adalah kewajiban syar‘i yang telah berlaku sejak umat-umat terdahulu, dan tujuan utamanya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk ketakwaan.
Puasa juga melatih seorang mukmin untuk mengendalikan hawa nafsu, memperkuat keikhlasan, dan menumbuhkan rasa muraqabah kepada Allah. Karena itu, siapa yang berpuasa dengan benar, ia tidak hanya menunaikan kewajiban, tetapi juga sedang membangun fondasi takwa dalam hidupnya.
Teladan Salafus Shaleh dalam Menjaga Keikhlasan
Para salafus shaleh sangat memerhatikan masalah keikhlasan dalam ibadah, terkhusus puasa Ramadhan. Bahkan, mereka lebih khawatir jika amalannya tertolak daripada sedikitnya amal yang dilakukan. Banyak di antara mereka mempersiapkan diri dan memantaskan diri jauh sebelum Ramadhan.
Mereka mempelajari hukum-hukumnya, adab-adabnya, serta melatih diri untuk ikhlas, agar ketika Ramadhan datang, ibadah dilakukan dengan tenang dan penuh keyakinan.
Imam Ahmad bin Hambal dikenal sangat menjaga keikhlasan dalam puasa. Diriwayatkan bahwa beliau gemar berpuasa, tanpa diketahui orang-orang di sekitarnya.
Beliau keluar rumah membawa makanan seolah-olah untuk dimakan di siang hari, namun makanan itu disedekahkan di jalan, sementara beliau tetap menahan lapar hingga berbuka. Hal ini beliau lakukan karena meyakini bahwa puasa adalah ibadah rahasia antara hamba dan Allah sehingga niatnya harus benar-benar murni karena-Nya. (Manaqib al-Imam Ahmad, hlm. 221–222)
Sufyan ats-Tsauri pernah menasihati murid-muridnya agar sangat berhati-hati terhadap niat ketika berpuasa. Beliau mengatakan bahwa memperbaiki niat lebih berat daripada beramal itu sendiri, karena niat mudah berubah dan bercampur dengan keinginan dipuji.
Dalam puasa Ramadhan, Sufyan ats-Tsauri menekankan agar seseorang berpuasa semata-mata karena perintah Allah dan mengharap pahala-Nya, bukan karena kebiasaan masyarakat atau penilaian manusia. (Jami’ al-’Ulum wa al-Ḥikam, hlm. 14–15)
Kedua kisah teladan tersebut menegaskan bahwa inti puasa Ramadhan adalah niat yang ikhlas karena Allah, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Para ulama salaf sangat menjaga amal puasa agar tersembunyi dari manusia karena mereka memahami bahwa nilai puasa di sisi Allah ditentukan oleh kejujuran niat. Puasa yang dilakukan karena iman dan mengharap pahala akan melahirkan ketakwaan, sedangkan puasa tanpa ikhlas hanya menyisakan letih tanpa makna.
Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan puasa kita puasa yang ikhlas, ibadah kita ibadah yang diterima, dan Ramadhan ini menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kita serta meningkatnya ketakwaan kita kepada-Nya. Amin. (Zaki Abu Barbarosa/dakwah.id)
Penulis: Zaki Abu Barbarosa