Ngaji Fikih #4: Seputar Hukum Niat

0 1,496

Artikel berjudul Seputar Hukum Niat ini adalah bagian dari serial Ngaji Fikih yang disarikan dari kitab Al-Bayan wa At-Ta’arif bi Ma’ani Wasaili Al-Ahkam Al-Mukhtashar Al-Lathif karya Ahmad Yusuf An-Nishf.

Untuk mendapatkan versi Arab kitab tersebut dalam bentuk PDF, silakan DOWNLOAD DI SINI.

Pada artikel sebelumnya yang berjudul Ngaji Fikih #3: Cara Niat Wudhu yang Benar telah dijelaskan tentang cara niat wudhu. Berikutnya adalah pembahasan tentang Seputar Hukum Niat.

 

Hukum Niat

Dalam ibadah, niat itu hukumnya wajib.

 

Tempat Niat

Niat tempatnya di hati. Hukum melafalkan niat dengan lisan adalah sunah (menurut mazhab Syafi’i), karena tujuan melafalkan niat untuk menguatkan apa yang ada di dalam hati.

Al-Imam Ibnu ‘Allan rahimahullah menjelaskan, “Ya, disunahkan mengucapkan niat untuk membantu lisan hati. Juga, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengucapkan niat Haji. Sehingga, kami menganalogikan (qiyas) pengucapan niat Haji beliau tersebut untuk niat pada seluruh bentuk ibadah.”

Beliau melanjutkan, “Tidak adanya nash dalil tentang mengucapkan niat bukan berarti itu tidak dapat diamalkan. Ditambah lagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak beramal kecuali hingga titik kesempurnaannya. Sehingga, mencapai kesempurnaan tersebut lebih utama dari meninggalkannya.”

Artikel Fikih: Mandi Pagi Sore Belum Tentu Berfungsi Menggantikan Wudhu

“Dan berbagai macam periwayatan yang ada menunjukkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan keutamaan sepanjang hidupnya. Sehingga, hal itu menguatkan bahwa beliau melaksanakan wudhu dan shalat dengan niat yang diucapkan. Sementara tidak ada kepastian bahwa beliau meninggalkannya. Keraguan tidak dapat menolak keyakinan.”

“Berdasarkan argumentasi tersebut, seluruh umat di setiap zaman sepakat (ijmak) atas sunahnya mengucapkan niat untuk membantu lisan hati.” (Al-Futuhat ar-Rabaniyah, Imam Ibnu ‘Allan, 1/54)

 

Waktu Niat

Waktu untuk melakukan niat adalah di permulaan ibadah. Kecuali pada puasa, zakat, dan udhiyah (penyembelihan hewan qurban).

 

Tata Cara Niat

Cara melakukan niat tergantung pada ibadah yang diniatkan. Niat shalat berbeda dengan niat wudhu.

 

Syarat-Syarat Niat

Pertama, orang yang berniat harus Islam.

Kecuali dalam kasus wanita kafir memandikan suaminya yang muslim atau budak wanita kafir memandikan majikannya yang muslim.

Kedua, tamyiz.

Tidak sah niat yang dilakukan oleh anak yang belum mumayyiz. Niat wudhu anak kecil untuk melakukan thawaf dianggap tidak sah, tetapi orang tuanya boleh mewakili niatnya. Niat mandi besar setelah haid bagi wanita yang gila tidak sah, tetapi suaminya boleh mewakili niatnya.

Ketiga, mengetahui ibadah yang diniati.

Bagaimana mungkin akan berniat jika tidak mengetahui ibadah apa yang akan diniati.

Keempat, tidak melakukan hal-hal yang justru dapat menafikan niat.

Ngaji Fikih #2: Fardhu Wudhu itu Ada Enam

Contohnya, niat wudhu untuk menyegarkan badan. Wudhunya tidak sah karena tujuan wudhu bukan untuk menyegarkan badan, sehingga wudhu ini tidak dapat digunakan untuk mendirikan shalat.

Kelima, niat dilakukan dengan pasti dan tidak menggantungkannya dengan hal apa pun.

Orang berkata: “Aku niat wudhu, insya Allah,” jika kalimat insya Allah dia maksudkan untuk menggantungkan niat (ta’liqu an-niyah) atau dia tidak bermaksud apa-apa maka niatnya tidak sah, sehingga wudhunya tidak sah.

Akan tetapi, jika kalimat insya Allah dia maksudnya untuk mendapatkan keberkahannya (bahwa segala sesuatu atas kehendak dan kekuasaan Allah) maka niatnya sah, sehingga wudhunya pun juga sah.

 

Tujuan Niat

Niat untuk membedakan amalan yang dinilai ibadah dengan amalan yang tidak dinilai ibadah (‘adah). Seperti untuk membedakan antara mandi Jumat dengan mandi biasa (menyegarkan tubuh).

Niat juga untuk membedakan antara amalan fardhu dengan amalan sunah. Seperti untuk membedakan antara mandi junub (yang wajib) dengan mandi Jumat (yang sunah). (Arif Hidayat/dakwah.id)

(Disarikan dari kitab: Al-Bayan wa At-Ta’arif bi Ma’ani Wasaili Al-Ahkam Al-Mukhtashar Al-Lathif, Ahmad Yusuf An-Nishf, hal. 50-51, Dar Adh-Dhiya’, cet. 2/2014).

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.