Gambar Kultum Ramadhan 07 Keteguhan Iman yang Mengagumkan dakwah.id.jpg

Kultum Ramadhan 07: Keteguhan Iman yang Mengagumkan

Tulisan yang berjudul Keteguhan Iman yang Mengagumkan ini adalah seri ke-07 dari serial Materi Kultum Ramadhan yang ditulis oleh ustadz Muhammad Faishal Fadhli.

Hidayah bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Seperti yang dialami oleh Jabbar bin Salma.

Jabbar bin Salma mengisahkan bahwa sebab keislamannya adalah ketika ia menikam salah seorang dari sekelompok kecil kaum muslimin yang diutus oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk berdakwah. Pada peristiwa yang dikenal dengan nama biru maunah.

Kisah Masuk Islamnya Jabbar Bin Salma

Waktu itu, ada sekitar tujuh puluh orang terbaik yang dipilih oleh Nabi. Mereka adalah para penghafal al-Quran. Diutus Nabi untuk mengajarkan al-Quran dan sunnah. Jabbar bin Salma yang sangat memusuhi Islam, menyerang kafilah dakwah tersebut. Dan ia berhasil membunuh salah seorang shahabat Nabi yang bernama Haram bin Milhan.

Jabbar menusuk Haram dengan tombak, tepat di antara kedua pundaknya. “Kusaksikan langsung dengan mata kepalaku, gerigi tombak menembus dadanya.” Kata Jabbar mengenang peristiwa itu.

Di saat itulah Jabbar mendengar korbannya berujar,

فُزْتُ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ

Fuztu wa Rabbil Kabah. Demi Zat Yang memiliki Kabah, sesungguhnya aku telah menang.”

Di dalam benaknya, Jabbar bertanya-tanya kepada diri sendiri: apa makna dari kalimat ini? Apakah ia sedang bermimpi di siang bolong?

Bisa dipastikan bahwa manusia tidak akan berdusta saat sedang merenggang nyawa. Meskipun seseorang sering berbohong semasa hidupnya, saat sakaratul maut, dia akan berkata jujur. Apalagi yang berkata adalah orang Arab. Sejak dini, mereka dididik untuk tidak berbohong.

Hal inilah yang membuat Jabbar bin Salma terheran-heran. Baru kali ini ia melihat pemandangan yang benar-benar aneh. Ketika orang yang ia tujah berlumuran darah, tetapi malah mengucapkan kalimat, Fuztu wa Rabbil Kabah, di saat hembusan nafas terakhirnya.

Bukankah setelah kematiannya, maka istrinya akan menjadi janda, anaknya menjadi yatim, dan ia terputus dari segala bentuk kenikmatan duniawi. Apalagi jika mengingat di kubur nanti tidak ada makanan dan minuman. Tidak ada cahaya dan penerangan. Hanya ada liang lahad. Gelap dan senyap.

Jadi, pikir Jabbar kala itu, kemenangan macam apa yang dirayakan sampai harus mengucapkan kalimat Fuztu wa Rabbil Kabah dengan penuh rasa bangga? Karena merasa penasaran dengan teka-teki ini, maka Jabbar bertanya-tanya kepada sebagian kaum muslimin tentang apa yang ia alami.

Tidak lama kemudian, ia mendapati jawaban bahwa kemenangan yang dimaksud Haram bin Milhan adalah asy-Syahadah (kemuliaan mati syahid). Sesungguhnya, kemenangan itu hanya bisa dirasakan oleh kaum mukminin yang mengimani Allah dan hari akhir.

Orang yang mati syahid, seperti Haram bin Milhan ini, sudah pasti mendapat rida ilahi, meraih surga tertinggi, dan menemukan kebahagiaan hakiki. Semua imaji dan bayang-bayang tentang keindahan surgawi, tergambar jelas di detik-detik menjelang kematiannya. Maka, wajarlah apabila Haram melafalkan Fuztu wa Rabbil Kabah dengan penuh percaya diri.

Berawal dari sini Jabbar memulai pengembaraan spiritualnya. Ia merasa takjub dengan keteguhan korban serangannya. Jabbar kemudian bertobat dari kemusyrikan. Ia bersyahadat dan memeluk agama Islam. Cerita ini, nyata adanya. Diriwayatkan oleh Syaikhain dalam Shahih mereka; Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Hikmah Kisah Keteguhan Iman Haram Bin Milhan

Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari kisah indah ini. Di antaranya adalah,

Pertama, pelajaran berharga tentang keteguhan iman seorang da’i. Tentang mental juang yang mengagumkan. Tidak ada rasa gentar. Tidak ada penyesalan atas akidah yang selama ini dia yakini.

Bahkan dengan bangga, Haram bin Milhan merasa menang walau secara zahir telah kalah akibat serangan musuh. Tapi, siapa sangka, keteguhan imannya itulah yang menjadi jalan hidayah orang yang telah membunuhnya.

Kedua, kemenangan hakiki adalah ketika seseorang meraih surga dan dijauhkan dari siksa neraka.

Allah subhanahu wataala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Kullu nafsin żā`iqatul maụt, wa innamā tuwaffauna ujụrakum yaumal-qiyāmah, fa man zuḥziḥa ‘anin-nāri wa udkhilal-jannata fa qad fāz, wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā’ul-gurụr

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.(QS. Āli ’Imrān: 185)

Ketiga, Jabbar bin Salma tersadar bahwa di balik setiap kenikmatan duniawi, terdapat kenikmatan yang jauh lebih agung, kesenangan dan kelezatan yang lebih kekal, lebih luas, lebih banyak dan tidak akan pernah ada habisnya.

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ اُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍۚ جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Fa lā ta’lamu nafsum mā ukhfiya lahum min qurrati a’yun, jazā`am bimā kānụ ya’malụn

Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)

Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.

Keempat, kalimat Fuztu wa Rabbil Kabah. Kalimat yang sangat sederhana. Tetapi pengaruhnya lebih dahsyat daripada sihir.

Artikel Fikih Ramadhan: Makan Sahur Belum Habis Tapi Sudah Adzan, Diterusin Makan atau Berhenti?

Fuztu wa Rabbil Kabah. Keluar dari hati seorang mukmin. Diucapkan dengan lisan yang selalu membasahi bibir dengan zikir. Ia menjadi sebab yang mengantarkan orang kafir ke dalam pangkuan Islam.

Demikianlah. Sering kali, kata-kata orang beriman yang diucapkan dengan keikhlasan dan penuh keyakinan, dapat menciptakan keajaiban yang menakjubkan.

Kelima, dalam kisah ini juga terdapat pelajaran tentang keutamaan beberapa amalan, seperti; mengajarkan kebaikan, berdakwah, menghafal al-Quran, dan mati syahid di jalan Allah.

Demikian sekelumit kisah dan hikmah keteguhan Iman seorang da’i Rasul, Haram bin Milhan. Mari kita ambil hikmahnya. Mudah-mudahan berfaedah. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq. (Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

Baca juga artikel Materi Kultum Ramadhan atau artikel menarik lainnya karya Muhammad Faishal Fadhli.

Penulis: Muhammad Faishal Fadhli
Editor: Ahmad Robith

Artikel Materi Kultum Ramadhan sebelumnya:

Topik Terkait

Muhammad Faishal Fadhli

Pengkaji Literatur Islami. Almnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 14.

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: