Materi khutbah berjudul Bulan Sya’ban yang Terlupakan yang ditulis oleh ustadz Irfandi Al-Indragiri ini menekankan urgensi bulan Sya’ban sebagai waktu pengangkatan amal yang sering dilalaikan manusia karena posisinya di antara Rajab dan Ramadhan. Melalui analogi ulama salaf yang menyebut Sya’ban sebagai bulan “menyiram” tanaman, naskah ini mengingatkan bahwa tanpa pemanasan ibadah saat ini, umat Islam akan sulit meraih panen pahala yang maksimal ketika bulan suci tiba.
Isi khutbah menawarkan empat panduan praktis sebagai persiapan gerbang Ramadhan: memperbanyak tilawah al-Quran, melunasi utang puasa, melatih fisik melalui puasa sunah dan salat malam, serta membersihkan hati dengan memaafkan sesama. Ajakan ini ditutup dengan renungan mendalam agar jamaah memanfaatkan sisa waktu Sya’ban sebagai garis awal perbaikan kualitas ibadah sebelum kesempatan umur berakhir.
Materi Khutbah Jumat
Bulan Sya’ban yang Terlupakan
Pemateri: Ustadz Irfandi Al-Indragiri
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى الرَّسُولِ الْأَمِينِ الْمَبْعُوثِ لِلْعَالَمِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ …
أَلَا فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُونَ الْمُتَّقُونَ، حَيْثُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
Hadirin jamaah Jumat, rahimakumullah,
Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan semaksimal mungkin, yakni takwa dalam arti menjauhi segala larangan yang ditetapkan oleh Allah dan menjalankan perintah-Nya.
Saat ini kita berada di sebuah ruang waktu yang sangat istimewa, namun sering kali terabaikan. Kita berada di bulan Sya’ban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda mengenai hakikat bulan ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i:
شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.
“Bulan Sya’ban adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, karena letaknya antara bulan Rajab dan bulan Ramadan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam. Aku suka jika amalku dilaporkan sedang aku dalam keadaan berpuasa.”
Baca juga: Malam Nishfu Sya’ban: Adakah Amalan dan Keutamaan Khusus?
Mengapa manusia lalai? Karena mata mereka tertuju pada keagungan Rajab dan rindu mereka tertumpuk pada Ramadan. Padahal, Sya’ban adalah “pintu gerbang” utama. Tanpa melewati pintu ini dengan benar, kita akan sulit merasakan manisnya ibadah di bulan Ramadan nanti.
Hadirin jamaah Jumat, rahimakumullah,
Ibarat seorang pelari maraton, ia tidak akan bisa mencapai garis finish dengan gemilang jika tidak melakukan pemanasan. Sya’ban adalah masa pemanasan itu. Para ulama salaf mengatakan,
رَجَبٌ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْحَصَادِ، وَكُلٌّ يَحْصُدُ مَا زَرَعَ، فَمَنْ ضَيَّعَ الزِّرَاعَةَ نَدِمَ يَوْمَ الْحَصَادِ.
“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadan bulan memanen. Setiap orang akan memanen apa yang ia tanam. Barang siapa yang menyia-nyiakan tanaman akan merugi pada waktu panen.”
Bagaimana mungkin kita berharap memanen pahala yang melimpah di bulan Ramadan, jika benihnya tidak pernah kita sirami di bulan Sya’ban ini?
Hal yang paling menyentuh hati kita seharusnya adalah fakta bahwa bulan Sya’ban merupakan “waktu laporan tahunan” kita kepada Allah. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
… وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.
“… Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam. Maka, aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa.”
Bayangkan, wahai saudaraku!
Jika hari ini malaikat mengangkat buku catatan amal kita untuk diserahkan kepada Allah, dalam keadaan apakah catatan itu ditutup? Apakah saat kita sedang bersujud? Sedang membaca al-Quran? Sedang menyibukkan diri dengan puasa sunah? Ataukah justru saat kita sedang lalai, sedang bermaksiat, atau sedang menyia-nyiakan waktu?
Oleh karena itu, mumpung masih di awal bulan Sya’ban, mari kita lakukan hal-hal bermanfaat sebagai persiapan sebelum bertemu bulan Ramadan:
Persiapan Pertama: Perbanyak baca al-Quran
Mulailah membuka kembali mushaf yang berdebu itu. Jangan tunggu Ramadan untuk tadarus. Biasakan lisan kita mulai hari ini.
Persiapan Kedua: Melunasi utang
Jika masih ada utang puasa tahun lalu, segera bayar.
Persiapan Ketiga: Latih perut dan fisik kita
Mulailah dengan puasa sunah Senin–Kamis atau puasa Daud di bulan Sya’ban ini.
Mulailah membiasakan diri bangun di sepertiga malam untuk salat malam agar saat Ramadan tiba, fisik kita sudah akrab dengan rasa lapar, dahaga, dan berdiri dalam waktu cukup lama.
Persiapan Keempat: Memohon maaf
Jika ada ganjalan di hati dengan sesama saudara kita, bersihkanlah. Allah tidak akan menerima amal orang yang sedang bermusuhan.
Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Jangan biarkan bulan Sya’ban ini berlalu begitu saja seperti bulan-bulan biasanya. Jadikan setiap detik di bulan ini sebagai pembuktian cinta kita kepada Allah dan kerinduan kita pada Ramadan.
Baca juga: Agar Shalat Mencegahmu dari Berbuat Keji dan Munkar
Sebagai penutup, mari kita renungkan: berapa banyak kawan kita, saudara kita, yang tahun lalu masih duduk bersama kita di masjid ini, namun hari ini mereka telah berada di alam kubur?
Mereka merindukan satu hari saja di bulan Sya’ban untuk beramal, namun waktu mereka telah habis. Sementara kita masih diberi kesempatan. Kesempatan ini adalah nikmat yang akan dimintai pertanggungjawaban.
‘Ibadallah…
Mari kita jadikan sisa hari di bulan Sya’ban ini sebagai garis permulaan. Jangan biarkan ia berlalu seperti angin. Mulailah sujud lebih lama, mulailah bersedekah lebih rutin, mulailah memperbanyak puasa sunah, dan mulailah bermunajat kepada-Nya di sepertiga malam.
Semoga Allah memberkahi kita di bulan Sya’ban dan mempertemukan kita dengan Ramadan dalam keadaan hati yang bersih dan jiwa yang siap.
Penutup Khutbah Pertama
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ، وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ، وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ جَمِيعَ أَعْمَالِنَا، إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، وَكَفَى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ:
يَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
ثُمَّ اعْلَمُوْا، فَإِنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى رَسُوْلِهِ، فَقَالَ: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْـمُجَاهِدِيْنَ فِيْ فِلِسْطِيْنَ وَفِيْ كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سُوْءِ الْخَاتِمَةِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِيْ الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ!
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?