Gambar Featured dakwah.id Makhluk Perusak Alam.jpg

Materi Khutbah Jumat: Makhluk Perusak Alam

Terakhir diperbarui pada ·

Materi Khutbah Jumat:
Makhluk Perusak Alam

Pemateri: Ustadz Syahid Ridwanullah

Mukadimah Khutbah Jumat

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا، وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ، عَلَى نِعَمٍ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ وَالرِّضَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهُدًى

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالتُّقَى

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Khutbah Pertama

Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,

Alhamdulillah, atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita semua, dari nikmat lahiriah yang bisa dilihat secara kasatmata maupun nikmat batiniah yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang bersih.

Shalawat serta salam semoga selalu tersampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi yang dipilih sebagai utusan untuk mengajarkan secara langsung kepada manusia bagaimana memahami ayat Allah dan menerapkannya, sehingga hikmahnya bisa terungkap di kemudian hari.

Saya selaku khatib berpesan agar kita selalu meningkatkan ketakwaan, dengan tetap melaksanakan kewajiban dan meningkatkan kualitasnya, serta berusaha menegakkan sunnah-sunnah sebagai penolong agar tetap istiqamah.

Kerusakan Alam di Darat dan di Laut

Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah,

Salah satu sunnatullah yang pasti dan tidak akan pernah berganti adalah keteraturan alam. Kerusakan dan bencana terjadi jika ada ketidakteraturan dalam memanfaatkan alam. Seperti halnya tubuh, jika dirawat ia akan sehat, jika tidak ia akan sakit. Begitu pula alam, ia memiliki sistem yang teratur sesuai sunnatullah. Itulah sebabnya Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah ar-Rum ayat 41,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan bahwa maksud kerusakan di darat ialah matinya manusia, sedangkan kerusakan di laut adalah dirampasnya kapal.

Baca artikel terkait: Khutbah Jumat Singkat: Merawat Alam Bagian dari Iman

Lebih lanjut, dalam pembahasan manhaj Islam dalam merawat alam, disebutkan bahwa kerusakan alam terjadi karena eksploitasi alam secara masif dan berlebihan. Ketika alam sudah tidak stabil, maka tanaman dan air sulit didapat, sehingga menyebabkan kelaparan massal serta paceklik yang akhirnya berujung pada kematian.

Baca artikel terkait: Tugas Khalifah di Bumi: Larangan Israf dan Penyebab Kerusakan

Kerusakan Alam Akibat Dosa Manusia

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ternyata kerusakan alam tidak hanya berimbas kepada manusia. Hewan ternak dan pepohonan juga turut merasakan dampak dari kerakusan manusia. Dinukil dalam kitab ad-Da’ wad-Dawa’ halaman 145, Imam Mujahid mengatakan,

إِنَّ الْبَهَائِمَ تَلْعَنُ عُصَاةَ بَنِيْ آدَمَ إِذَا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ، وَأَمْسَكَ الْمَطَرُ، وَتَقُوْلُ: هَذَا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ

“Ketika kekeringan hebat melanda dan hujan pun berhenti, binatang-binatang mengutuk (melaknat) orang-orang yang durhaka di antara manusia seraya berkata, ‘Ini adalah akibat buruk dari dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia.'”

Selain eksploitasi yang berlebihan, yang menyebabkan paceklik dan sulitnya air adalah dosa. Apa yang tumbuh dari bumi dan air yang turun dari langit merupakan berkah. Semua itu atas kehendak Allah. Usaha manusia terbatas pada menanam. Sehebat apa pun seorang petani, ia tidak bisa memastikan seratus persen akan sukses panen. Begitu juga air hujan, belum tentu selalu bermanfaat, kadang justru menjadi banjir bandang.

Hubungan antara maksiat dan paceklik ini merupakan hubungan kasih sayang. Musibah merupakan sinyal agar manusia segera bertobat dan memperbaiki cara mengelola hasil alam dan tambang, sebelum kerusakan yang lebih parah terjadi.

Rantai Dosa di Balik Kerusakan Alam

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia,

Banyak yang masih bingung tentang hubungan antara banyaknya dosa dan maksiat dengan paceklik serta sulitnya air dan makanan. Hubungan itu bisa dijelaskan dengan keseimbangan alam yang diatur oleh Allah subhanahu wata’ala dalam hubungan antara manusia dengan manusia.

Saat manusia hidup tidak lagi memedulikan hak orang lain, meremehkan nyawa dan kesehatannya, menganggapnya enteng, bahkan dengan tega memakan harta yang merupakan hak orang lain dengan cara korupsi.

Semua itu berawal dari meremehkan ibadah wajib, yaitu ibadah antara hamba dengan Rabb-nya, lalu memicu dosa-dosa yang lain, termasuk dosa dalam hubungan antarmanusia.

Dosa itu berantai dan diawali dengan meninggalkan perintah Allah. Ibnu Qayyim dalam kitab al-Fawa’id halaman 172 menegaskan,

تَرْكُ الْأَوَامِرِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنِ ارْتِكَابِ الْمَنَاهِيْ

“Meninggalkan perintah lebih besar dosanya di sisi Allah daripada melakukan larangan.”

Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: Jangan Biarkan Perbuatan Dosa Merajalela

Para ulama juga menegaskan bahwa kemaksiatan akan memicu kemaksiatan setelahnya, dan kebaikan akan melahirkan kebaikan setelahnya. Sebagian ulama terdahulu mengungkapkan,

إِنَّ مِنْ عُقُوْبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ بَعْدَهَا، وَإِنَّ مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةَ بَعْدَهَا

“Sesungguhnya di antara balasan dari suatu keburukan adalah terdorong melakukan keburukan setelahnya, dan di antara balasan dari kebaikan adalah dimudahkan melakukan kebaikan setelahnya.”

Hal ini merupakan hukum sebab-akibat yang tertera dalam Surah al-Lail ayat 5 sampai 10,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى ۝٥ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ۝٦ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى ۝٧ وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى ۝٨ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى ۝٩ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى ۝١٠

“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan).”

Kemudian, jiwa-jiwa yang sengaja meninggalkan kewajiban dan memicu dosa-dosa yang lain, hatinya mulai menjauh dan ternoda, rasa malunya hilang, dan kesalahan akan menjadi kebiasaan. Jika sudah demikian, Allah pun akan semakin menjauhkan mereka dan mengunci hati mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah ash-Shaff ayat 5,

فَلَمَّا زَاغُوْا أَزَاغَ اللهُ قُلُوْبَهُمْ

“Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.”

Na’udzubillahi min dzalik.

Pelaku Dosa Dibenci Makhluk

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Terakhir, pelaku dosa memiliki ciri, dan salah satu yang paling tampak ialah dibenci makhluk. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Qayyim dengan mengutip perkataan Turjumanul Quran, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, di dalam kitab ad-Da’ wad-Dawa’ halaman 135,

إِنَّ لِلسَّيِّئَةِ سَوَادًا فِي الْوَجْهِ، وَظُلْمَةً فِي الْقَبْرِ وَالْقَلْبِ، وَوَهْنًا فِي الْبَدَنِ، وَنَقْصًا فِي الرِّزْقِ، وَبُغْضَةً فِيْ قُلُوْبِ الْخَلْقِ

“Sesungguhnya keburukan (dosa) itu membawa kegelapan pada wajah, kegelapan di dalam kubur dan di dalam hati, kelemahan pada badan, pengurangan pada rezeki, dan rasa benci di dalam hati makhluk.”

Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: 9 Pengaruh Maksiat Terhadap Kehidupan Seseorang

Selain dibenci makhluk, kematian orang fasik membuat makhluk lain, seperti pepohonan dan hewan, beristirahat.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari hadits nomor 6512, dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ: مُسْتَرِيْحٌ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، مَا الْمُسْتَرِيْحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ؟ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيْحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيْحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

“Sebuah iringan jenazah pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau bersabda, ‘(Ada) yang beristirahat dan ada yang membuat (yang lain) beristirahat darinya.’

Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa maksud yang beristirahat dan yang membuat (yang lain) beristirahat darinya?‘

Beliau menjawab, ‘Seorang hamba beriman (yang meninggal) beristirahat dari kesulitan dunia dan gangguannya menuju rahmat Allah, sedangkan hamba fasik (yang meninggal) membuat orang-orang, negeri, pepohonan, dan hewan beristirahat darinya.'”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْكُرُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ

اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُجَاهِدِيْنَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَصِيْرًا وَمُعِيْنًا، وَحَافِظًا وَأَنِيْسًا

اَللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالدِّيْنِ، وَاجْعَلْهُمْ يَدًا وَاحِدَةً عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنْ أُمَّتِنَا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Makhluk Perusak Alam
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Syahid Ridwanullah

Nama asli Eko Muji Rahayu, S.Pd. Mahasiswa pascasarjana UNIDA Gontor. Alumnus progam kaderisasi ulama gontor angkatan XII dan XIII. Pernah mengikuti Asian Africa Conference, Ushul Fikih International Conference, ICRIIM (konferensi isu-isu kontemporer keagamaan Indo dan Malaysia). Sangat antusias dengan displin ilmu Akidah, Filsafat Islam, dan Isu Islam kontemporer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading