Materi Khutbah Jumat:
Fitnah Dajjal, Ketika Kebenaran dan Kebatilan Tampak Samar
Pemateri: Ustadz Fairuz An Nafidz
Mukadimah Khutbah Jumat
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَلَفَ مِنْ إِخْوَانِهِ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ، وَسَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَاقْتَفَى أَثَرَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. عِبَادَ اللَّهِ:
فَإِنِّيْ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
Khutbah Pertama
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menurunkan petunjuk agar manusia tidak tersesat di tengah berbagai ujian kehidupan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti petunjuknya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan ini, khatib mengajak seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. Caranya dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beribadah kepada Allah akan menjadi manifestasi ketakwaan kita.
Kehidupan seorang muslim tidak pernah lepas dari ujian dan fitnah. Namun, kita sering mengira bahwa fitnah hanya berupa sesuatu yang jelas-jelas buruk dan mudah dikenali. Padahal, ada fitnah yang justru jauh lebih berbahaya karena datang dalam bentuk yang menarik, meyakinkan, bahkan tampak seperti kebaikan.
Salah satu fitnah yang paling diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah fitnah Dajjal. Bahayanya bukan hanya karena besar, tetapi karena ia mengaburkan batas antara kebenaran dan kebatilan. Yang batil tampak seperti kebenaran, dan yang benar justru tampak seperti kesalahan.
Fitnah Dajjal, Fitnah Terbesar yang Diperingatkan Nabi
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Setiap nabi yang diutus Allah kepada umatnya senantiasa memperingatkan kaumnya tentang bahaya Dajjal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai penutup para nabi, memberikan peringatan yang jauh lebih serius dibandingkan nabi-nabi sebelumnya.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim hadits nomor 2946, dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ
“Tidak ada satu pun makhluk sejak Adam diciptakan hingga terjadinya kiamat yang fitnahnya (cobaannya) lebih besar dari Dajjal.”
Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud di sini adalah tidak ada fitnah dan masalah yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.
Bayangkan, jamaah sekalian. Dari sekian banyak fitnah yang akan dihadapi umat manusia, mulai dari peperangan, bencana, hingga berbagai huru-hara menjelang kiamat, Rasulullah justru menyebut fitnah Dajjal sebagai yang paling besar di antara semuanya.
Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan sedemikian keras, maka sudah sepatutnya kita, sebagai umatnya, tidak boleh menganggap remeh persoalan ini.
Baca artikel terkait: Khutbah Jumat: 4 Bekal Menghadapi Fitnah Akhir Zaman
Ketika Kebenaran dan Kebatilan Tampak Samar
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Mengapa fitnah Dajjal begitu sulit dihadapi? Jawabannya terletak pada cara ia menguji manusia. Dajjal tidak datang dengan keburukan yang terang-terangan, melainkan dengan hal-hal yang tampak luar biasa dan meyakinkan.
Dajjal membawa kelimpahan makanan dan kenikmatan, bahkan seolah-olah mampu memerintah hujan turun dan tanaman tumbuh. Secara bertahap, ia mengajak manusia mengikutinya, mulai dari mengaku sebagai nabi hingga akhirnya mengaku sebagai Tuhan.
Lebih dari itu, ia datang membawa sesuatu yang menyerupai surga dan neraka. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari hadits nomor 3338 dan Imam Muslim hadits nomor 2936, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَلَا أُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثًا عَنِ الدَّجَّالِ مَا حَدَّثَ بِهِ نَبِيٌّ قَوْمَهُ، إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّهُ يَجِيْءُ مَعَهُ بِمِثَالِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَالَّتِيْ يَقُوْلُ إِنَّهَا الْجَنَّةُ هِيَ النَّارُ، وَإِنِّيْ أُنْذِرُكُمْ كَمَا أَنْذَرَ بِهِ نُوْحٌ قَوْمَهُ
“Maukah kalian aku ceritakan tentang Dajjal, sesuatu yang belum pernah diceritakan oleh seorang nabi pun kepada kaumnya? Sesungguhnya ia buta sebelah matanya, dan ia datang membawa sesuatu yang menyerupai surga dan neraka. Yang ia sebut sebagai surga, sesungguhnya itulah neraka. Dan sungguh aku memperingatkan kalian sebagaimana Nuh memperingatkan kaumnya.”
Dari hadits tersebut kita memahami pesan yang sangat penting: tidak semua yang terlihat luar biasa adalah kebenaran. Dajjal menguji manusia melalui apa yang mereka lihat dan rasakan secara kasat mata, sedangkan orang yang beriman harus senantiasa kembali kepada tauhid dan wahyu sebagai pedoman.
Di sinilah letak relevansi tema kita hari ini. Ketika kebenaran dan kebatilan tampak samar di hadapan mata, iman menjadi kompas yang menjaga manusia agar tidak tersesat mengikuti sesuatu hanya karena tampilannya yang memesona.
Jangan Menjadikan Apa yang Tampak sebagai Ukuran Kebenaran
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Kita tidak perlu terburu-buru mengaitkan fitnah Dajjal dengan fenomena tertentu di zaman ini, sebab hal itu hanya akan membuat pembahasan kita menjadi spekulasi yang tidak berdasar. Namun, kita bisa mengambil pelajaran dari cara kerja fitnah ini, yang sesungguhnya juga berlaku dalam skala yang lebih kecil dalam kehidupan kita sehari-hari.
Manusia pada dasarnya mudah terpesona oleh sesuatu yang tampak luar biasa. Manusia juga mudah percaya kepada sesuatu hanya karena banyak orang mempercayainya, serta mudah mengikuti seseorang semata karena popularitasnya. Bahkan, tidak sedikit orang yang rela mengorbankan prinsip demi mendapatkan keuntungan sesaat.
Karena itulah, seorang muslim membutuhkan ilmu dan iman sebagai standar dalam menilai segala sesuatu, bukan sekadar apa yang tampak di permukaan.
Oleh karena itu, jamaah sekalian, ada dua pertanyaan yang harus selalu kita bawa. Pertanyaan pertama, “Apa yang saya lihat?” Pertanyaan kedua, yang jauh lebih penting, “Apa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan?” Sebab mata manusia mudah tertipu dan hati mudah terpesona, tetapi petunjuk Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menyesatkan.
Siapa yang menjadikan wahyu sebagai ukuran, insya Allah ia akan terjaga dari fitnah Dajjal, serta dari berbagai ujian kecil yang kita hadapi setiap hari.
Siapa yang Mudah Terjebak dalam Fitnah Dajjal?
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Para ulama menjelaskan bahwa ada beberapa sifat yang membuat seseorang lebih mudah terjebak dalam fitnah Dajjal, dan kita perlu mengambil pelajaran moralnya bagi diri kita masing-masing.
Pertama, lemahnya ilmu dan tauhid.
Ketidaktahuan terhadap agama bukanlah persoalan kecil ketika seseorang harus berhadapan dengan fitnah yang besar, sebab ia tidak memiliki pegangan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan.
Kedua, mengikuti hawa nafsu.
Ketika hawa nafsu menjadi pemimpin dalam diri seseorang, kebenaran akan mudah dikalahkan oleh sesuatu yang terasa menyenangkan, meskipun sesungguhnya menyesatkan.
Ketiga, hidup dalam kelalaian.
Hati yang dibiarkan lalai dalam waktu yang lama akan jauh lebih mudah dimasuki oleh fitnah besar, sebab ia tidak lagi peka terhadap peringatan-peringatan yang Allah berikan.
Jangan Sampai Kekaguman Mengalahkan Keimanan
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Mengagumi sesuatu yang baik tentu diperbolehkan. Menyukai seseorang karena prestasinya juga tidak dilarang. Mengikuti perkembangan zaman pun bukan sebuah kesalahan.
Namun, jangan sampai kekaguman itu membuat kita kehilangan ukuran yang benar dan yang salah, hingga kita rela mengikuti sesuatu tanpa mempertimbangkan apakah ia sejalan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya atau tidak.
Lalu siapa yang seharusnya menjadi teladan kita? Allah subhanahu wata’ala menjawab dalam Surah al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيْرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Maka kepada Rasulullah-lah kita meneladani, bukan kepada siapa pun yang sekadar tampak menarik atau banyak pengikutnya.
Jika seseorang sudah begitu mudah dikendalikan oleh kekaguman terhadap sesama manusia dan hawa nafsunya sendiri dalam perkara-perkara dunia yang kecil, bagaimana mungkin ia akan mampu bertahan ketika kelak berhadapan dengan fitnah Dajjal yang jauh lebih dahsyat?
Bekal Pertama: Mengenal Allah dengan Benar
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Di antara bekal utama yang akan melindungi seseorang dari fitnah Dajjal adalah mengenal Allah subhanahu wata’ala dengan benar, melalui nama dan sifat-sifat-Nya. Allah tidak menyerupai makhluk, Allah Mahahidup dan tidak akan pernah mati, dan Allah tidak membutuhkan siapa pun.
Sementara itu, Dajjal hanyalah makhluk yang memiliki keterbatasan, bahkan salah satu matanya buta.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari hadits nomor 7131 dan Imam Muslim hadits nomor 2933, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَلَا إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
“Ketahuilah, sesungguhnya dia buta sebelah dan sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah.”
Maka klaim ketuhanan yang akan didengungkan Dajjal kelak jelas bertentangan dengan hakikat tauhid yang kita yakini.
Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: Berdoa dengan Asmaul Husna
Bekal Kedua: Surah al-Kahfi, Perisai dari Fitnah Dajjal
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan perlindungan dari fitnah Dajjal melalui Surah al-Kahfi.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim hadits nomor 809, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari Surah al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.”
Dalam riwayat lain yang juga terdapat di dalam Shahih Muslim, disebutkan sepuluh ayat terakhir dari Surah al-Kahfi.
Oleh karena itu, kita dianjurkan membaca Surah al-Kahfi setiap hari Jumat, dan hendaknya para orang tua juga mengenalkan serta mengajarkan surah ini kepada anak-anak mereka sejak dini.
Jangan sampai kita hanya membaca Surah al-Kahfi sebagai rutinitas mingguan semata, tanpa berusaha memahami dan menghayati pesan keimanan yang terkandung di dalamnya.
Baca artikel terkait: Kultum Ramadhan 14: Empat Fitnah dalam Surat Al-Kahfi
Baca artikel terkait: Membaca al-Kahfi Pada Malam Jumat atau Hari Jumat?
Bekal Ketiga: Doa Perlindungan dari Fitnah Dajjal
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara setiap selesai tasyahud akhir dalam shalat.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim hadits nomor 588, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
“Jika salah seorang di antara kalian selesai membaca tasyahud, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari empat perkara, dengan mengucapkan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah al-Masih ad-Dajjal.'”
Rasulullah telah mengajarkan doa perlindungan ini kepada kita jauh sebelum fitnah itu benar-benar datang. Maka, janganlah kita menunggu datangnya ujian terlebih dahulu untuk mulai memohon pertolongan Allah.
Baca artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: Menanamkan Nilai Tauhid dalam Keluarga
Persiapkan Iman Sebelum Fitnah Datang
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Marilah kita rangkum tiga bekal yang telah kita bahas: kenali Allah dengan benar, perkuat iman melalui al-Quran, dan perbanyak doa memohon perlindungan kepada-Nya. Akan selalu ada keadaan ketika kebenaran dan kebatilan tampak samar di hadapan kita.
Pada saat seperti itulah, orang yang memiliki ilmu dan iman akan memiliki pegangan yang kokoh, sementara orang yang hidup dalam kelalaian akan jauh lebih mudah mengikuti apa pun yang tampak menarik di hadapannya, tanpa sempat mempertimbangkan kebenarannya.
Jangan menunggu fitnah itu datang untuk mulai memperkuat iman kita. Persiapkanlah diri sejak sekarang, selagi masih ada waktu dan kesempatan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
Khutbah Kedua
فَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَمَا أَمَرَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَقَدْ تَأَذَّنَ بِالزِّيَادَةِ لِمَنْ شَكَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، مُقِرًّا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ، مُرَاغِمًا بِذَلِكَ مَنْ عَانَدَ بِهِ وَكَفَرَ.
وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِ الْبَشَرِ، الشَّافِعِ الْمُشَفَّعِ فِي الْمَحْشَرِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ السَّادَةِ الْغُرَرِ، خَيْرِ آلٍ وَمَعْشَرٍ، مَا طَلَعَ لَيْلٌ وَنَهَارٌ فَأَقْبَلَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ وَأَدْبَرَ.
أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ اللَّهِ:
فَاتَّقُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَعَظِّمُوْا أَوَامِرَهُ وَنَوَاهِيَهُ، وَاسْتَمْسِكُوْا بِإِيْمَانِكُمْ وَعَقِيْدَتِكُمْ، وَلَا سِيَّمَا عِنْدَ فَسَادِ الزَّمَانِ، وَعِنْدَ ضَعْفِ الدِّيْنِ، وَعِنْدَ هَيَمَانِ الْهَائِمِيْنَ عَلَى أُمُوْرِ دُنْيَاهُمْ وَشَهَوَاتِهِمْ.
يَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ الْعَنِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.
اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْإِيْغُوْرَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِي الصِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُضْطَهَدِيْنَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِيْ سُوْرِيَا.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُضْطَهَدِيْنَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا.
اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ، اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ، اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Download PDF Materi Khutbah Jumat
Fitnah Dajjal, Ketika Kebenaran dan Kebatilan Tampak Samar
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?