khutbah jumat belajar dari kisah ahli ibadah bani israil dakwah.id

Khutbah Jumat: Belajar dari Kisah Ahli Ibadah Bani Israil

Terakhir diperbarui pada · 3,487 views

Materi Khutbah Jumat
Belajar dari Kisah Ahli Ibadah Bani Israil

Pemateri: Amir Sahidin, M.Ag
(Pengajar PPTQ Ibnu Mas’ud, Purbalingga)

  • Link download PDF materi khutbah Jumat ada di akhir tulisan.
  • Jika ingin copy paste materi khutbah Jumat ini untuk keperluan repost di media lain, silakan baca dan patuhi ketentuannya di sini: copyright

*) Link download PDF materi khutbah ada di akhir tulisan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Kaum muslimin rahimakumullah

Pertama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wataala dengan nikmat-Nya dan hidayah-Nya kita dapat berkumpul di sini menunaikan shalat Jumat secara berjamaah.

Kedua, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang telah menyampaikan agama yang sempurna kepada umat manusia. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selalu berpegang teguh dengan ajaran beliau hingga ajal menjemput.

Ketiga, di sini khatib mewasiatkan kepada diri pribadi dan kepada para jamaah sekalian, untuk senantiasa bertakwa dengan sebenar-benar takwa. Yaitu senantiasa menjalankan perintah-perintah Allah kapan pun dan di mana pun kita berada. Demikian itu karena sebaik-baik bekal kita kelak untuk menuju Allah Ta’ala adalah dengan takwa.

Kisah Juraij dan Bayi yang Bisa Berbicara

Kaum muslimin rahimakumullah

Suatu ketika Rasulullah menceritakan kisah ahli ibadah pada masa Bani Israil dahulu kala. Kisah shahih ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim, jilid 4, halaman 1976, nomor hadis ke-2550. Seorang ahli ibadah tersebut bernama Juraij.

Juraij adalah seorang ahli ibadah yang rajin beribadah. Ia membangun tempat peribadatan dan senantiasa beribadah di tempat itu.

Ketika sedang melaksanakan shalat sunah, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya, “Hai Juraij!”

Juraij bertanya dalam hati, “Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, melanjutkan shalatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?”

Akhirnya, ia pun meneruskan shalatnya itu hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya.

Keesokan harinya, ibunya datang lagi kepadanya sedangkan Juraij sedang melakukan shalat sunah. Kemudian ibunya memanggilnya, “Hai Juraij!” Kata Juraij dalam hati, “Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, memenuhi seruan ibuku ataukah shalatku?” Lalu Juraij tetap meneruskan shalatnya hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya.

Hari berikutnya, ibunya datang lagi ketika Juraij sedang melaksanakan shalat sunah. Seperti biasa ibunya memanggil, “Hai Juraij!” Kata Juraij dalam hati, “Ya Allah, manakah yang harus aku utamakan, meneruskan shalatku ataukah memenuhi seruan ibuku?” Namun Juraij tetap meneruskan shalatnya dan mengabaikan seruan ibunya.

Tentunya hal ini membuat kecewa hati ibunya. Hingga tak lama kemudian ibunya pun berdoa kepada Allah, “Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah dari perempuan pelacur!”

Kaum bani Israil selalu memperbincangkan tentang Juraij dan ibadahnya, hingga ada seorang wanita pelacur yang cantik berkata, “Jika kalian menginginkan popularitas Juraij hancur di mata masyarakat, maka aku dapat memfitnahnya demi kalian.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun meneruskan kisah ahli ibadah bani Israil, Juraij,

Maka mulailah pelacur itu menggoda dan membujuk Juraij, tetapi Juraij tidak mudah terperdaya dengan godaan pelacur tersebut.

Kemudian pelacur itu pergi mendatangi seorang penggembala ternak yang kebetulan sering berteduh di tempat peribadatan Juraij. Ternyata wanita tersebut berhasil memperdayainya hingga laki-laki penggembala itu melakukan perzinaan dengannya hingga akhirnya hamil.

Setelah melahirkan, wanita pelacur itu berkata kepada masyarakat sekitarnya bahwa, bayi ini adalah hasil perbuatannya dengan Juraij.

Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat pun menjadi marah dan benci kepada Juraij. Kemudian mendatangi rumah peribadatan Juraij dan menghancurkannya.

Selain itu, mereka pun bersama-sama menghakimi Juraij tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya. Lalu Juraij bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian lakukan hal ini kepadaku?”

Mereka menjawab, “Kami lakukan hal ini kepadamu karena kamu telah berbuat zina dengan pelacur ini hingga ia melahirkan bayi dari hasil perbuatanmu.”

Juraij berseru, “Di manakah bayi itu?”

Kemudian mereka menghadirkan bayi hasil perbuatan zina itu, lalu Juraij menyentuh perutnya dengan jari tangannya seraya bertanya, “Hai bayi kecil, siapakah sebenarnya ayahmu itu?” Sang bayi pun langsung menjawab, “Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melanjutkan,

Akhirnya mereka menaruh hormat kepada Juraij. Mereka menciuminya dan mengharap berkah darinya. Setelah itu, mereka berkata, “Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu ini dengan bahan yang terbuat dari emas.”

Namun Juraij menolak dan berkata, “Tidak usah, tetapi kembalikan saja rumah ibadah seperti semula yang terbuat dari tanah liat.”

Maka, mereka pun mulai melaksanakan pembangunan rumah ibadah itu seperti semula.

Pelajaran dari Kisah Juraij Ahli Ibadah

Kaum muslimin rahimakumullah

Dari hadits kisah ahli ibadah yang shahih tersebut, setidaknya kita dapat mengambil tiga pelajaran penting dalam kehidupan kita. Pelajaran tersebut adalah

Pertama: Doa Orangtua kepada Anaknya adalah Mustajab

Dari kisah Juraij tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa doa orangtua kepada anaknya merupakan doa mustajab. Sampai-sampai ketika orangtua berdoa keburukan kepada anaknya, pun bisa jadi Allah kabulkan doa itu seperti dalam kisah tersebut.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam riwayat at-Tirmidzi no. 1905 dan Ahmad no. 8581,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ.

Ada tiga macam doa yang akan dikabulkan yang tidak ada keraguan padanya: doa orang yang terzalimi, doa seorang musafir, dan doa orangtua atas anaknya.”

Untuk itulah, marilah kita senantiasa berbakti kepada orangtua dan memohon doa kepadanya. Demikian itu karena ridha Allah ada pada ridha kedua orangtua kita.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam riwayat at-Tirmidzi no. 1899,

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ.

Ridha Rabb (Allah) ada pada ridha orangtua, dan marahnya Allah ada pada marahnya orangtua.”

Kedua: Pentingnya Mengetahui Prioritas Amal

Dalam hadits kisah shahih tersebut, terlihat bahwa Juraij kurang tepat dalam memprioritaskan amal. Demikian itu karena ia lebih memilih shalat yang bersifat sunah daripada seruan orangtua yang bersifat wajib.

Untuk itu mari kita senantiasa menjaga prioritas amal kita. Sehingga amalan dan perkara yang wajib harus lebih diutamakan daripada yang sunnah; amalan yang wajib mendesak harus lebih diutamakan daripada yang wajib namun tidak mendesak; dan lain sebagainya.

Demikian itu karena setiap syariat yang Allah bebankan kepada para mukallaf memiliki tingkat hukum, keutamaan, dan keterdesakan yang berbeda-beda. Sehingga kita perlu untuk memprioritaskan amal perbuatan dengan sebaik-baiknya.

Rasulullah bersabda terkait perbedaan tingkat suatu amalan ini sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim no. 35,

اَلْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ.

Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama adalah perkataan lâ ilâha illallâh, dan yang paling ringan adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”

Ketiga: Pentingnya Kejernihan Jiwa dan Keikhlasan Niat

Dalam hadis kisah shahih tersebut, kita juga belajar bahwa Juraij memiliki kejernihan jiwa dan keikhlasan niat sehingga Allah pun menolongnya dari godaan wanita cantik tersebut.

Dari sini kita mengetahui bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan seorang hamba yang ikhlas beribadah kepada-Nya dan tidak memiliki niat buruk.

Untuk itulah mari kita senantiasa berdoa dengan doa keteguhan hati yang selalu dibaca oleh Rasulullah sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi no. 3522,

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ.

Wahai Zat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Juga doa yang Rasulullah ajarkan sebagaimana dalam riwayat Muslim, no. 2654,

اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

Ya Allah, Zat Yang Memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”

Kaum muslimin rahimakumullah

Demikianlah materi khutbah Jumat pelajaran dari kisah Juraij, ahli ibadah bani Israil. Semoga kita semua dapat meresapi dan mengamalkan pelajaran tersebut, yaitu kita senantiasa berbakti dan memohon doa kepada orangtua, senantiasa menempatkan prioritas amal dengan benar, dan senantiasa memohon kejernihan jiwa serta keikhlasan amal. Semoga Allah masukan kita ke dalam golongan hamba-hambanya yang shalih, amin ya Rabb.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

أَمَّا بَعْدُ؛

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Belajar dari Kisah Ahli Ibadah Bani Israil di sini:

Semoga bermanfaat!

Topik Terkait

Amir Sahidin, M.Ag

Pengajar PPTQ Ibnu Mas’ud, Purbalingga

3 Tanggapan

luarbiasa sangat membantu

sangat bagus isinya singkat padat jelas…

Alhamdulillah, semoga dakwah.id istiqamah dalam memberikan artikel yang berkualitas. Barakallah fikum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *