Materi khutbah Idul Adha terbaru yang berjudul Ujian Sebagai Jalan Menuju Kematangan Iman ini disusun oleh Ustadz Naufal Masunika dengan fokus utama pada peran ujian sebagai sarana mematangkan iman.
Melalui refleksi kisah Nabi Ibrahim, teks ini menjelaskan bahwa cobaan hidup adalah sebuah keniscayaan dan bentuk kasih sayang Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya.
Penulis menekankan bahwa kualitas iman seseorang berbanding lurus dengan beratnya rintangan yang ia hadapi dalam hidup. Selain itu, sumber ini mendefinisikan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) bukan melalui kemewahan dunia, melainkan lewat ketenangan hati dan ketulusan dalam mencari ridha Ilahi.
Seluruh materi ini ditutup dengan rangkaian doa untuk memohon keteguhan hati serta keselamatan bagi umat Muslim di dunia dan akhirat.
Khutbah Idul Adha Terbaru
Ujian sebagai Jalan Menuju Kematangan Iman
Pemateri: Ustadz Naufal Masunika
(Konsultan Keluarga Sakinah)
Mukadimah Khutbah Idul Adha
اللَّهُ اَكْبَرُ اللَّهُ اَكْبْرُ اللَّهُ اَكْبَرُ، لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ، اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ والتَّمَسُّكِ بِهَذَا الدِّينِ تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَيْطَانِ الرَجِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
اللَّهُ اَكْبَرُ اللَّهُ اَكْبْرُ اللَّهُ اَكْبَرُ، لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ، اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,
Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan, memohon ampunan, dan meminta perlindungan dari keburukan diri serta buruknya amal-amal kita.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar takwa.
Hari ini adalah hari agung, hari yang sarat dengan makna pengorbanan dan ketundukan total kepada Allah. Idul Adha mengingatkan kita pada serangkaian ujian besar yang Allah berikan kepada keluarga Khalilullah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Ujian-ujian berat tersebut di antaranya:
Ujian berat yang pertama, diperintahkan meninggalkan istri dan anaknya di lembah yang tandus.
Ujian berat yang kedua, membangun Ka‘bah sebagai pusat tauhid.
Ujian berat yang ketiga, menerima perintah terberat, yakni menyembelih putra yang sangat dicintainya.
Artikel Sejarah: Terim Kasih Nabi Ibrahim! Dari Kisah Hidupmu Aku Jadi Paham
Semuanya itu bukanlah ujian yang ringan. Cobaan berat itu menyentuh hati dan cinta terdalam seorang ayah. Namun, di situlah letak kemuliaannya.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam membuktikan bahwa cinta kepada Allah mengalahkan segala cinta yang lain. Perintah Allah lebih diutamakan daripada keinginan dan perasaan manusiawi. Inilah puncak keikhlasan, ketawakalan, dan ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Ujian Iman adalah Keniscayaan
اللَّهُ اَكْبَرُ اللَّهُ اَكْبْرُ اللَّهُ اَكْبَرُ، لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ، اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kehidupan dunia memang tidak pernah lepas dari ujian. Siapa yang mampu melewatinya dengan baik, maka baginya kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Ujian merupakan konsekuensi logis dari sebuah iman. Tidak ada keimanan tanpa ujian, sebagaimana tidak ada pengakuan tanpa pembuktian.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, dalam al-Quran Surat al-‘Ankabut: 2—3,
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ٢ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ ٣
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?
Sungguh, Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui para pendusta.”
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bentuk istifham inkari atau pertanyaan yang bermakna penolakan terhadap anggapan yang keliru. Maknanya, mustahil seseorang mengaku beriman lalu dibiarkan tanpa ujian. Allah pasti menguji hamba-hamba-Nya sesuai dengan kadar keimanan mereka.
Sebagaimana keliru anggapan bahwa kekayaan menjamin kebahagiaan, keliru pula keyakinan bahwa iman akan menghilangkan seluruh kesulitan. Ujian adalah sunatullah yang berlaku sepanjang zaman. Generasi terdahulu telah mengalaminya dan tidak ada pengecualian bagi siapa pun.
Baca Juga: Ujian Keimanan Imam Ahmad bin Hanbal dari Para Penguasa
Hukum ini terus berlaku. Setiap orang beriman pasti akan diuji. Semakin tinggi iman seseorang, semakin besar pula kualitas ujian yang menyertainya.
Ujian Sebagai Alat Ukur Iman
Dari sinilah terlihat bahwa ujian bukan sekadar beban, melainkan alat ukur. Melalui ujian, akan terlihat mana iman yang benar-benar kokoh dan mana yang hanya sebatas ucapan di lisan.
Keimanan tidak cukup dibuktikan dengan kata-kata, tetapi dengan kesiapan berkorban ketika dihadapkan pada sebuah pilihan yang nyata.
Dengan demikian, tidak ada kehidupan tanpa masalah, terlebih bagi seorang mukmin. Justru keberadaan ujian itulah yang menjadi jalan untuk menampakkan kejujuran iman, sekaligus sarana untuk naik ke derajat yang lebih tinggi.
Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya hadits nomor 2396, dan Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya hadits nomor 4031, meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah), dan siapa yang murka, maka baginya kemurkaan.”
Ringan atau beratnya ujian bukanlah ukuran kemuliaan secara lahir, melainkan berkaitan erat dengan kualitas iman. Semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula ujian yang menyertainya. Sebaliknya, ketika iman masih lemah, ujian yang datang pun sepadan dengan kelemahan tersebut.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan, sebagaimana termaktub dalam Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2398, dan Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4023,
فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.
“Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh, maka ujiannya akan semakin berat. Jika dalam agamanya terdapat kelemahan, maka ia diuji sesuai kadar tersebut. Ujian itu akan terus menyertai seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi tanpa membawa dosa.”
Setiap cobaan pada hakikatnya adalah proses penyucian jiwa, penghapus kesalahan, pengangkat derajat, dan jalan untuk mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Sering kali hal itu tidak kita sadari di awal ujian datang. Apa yang tampak sebagai kesulitan, justru merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Maka, jika hari ini kita menghadapi kesulitan, kesempitan, atau kegelisahan, itu bukan tanda Allah meninggalkan kita. Bisa jadi itu tanda bahwa Allah sedang mempersiapkan derajat yang lebih baik untuk kita.
Meraih Kehidupan yang Baik (Hayatan Thayyibah)
اللَّهُ اَكْبَرُ اللَّهُ اَكْبْرُ اللَّهُ اَكْبَرُ، لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ، اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada satu ayat yang memuat prinsip penting dalam memahami kehidupan seorang mukmin. Allah subhanahu wata’ala berfirman, dalam al-Quran Surat an-Nahl: 97,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ٩٧
“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.”
Ayat ini menegaskan jaminan kehidupan yang baik bagi orang beriman yang beramal saleh. Namun, kehidupan yang baik bukan berarti hidup terbebas dari semua masalah atau harta yang melimpah ruah.
Kenyataannya, banyak orang yang hartanya melimpah namun hatinya gelisah, dan tidak sedikit yang hidupnya sederhana namun jiwanya sangat tenang.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa kehidupan yang baik bukanlah semata kenikmatan dunia; seperti makanan enak, pakaian bagus, atau rumah mewah. Fasilitas tersebut bisa dimiliki siapa saja, bahkan oleh orang yang bermaksiat kepada Allah.
Hakikat kehidupan yang baik atau hayatan thayyibah adalah kehidupan hati. Yakni hati yang tidak tercerai-berai, melainkan fokus terarah kepada Allah. Seluruh keinginan, pikiran, dan lintasan hatinya berkumpul untuk satu tujuan: mendapat ridha Allah subhanahu wata’ala.
Kehidupan yang baik sesungguhnya adalah ketika hati tidak lagi terpecah oleh godaan dunia.
Kehidupan yang baik sesungguhnya adalah ketika kegelisahan berubah menjadi ketenangan karena rindu perjumpaan dengan-Nya.
Kehidupan yang baik sesungguhnya adalah ketika ukuran kebahagiaan bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada rasa syukur atas apa yang diberikan.
Lebih dari itu, janji pertolongan Allah tidak berhenti pada dimensi batin. Allah subhanahu wata’ala menegaskan, dalam al-Quran Surat Ghafir ayat 51,
اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ ٥١
“Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari dihadirkannya para saksi (hari Kiamat),”
Pertolongan Allah mencakup dunia dan akhirat. Namun, bentuk pertolongan tidak selalu hadir dalam rupa yang kita bayangkan. Terkadang ia hadir dalam bentuk kekuatan untuk bersabar, kemampuan untuk tetap istikamah di tengah ujian, atau penjagaan hati dari penyimpangan dosa.
اللَّهُ اَكْبَرُ اللَّهُ اَكْبْرُ اللَّهُ اَكْبَرُ، لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ، اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Idul Adha mengajarkan esensi tauhid ini. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pada akhirnya tidak kehilangan anaknya. Beliau justru mendapatkan kedekatan yang luar biasa dengan Allah. Pengorbanan bukanlah kehilangan, melainkan jalan menuju kedudukan yang lebih tinggi.
Kesulitan hidup bukanlah tanda tidak terpenuhinya janji Allah. Bisa jadi, justru kesulitan itulah bagian dari hayatan thayyibah. Karena dengannya Allah menghapus dosa, mengangkat derajat, dan menumbuhkan rasa tawakal seorang hamba kepada-Nya.
Semoga kita mampu memperbaiki cara pandang kita terhadap ujian. Janji Allah pasti benar, dan kehidupan yang benar-benar “baik” adalah kehidupan yang membuat seorang hamba semakin dekat kepada Rabb-nya dalam setiap keadaan. Wallahul musta’an.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اللَّهُ اَكْبَرُ اللَّهُ اَكْبْرُ اللَّهُ اَكْبَرُ، لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ، اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أْجْمَعِيْنَ.
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Marilah kita akhiri khutbah ini dengan berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga pertemuan kita pada hari yang mulia ini dilimpahi rahmat, ampunan, dan ridha-Nya.
Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kepada kita kekuatan untuk istikamah dalam ketaatan, kekhusyukan dalam ibadah, dan keyakinan yang kokoh kepada-Nya, sehingga kita dijauhkan dari kemaksiatan, kemurkaan-Nya, serta segala musibah di dunia dan akhirat.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ. وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ. وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ النَّعِيْمَ الْمُقِيْمَ الَّذِيْ لَنَا يَحُوْلُ وَلَا يَزُوْلُ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ النَّعِيْمَ يَوْمَ الْعِيْلَةِ وَالْأَمْنَ يَوْمَ الْخَوْفِ. اللَّهُمَّ إِنَّا عَاِئذٌ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أَعْطَيْتَنَا وَشَرِّ مَا مَنَعْتَ. اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ لَنَا فِيْ عَاقِبَةِ الْأُمْوْرِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ مَا تُعْطِيْنَا مِنَ الْخَيْرِ رِضْوَانَكَ وَالدَّرَجَاتُ الْعُلَى مِنْ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ.
اللَّهُ اَكْبَرُ اللَّهُ اَكْبْرُ اللَّهُ اَكْبَرُ، لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ، اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الَلَّهُمَّ أَسْعِدْ فِي هَذَا الْعِيْدِ قُلُوْبَنَا وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.
وَصَلَّ اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDF Materi Khutbah Idul Adha
Ujian sebagai Jalan Menuju Kematangan Iman
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?