Artikel yang berjudul โKaidah Toleransi dalam Islamโ ini memberikan tinjauan ekstensif mengenai konsep toleransi yang dalam literatur Islam diwakili oleh kata as-samaahah. Penjelasan dimulai dengan membandingkan definisi toleransi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan pengertian linguistik Arab, khususnya membedakannya dari toleransi biasa.
Bagian utama argumen berfokus pada toleransi sebagai karakter inti ajaran Islam, yang didukung oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi, yang berlaku dalam konteks hubungan vertikal (dengan Allah) maupun horizontal (antar sesama manusia).
Selanjutnya membahas perbedaan antara perkara-perkara yang disepakati (mujmaโ โalaiha)โyang harus dipegang teguh tanpa kompromiโdengan perkara-perkara yang bersifat ijtihadiyah (furuโ), di mana toleransi dan kelapangan dada antar ulama dan umat sangat ditekankan untuk menjaga persatuan Islam. Akhirnya, teks tersebut menggarisbawahi pentingnya memahami perbedaan pendapat ulama dalam masalah furuโ sebagai kunci untuk menghindari konflik internal dan mendorong kebijaksanaan dalam berfatwa, sejalan dengan praktik teladan para sahabat dan imam madzhab.
Perbandingan Definisi Toleransi Menurut Ulama Islam dan Bahasa Indonesia
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah โtoleranโ dimaknai: bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. (Tim Redaksi Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008 M, hlm. 1722) Adapun istilah โintoleranโ diberi makna: tidak tenggang rasa; tidak toleran.
Dalam bahasa Arab dan literatur ulama, toleransi diwakili oleh kata as-samaahah, yang berasal dari kata kerja dasar samaha โ yasmahu โ samaah wa samaahah. Dalam kamus Mukhtar Ash-Shihah dikatakan:
โโุณ ู ุญ: (ุงูุณููู ูุงุญู) ูู (โุงูุณููู ูุงุญูุฉู) ุงููุฌููุฏู (ุณูู ูุญู) ุจููู ููุณูู ูุญู ุจูุงููููุชูุญู ูููููู ูุง (ุณูู ูุงุญูุง) ูู (ุณูู ูุงุญูุฉู) ุฃููู ุฌูุงุฏู. ููุณูู ูุญู ูููู ุฃููู ุฃูุนูุทูุงูู. ูู (ุงููู ูุณูุงู ูุญูุฉู) ุงููู ูุณูุงููููุฉู ูู (ุชูุณูุงู ูุญููุง) ุชูุณูุงูููููุง.
As-samaah dan as-samaahah: kedermawanan.
Samaha bihi โ yasmahu bihi โ samaahan dan samaahatan: Berderma.
Samaha lahu: Memberikan kepadanya.
Musaamahah: Musaahalah (sikap saling memberi kemudahan).
Tasaamahuu: Tasaaahaluu (saling memberi kemudahan) (Muhammad bin Abu Bakr Ar-Razi, Mukhtar Ash-Shihah, Beirut: Maktabah Lubnan, cet. 1, 1989 M, hlm. 274)
Al-โallamah al-imam Muhammad Thahir bin โAsyur At-Tunisi (w. 1393 H) menyebutkan perbedaan antara jaada (dermawan, berderma) dengan samaha. Beliau menulis:
ููููุงูู ุณูู ูุญู ูููุงููู: ุฅูุฐูุง ุฌูุงุฏู ุจูู ูุงูู ูููู ุจูุงูู.
Dalam bahasa Arab dikatakan Fulan itu samaha: apabila fulan tersebut berderma dengan harta yang sangat berharga
Beliau menyitir bait syair Muqannaโ Al-Kindi yang menjelaskan makna tersebut:
ููููุณู ุงููุนูุทูุงุกู ู ููู ุงููููุถูููู ุณูู ูุงุญูุฉู ุญูุชููู ุชูุฌููุฏู ููู ูุง ููุฏููููู ููููููู
Memberi dari kelebihan harta itu tidak disebut toleran
Sampai engkau berderma walau hartamu sedikit (Muhammad Thahir bin โAsyur, Ushul An-Nizham Al-Ijtimaโi fi Al-Islam, Kairo: Dar As-Salam, cet.4, 143 7H, hlm. 23)
Dari tinjauan bahasa di atas dapat disimpulkan bahwa samaahah (toleransi) memiliki kesamaan makna dengan jaada (dermawan, berderma, suka memberi) dalam hal memberikan harta kepada orang lain.
Meskipun demikian, antara kedua kata tersebut terdapat perbedaan. Jaada itu memberi orang lain dengan kelebihan harta yang dimiliki, sedangkan samaha itu memberi orang lain saat dirinya sendiri miskin atau kekurangan harta. Demikian secara tinjauan kebahasaan.
Adapun pengertian samaahah (toleransi) secara istilah, Muhammad Thahir bin โAsyur menjelaskan sebagai berikut:
โุงูุณููู ูุงุญูุฉู: ุณููููููุฉู ุงููู ูุนูุงู ูููุฉู ูููู ูุง ุงูุนูุชูุงุฏู ุงููููุงุณู ููููู ุงููู ูุดูุงุฏููุฉูุ ูููููู ููุณูุทู ุจููููู ุงูุดููุฏููุฉู ููุงูุชููุณูุงูููู.
Toleransi adalah berinteraksi dengan mudah (longgar) dalam perkara-perkara yang masyarakat biasanya bersikap keras (kaku) di dalamnya. Maka, toleransi adalah sikap pertengahan antara terlalu kaku (keras) dan terlalu mempermudah. (Muhammad Thahir bin โAsyur, ibid, hlm. 22-23)
Dalam bukunya yang lain, beliau menyatakan:
ุงูุณููู ูุงุญูุฉู: ุณููููููุฉู ุงููู ูุนูุงู ูููุฉู ููู ุงุนูุชูุฏูุงููุ ูููููู ููุณูุทู ุจููููู ุงูุชููุถูููููู ููุงูุชููุณูุงูููู. ูููููู ุฑูุงุฌูุนูุฉู ุฅูููู ู ูุนูููู ุงููุงูุนูุชูุฏูุงููุ ููุงููุนูุฏูููุ ููุงูุชููููุณููุทู.
Toleransi adalah berinteraksi dengan mudah (longgar) secara proporsional. Maka, toleransi adalah sikap pertengahan antara terlalu mempersempit (mempersulit) dan terlalu mempermudah. Makna toleransi kembali kepada makna proporsional, adil, dan pertengahan. (Muhammad Thahir bin โAsyur, Maqashid Asy-Syariโah Al-Islamiyyah, Kairo: Dar As-Salam, cet. 6, 1435 H, hlm. 65)
ููุงูุณููู ูุงุญูุฉู: ุงูุณูููููููุฉู ุงููู ูุญูู ููุฏูุฉู ูููู ูุง ููุธูููู ุงููููุงุณู ุงูุชููุดูุฏููุฏู ููููู. ููู ูุนูููู ููููููููุง ู ูุญูู ููุฏูุฉู ุฃููููููุง ูุงู ุชูููุถูู ุฅูููู ุถูุฑูู ุฃููู ููุณูุงุฏู.
Toleransi adalah kemudahan yang terpuji dalam perkara-perkara yang dianggap masyarakat harus disikapi secara keras (sulit dan kaku) di dalamnya. Makna terpuji di sini adalah kemudahan tersebut tidak mengakibatkan bahaya atau kerusakan. (Muhammad Thahir bin โAsyur, ibid, hlm. 66)
Dr. Izzuddin bin Zughaibah Al-Jazairi dalam disertasi doktoralnya, Al-Maqaashid Al-โAammah li Asy-Syariโah Al-Islamiyyah, mendefinisikan toleransi dengan perngertian yang kurang lebih semakna:
ุงูุณููู ูุงุญูุฉู ูููู ููุตููู ุฅูุฐูุง ู ูุง ุฃููููุทู ุจูุชูุตูุฑูููู ููุญูู ููููู ุนูููู ุงูุชููููุณููุทู ููุงููุงูุนูุชูุฏูุงูู, ููููููููู ู ููู ุงููุงูููุญูุฑูุงูู ุฅูููู ุฌูููุชููู ุงูุดููุฏููุฉู ููุงูุชููุณูุงูููู.
Toleransi adalah sifat yang apabila dikaitkan pada sebuah tindakan niscaya dapat mengantarkan tindakan tersebut kepada pertengahan dan proporsional, dan mencegahnya dari menyimpang kepada dua sikap; terlalu mempersulit dan terlalu mempermudah. (Izzuddinbin Zughaibah Al-Jazairi, Al-Maqashid Al-โAmmah lisy-Syariโah Al-Islamiyyah, Amman: Dar An-Nafais, cet. 1, 1436 H, hlm. 263)
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian โtoleransiโ dalam bahasa Arab dan istilah para fuqahaโ Islam lebih luas dari sekedar pengertian โtoleransiโ dalam bahasa Indonesia.
Toleransi Adalah Karakter Utama Agama Islam
Para ulama menyatakan bahwa di antara maqashid โaammah atau maqashid kulliyyah (tujuan-tujuan mulia dan hikmah-hikmah agung yang bisa ditemukan dalam semua atau sebagian besar ajaran Islam) dari syariat Islam adalah:
- Islam membawa kemudahan dan keringanan
- Islam tidak membiarkan kesempitan dan kesusahan
- Islam itu toleran
- Islam bertujuan mendatangkan maslahat dan menolak mafsadat (Muhammad Thahir bin โAsyur, Maqashid Asy-Syariโah Al-Islamiyyah, hlm. 55; Masโud Shabri, Bidayat Al-Qashid ila Ilmi Al-Maqashid, Kuwait: Dar Azh-Zhahiriyyah, cet. 1, 1440 H, hlm. 60; Izzuddin bin Zughaibah Al-Jazairi, Al-Maqashid Al-โAmmah lisy-Syariโah Al-Islamiyyah, hlm. 259-294. Nuโman Jughaim, Thuruq Al-Kasyfi โan Maqashid Asy-Syariโ, Amman: Dar An-Nafais, cet. 1, 14 22H, hlm. 26)
Unsur kemudahan dan toleransi dalam ajaran Islam bersifat menyeluruh, dalam aspek hubungan dengan Allah Taโala maupun hubungan dengan sesama hamba. Dalam aspek akidah, ibadah, muโamalah, maupun akhlak. Dalam wujud keyakinan, ucapan, maupun perbuatan. Dalam hal yang berkaitan dengan kebutuhan akal pikiran, hati (ruhani), maupun jasmani.
Al-โallamah Muhammad Thahir bin โAsyur menulis:
โุงูุณููู ูุงุญูุฉู ุฃูููููู ุฃูููุตูุงูู ุงูุดููุฑููุนูุฉู ููุฃูููุจูุฑู ู ูููุงุตูุฏูููุง
Toleransi merupakan karakteristik pertama syariat Islam dan tujuan-tujuan agungnya yang paling besar. (Muhammad Thahir bin โAsyur, Maqashid Asy-Syariโah Al-Islamiyyah, hlm. 65)
ููุงุณูุชูููุฑูุงุกู ุงูุดููุฑููุนูุฉู ุฏูููู ุนูููู ุฃูููู ุงูุณููู ูุงุญูุฉู ููุงููููุณูุฑู ู ููู ู ูููุงุตูุฏู ุงูุฏููููู.
Pembacaan (pengkajian) secara menyeluruh dan mendalam terhadap syariat Islam menunjukkan bahwa toleransi dan kemudahan merupakan salah satu dari tujuan agung agama Islam. (Muhammad Thahir bin โAsyur, ibid, hlm. 67)
Ayat dan Hadits Toleransi dalam Konteks Hubungan Vertikal Kepada Allah
Banyak sekali nash-nash syariat yang menunjukkan bahwa ajaran-ajaran Islam dibangun di atas landasan toleransi dan kemudahan. Di antaranya adalah firman Allah Taโala:
ููุฑููุฏู ุงูููููู ุจูููู ู ุงููููุณูุฑู ููููุง ููุฑููุฏู ุจูููู ู ุงููุนูุณูุฑู
Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
ู ูุง ููุฑููุฏู ุงูููููู ููููุฌูุนููู ุนูููููููู ู ู ููู ุญูุฑูุฌู
Dan Allah sekali-kali tidak menghendaki untuk menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan. (QS. Al-Maidah [5]: 6)
ููู ูุง ุฌูุนููู ุนูููููููู ู ููู ุงูุฏููููู ู ููู ุญูุฑูุฌู ู ููููุฉู ุฃูุจููููู ู ุฅูุจูุฑูุงูููู ู ูููู ุณูู ููุงููู ู ุงููู ูุณูููู ูููู ู ููู ููุจููู
Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu. (QS. Al-Hajj [22]: 78)
ุฑูุจููููุง ููููุง ุชูุญูู ููู ุนูููููููุง ุฅูุตูุฑูุง ููู ูุง ุญูู ูููุชููู ุนูููู ุงูููุฐูููู ู ููู ููุจูููููุง ุฑูุจููููุง ููููุง ุชูุญูู ููููููุง ู ูุง ููุง ุทูุงููุฉู ููููุง ุจููู
Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. (QS. Al-Baqarah [2]; 286)
Di antara bukti lainnya adalah hadits-hadits berikut ini:
ุนููู ุฃูุจูู ุจูุฑูุฏูุฉู ุฃูููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ุจูุนูุซู ู ูุนูุงุฐูุง ููุฃูุจูุง ู ููุณูู ุฅูููู ุงููููู ููู ููุงูู ููุณููุฑูุง ููููุง ุชูุนูุณููุฑูุง ููุจูุดููุฑูุง ููููุง ุชููููููุฑูุง
Dari Abu Burdah radhiyallahu โanhu bahwasanya Nabi shallallahu โalaihi wasallam mengutus Muโadz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asyโari untuk berdakwah di negeri Yaman. Beliau berpesan kepada keduanya, โHendaklah kalian berdua mempermudah dan janganlah kalian berdua mempersulit! Hendaklah kalian berdua memberi kabar gembira dan janganlah kalian berdua membuat masyarakat lari menjauhi!โ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
ุนููู ุฃูุจูู ููุฑูููุฑูุฉู ุนููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงูู ุฅูููู ุงูุฏููููู ููุณูุฑู ูููููู ููุดูุงุฏูู ุงูุฏููููู ุฃูุญูุฏู ุฅููููุง ุบูููุจููู
Dari Abu Hurairah radhiyallahu โanhu dari Nabi shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โSesungguhnya agama Islam itu mudah, dan tiada seorang pun yang memperberat dirinya dalam melaksanakan ajaran Islam melainkan ia akan kewalahan sendiri.โ (HR. Al-Bukhari)
ุนููู ุงุจููู ุนูุจููุงุณู ููุงูู: ููููู ููุฑูุณูููู ุงูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู: ุฃูููู ุงููุฃูุฏูููุงูู ุฃูุญูุจูู ุฅูููู ุงููููุ ููุงูู: ุงููุญูููููููููุฉู ุงูุณููู ูุญูุฉู
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu โanhu bahwasanya Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam pernah ditanya, โAgama seperti apakah yang paling dicintai Allah Taโala?โ Maka beliau menjawab, โAgama yang lurus (dalam masalah akidah) dan toleran (dalam masalah ibadah dan muโamalah).โ (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Ahmad, dan Ibnu Abi Syaibah)
Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu โanhu meriwayatkan bahwa seorang sahabat menemukan sebuah gua yang memiliki mata air yang sangat jernih dan tanah di sekitarnya subur. Maka terbetiklah keinginannya untuk menetap di gua dan menghabiskan usianya untuk beribadah ritual semata kepada Allah Taโala. Sebelum melaksanakan niat tersebut, ia berkonsultasi dan meminta izin kepada Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam. Maka beliau bersabda kepada sahabat tersebut,
ุฅููููู ููู ู ุฃูุจูุนูุซู ุจูุงูููููููุฏููููุฉู ููููุง ุจูุงููููุตูุฑูุงูููููุฉูุ ูููููููููู ุจูุนูุซูุชู ุจูุงููุญูููููููููุฉู ุงูุณููู ูุญูุฉู
โSesungguhnya aku tidak diutus dengan membawa ajaran Yahudi maupun ajaran nasrani. Namun, aku diutus dengan membawa ajaran yang hanif (lurus akidahnya, yaitu Islam) dan toleran (ibadah dan muโamalahnya).โ (HR. Ahmad, Al-Khathib Al-Baghdadi, dan Ath-Thabarani)
Diriwayatkan bahwa Utsman bin Mazhโun radhiyallahu โanhu menghabiskan waktunya untuk melakukan ibadah ritual, senantiasa berpuasa sunah di siang hari, senantiasa shalat malam tanpa tidur, dan tidak mau menggauli istrinya. Ketika berita itu sampai kepada Nabi shallallahu โalaihi wasallam, beliau segera menasehatinya:
ุฅููููู ุฅููููู ูุง ุจูุนูุซูุชู ุจูุงููุญูููููููููุฉู ุงูุณููู ูุญูุฉูุ ููููู ู ุฃูุจูุนูุซู ุจูุงูุฑููููุจูุงูููููุฉู ุงููุจูุฏูุนูุฉูุ ุฃูููุง ููุฅูููู ุฃูููููุงู ูุง ุงุจูุชูุฏูุนููุง ุงูุฑููููุจูุงูููููุฉู ููููุชูุจูุชู ุนูููููููู ู ููู ูุง ุฑูุนูููููุง ุญูููู ุฑูุนูุงููุชูููุง ุฃูููุง ูููููููุง ุงููููุญูู ู ููุงุฆูุชููุง ุงููููุณูุงุกู ููุตููู ููุง ููุฃูููุทูุฑููุง ููุตูููููุง ููููุงู ููุงุ ููุฅููููู ุจูุฐููููู ุฃูู ูุฑูุชู
Sesungguhnya aku diutus dengan ajaran yang lurus lagi toleran, dan aku tidak diutus dengan ajaran kependetaan yang bidโah. Ketahuilah, sesungguhnya ada beberapa kaum yang mengada-adakan gaya hidup kependetaan, sehingga akhirnya kependetaan diwajibkan atas diri mereka. Namun, mereka tidak melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Ketahuilah, hendaklah kalian memakan daging, menggauli istri, melakukan shaum dan berbuka, melakukan shalat malam dan tidur malam. Sebab, dengan ajaran itulah aku diperintahkan.โ (HR. Ath-Thabarani)
Dalam riwayat lain beliau bersabda,
ุฎูุฐู ู ููู ุงููุนูู ููู ู ูุง ุชูุทูููู ููุฅููููู ุฅููููู ูุง ุจูุนูุซูุชู ุจูุงููุญูููููููููุฉู ุงูุณููู ูุญูุฉู ููููุง ุชูุซููููู ุนููููููู ุนูุจูุงุฏูุฉู ุฑูุจูููู ููุง ุชูุฏูุฑูู ู ูุง ุทูููู ุนูู ูุฑููู ุ
Lakukanlah amal kebajikan sesuai kesanggupan jasmani kalian, karena sesungguhnya aku diutus dengan ajaran yang lurus lagi toleran. Maka janganlah engkau memperberat dirimu sendiri dalam ibadah ritualmu kepada Rabbmu. Sebab, engkau tidak tahu berapa panjang umurmu kelak?โ (HR. Ath-Thabarani)
Dalam hadits-hadits di atas, toleransi dalam Islam berkaitan dengan hubungan vertikal seorang hamba dengan Rabbnya.
Ayat dan Hadits Toleransi dalam Konteks Hubungan Horizontal Sesama Manusia
Di samping itu terdapat nash-nash syariat yang menjelaskan toleransi dalam konteks hubungan horizontal seorang hamba dengan sesama hamba lainnya. Di antara contohnya adalah:
ุนููู ุญูุฐูููููุฉู ุฑูุถููู ุงูููู ุนููููู ููุงูู: ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู:ุฃูุชููู ุงูููู ุจูุนูุจูุฏู ู ููู ุนูุจูุงุฏููู ุขุชูุงูู ุงูููู ู ูุงููุงุ ููููุงูู ูููู: ู ูุงุฐูุง ุนูู ูููุชู ููู ุงูุฏููููููุงุ ููุงูู: ููููุง ููููุชูู ูููู ุงูููู ุญูุฏููุซูุงุ ููุงูู: ููุง ุฑูุจูู ุขุชูููุชูููู ู ูุงููููุ ููููููุชู ุฃูุจูุงููุนู ุงููููุงุณูุ ููููุงูู ู ููู ุฎูููููู ุงููุฌูููุงุฒูุ ููููููุชู ุฃูุชูููุณููุฑู ุนูููู ุงููู ููุณูุฑูุ ููุฃูููุธูุฑู ุงููู ูุนูุณูุฑูุ ููููุงูู ุงูููู: ุฃูููุง ุฃูุญูููู ุจูุฐูุง ู ูููููุ ุชูุฌูุงููุฒููุง ุนููู ุนูุจูุฏูู.
Dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu โanhu berkata, Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โSeorang hamba yang dikaruniai kekayaan dihadapkan ke hadapan Allah di akhirat, lalu Allah bertanya kepadanya, โApa yang engkau telah lakukan semasa hidup di dunia?โ Para hamba tentu saja tidak mampu menyembunyikan suatu pembicaraan pun dari Allah Taโala.
Hamba tersebut menjawab, โWahai Rabbku, Engkau telah mengaruniakan harta-Mu kepadaku. Aku biasa berjual-beli (memberikan pinjaman) kepada masyarakat. Salah satu akhlakku adalah mudah memaafkan. Aku biasa memberikan kemudahan kepada orang yang ekonominya longgar (orang kaya), dan aku biasa memberikan tambahan tempo pembayaran kepada orang yang kesusahan ekonominya.โ
Maka Allah berfirman kepada hamba tersebut, โAku lebih berhak melakukan hal itu daripada dirimu. Wahai para malaikat-Ku, maafkanlah dosa-dosa hamba-Ku ini.โ (HR. Muslim)
ุนููู ุฌูุงุจูุฑู ุจููู ุนูุจูุฏู ุงูููู ุฑูุถููู ุงูููู ุนูููููู ูุง ุฃูููู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงูู ุฑูุญูู ู ุงูููู ุฑูุฌูููุง ุณูู ูุญูุง ุฅูุฐูุง ุจูุงุนู ููุฅูุฐูุง ุงุดูุชูุฑูู ููุฅูุฐูุง ุงููุชูุถูู
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu โanhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โSemoga Allah memberikan kasih sayang-Nya kepada orang yang bersikap longgar saat menjual, saat membeli, dan saat menagih piutangnya.โ (HR. Al-Bukhari)
ุนููู ุฃูุจูู ููุฑูููุฑูุฉู ููุงูู: ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู: ยซููุง ููููุฑููู ู ูุคูู ููู ู ูุคูู ูููุฉูุ ุฅููู ููุฑููู ู ูููููุง ุฎูููููุง ุฑูุถููู ู ูููููุง ุขุฎูุฑูยป
Dari Abu Hurairah radhiyallahu โanhu berkata, Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โJanganlah seorang suami membenci istrinya. Jika ia tidak menyukai salah satu akhlak istrinya, niscaya ia bisa mendapati akhlak-akhlak lainnya yang menyenangkan dalam diri istrinya.โ (HR. Muslim dan Ahmad)
ุนููู ุฃูุจูู ุฃูููููุจู ุงููุฃูููุตูุงุฑููููุ ููุงูู: ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู: ุฅูููู ุฃูููุถููู ุงูุตููุฏูููุฉู ุงูุตููุฏูููุฉู ุนูููู ุฐูู ุงูุฑููุญูู ู ุงููููุงุดูุญู
Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu โanhu berkata, Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โSesungguhnya sedekah yang paling utama adalah bersedekah kepada kerabat yang memutus tali-kekerabatan lagi membencimu.โ (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani)
Nash-nash syariat juga mengajarkan sikap toleran kepada orang-orang yang berada di luar agama Islam. Bukan hanya sekedar bersikap toleran. Lebih dari itu, berbuat baik dan bersikap adil kepada mereka. Sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa contoh nash berikut ini:
ููุฅููู ุฌูุงููุฏูุงูู ุนูููู ุฃููู ุชูุดูุฑููู ุจูู ู ูุง ููููุณู ูููู ุจููู ุนูููู ู ููููุง ุชูุทูุนูููู ูุง ููุตูุงุญูุจูููู ูุง ููู ุงูุฏููููููุง ู ูุนูุฑููููุง
Dan jika ayah-ibumu memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu menaatii keduanya! Namun, tetap pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. (QS. Luqman [31]: 15)
ููุง ููููููุงููู ู ุงูููููู ุนููู ุงูููุฐูููู ููู ู ููููุงุชููููููู ู ููู ุงูุฏููููู ููููู ู ููุฎูุฑูุฌููููู ู ู ููู ุฏูููุงุฑูููู ู ุฃููู ุชูุจูุฑูููููู ู ููุชูููุณูุทููุง ุฅูููููููู ู ุฅูููู ุงูููููู ููุญูุจูู ุงููู ูููุณูุทูููู
Allah tiada melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian karena faktor agama, dan tidak pula mengusir kalian dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8)
ุนููู ู ูุฌูุงููุฏูุ ุฃูููู ุนูุจูุฏู ุงูููู ุจููู ุนูู ูุฑูู ุฐูุจูุญูุชู ูููู ุดูุงุฉู ููู ุฃูููููููุ ููููู ููุง ุฌูุงุกู ููุงูู: ุฃูููุฏูููุชูู ู ููุฌูุงุฑูููุง ุงููููููุฏููููุ ุฃูููุฏูููุชูู ู ููุฌูุงุฑูููุง ุงููููููุฏููููุ ุณูู ูุนูุชู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููููููู: ู ูุง ุฒูุงูู ุฌูุจูุฑูููู ูููุตููููู ุจูุงูุฌูุงุฑู ุญูุชููู ุธูููููุชู ุฃูููููู ุณูููููุฑููุซููู.
Dari Mujahid bin Jabr bahwasanya seekor domba disembelih dalam keluarga Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu โanhu. Ketika Abdullah bin Amru datang kepada istrinya, ia segera bertanya, โApakah engkau telah menghadiahkan sebagian dagingnya kepada tetangga kita si orang Yahudi? Apakah engkau telah menghadiahkan sebagian dagingnya kepada tetangga kita si orang Yahudi? Sebab, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โMalaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku menyangka Jibril akan menjadikan tetangga sebagai ahli warisku.โ (HR. At-Tirmidzi)
Dari Sahl bin Hunaif dan Qais bin Saโad bin Ubadah radhiyallahu โanhuma, keduanya berkata:
ุฅูููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ู ูุฑููุชู ุจููู ุฌูููุงุฒูุฉู ููููุงู ู ููููููู ูููู ุฅููููููุง ุฌูููุงุฒูุฉู ูููููุฏูููู ููููุงูู ุฃูููููุณูุชู ููููุณูุง
Sebuah jenazah dibawa melewati Nabi shallallahu โalaihi wasallam, maka beliau pun berdiri untuk menghormati jenazah tersebut. Maka diberitahukan kepada beliau bahwa itu adalah jenazah seorang Yahudi. Maka beliau bersabda, โBukankah ia juga seorang manusia yang layak dihormati?โ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
ุนููู ุฃูุณูู ูุงุกู ุจูููุชู ุฃูุจูู ุจูููุฑู ุฑูุถููู ุงูููู ุนูููููู ูุง ููุงููุชู ููุฏูู ูุชู ุนูููููู ุฃูู ููู ูููููู ู ูุดูุฑูููุฉู ููู ุนูููุฏู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงุณูุชูููุชูููุชู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููููุชู ุฅูููู ุฃูู ููู ููุฏูู ูุชู ูููููู ุฑูุงุบูุจูุฉู ุฃูููุฃูุตููู ุฃูู ููู ููุงูู ููุนูู ู ุตูููู ุฃูู ูููู
Dari Asmaโ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu โanha bercerita, โIbu kandungku yang seorang musyrikah datang (dari kota Mekkah) mengunjungiku (di Madinah) pada masa Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam (yaitu pada masa perjanjian Hudaibiyah). Maka aku pun mendatangi beliau untuk bertanya, โSesungguhnya ibuku mendatangiku karena ingin bantuan finansial dari diriku. Apakah aku boleh menyambung tali kekerabatanku dengan ibuku?โ
Maka beliau menjawab, โYa, sambunglah tali kekerabatanmu dengan ibumu!โ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
ุนููู ุนูุจูุฏู ุงูููู ุจููู ุนูู ูุฑูู ุฑูุถููู ุงูููู ุนูููููู ูุง ุนููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงูู ู ููู ููุชููู ู ูุนูุงููุฏูุง ููู ู ููุฑูุญู ุฑูุงุฆูุญูุฉู ุงููุฌููููุฉู ููุฅูููู ุฑููุญูููุง ุชููุฌูุฏู ู ููู ู ูุณููุฑูุฉู ุฃูุฑูุจูุนูููู ุนูุงู ูุง
Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu โanhuma dari Nabi shallallahu โalaihi wasallam bersabda, Barangsiapa yang membunuh orang kafir muโahid (orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin), niscaya ia telah mencederai jaminan perlindungan Allah. Sehingga, ia tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.โ (HR. Al-Bukhari)
Dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah radhiyallahu โanhu bahwasanya Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda,
ุฃููุงู ู ููู ููุชููู ููููุณูุง ู ูุนูุงููุฏูุง ูููู ุฐูู ููุฉู ุงูููู ููุฐูู ููุฉู ุฑูุณููููููุ ููููุฏู ุฃูุฎูููุฑู ุจูุฐูู ููุฉู ุงููููุ ูููุงู ููุฑูุญู ุฑูุงุฆูุญูุฉู ุงูุฌููููุฉูุ ููุฅูููู ุฑููุญูููุง ูููููุฌูุฏู ู ููู ู ูุณููุฑูุฉู ุณูุจูุนูููู ุฎูุฑููููุง.
Barangsiapa yang membunuh orang kafir muโahid, yang memiliki jaminan perlindungan keamanan dari Allah dan rasul-Nya, niscaya ia telah mencederai jaminan perlindungan Allah. Sehingga, ia tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga dapat tercium dari jarak perjalanan tujuh puluh tahun.โ (HR. At-Tirmidzi)
Dari penjelasan di atas nampak jelas bahwa toleransi adalah intisari ajaran Islam. Toleransi telah diatur dalam Al-Qurโan dan As-sunnah dengan sangat detail. Sehingga, umat Islam tidak memerlukan konsep toleransi dari luar syariat Islam.
Memegang Teguh Perkara-Perkara yang Telah Tercapai Ijmaโ Padanya
Ajaran agama Islam secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua bagian: perkara yang telah disepakati oleh para ulama mujtahidin dan perkara yang masih diperselisihkan oleh para ulama mujtahidin.
Perkara-perkara yang telah tercapai ijmaโ ulama terhadapnya (mujmaโ โalaiha) biasa juga disebut dengan istilah ushul, qathโiyyat, atau tsawabit. Perkara-perkara yang mujmaโ โalaiha itu terdapat dalam semua unsur bidang ajaran Islam; akidah, ibadah, muโamalah, dan akhlak.
Contoh-contoh perkara mujmaโ โalaiha adalah sebagai berikut:
Contoh perkara mujmaโ โalaiha dalam bidang Akidah:
- Allah itu Esa
- Muhammad bin Abdullah adalah hamba Allah dan rasul-Nya
- Muhammad bin Abdullah adalah penutup seluruh nabi dan rasul
- Al-Qurโan adalah kitab suci Allah yang murni dan terpelihara
- Alam kubur itu ada
- Surga dan neraka itu ada
- Malaikat itu ada
Contoh perkara mujmaโ โalaiha dalam bidang Ibadah:
- Shalat lima waktu sehari semalam itu fardhu โain
- Shaum Ramadhan itu fardhu โain
- Shalat harus didahului oleh thaharah
Contoh perkara mujmaโ โalaiha dalam bidang Muamalah:
- Jual-beli itu mubah
- Riba itu haram
- Hutang-piutang itu boleh
- Wajib melunasi hutang
Contoh perkara mujmaโ โalaiha dalam bidang Akhlak:
- Wajib berbakti kepada kedua orang tua
- Wajib menyambung tali kekerabatan
- Haram berdusta
- Haram berzina, berjudi, mengonsumsi khamr/narkoba, korupsi
Dalam perkara-perkara yang bersifat mujmaโ โalaiha, umat Islam wajib memegang teguhnya dan meyakininya sebagai kebenaran. Hal itu sesuai dengan arahan dari nash-nash syariat. Di antara contohnya adalah arahan firman Allah Taโala:
ููู ููู ููุดูุงูููู ุงูุฑููุณูููู ู ููู ุจูุนูุฏู ู ูุง ุชูุจูููููู ูููู ุงููููุฏูู ููููุชููุจูุนู ุบูููุฑู ุณูุจูููู ุงููู ูุคูู ูููููู ููููููููู ู ูุง ุชููููููู ููููุตููููู ุฌููููููู ู ููุณูุงุกูุชู ู ูุตููุฑูุง
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, niscaya Kami biarkan ia bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisรขโ [4]: 115)
Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafiโi (w. 204 H) menjadikan ayat tersebut sebagai dalil kehujjahan ijmaโ. Beliau menjelaskan ayat tersebut dengan mengatakan,
ููุง ููุตูููููู ุฌููููููู ู ุนูููู ุฎูููุงูู ุณูุจูููู ุงููู ูุคูู ููููููุ ุฅูููุง ูููููู ููุฑูุถู.
โTidaklah Allah memasukkan dirinya ke dalam neraka Jahanam, karena ia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, melainkan karena mengikuti jalan orang-orang mukmin adalah sebuah kewajiban.โ (Ahmad bin Husain Al-Baihaqi, Ahkรขm Al-Qurโรขn lisy-Syรขfiโรฎ, Kairo: Maktabah Al-Khanji, cet. 2, 1414 H, Juz I hlm. 39-40)
Imam Fakhruddin Muhammad bin Umar Ar-Razi (w. 604 H) dalam tafsirnya, Mafรขtรฎh Al-Ghaib, memberikan penjelasan yang sangat bagus tentang makna surat An-Nisaโ ayat 114 tersebut.
Di dalam ayat tersebut, Allah mengaitkan ancaman siksa neraka Jahanam dengan dua perkara:
[1] sikap menyelisihi Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam setelah jelas kepadanya petunjuk dan
[2] sikap mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman. Menyelisihi Raslullah shallallahu โalaihi wasallam semata sebenarnya sudah cukup untuk mendatangkan ancaman siksa neraka Jahanam. Sehingga, hukum mengimani dan mengikuti Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam adalah wajib.
Meskipun demikian, dalam ayat tersebut Allah masih menyebutkan perkara kedua, yaitu mengikuti jalan selain kaum beriman. Allah menggabungkan antara sikap menyelisihi Rasul dengan sikap mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman.
Dipahami dari hal itu bahwa hukum mengikuti jalan orang-orang yang beriman adalah wajib, bukan sekedar sunah atau mubah. Sehingga mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman adalah haram.
Seandainya mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman sekedar mubah, tidak haram, niscaya Allah tidak akan menggabungkan antara sikap menyelisihi Rasul dengan sikap mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman.
Sebab, hal itu berarti menggabungkan perkara haram dengan perkara mubah dalam hal ancaman terkena siksa neraka Jahannam. Allah Subhรขnahu wa Taโรขlรข dan Al-Qurโan suci dari kesia-siaan seperti itu.
Dengan demikian, hal itu berarti Allah Subhรขnahu wa Taโรขlรข menggabungkan antara dua perkara yang sama-sama dapat mengantarkan kepada siksa neraka Jahannam (yaitu [1] menyelisihi Rasul dan [2] mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman).
Penggabungan kedua perkara itu menunjukkan bahwa masing-masing dari keduanya berstatus hukum haram, dan masing-masing dari keduanya dapat mengakibatkan siksaan neraka Jahannam. (Muhammad bin Umar Ar-Razi, Tafsรฎr Mafรขtรฎh Al-Ghaib, Beirut: Darul Fikr, cet. 1, 1401 H, Juz XI hlm. 43-44)
Imam Fakhrul Islam Al-Bazdawi Ali bin Muhammad Al-Hanafi (w. 482 H) menjelaskan aspek kehujahan ijmaโ dalam ayat tersebut dengan mengatakan:
ููุฃูููุฌูุจู ููุฐูุง ุฃููู ููููููู ุณูุจูููู ุงููู ูุคูู ูููููู ุญููููุง ุจูููููููู
โHal ini berkonskuensi jalan kaum beriman (yaitu ijmaโ) adalah kebenaran secara yakin.โ (Alibin Muhammad Al-Bazdawi, Ushul Al-Bazdawi: Kanzu Al-Wushul ilaMaโrifatiAl-Ushul, Beirut: Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah, cet. 2, 14 37 H, hlm. 545)
Imam โAlauddin Al-Bukhari Abdul Aziz bin Ahmad Al-Hanafi (w. 730 H) menjelaskan kehujahan ijmaโ dalam ayat tersebut dengan mengatakan:
ุฃูููููู ุชูุนูุงููู ุชูููุนููุฏู ุนูููู ู ูุชูุงุจูุนูุฉู ุบูููุฑู ุณูุจูููู ุงููู ูุคูู ูููููู ููู ูุง ุชูููุนููุฏู ุนูููู ู ูุฎูุงููููุฉู ุงูุฑููุณูููู ููุงูุณููุจูููู ู ูุง ููุฎูุชูุงุฑู ุงููุฅูููุณูุงูู ููููููุณููู ููููููุง ููุนูู ูููุง ูููููู ููู ู ูููููู ุฐููููู ู ูุญูุฑููู ูุง ููู ููุง ุชูููุนููุฏู ุนููููููู ููููู ูุง ุญูุณููู ุงููุฌูู ูุนู ุจููููููู ููุจููููู ู ูุดูุงููู ุงูุฑููุณูููู ููู ุงููููุนููุฏู ููู ูุง ููุง ููุญูุณููู ุงููุฌูู ูุนู ุจููููู ุงููููููุฑู ููุฃููููู ุงููุฎูุจูุฒู ุงููู ูุจูุงุญู ููู ุงููููุนููุฏูุ ููุฅูุฐูุง ุญูุฑูู ู ุงุชููุจูุงุนู ุบูููุฑู ุณูุจูููู ุงููู ูุคูู ูููููู ููุฌูุจู ุงุชููุจูุงุนู ุณูุจููููููู ู ููููููููู ุงููุฅูุฌูู ูุงุนู ุญูุฌููุฉูุ ููุฃูููููู ุณูุจููููููู ู ููุนูููู ู ูุง ุฐูููุฑู ููู ููุฐูุง ุงููููุชูุงุจู ุฃูููููู ุชูุนูุงููู ุฌูุนููู ู ูุชูุงุจูุนูุฉู ุบูููุฑู ุณูุจูููู ุงููู ูุคูู ูููููู ุจูู ูููุฒูููุฉู ู ูุดูุงูููุฉู ุงูุฑููุณูููู ููู ุงุณูุชููุฌูุงุจู ุงููููุงุฑู ููุณููููู ุจูููููููู ูุง ููููุงูู ุชูุฑููู ููููู ููุงุญูุฏู ู ูููููู ูุง ููุงุฌูุจูุง ููุทูุนูุง.
Allah Taโala mengancam tindakan mengikuti selain jalan kaum beriman sebagaimana Allah mengancam tindakan menyelisihi Rasul. โJalanโ adalah apa yang dipilih oleh manusia untuk dirinya sendiri, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Andaikata mengikuti selain jalan kaum beriman itu tidak diharamkan, pastilah Allah tidak akan mengancam tindakan tersebut, dan pastilah tidak bagus menyatukan ancaman antara tindakan tersebut dengan tindakan menentang (menyelisihi Rasul), sebagaimana tidak bagus menyatukan ancaman untuk kekufuran dan memakan roti yang mubah.
Maka, apabila mengikuti selain jalan kaum beriman itu haram, niscaya wajib untuk mengkuti jalan kaum beriman, sehingga ijmaโ (yaitu jalan kaum beriman) itu adalah hujjah.
Sebab, ijmaโ adalah jalan mereka (kaum beriman) dan sekaligus berdasarkan ayat Al-Qurโan ini Allah Taโala menjadikan tindakan mengikuti selain jalan kaum beriman sama kedudukannya dengan tindakan menentang Rasul dalam hal sama-sama menyebabkan masuk neraka.
Allah menyamakan kedudukan kedua perbuatan tersebut, sehingga meninggalkan masing-masing dari kedua tindakan tersebut adalah wajib secara qathโi. (AbdulAziz bin Ahmad Al-Bukharii, Kasyfu Al-Asrรขr โan Ushul Fakhri Al-Islam Al-Bazdawi, Beirut; Dar Al-Kutub Al-โIlmiyyah, cet. 1., 1418 H, Juz III hlm. 374)
Dalam perkara-perkara yang bersifat mujmaโ โalaiha, umat Islam tidak boleh kendor, lemas, dan โmengalahโ.
Contoh memegang teguh ijmaโ dalam perkara akidah:
- Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Oleh karena itu, umat Islam meyakini semua agama dan kepercayaan di luar Islam adalah salah dan keliru.
- Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wasallam adalah penutup seluruh nabi dan rasul. Oleh karena itu, umat Islam meyakini semua orang yang mengaku sebagai nabi atau rasul setelah wafatnya Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam adalah orang yang sesat dan kafir. Demikian pula, orang yang membenarkan klaim kenabian atau kerasulan sepeninggal Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam divonis sesat. Maka, umat Islam menolak agama Ahmadiyah-Qadiyaniyah, Lia Eden, dan lain sebagainya.
- Al-Qurโan adalah kitab Allah yang murni dan terpelihara dari segala bentuk penambahan, pengurangan, dan penyelewengan. Oleh karena itu, umat Islam meyakini Syiah Imamiyah Itsna โAsyariah adalah ajaran sesat dan kufur karenaโsalah satu alasannyaโmereka meyakini bahwa Al-Qurโan di tangan umat Islam telah mengalami penambahan, pengurangan, dan penyelewengan. Menurut keyakinan mereka, kitab suci yang murni dan terpelihara adalah Mushaf Fathimah yang dibawa oleh imam ke-12 mereka.
Contoh memegang teguh ijmaโ dalam bidang ibadah:
Shalat lima waktu dalam sehari semalam adalah fardhu โain atas setiap muslim dan muslimah yang telah mukallaf.
Oleh karena itu, umat Islam tidak menerima pendapat sebagian kelompok Khawarij yang menyatakan shalat sehari dan semalam hanya dua waktu saja. Umat Islam meyakini bahwa teledor, bermalas-malasan, dan enggan melaksanakan shalat wajib lima waktu sehari-semalam itu adalah dosa besar, yang terancam hukuman berat di dunia dan akhirat.
ุนููู ุนูุจูุฏู ุงูููููู ุจููู ุนูู ูุฑูู ุนููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ุฃูููููู ุฐูููุฑู ุงูุตููููุงุฉู ููููู ูุง ููููุงูู: ู ููู ุญูุงููุธู ุนูููููููุง ููุงููุชู ูููู ูููุฑูุง ููุจูุฑูููุงููุง ููููุฌูุงุฉู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู ููู ููู ููู ู ููุญูุงููุธู ุนูููููููุง ููู ู ูููููู ูููู ุจูุฑูููุงูู ููููุง ูููุฑู ููููุง ููุฌูุงุฉู ููููุงูู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู ู ูุนู ููุงุฑูููู ููููุงู ูุงูู ููููุฑูุนููููู ููุฃูุจูููู ุจููู ุฎููููู.
Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu โanhuma dari Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bahwasanya pada suatu hari beliau membahas tentang shalat, maka beliau bersabda, โBarangsiapa menjaga shalat wajib, niscaya shalat tersebut akan menjadi cahaya, bukti nyata, dan keselamatan baginya pada hari kiamat kelak.
Adapun barangsiapa tidak menjaga shalat wajib, niscaya ia tidak memiliki cahaya, bukti nyata, dan keselamatan pada hari kiamat. Bahkan, ia akan dikumpulkan (di neraka) bersama Qarun, Haman, Firโaun, dan Ubay bin Khalaf.โ (HR. Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, dan Ath-Thabarani)
Bentuk Toleransi Dalam Perkara Mujmaโ โalaiha
Apakah dengan memegang teguh perkara-perkara yang mujmaโ โalaiha tersebut, umat Islam bisa dituduh intoleran, radikal, fundamentalis, ekstrimis?
Tentu tidak. Sebab, setiap agama, negara, lembaga, atau personal tentu memiliki prinsip-prinsip pokok yang dipegang teguh, โharga matiโ, dan tidak boleh ditawar-tawar.
Jika demikian, di mana letak toleransi Islam dalam perkara-perkara yang bersifat mujmaโ โalaiha tersebut?
Letak toleransi Islam dalam perkara-perkara mujmaโ โalaiha tersebut adalah Islam tidak memaksakan ajarannya kepada siapa pun. Islam menyampaikan dan menyebar-luaskan ajarannya dengan menempuh mekanisme dakwah, tarbiyah, dialog, amarโ maโruf, dan nahi mungkar.
ุงุฏูุนู ุฅูููู ุณูุจูููู ุฑูุจูููู ุจูุงููุญูููู ูุฉู ููุงููู ูููุนูุธูุฉู ุงููุญูุณูููุฉู ููุฌูุงุฏูููููู ู ุจูุงูููุชูู ูููู ุฃูุญูุณููู ุฅูููู ุฑูุจูููู ูููู ุฃูุนูููู ู ุจูู ููู ุถูููู ุนููู ุณูุจูููููู ูููููู ุฃูุนูููู ู ุจูุงููู ูููุชูุฏูููู
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah Yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl [16]: 125)
ููููุชููููู ู ูููููู ู ุฃูู ููุฉู ููุฏูุนูููู ุฅูููู ุงููุฎูููุฑู ููููุฃูู ูุฑูููู ุจูุงููู ูุนูุฑูููู ูููููููููููู ุนููู ุงููู ูููููุฑู ููุฃููููุฆููู ููู ู ุงููู ูููููุญูููู
Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang mengajak kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran [3]: 104)
Sebagai contoh, umat Islam memvonis semua agama dan keyakinan di luar Islam sebagai keliru, salah, sesat, dan kufur. Namun, Islam tidak memaksa seorang pun non-muslim untuk masuk Islam. Sebab, hak menganut agama dan keyakinan adalah hak asasi setiap individu, muslim maupun non-muslim. Setiap individu bebas memilih agama dan keyakinan. Sebagai konskuensinya, setiap invididu akan dimintai pertanggung jawaban atas agama dan keyakinannya tersebut kelak di hadapan Allah Taโala.
Allah Taโala berfirman,
ููุง ุฅูููุฑูุงูู ููู ุงูุฏููููู ููุฏู ุชูุจูููููู ุงูุฑููุดูุฏู ู ููู ุงููุบูููู
Sama sekali tidak ada paksaan (untuk menganut Islam) dalam agama Islam. Sebab, jalan yang benar telah jelas terpisah dari jalan yang menyimpang. (QS. Al-Baqarah [2]: 256)
Al-โallamah al-imam Muhammad Thahir bin โAsyur (w. 1393 H) dalam tafsirnya, At-Tahrir wa At-Tanwir, menjelaskan bahwa makna ayat tersebut adalah kebenaran telah terpisah dengan jelas dari kebatilan, karena dakwah Islam telah disampaikan secara baik, sehingga setiap obyek dakwah bisa menentukan pilihan masing-masing, apakah akan memilih jalan Islam atau jalan non-Islam.
Konskuensinya, tidak boleh ada paksaan untuk memeluk Islam, karena setiap individu berhak menentukan sikapnya apakah akan memilih jalan kebenaran atau jalan kesesatan. Ajaran Islam dijelaskan dan didakwahkan secara tuntas terlebih dahulu. Setelah itu setiap individu bebas menentukan sikapnya apakah akan memilih jalan kebenaran (agama Islam) ataukah jalan kesesatan (non-Islam).
Baca juga: Kumpulan Kitab Tafsir Terpopuler Klasik dan Kontemporer
Ibnu โAsyur menulis:
ูููููููููู: ููุฏู ุชูุจูููููู ุงูุฑููุดูุฏู ู ููู ุงููุบูููู ููุงููุนู ู ูููููุนู ุงููุนููููุฉู ูููููููููู: ููุง ุฅูููุฑุงูู ููู ุงูุฏููููู ููููุฐููููู ููุตูููุชู ุงููุฌูู ูููุฉู… ููุถูู ูููู ุชูุจูููููู ู ูุนูููู ุชูู ููููุฒู ูููุฐูููู ุนุฏู ุจูู ูุ ููุฅููููู ูุง ุชูุจูููููู ุฐููููู ุจูุฏูุนูููุฉู ุงููุฅูุณูููุงู ู ููุธููููุฑููู ููู ุจูููุฏู ู ูุณูุชูููููู ุจูุนูุฏู ุงููููุฌูุฑูุฉู.
Firman Allah โSebab, jalan yang benar telah jelas terpisah dari jalan yang menyimpangโ dalam ayat tersebut merupakan โillah (alasan hukum) dari firman Allah โSama sekali tidak ada paksaan (untuk menganut Islam) dalam agama Islam.โ Oleh karena itu kalimat tersebut dipisah dari kalimat sebelumnya.
Dalam kata tabayyana (telah jelas) terkandung makna tamayyaza (telah terpisah), oleh karenanya kata kerja tersebut dijadikan fiโil mutaโaddi dengan huruf min. Kebenaran menjadi jelas karena adanya dakwah Islam dan dominasinya di sebuah negeri tersendiri setelah peristiwa hijrah ke Madinah. (Muhammad Thahir bin โAsyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Beirut: Dar Ibni Hazm, cet. 1, 1443 H, Juz II hlm. 25; Muhammad Thahir bin โAsyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunisia: Ad- DarAt-Tunisiyah, cet. 1, 1984 M, Juz III hlm. 28)
Lebih lanjut, imam Ibnu โAsyur menjelaskan:
ููุชูุนููููุจู ุขููุฉู ุงููููุฑูุณูููู ุจูููุงุชููู ุงููุขููุฉู ุจูู ูููุงุณูุจูุฉู ุฃูููู ู ูุง ุงุดูุชูู ูููุชู ุนููููููู ุงููุขููุฉู ุงูุณููุงุจูููุฉู ู ููู ุฏูููุงุฆููู ุงููููุญูุฏูุงูููููุฉู ููุนูุธูู ูุฉู ุงููุฎูุงูููู ููุชูููุฒูููููู ุนููู ุดูููุงุฆูุจู ู ูุง ููููุฑูุชู ุจููู ุงููุฃูู ูู ูุ ู ููู ุดูุฃููููู ุฃููู ููุณูููู ุฐูููู ุงููุนูููููู ุฅูููู ููุจูููู ููุฐูุง ุงูุฏููููู ุงููููุงุถูุญู ุงููุนููููุฏูุฉูุ ุงููู ูุณูุชููููู ู ุงูุดููุฑููุนูุฉูุ ุจูุงุฎูุชูููุงุฑูููู ู ุฏูููู ุฌูุจูุฑู ููููุง ุฅูููุฑูุงููุ ููู ููู ุดูุฃููููู ุฃููู ููุฌูุนููู ุฏูููุงู ูููู ู ุนูููู ุงูุดููุฑููู ุจูู ูุญูููู ุงูุณููุคูุงูู: ุฃูููุชูุฑูููููู ุนููููููู ุฃูู ู ููููุฑูููููู ุนูููู ุงููุฅูุณูููุงู ูุ ููููุงููุชู ุงููุฌูู ูููุฉู ุงุณูุชูุฆูููุงููุง ุจูููุงูููููุง.
Ayat Kursi (Al-Baqarah [2]: 255) disusul oleh ayat โtidak ada paksaan apa pun dalam agama Islamโ (Al-Baqarah [2]: 256) karena Ayat Kursi mengandung bukti-bukti keesaan Allah Al-Khaliq dan keagungan-Nya serta penyucian-Nya dari segala kotoran kesyirikan umat-umat terdahulu. Hal itu akan menggiring orang-orang yang menggunakan akal sehatnya untuk dapat menerima agama yang akidahnya jelas dan syariahnya lurus ini, atas pilihan mereka sendiri, tanpa paksaan apa pun. Hal itu juga akan mengantarkan kepada sebuah pertanyaan penting: apakah orang-orang kafir tersebut akan dibiarkan bertahan di atas kekafiran mereka ataukah mereka akan dipaksa untuk masuk Islam? Maka ayat ini merupakan sebuah kalimat baru sebagai penjelasan atas pertanyaan tersebut. (IbnuโAsyur, ibid, Beirut: Dar Ibni Hazm, Juz II hlm. 22; Ibnu โAsyur, ibid, Tunis: Ad-Dar At-Tunisiyah, Juz IIIhlm. 25)
Urgensi Memahami Ikhtilaf Ulama
Selain perkara yang telah tercapai ijmaโ padanya, dalam agama Islam dikenal perkara-perkara yang masih diperselisihkan oleh para ulama mujtahidin. Perkara-perkara tersebut biasa disebut furuโ, mukhtalaf fiiha, ijtihadiyah, atau khilafiyat. Perkara-perkara furuโ terdapat dalam semua ajaran Islam; akidah, ibadah, muโamalah, dan akhlak.
Contoh perkara-perkara furuโ atau mukhtalaf fiiha atau ijtihadiyah:
Pertama, contoh perkata dalam bidang Akidah:
- Apa saja rincian 99 Al-Asmaโ Al-Husna itu?
- Apakah Nabi melihat Allah pada malam miโraj?
- Israโ dan miโraj itu dengan jasad saja, ruh saja, atau jasad dan ruh sekaligus?
- Apakah orang yang mati akan disiksa di alam kubur karena ratapan keluarganya yang hidup?
- Apa hukum memakai jimat yang bertuliskan ayat Al-Qurโan atau doa maโtsur dari hadits Nabi?
- Apa hukum meminta diruqyah?
- Berapa kali tiupan terompet malaikat Israfil?
- Apakah mayit yang belum baligh akan ditanyai malaikat Mungkar dan Nakir?
- Apa yang ditimbang dengan mizan Allah kelak? Apakah wujud amal, catatan amal, pelaku amal, ataukah semuanya?
Kedua, contoh perkata dalam bidang Ibadah:
- Apa hukum mengikuti salah satu madzhab fikih yang empat?
- Apa hukum melafalkan niat sebelum melakukan wudhu, tayamum, mandi, shalat, shaum, dst?
- Apa hukum mandi sebelum shalat Jumโat?
- Apa hukum mengeraskan basmalah dalam surat Al-Fatihah dalam shalat?
- Apa hukum shalat berjamaโah di masjid?
- Apa hukum shalat witir?
- Apa hukum membaca qunut dalam shalat Shubuh dan shalat witir?
- Apa hukum menetapkan awal bulan-bulan hijriyah dengan ilmu falak / ilmu hisab semata?
Ketiga, contoh perkata dalam bidang Muamalah
- Apa hukum jual beli kredit?
- Apa hukum jual beli dengan sistem dropship?
- Apakah koruptor bisa dijatuhi hukuman mati?
- Siapa yang paling berhak mengasuh anak kecil saat terjadi perceraian suami-istri?
- Apakah khuluโ itu jatuh talak ataukah jatuh fasakh?
- Apa hukum alat-alat musik?
- Apa hukum membuat (mengambil) foto dan video makhluk yang bernyawa?
Keempat, contoh perkata dalam bidang Akhlak
- Apa hukum berdiri untuk menghormati ulama/tokoh?
- Apakah hukum ridha atas takdir yang buruk?
- Apakah hukum bersyukur atas takdir yang buruk?
- Mana yang lebih utama; orang kaya yang syukur ataukah orang miskin yang sabar?
- Apakah hukum mengikuti satu thariqat tertentu?
Memahami perbedaan pendapat para ulama dalam masalah-masalah ijtihadiyah sangatlah penting. Dengannya kita akan memiliki sikap lapang dada kepada ulama, pribadi, dan kelompok Islam lainnya yang berbeda pendapat dengan kita. Ia adalah kunci untuk tetap terjaganya ukhuwah islamiyah. Ia juga merupakan jembatan untuk tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama sangatlah luas. Mulai dari perbedaan pendapat ulama sahabat, perbedaan pendapat ulama tabiโin, perbedaan pendapat ulama tabiโit tabiโin, lalu perbedaan pendapat para ulama setelah generasi mereka sampai zaman sekarang.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama kalam (akidah). Perbedaan pendapat di kalangan ulama tafsir. Perbedaan pendapat di kalangan ulama hadits. Perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih dan ushul fikih. Perbedaan pendapat di kalangan ulama bahasa Arab dan cabang-cabang ilmu keislaman lainnya.
Semakin luas dan dalam penguasaan seorang muslim terhadap perbedaan pendapat di kalangan ulama, maka semakin dewasa cara berfikirnya, semakin lapang dada terhadap pendapat ulama lainnya, dan semakin dalam kasih sayangnya kepada sesama kaum muslimin.
Para ustadz/ustadzah, mubaligh/mubalighah, juru dakwah, guru agama, pimpinan pondok pesantren, pimpinan ormas Islam, pimpinan partai Islam, pimpinan jamaโah Islam, dan para penuntut ilmu secara umum; hendaknya mempelajari dan memahami perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Seorang ustadz, mubaligh, juru dakwah, guru agama, pimpinan pondok pesantren, pimpinan ormas Islam dan pimpinan partai Islam yang tidak mempelajari dan memahami perbedaan pendapat di kalangan ulama biasanya cenderung memiliki pendapat, sikap dan kebijakan yang kaku. Mereka bisa saja menganggap pendapatnya yang paling benar, paling tepat dan paling maslahat. Mereka bisa saja menganggap selain pendapatnya adalah bidโah, sesat, keliru, tidak berdalil dan anggapan negatif lainnya.
Pernyataan Ulama pentingnya Memahami Ikhtilaf
Para ulama tabi’in, tabi’it tabi’in dan generasi setelahnya telah menjelaskan kepada kaum muslimin pentingnya memahami ikhtilaf ulama. Pernyataan mereka tersebut tentunya berdasarkan kepada Al-Qurโan, As-Sunnah dan praktek generasi sahabat. Karena pentingnya masalah ini, kami akan memaparkan sebagian pernyataan mereka tersebut.
[1]- Athaโ bin Abi Rabah (w. 115 H) berkata,
ูุงู ููููุจูุบูู ูุฃูุญูุฏู ุฃููู ููููุชููู ุงููููุงุณูุ ุญูุชููู ููููููู ุนูุงููู ูุง ุจูุงุฎูุชููุงููู ุงููููุงุณู ุ ููุฅููู ููู ู ูููููู ููุฐููููู ุฑูุฏูู ู ููู ุงููุนูููู ู ู ูุง ูููู ุฃูููุซููู ู ููู ุงูููุฐูู ููู ููุฏููู
โTidak selayaknya seseorang memberi fatwa kepada masyarakat, sampai ia ahli dalam masalah perbedaan pendapat para ulama. Jika tidak demikian, niscaya ia akan menolak ilmu orang lain yang sebenarnya lebih kokoh daripada ilmu yang ia miliki.โ (Yusuf bin Abdul Barr Al-Maliki, Jamiโ BayaniAl-โ Ilmi wa Fadhlihi, Damam: Dar IbniAl- Jauzi, cet. 1, 1414 H, Juz II hlm. 816, atsar no. 1524)
[2]- Qatadah bin Diโamah As-Sadusi (w. 117 H) berkata,
ู ููู ููู ู ููุนูุฑููู ุงููุงูุฎูุชููุงููู ููู ู ููุดูู ูู ุฑูุงุฆูุญูุฉู ุงูููููููู ุจูุฃููููููู
โBarangsiapa tidak mengetahui perbedaan pendapat para ulama, maka hidungnya belum mencium bau fikih.โ (Ibnu Abdul Barr, ibid, Juz II hlm. 814, atsar no. 1520)
[3]- Ayyub As-Sikhtiyani bin Abi Tamimah Kaisan Al-Bashri (w. 131 H) berkata,
ุฃูุฌูุณูุฑู ุงููููุงุณู ุนูููู ุงููููุชูููุง ุฃููููููููู ู ุนูููู ูุง ุจูุงุฎูุชููุงููู ุงููุนูููู ูุงุกู ุ ููุฃูู ูุณููู ุงููููุงุณู ุนููู ุงููููุชูููุง ุฃูุนูููู ูููู ู ุจูุงุฎูุชููุงููู ุงููุนูููู ูุงุกู
โOrang yang paling berani memberi fatwa adalah orang yang paling sedikit ilmunya tentang perbedaan pendapat para ulama. Adapun orang yang bisa menahan dirinya dari memberi fatwa adalah orang yang paling mengetahui perbedaan pendapat para ulama.โ (Ibnu Abdil Barr, ibid, Juz II hlm. 816, atsar no. 1525)
[4]- Saโid bin Abi Arubah Mihran Al-Bashri (w. 156 H) berkata:
Tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama, Saโid bin Abi Arubah berkata:
ู ููู ููู ู ููุณูู ูุนู ุงููุงูุฎูุชููุงููู ูููุงู ุชูุนูุฏููููู ุนูุงููู ูุง
“Barangsiapa tidak mengetahui perbedaan pendapat para ulama, maka janganlah kalian menganggapnya seorang ulama.” (Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi, Siyar Aโlam An-Nubalaโ, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 2, 1402 H, JuzVI hlm. 413; Ibnu Abdil Barr, ibid, Juz I Ihlm. 815, atsar no. 1521)
[5]- Imam Malik bin Anas (w. 179 H) berkata:
ูุงู ุชูุฌููุฒู ุงููููุชูููู ุฅููุงูู ููู ููู ุนูููู ู ู ูุง ุงุฎูุชููููู ุงููููุงุณู ููููู. ููููู ูููู ุงูุฎูุชููุงููู ุฃููููู ุงูุฑููุฃูููุ ููุงูู ูุงู ุงูุฎูุชููุงููู ุฃูุตูุญูุงุจู ู ูุญูู ููุฏู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงููููุงุณูุฎู ูู ุงููู ูููุณููุฎู ู ููู ุงููููุฑูุขูู ููู ููู ุญูุฏููุซู ุงูุฑููุณูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููููุฐูุง ููููุชููู
โTidak boleh memberi fatwa kecuali ulama yang mengetahui perbedaan pendapat di kalangan para ulama.โ
Ada murid yang bertanya kepada beliau, โApakah perbedaan pendapat para ulama ahlu raโyi?โ
Beliau menjawab, โBukan, melainkan perbedaan pendapat di kalangan sahabat. Demikian pula ia harus mengetahui nasikh dan mansukh dalam Al-Qurโan. Demikian pula nasikh dan mansukh dalam hadits. Jika ia mengetahui hal itu semua, barulah ia boleh berfatwa.โ (Ibnu Abdil Barr, ibid, Juz II hlm. 818, atsar no. 1529)
[6]- Imam Sufyan bin Uyainah (w. 198 H) berkata,
ุฃูุฌูุณูุฑู ุงููููุงุณู ุนูููู ุงููููุชูููุง ุฃููููููููู ู ุนูููู ูุง ุจูุงุฎูุชููุงููู ุงููุนูููู ูุงุกู
โOrang yang paling berani memberi fatwa adalah orang yang paling sedikit ilmunya tentang perbedaan pendapat para ulama.โ (Ibnu Abdil Barr, ibid, Juz II hlm. 817, atsar no. 1527)
[7]- Yahya bin Salam Al-Bashri Al-Maghribi (w. 200 H) berkata,
ูุงู ููููุจูุบูู ููู ููู ูุงู ููุนูุฑููู ุงููุงูุฎูุชููุงููู ุฃููู ููููุชููู ุ ูููุงู ููุฌููุฒู ููู ููู ูุงู ููุนูููู ู ุงููุฃูููุงููููู ุฃููู ููููููู: ููุฐูุง ุฃูุญูุจูู ุฅูููููู
โTidak selayaknya orang yang tidak mengetahui perbedaan pendapat para ulama untuk memberi fatwa. Demikian pula, orang yang tidak mengetahui pendapat-pendapat ulama tidak boleh mengatakan โpendapat ini lebih aku sukaiโ.โ (Ibnu Abdil Barr, ibid, Juz II hlm. 819, atsar no. 1534)
[8]- Qabisah bin Uqbah Al-Kufi (w. 215 H) berkata,
ูุงู ููููููุญู ู ููู ูุงู ููุนูุฑููู ุงูุฎูุชููุงููู ุงููููุงุณู
โTidak akan beruntung orang yang tidak memahami perbedaan pendapat para ulama.โ (Ibnu Abdil Barr, ibid, Juz II hlm. 820, atsar no. 1537)
[9]- Hisyam bin Ubaidullah Ar-Razi (w. 221 H) berkata,
ู ููู ููู ู ููุนูุฑููู ุงูุฎูุชููุงููู ุงููููุฑููุงุกู ููููููุณู ุจูููุงุฑูุฆู ุ ููู ููู ููู ู ููุนูุฑููู ุงูุฎูุชููุงููู ุงููููููููุงุกู ููููููุณู ุจูููููููู
โBarangsiapa tidak mengetahui perbedaan pendapat para ulama qiraโah, maka ia bukan seorang ulama qiraโat. Barangsiapa belum mengetahui perbedaan pendapat para ulama fikih, maka ia bukanlah ahli fikih.โ (Ibnu Abdil Barr, ibid, Juz II hlm. 816, atsar no. 1523)
[10]- Al-Qadhi Sahnun bin Saโid Al-Maliki (w. 240 H) berkata:
ุฃูุฌูุฑูุฃู ุงููููุงุณู ุนูููู ุงููููุชูููุง ุฃููููููููู ู ุนูููู ูุงุ ููููููู ุนูููุฏู ุงูุฑููุฌููู ุงููุจูุงุจู ุงููููุงุญูุฏู ู ููู ุงููุนูููู ู ููุธูููู ุฃูููู ุงููุญูููู ููููููู ููููู
โOrang yang paling berani memberi fatwa adalah orang yang paling sedikit ilmunya. Seseorang mengetahui satu bab ilmu, lalu ia menyangka seluruh kebenaran sudah terkandung dalam bab pendapatnya tersebut.โ
Sahnun bin Saโid juga berkata,
ุฅููููู ููุฃูุญูููุธู ู ูุณูุงุฆููู ุ ู ูููููุง ู ูุง ููููู ุซูู ูุงูููููุฉู ุฃูููููุงูู ู ููู ุซูู ูุงูููููุฉู ุฃูุฆูู ููุฉู ู ููู ุงููุนูููู ูุงุกู ูููููููู ููููุจูุบูู ุฃููู ุฃูุนูุฌูููู ุจูุงููุฌูููุงุจู ุญูุชููู ุฃูุชูุฎููููุฑู ููููู ู ุฃููุงูู ู ุนูููู ุญูุจูุณู ุงููุฌูููุงุจู
โSaya sungguh mengetahui berbagai masalah agama. Di antaranya ada masalah yang padanya terdapat delapan pendapat para ulama besar. Lantas bagaimana saya harus tergesa-gesa menjawab masalah tersebut, sebelum saya tuntas mengkajinya dan memilih pendapat yang paling kuat? Kenapa saya dicela jika saya menahan diri dari memberi jawaban?โ (Ibnu Abdil Barr, ibid, Juz II hlm. 1125, atsar no. 2211)
Toleransi dalam Perkara-perkara yang Bersifat Ijtihadiyah
Dalam perkara-perkara furuโ, mukhtalaf fiiha, atau ijtihadiyah; umat Islam dituntut untuk bersikap bijaksana. Langkah-langkah yang harus diambil adalah sebagai berikut:
- Memilih salah satu pendapat yang diyakini lebih kuat dalilnya, lebih benar penyimpulan hukumnya, dan lebih maslahat bagi umat Islam. Pilihan berdasarkan ilmu, bukan berdasar hawa nafsu.
- Memegang teguh pendapat yang diyakininya lebih dekat kepada kebenaran atau rajih (lebih kuat). Ulama mendapatkan pendapat tersebut melalui ijtihad. Orang awam dan pelajar mendapatkannya melalui taklid, belajar, bertanya atau meminta fatwa kepada ulama.
- Menghargai dan menghormati orang lain yang mengikuti pendapat yang berbeda.
- Tidak memaksakan pendapatnya kepada orang/organisasi/madrasah lain yang memegangi pendapat yang berbeda.
- Tidak melemparkan vonis-vonis buruk kepada orang/organisasi/madrasah lain yang memegangi pendapat yang berbeda. Misalnya vonis โsesatโ, โfasikโ, โahli bidโahโ, โgagal pahamโ, dan lain sebagainya.
- Tidak menyampaikan masalah-masalah furuโ khilafiyat dalam pengajian-pengajian umum (tabligh akbar dan sejenisnya), yang hadirinnya beragam dari aspek usia, tingkat pendidikan, tingkat pemahaman, dan lain sebagainya. Sebab, hal itu akan rentan menimbulkan kekacauan dan keributan serta salah paham.
- Pembahasan dan penyampaian masalah-masalah furuโ (khilfaiyah) hendaknya dilakukan terbatas dalam forum-forum ilmiah di kalangan ulama dan santri, dengan menjunjung tinggi asas kajian ilmiah, diskusi ilmiah, dan musyawarah dengan kepala dingin.
- Dalam hal-hal yang berkaitan dengan keumatan, pendapat furuโ yang diyakini lebih kuat terkadang boleh, lebih utama, atau bahkan wajib ditinggalkan, demi tercapainya maslahat persatuan dan kesatuan umat.
Islam berada di atas semua kelompok dan madrasah. Maslahat Islam berada di atas maslahat semua individu, kelompok, organisasi, dan madrasah. Di antara maslahat terbesar Islam adalah terjaganya kerukunan dan persatuan umat Islam. Di antara mafsadat terbesar Islam adalah terjadinya perpecahan dan konflik intern umat Islam.
Untuk itu, umat Islam wajib mengupayakan hal-hal yang dapat mewujudkan persatuan dan kerukunan umat; dan menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan keretakan, perpecahan, dan konflik intern umat. Allah Taโala berfirman,
ููุงุนูุชูุตูู ููุง ุจูุญูุจููู ุงูููููู ุฌูู ููุนูุง ููููุง ุชูููุฑูููููุง ููุงุฐูููุฑููุง ููุนูู ูุชู ุงูููููู ุนูููููููู ู ุฅูุฐู ููููุชูู ู ุฃูุนูุฏูุงุกู ููุฃูููููู ุจููููู ูููููุจูููู ู ููุฃูุตูุจูุญูุชูู ู ุจูููุนูู ูุชููู ุฅูุฎูููุงููุง… (103)
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (QS. Ali Imran [3]: 103)
ุนููู ุฌูุงุจูุฑู ุจููู ุนูุจูุฏู ุงูููู ุฑูุถููู ุงูููู ุนูููููู ูุง ููุงูู: ุณูู ูุนูุชู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููููููู: ยซุฅูููู ุงูุดููููุทูุงูู ููุฏู ุฃูููุณู ุฃููู ููุนูุจูุฏููู ุงููู ูุตููููููู ููู ุฌูุฒููุฑูุฉู ุงููุนูุฑูุจูุ ูููููููู ููู ุงูุชููุญูุฑููุดู ุจูููููููู ูยป
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu โanhuma berkata, โAku telah mendengar Nabi shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โSesungguhnya setan telah berputus-asa dari disembah oleh orang-orang yang shalat (yaitu umat Islam) di jazirah Arab. Tetapi, setan masih memiliki harapan dalam membuat perpecahan dan perselisihan di antara mereka.โ (HR. Muslim, Ahmad, dan At-Tirmidzi)
ุนููู ุฃูุจูู ุงูุฏููุฑูุฏูุงุกู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนููููู ููุงูู: ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู: ยซุฃูููุง ุฃูุฎูุจูุฑูููู ู ุจูุฃูููุถููู ู ููู ุฏูุฑูุฌูุฉู ุงูุตููููุงู ู ููุงูุตููููุงุฉู ููุงูุตููุฏูููุฉูยปุ ููุงูููุง: ุจููููุ ููุงูู: ยซุตูููุงุญู ุฐูุงุชู ุงูุจูููููุ ููุฅูููู ููุณูุงุฏู ุฐูุงุชู ุงูุจููููู ูููู ุงูุญูุงููููุฉูยป
Dari Abu Dardaโ radhiyallahu โanhuma berkata, Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โMaukah aku beritahukan kepada kalian amalan yang lebih utama daripada kedudukan shaum, shalat, dan zakat?โ
Para sahabat menjawab, โTentu.โ
Maka beliau bersabda, โBaiknya hubungan antara sesama, karena rusaknya hubungan antara sesama itu bagaikan pisau cukur (yang mencukur habis pahala amal shalih).โ (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
ุนููู ุงูุฒููุจูููุฑู ุฃูููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงูู: ุฏูุจูู ุฅูููููููู ู ุฏูุงุกู ุงููุฃูู ูู ู ููุจูููููู ู: ุงููุจูุบูุถูุงุกู ููุงููุญูุณูุฏูุ ููุงููุจูุบูุถูุงุกู ูููู ุงููุญูุงููููุฉูุ ููููุณู ุญูุงููููุฉู ุงูุดููุนูุฑูุ ูููููููู ุญูุงููููุฉู ุงูุฏูููููุ
Dari Zubair bin Awwam radhiyallahu โanhu bahwasanya Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โPenyakit umat-umat terdahulu telah menular kepada kalian, yaitu penyakit kebencian dan iri-dengki. Kebencian yang sangat adalah bagaikan pisau cukur, bukan pisau yang mencukur rambut, melainkan pisau yang mencukur habis agama (pahala amal shalih).โ (HR. Al-Bazzar)
Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam telah memberikan teladan dalam perkara ijtihadiyah, bagaimana beliau meninggalkan pendapat yang lebih kuat dan beralih kepada pendapat yang lebih lemah, demi menjaga maslahat umat. Bangunan Kaโbah pada zaman Nabi Ibrahim dan Ismail โalaihimas salam cukup luas, memiliki dua pintu yang menempel ke tanah, dan Hijr Ismail berada dalam ruangan dalam Kaโbah.
Ketika Kaโbah runtuh oleh banjir pada zaman jahiliyah, kaum Quraisy merenovasinya. Namun, karena dana halal mereka kurang, mereka hanya membangun Kaโbah dengan ukuran yang lebih kecil, pintu Kaโbah hanya satu dan tidak menempel tanah, dan Hijir Ismail berada di luar bangunan Kaโbah.
Setelah pembebasan Makkah pada bulan Ramadhan 8 Hijriyah, Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bisa saja merobohkan Kaโbah dan merenovasi ulang mengikuti bentuk aslinya pada zaman Nabi Ibrahim dan Ismail โalaihimas salam. Namun, beliau tidak melakukan hal itu. Beliau mempertahankan bangunan Kaโbah ala zaman jahiliyah, demi menghindari keributan dan penolakan dari kaum Quraisy yang baru saja muallaf.
Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hal itu sebagai berikut,
ุนููู ุนูุงุฆูุดูุฉู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนูููููุง: ุฃูููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงูู ููููุง: ยซููุง ุนูุงุฆูุดูุฉูุ ูููููุงู ุฃูููู ููููู ููู ุญูุฏููุซู ุนูููุฏู ุจูุฌูุงูููููููุฉู ููุฃูู ูุฑูุชู ุจูุงููุจูููุชูุ ููููุฏูู ูุ ููุฃูุฏูุฎูููุชู ููููู ู ูุง ุฃูุฎูุฑูุฌู ู ูููููุ ููุฃูููุฒูููุชููู ุจูุงูุฃูุฑูุถูุ ููุฌูุนูููุชู ูููู ุจูุงุจูููููุ ุจูุงุจูุง ุดูุฑููููููุงุ ููุจูุงุจูุง ุบูุฑูุจููููุงุ ููุจูููุบูุชู ุจููู ุฃูุณูุงุณู ุฅูุจูุฑูุงูููู ูยป
Dari Aisyah radhiyallahu โanha bahwasanya Nabi shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โWahai Aisyah, andaikata bukan karena kaummu (suku Quraisy) baru saja meningalkan kejahiliyahan, tentulah aku akan memerintahkan untuk merobohkan Kaโbah, lalu aku merenovasinya ulang dengan memasukkan ke dalam Kaโbah bagian yang selama ini dikeluarkan dari Kaโbah (yaitu Hijr Ismail), aku akan menempelkan pintu Kaโbah ke tanah, dan aku akan membuat dua pintu Kaโbah, yaitu satu pintu di sebelah timur dan satu pintu di sebelah barat, yang dengannya aku sampai kepada pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.โ (HR. Al-Bukhari dan Muslim, lafal ini adalah lafal Al-Bukhari)
Para ulama madzhab telah memberikan contoh keteladanan yang hebat dalam hal toleransi dalam perkara ijtihadiyah. Masyhur dikisahkan dalam buku-buku sejarah bahwa Khalifah Abu Jaโfar Al-Manshur (w. 158 H) dan Harun Ar-Rasyid (w. 193 H) menawarkan kepada imam Malik bin Anas untuk menggantungkan kitab hadits karya beliau Al-Muwathaโ pada dinding Kaโbah, menulis satu naskah salinannya untuk dikirim ke masing-masing propinsi, dan mewajibkan isinya untuk diamalkan oleh seluruh penduduk muslim.
Imam al-hafizh Al-Khathib Al-Baghdadi Asy-Syafiโi (w. 463 H) dan al-hafizh Muhammad bin Yusuf Ash-Shalihi Al-Maqdisi Asy-Syafiโi (w. 942 H) meriwayatkan bahwa imam Malik bin Anas (w. 179 H) dengan rendah hati menolak usulan tersebut. Beliau mengatakan kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid (w. 193 H):
ููุง ุฃูู ููุฑู ุงููู ูุคูู ูููููู, ุฅูููู ุงุฎูุชููุงููู ุงููุนูููู ูุงุกู ุฑูุญูู ูุฉู ู ููู ุงูููู ุชูุนูุงููู ุนูููู ููุฐููู ุงููุฃูู ููุฉู, ููููู ููุชูุจูุนู ู ูุง ุตูุญูู ุนูููุฏููู, ููููููู ุนูููู ููุฏูู, ููููููู ููุฑููุฏู ุงูููู ุชูุนูุงููู.
โWahai Amirul Mukminin, sesungguhnya perbedaan pendapat para ulama adalah kasih sayang dari Allah taโala untuk umat Islam ini. Setiap ulama mengikut hadits yang shahih menurutnya. Setiap ulama berada di atas petunjuk. Dan, setiap ulama menginginkan ridha Allah taโala.โ (Muhammadbin Yusuf Ash-Shalihi, โUqud Al-Juman fi Manaqib Al-Imam Al-Aโzham Abin Hanifah An-Nuโman, Madinah: Maktabah Al-Iman, cet. 1, 1394 H, hlm. 11)
Al-imam al-qadhi Iyadh bin Musa Al-Yahshabi Al-Maliki (w. 544 H) meriwayatkan bahwa imam Malik bin Anas menolak tawaran Khalifah Abu Jaโfar Al-Manshur (w. 158 H) dengan mengatakan:
ููุง ุฃูู ููุฑู ุงููู ูุคูู ูููููู ูุงู ุชูููุนููู! ููุฅูููู ุงููููุงุณู ููุฏู ุณูุจูููุชู ููููู ู ุฃูููุงููููู ููุณูู ูุนููุง ุฃูุญูุงุฏููุซู ููุฑูููุงููุงุชู, ููุฃูุฎูุฐู ููููู ููููู ู ุจูู ูุง ุณูุจููู ุฅูููููููู ู ููุนูู ููููุง ุจููู ููุฏูุงูููุง ูููู ู ููู ุงุฎูุชููุงููู ุฃูุตูุญูุงุจู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุบูููุฑูููู ู, ููุฅูููู ุฑูุฏููููู ู ุนูู ููุง ุงุนูุชูููุฏููุง ุดูุฏููุฏูุ ููุฏูุนู ุงููููุงุณู ููู ูุง ููู ู ุนููููููู ููู ูุง ุงุฎูุชูุงุฑู ุฃููููู ููููู ุจูููุฏู ููุฃูููููุณูููู ู.
Wahai Amirul mukminin, janganlah Anda melakukan hal itu! Sebab, telah sampai berbagai pendapat kepada masyarakat luas, mereka telah mendengar hadits-hadits dan riwayat-riwayat (selain yang saya cantumkan dalam kitab hadits Al-Muwathaโ), dan setiap kaum mengambil ilmu yang lebih dahulu sampai kepada mereka, mereka mengamalkannya, dan mereka patuh kepadanya, baik ilmu tersebut berupa perbedaan pendapat generasi sahabat maupun pendapat selain mereka. Sesungguhnya mengembalikan kepada (kepada isi kitab Al-Muwathaโ) dari ilmu yang mereka sudah yakini adalah pekerjaan yang berat. Oleh karena itu, biarkanlah masyarakat dengan ilmu mereka dan pilihan pendapat yang dipilih oleh penduduk masing-masing wilayah. (Iyadhbin Musa Al-Yahshabi, Tartib Al-Madarik wa Taqrib Al-Masalik li-MaโrifatiAโlam Madzhab Malik, Maroko: Wizarah Al-Auqaf wa Asy-Syu-un Al-Islamiyyah, cet. 2, 1403 H, Juz II hlm. 72)
Jika rencana kebijakan para khalifah Abbasiyah untuk mewajibkan isi kitab hadits Al-Muwaththaโ kepada seluruh kaum muslimin saja bukanlah sikap yang bijaksana dan bermaslahat, terlebih mewajibkan satu madzhab fikih saja, misalnya, kepada seluruh umat Islam. Tindakan seperti itu akan menimbulkan kekacauan, kegoncangan, dan konflik horizontal antar ulama dan umat Islam sendiri. Wallahu aโlam bish-shawab (Yasir Abdul Barr/dakwah.id)
Penulis: Yasir Abdul Barr
Editor: Sodiq Fajar
Referensi
Abdul Aziz bin Ahmad Al-Bukhari, Kasyfu Al-Asrรขr โan Ushul Fakhri Al-Islam Al–Bazdawi, Beirut; Dar Al-Kutub Al-โIlmiyyah, cet. 1., 1418 H, Juz III hlm. 374.
Ahmad bin Husain Al-Baihaqi, Ahkรขm Al-Qurโรขn lisy-Syรขfiโรฎ, Kairo: Maktabah Al-Khanji, cet. 2, 1414 H.
Ali bin Muhammad Al-Bazdawi, Ushul Al-Bazdawi: Kanzu Al-Wushul ila Maโrifati Al-Ushul, Beirut: Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah, cet. 2, 1437 H, hlm. 545.
Iyadh bin Musa Al-Yahshabi, Tartib Al-Madarik wa Taqrib Al-Masalik li-Maโrifati Aโlam Madzhab Malik, Maroko: Wizarah Al-Auqaf wa Asy-Syu-un Al-Islamiyyah, cet. 2, 1403 H.
Izzuddin bin Zughaibah Al-Jazairi, Al-Maqashid Al-โAmmah lisy-Syariโah Al-Islamiyyah, Amman: Dar An-Nafais, cet. 1, 1436 H.
Masโud Shabri, Bidayat Al-Qashid ila Ilmi Al-Maqashid, Kuwait: Dar Azh-Zhahiriyyah, cet. 1, 1440 H.
Muhammad bin Abu Bakr Ar-Razi, Mukhtar Ash-Shihah, Beirut: Maktabah Lubnan, cet. 1, 1989 M.
Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi, Siyar Aโlam An-Nubalaโ, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 2, 1402 H.
Muhammad bin Umar Ar-Razi, Tafsรฎr Mafรขtรฎh Al-Ghaib, Beirut: Darul Fikr, cet. 1, 1401 H.
Muhammad bin Yusuf Ash-Shalihi, โUqud Al-Juman fi Manaqib Al-Imam Al-Aโzham Abin Hanifah An-Nuโman, Madinah: Maktabah Al-Iman, cet. 1, 1394 H.
Muhammad Thahir bin โAsyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Beirut: Dar Ibni Hazm, cet. 1, 1443 H.
___________, At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunisia: Ad-Dar At-Tunisiyah, cet. 1, 1984 M.
___________, Maqashid Asy-Syariโah Al-Islamiyyah, Kairo: Dar As-Salam, cet. 6, 1435 H.
___________, Ushul An-Nizham Al-Ijtimaโi fi Al-Islam, Kairo: Dar As-Salam, cet. 4, 1437 H.
Nuโman Jughaim, Thuruq Al-Kasyfi โan Maqashid Asy-Syariโ, Amman: Dar An-Nafais, cet. 1, 1422 H
Tim Redaksi Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008 M.
Yusuf bin Abdul Barr Al-Maliki, Jamiโ Bayani Al-โIlmi wa Fadhlihi, Damam: Dar Ibni Al-Jauzi, cet. 1, 1414 H.
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?