Halaman masjid tua yang teduh, ilustrasi hiburan Rasulullah bersama keluarga dan sahabat

Hiburan Rasulullah: 3 Bentuk yang Bisa Kita Teladani

Terakhir diperbarui pada ·

Ada saat hati begitu ringan untuk beribadah, membaca Al-Qur’an, dan mengingat akhirat. Namun begitu kembali ke rumah, ke pekerjaan, dan ke urusan dunia, suasana hati itu sering menguap begitu saja. Sebagian orang lalu merasa bersalah setiap kali menikmati waktu luang, seolah-olah bersenang-senang itu sendiri sebuah dosa. Padahal, hiburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuktikan bahwa jeda dan kegembiraan punya tempat yang sah dalam kehidupan seorang muslim.

Hanzhalah dan Izin untuk Sesekali Rehat

Kegelisahan semacam itu pernah dirasakan sahabat Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu. Ia merasa dirinya munafik: ketika berada di hadapan Rasulullah, hatinya khusyuk dan seakan-akan melihat surga dan neraka. Tetapi begitu kembali kepada keluarga dan urusan dunia, keadaan itu tidak lagi sama.

Mendengar keluhan tersebut, Rasulullah bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ، سَاعَةً وَسَاعَةً

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian terus-menerus berada dalam keadaan seperti ketika kalian bersamaku dan dalam keadaan berzikir, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, ada waktunya begini dan ada waktunya begitu.” (HR. Muslim no. 2750)

Hadits ini bukan izin untuk lalai sesuka hati. Yang ditegaskan Rasulullah justru bahwa manusia memang berjalan naik-turun. Ada saatnya hati kuat beribadah, dan ada saatnya kita menjalani hidup bersama keluarga, bekerja, beristirahat, serta melakukan hal-hal yang membuat hati kembali segar.

Karena itu, menikmati waktu luang bukan sesuatu yang asing dalam Islam. Bahkan dalam keseharian beliau sendiri ada momen untuk bercanda, menyaksikan permainan, dan bersenang-senang bersama keluarga. Lalu, seperti apa bentuk hiburan Rasulullah, dan apa yang bisa kita ambil darinya?

Hiburan Rasulullah Pertama: Menemani Aisyah Menonton Permainan

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menyaksikan permainan orang-orang Habasyah bersama Rasulullah. Mereka bermain di masjid sambil menunjukkan keterampilan menggunakan tombak.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا عَلَى بَابِ حُجْرَتِي، وَالْحَبَشَةُ يَلْعَبُونَ فِي الْمَسْجِدِ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِي بِرِدَائِهِ، أَنْظُرُ إِلَى لَعِبِهِمْ

“Suatu hari aku melihat Rasulullah berada di pintu kamarku, sementara orang-orang Habasyah sedang bermain di masjid. Rasulullah menutupiku dengan selendangnya agar aku dapat melihat permainan mereka.” (HR. Muslim no. 892)

Permainan itu bukan sekadar mengisi waktu tanpa tujuan. Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa mereka sedang memperagakan keterampilan memakai tombak dan perisai, yang di dalamnya terkandung latihan ketangkasan dan persiapan fisik.

Namun yang tidak kalah menarik adalah sikap beliau kepada Aisyah. Beliau membiarkan istrinya menonton, menemaninya berdiri, bahkan menutupinya dengan selendang agar ia bisa melihat dengan nyaman. Imam An-Nawawi menyebut hal ini sebagai salah satu bentuk kelembutan dan kasih sayang Rasulullah kepada istrinya. (Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, jilid 6, hlm. 184)

Baca Juga: Materi Kultum Ramadhan 08: Bukti Kasih Sayang Rasulullah

Bentuk Sederhananya di Rumah Kita Hari Ini

Ternyata beliau tidak selalu menghadirkan suasana serius di rumah. Ada waktu untuk beribadah, ada waktu membicarakan urusan kehidupan, dan ada pula waktu menikmati sesuatu yang disukai keluarga.

Kalau dibawa ke hari ini, bentuknya tentu berbeda. Tidak harus pergi ke tempat mahal. Menemani anak bermain, menonton sesuatu bersama, berjalan-jalan sore, atau sekadar duduk menemani pasangan sudah menjadi bentuk perhatian yang nyata. Sebab yang dibutuhkan keluarga sering kali bukan biaya besar, melainkan kehadiran kita.

Hiburan Rasulullah Kedua: Bercanda tanpa Sedikit pun Dusta

Selain menemani keluarga, Rasulullah juga bercanda dengan para sahabat. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa para sahabat pernah bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا، قَالَ: إِنِّي لاَ أَقُولُ إِلاَّ حَقًّا

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau bergurau dengan kami?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali yang benar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1990; Imam At-Tirmidzi menilainya hasan sahih)

Gurauan beliau selalu berada dalam batas kebenaran. Beliau tidak pernah menjadikan kebohongan sebagai bahan untuk membuat orang tertawa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ، إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah dia berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh perkataan beliau, termasuk gurauannya, terjaga dari kebatilan. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar juga menjelaskan bahwa Nabi kadang bergurau dengan para sahabatnya, tetapi gurauan itu selalu benar dan tidak mengandung dusta. Artinya, bercanda dengan cara yang baik justru bagian dari akhlak mulia, selama tidak melanggar syariat. (Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, hlm. 326-327)

Baca Juga: Akhlak Nubuwah #5: Canda Nabi Tidak Mengandung Dusta

Kisah Nenek Tua yang Menangis karena Candaan Nabi

Salah satu kisah candaan beliau diriwayatkan dari al-Hasan rahimahullah. Seorang nenek tua datang menemui Nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga.” Beliau menjawab, “Wahai ibu si Fulan, sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek tua.” Nenek itu pun pergi sambil menangis.

Beliau lalu bersabda, “Kabarkanlah kepadanya bahwa ia tidak akan masuk surga dalam keadaan seperti nenek tua, sebab Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.’ (QS. Al-Waqi’ah: 36-37)” (HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail al-Muhammadiyah no. 240; dishahihkan al-Albani dalam Mukhtashar asy-Syamail dan Ash-Shahihah no. 2987)

Prinsip ini penting kita pegang. Bercanda itu boleh, tetapi tidak semua cara boleh ditempuh. Jangan sampai demi membuat orang tertawa kita berbohong, menghina, membuka aib, atau menyakiti perasaan orang lain. Boleh bercanda dan boleh tertawa, asal kebenaran dan perasaan orang lain tidak menjadi korban.

Hiburan Rasulullah Ketiga: Berlomba Lari Bersama Istri

Pada dua contoh sebelumnya beliau menemani dan menghibur orang lain. Kali ini beliau sendiri yang ikut bermain. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa ia pernah berlomba lari dengan Rasulullah ketika dalam perjalanan.

أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ قَالَتْ: فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَيَّ، فَلَمَّا حَمَلْتُ اللَّحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي فَقَالَ: هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ

“Suatu ketika aku bersama Nabi dalam sebuah perjalanan. Aku berlomba lari dengan beliau dan aku berhasil mengalahkannya. Kemudian ketika tubuhku sudah lebih berisi, kami kembali berlomba dan kali ini beliau mengalahkanku. Beliau berkata, ‘Ini sebagai balasan atas perlombaan yang dahulu.'” (HR. Abu Dawud no. 2578; dinilai sahih oleh al-Albani)

Kisah ini sederhana, tetapi memperlihatkan cara beliau membangun kedekatan dengan istrinya. Waktu bersama keluarga tidak selalu diisi pembicaraan berat. Bahkan beliau masih mengingat perlombaan mereka yang dahulu, lalu menyebutnya dengan santai ketika akhirnya menang.

Dari sini kita belajar bahwa kebersamaan tidak menuntut biaya besar atau perjalanan jauh. Berolahraga bersama, jalan-jalan, bermain dengan anak, atau melakukan aktivitas yang disukai pasangan sudah cukup. Keluarga bukan hanya tempat berbagi tanggung jawab; di dalamnya juga ada ruang untuk bercanda, bermain, dan menikmati kebersamaan.

Tiga Batas yang Menjaga Hiburan Tetap Bernilai

Dari tiga kisah di atas, ada pola yang konsisten. Beliau tidak pernah menolak kegembiraan, tetapi selalu menjaganya di dalam pagar syariat. Setidaknya ada tiga batas yang terlihat jelas.

Pertama, hiburan tidak boleh dibangun di atas kebohongan. Inilah yang beliau tegaskan sendiri: “Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali yang benar.”

Kedua, hiburan tidak boleh menyakiti orang lain. Candaan yang membuat satu orang tertawa dengan mengorbankan harga diri orang lain sudah keluar dari jalurnya.

Ketiga, hiburan tidak boleh menggeser kewajiban. Bermain dan bersenang-senang sah selama shalat tetap terjaga dan tanggung jawab tidak terbengkalai.

Ketiga batas ini terasa semakin relevan hari ini, ketika hiburan digital tersedia tanpa henti dan mudah sekali menyita waktu jauh melampaui niat awal kita.

Baca Juga: Cara Islam Mengatasi FOMO dan Perilaku Belanja Impulsif Gen Z

Meneladani Hiburan Rasulullah di Tengah Kesibukan Hari Ini

Tiga bentuk hiburan Rasulullah tadi menunjukkan bahwa kebahagiaan bisa lahir dari hal yang sederhana: menemani keluarga, membuat orang lain tersenyum, dan meluangkan waktu bersama orang terdekat. Tidak satu pun dari ketiganya menuntut biaya besar, dan tidak satu pun mengorbankan ketaatan.

Maka ketika hendak mencari hiburan, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah ini hanya menyenangkan sesaat, atau juga membawa kebaikan? Pertanyaan sederhana itu cukup untuk memisahkan jeda yang menyegarkan dari kelalaian yang melalaikan.

Mulailah dari yang paling dekat. Sisihkan satu jam pekan ini untuk melakukan sesuatu yang disukai keluarga, tanpa layar dan tanpa pekerjaan yang menyusul. Sebab meneladani hiburan Rasulullah pada akhirnya berarti percaya bahwa menikmati hidup dan menjaga ketaatan kepada Allah bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan bersama, selama kita tahu batasnya. (Zaki Abu Barbarosa/dakwah.id)

Penulis: Zaki Abu Barbarosa
Editor: Ahmad Robith

FAQ Hiburan Rasulullah

Apakah Nabi Muhammad pernah bercanda?

Pernah. Para sahabat sendiri bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya engkau bergurau dengan kami?” dan beliau menjawab bahwa dirinya tidak mengatakan kecuali yang benar (HR. At-Tirmidzi no. 1990). Jadi beliau memang bergurau, hanya saja gurauannya tidak pernah mengandung dusta.

Apa saja bentuk hiburan Rasulullah yang disebutkan dalam hadits?

Setidaknya ada tiga yang dibahas artikel ini: menemani Aisyah menyaksikan permainan orang Habasyah (HR. Muslim no. 892), bercanda dengan para sahabat (HR. At-Tirmidzi no. 1990), dan berlomba lari bersama Aisyah dalam perjalanan (HR. Abu Dawud no. 2578).

Bagaimana hukum mencari hiburan menurut Islam?

Pada dasarnya boleh selama tidak melanggar syariat. Hadits Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu, “wahai Hanzhalah, ada waktunya begini dan ada waktunya begitu” (HR. Muslim no. 2750), menunjukkan bahwa manusia memang butuh jeda dan tidak dituntut berada dalam ketegangan ibadah sepanjang waktu.

Apa batas bercanda yang dibolehkan?

Tiga batas yang terlihat dari contoh Nabi: tidak berbohong, tidak menyakiti atau merendahkan orang lain, dan tidak sampai menggeser kewajiban seperti shalat.

Apakah bercanda dengan kebohongan ringan diperbolehkan?

Tidak. Justru itu yang beliau hindari secara tegas. Membuat orang tertawa dengan cerita yang tidak benar bertentangan langsung dengan sabda beliau, “Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali yang benar.”

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading