Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Bersiwak Setiap Hendak Shalat — Hadits Puasa #14

343

Bersiwak Setiap Hendak Shalat — Hadits Puasa #14

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِي: عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

Jika saja tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak shalat.” Dalam riwayat al-Bukhari: “Setiap kali wudhu.” (HR. Al-Bukhari No. 847; HR. Muslim No. 252)

Baca juga: Makan atau Minum Karena Lupa Saat Puasa — Hadits Puasa #9

Hadits di atas menjelaskan anjuran bersiwak setiap hendak shalat. Baik setiap hendak melaksanakan shalat wajib lima waktu atau setiap hendak melaksanakan shalat sunnah.

Anjuran bersiwak setiap hendak shalat ini berlaku bagi orang yang puasa atau pun tidak puasa.

Anjuran bersiwak setiap hendak shalat ini juga tidak membedakan pelaksanaannya baik di awal waktu siang atau pun di akhir waktu siang.

Tujuannya satu, agar seseorang ketika hendak shalat benar-benar berada dalam keadaan yang terbaik dan tidak membawa aroma anggota tubuh yang tidak sedap.

عَنْ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan ridha Allah.” (HR. An-Nasa’i No. 5; HR. Ahmad No. 62)

Baca juga: Keutamaan Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan — Hadits Puasa #6

 

Bersiwak Setiap Hendak Shalat atau Wudhu bagi Orang yang Puasa

Hadits ini berlaku umum bagi orang yang puasa atau pun tidak puasa. Sehingga, wajib mengamalkan keumumannya hingga datang dalil lain yang mengkhususkannya. Dan tidak dijumpai adanya dalil lain yang mengkhususkan keumuman kandungan hukum dalam hadits ini.

Ibnu al-‘Arabi al-Maliki menegaskan,

“Guru kami berpendapat, tidak ada hadits shahih tentang hukum bersiwak bagi orang yang puasa baik bentuknya larangan atau pun pembenaran, kecuali hanya pengkhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam anjuran bersiwak ketika hendak shalat atau ketika wudhu secara umum tanpa membedakan pelakunya baik dalam keadaan puasa atau pun tidak. Begitu pula anjuran bersiwak pada hari Jumat, tidak membedakan pelakunya dalam keadaan puasa atau pun tidak.” (‘Aridhah al-Ahwadzi bi Syarh Shahih at-Tirmizi, Ibnu al-‘Arabi al-Maliki, 3/256)

Pendapat yang menyatakan anjuran bersiwak ketika hendak shalat atau hendak wudhu juga berlaku bagi orang yang puasa adalah pendapat yang rajih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَلَمْ يَقُمْ عَلَى كَرَاهِيَتِهِ دَلِيلٌ شَرْعِيٌّ يَصْلُحُ أَنْ يَخُصَّ عمومات نُصُوصِ السِّوَاكِ

“Tidak ada satu pun dalil syar’i yang dapat dijadikan dalil makruhnya siwak yang mengkhususkan dalil umum (takhshish al-‘Am) tentang siwak.” (Majmu’ al-Fatawa, Syaikh Ibnu Taimyah, 25/266)

Baca juga: Menghidupkan Malam Bulan Ramadhan — Hadits Puasa #5

Ulama fikih yang berpendapat makruhnya bersiwak bagi orang yang puasa berdalil dengan hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,

إِذَا صُمْتُمْ فَاسْتَاكُوا بِالْغَدَاةِ وَلَا تَسْتَاكُوا بِالْعَشِيِّ فَإِنَّ الصَّائِمَ إِذَا يَبِسَتْ شَفَتَاهُ كَانَ لَهُ نُورٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Jika engkau sedang puasa, bersiwaklah di pagi hari dan jangan bersiwak di siang hari. Karena orang yang puasa itu jika kering dua bibirnya akan mendapat cahaya di hari kiamat.” (HR. Al-Bazar No. 2137; HR. Ad-Daruquthni, 2/204; HR. Al-Baihaqi, 4/274, diriwayatkan dari dua jalur; jalur pertama mauquf, jalur kedua marfu’. Di dalamnya ada perawi yang tidak kuat hafalannya)

Maksud dari al-‘Asyiyyi adalah waktu akhir siang dimulai sejak zawal (posisi bayangan matahari condong ke barat) hingga waktu tenggelamnya matahari.

Hadits ini statusnya adalah dha’if sehingga tidak dapat dijadikan dalil pentakhshish (mengkhususkan dalil umum yang derajatnya shahih).

Selain itu, pendapat ini juga berdalil dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ المِسْكِ

Dan sungguh, bau mulut orang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi.” (HR. Al-Bukhari No. 1894; HR. Muslim No. 1151, 164. Lafal ini dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sedangkan imam Muslim (No. 165) meriwayatkannya dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu)

Baca juga: Keutamaan Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan — Hadits Puasa #6

Menurut kelompok yang memegang pendapat ini, al-Khuluf (bau mulut) adalah aroma kurang sedap yang keluar dari mulut ketika lambung dalam keadaan kosong. Dan ini mayoritas terjadi di akhir siang. Jika itu dicintai Allah ‘azza wajalla—sebagaimana disebutkan dalam hadits—tentu ini akan mendapat pujian dalam syariat, sebab bau mulut tersebut muncul ketika melaksanakan amal ketaatan. Sehingga, jangan dihilangkan dengan siwak.

Argumentasi seperti di atas tentu sangatlah lemah, dan bukan sisi pendalilan yang tepat. Alasannya,

Pertama, jika al-Khuluf (bau mulut) itu muncul karena kosongnya lambung setelah proses pencernaan selesai, tentu bau tersebut tidak bisa dihilangkan dengan siwak.

Kedua, kondisi orang yang puasa tersebut dicintai Allah ‘azza wajalla karena pengaruh dari keridhaan Allah ‘azza wajalla karena ia telah meninggalkan syahwat (makan dan minum), kecintaan Allah ‘azza wajalla tersebut bukan karena membiarkan mulut dan gigi dalam keadaan kotor.

Ketiga, realitanya tidak semua orang yang puasa aroma mulutnya tidak sedap meski tidak bersiwak. Dan ada pula yang bau mulutnya muncul sebelum tiba akhir siang.

Baca juga: Sunnah tapi Terabaikan #2: Berkumur dan Istinsyaq Tiga Kali dengan Satu Hirupan Air

Menarik untuk dijadikan perenungan kalimat yang disampaikan oleh Abdurrahman bin Ghanmi. Ia berkata,

سَأَلْت مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ أَأَتَسَوَّكُ وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ نَعَمْ قُلْت أَيَّ النَّهَارِ قَالَ غَدْوَةٌ أَوْ عَشِيَّةٌ قُلْت إنَّ النَّاسَ يَكْرَهُونَهُ عَشِيَّةً وَيَقُولُونَ إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ “لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ” قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ لَقَدْ أَمَرَهُمْ بِالسِّوَاكِ وَمَا كَانَ بِاَلَّذِي يَأْمُرُهُمْ أَنْ يُيَبِّسُوا بِأَفْوَاهِهِمْ عَمْدًا مَا فِي ذَلِكَ مِنْ الْخَيْرِ شَيْءٌ بَلْ فِيهِ شَرٌّ

Aku pernah bertanya kepada Muadz bin Jabal, “Apakah aku boleh bersiwak dalam keadaan puasa?”

Ia menjawab, “Boleh.”

Aku bertanya, “Kapan saja?”

Ia menjawab, “Di awal siang dan di akhir siang.”

Aku berkata, “Orang-orang tidak suka bersiwak di akhir siang. Mereka mengatakan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Dan sungguh, bau mulut orang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi.”

Ia menanggapi, “Subhanallah.. Sungguh beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah memerintahkan mereka untuk bersiwak, lantas ada apa dengan orang-orang yang memerintahkan untuk mengeringkan bibir mereka dengan sengaja? Tidak ada kebaikannya sama sekali dalam perintah itu, bahkan itu justru keburukan.” (At-Talkhish al-Khabir, Ibnu Hajar al-Asqalani, 2/443. Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang jayyid; bagus)

Wallahu a’lam [Sodiq Fajar/dakwah.id]

 

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا آَخِرُهَا، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِمُهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمُ نَلْقَاكَ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا، وَاغْفِرْ اَللَّهُمَّ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ

Ya Allah, jadikanlah kebaikan di akhir hayat kami, jadikanlah kebaikan di akhir amal perbuatan kami, jadikanlah kebaikan pada hari-hari kami, hari ketika kami berjumpa dengan-Mu, wafatkan kami dalam keadaan Engkau meridhai kami, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.

 

Diadaptasi dari kitab: Mukhtashar Ahadits ash-Shiyam
Penulis: Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan
Penerjemah: Sodiq Fajar