Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Baca Al-Quran Tanpa Tahu Artinya, Apakah Tetap Dapat Pahala?

8,578

Menumbuhkan semangat untuk istiqamah membaca al-Quran tiap hari itu tidak mudah. Bagi Muslim yang sudah terbiasa pun terkadang dihembusi keraguan oleh setan. “Ngapain baca al-Quran banyak-banyak, udah aja, lagian kamu nggak tau artinya juga, buat apa baca al-Quran tanpa tahu artinya..” Kira-kira seperti itulah gaya setan dalam memprovokasi seorang muslim agar menghentikan aktivitas ibadahnya. Seribu satu cara digunakan setan dalam melemahkan keimanan seorang muslim.

Jika dalam diri anda—termasuk saya—berhembus rayuan semacam itu, jangan khawatir. Tetaplah anda dalam posisi semangat baca al-Quran di sela-sela rutinitas harian. Sebab, seorang muslim yang baca al-Quran tanpa tahu artinya InsyaAllah akan tetap mendapatkan pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

(الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Baca Juga: Doa Setelah Membaca Al-Quran Apakah Ada Tuntunannya Dari Nabi?

Juga, banyak sekali hadits yang menunjukkan keutamaan membaca al-Quran. Dalam hadits-hadits tersebut tidak ada isyarat jika baca al-Quran tanpa tahu artinya itu berdosa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan. Dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf. (HR. At-Tirmidzi no. 2835)

Dalam riwayat lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ

“Siapa yang membaca seratus ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad. Hadits shahih, Shahih Al Jami’, no. 6468).

Dalam hadits Abi Umamah al-Bahili radhiyallahu anhu disebutkan,

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Abu Umamah al-Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bacalah al-Quran karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.’” (HR. Muslim).

Dari Abu Musa al-Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ

“Permisalan orang yang membaca al-Quran dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca al-Quran dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca al-Quran adalah bagaikan Raihanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Orang munafik yang tidak membaca al-Quran bagaikan Hanzhalah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Al-Bukhari no. 5059)

Dalam hadits lain, dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Quran kelak, ‘Bacalah dan naiklah serta tartilkanlah sebagaimana engkau mentartilkannya ketika di dunia. Sebab kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914. Hadits shahih, Syaikh Al-Albani, as-Silsilah ash-Shahihah no. 2240)

Masih ada banyak hadits yang menunjukkan keutamaan membaca al-Quran, baik hadits yang derajatnya shahih ataupun dha’if. Hadits-hadits tersebut secara zhahir tidak ada yang mengisyaratkan tidak boleh atau berdosanya baca al-Quran tanpa tahu artinya.

Justru, objek yang dituju oleh hadits-hadits tersebut adalah orang-orang yang mentadabburi ayat-ayat al-Quran, orang yang hafal al-Quran, termasuk juga orang yang hanya baca al-Quran tanpa tahu artinya.

Sedemikian agungnya al-Quran, sampai orang yang hanya baca al-Quran tanpa tahu artinya pun juga mendapat pahala dan keutamaan.

Baca Juga: Model Gerakan Shalat Yang Harus Diperhatikan

Baca Al-Quran Tanpa Tahu Artinya Hanya Mendapat Pahala Membaca

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya apakah boleh baca al-Quran tanpa tahu artinya. Beliau menjawab:

نَعَمْ يَجُوْزُ أَنْ يَقْرَأَ الْمُؤْمِنُ وَالْمُؤْمِنَةُ الْقُرْآنَ وَإِنْ لَمْ يَفْهَمِ الْمَعْنَى

Ya, seorang mukmin dan mukminah boleh baca al-Quran tanpa tahu artinya.” (www.binbaz.org)

Syaikh Ibnu Utsaimin juga pernah mendapat pertanyaan serupa, apakah seseorang akan tetap mendapat pahala ketika baca al-Quran tanpa tahu artinya. Beliau menjawab,

فَالْإِنْسَانُ مَأْجُوْرٌ عَلَى قِرَاءَتِهِ سَوَاءٌ فَهِمَ مَعْنَاهُ أَمْ لَمْ يَفْهَمْ

“Seseorang akan tetap mendapat pahala atas bacaan al-Quraannya baik tahu atau tidak tentang artinya.” (www.ibnothaimeen.com)

Namun demikian, karena kita diciptakan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai manusia yang terlahir di negeri Indonesia yang bahasanya bukan bahasa arab, menjadi wajib bagi kita untuk mempelajari bahasa arab agar lebih mudah dalam mengetahui arti dan makna yang terkandung di dalam al-Quran. Tanpa menguasai bahasa arab, mustahil kita bisa memahami dengan baik makna ayat dalam al-Quran.

Baca Juga: Permainan Menyerupai Judi, Bagaimana Hukumnya?

Jika kita menginginkan manfaat yang lebih, tidak sekedar mendapat pahala baca al-Quran tanpa tahu artinya, maka kita harus berusaha untuk memahami makna dan artinya.

Jika sudah mulai terbiasa istiqamah membaca al-Quran, perlu untuk meningkatkan level ibadahnya dari hanya sekedar membaca, menuju level membaca plus berusaha memahami maknanya. Minimal terjemahannya. Dari sekedar mendapat pahala membaca menuju pahala mentadabburi, kemudian pahala mengamalkan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Dalam ayat lain Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak mentadaburi Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Sampai kapanpun, membaca al-Quran plus mentadaburinya lalu mengimplementasikannya dalam amal nyata tentu lebih baik dan lebih sempurna pahalanya dari hanya sekedar baca al-Quran tanpa tahu artinya. Pilih mana? [M. Shodiq/dakwah.id]

 

Tema Terkait: Tilawah Al-Quran, Ibadah, Wawasan