Apa yang harus dilakukan ketika tertimpa musibah gempa dakwah.id

Apa yang Harus Dilakukan ketika Tertimpa Bencana?

Kembali hati ini berduka menyaksikan saudara-saudara seiman dan setanah air tertimpa bencana. Tidak bisa kaki ini ikut melangkah ke sana. Harta pun tidak seberapa. Hanya bisa diri ini menggoreskan sebaris kata, yang tak ubahnya sebatas asa yang melipur lara sesaat.

Bencana yang melanda di penghujung tahun ini datang bersahutan, mulai dari erupsi Gunung Semeru, banjir yang menerjang Lombok Barat, Manado, Makassar, dan gempa bumi yang mengguncang NTT.

Per tanggal 8 Desember, sebanyak 39 korban jiwa tercatat imbas dari erupsi Gunung Semeru dan lima orang meninggal akibat banjir yang melanda Lombok, NTB.

Mengakibatkan sebanyak 4.809 penduduk diungsikan akibat banjir Makassar dan 6.022 jiwa mengungsi akibat erupsi Gunung Semeru.

Sejatinya, bagi kita orang yang beriman kepada Allah, bencana yang menimpa tak ubahnya sebentuk teguran dari-Nya, baik musibah tersebut menimpa diri kita atau orang lain.

Kita orang yang beriman kepada Allah akan melihat hikmah-Nya di balik semua peristiwa yang ada. Sebaliknya, orang yang tidak mengimani Allah melihat semua bencana yang terjadi ini hanya sebatas data dan angka.

Sejatinya, setiap musibah yang Allah timpakan kepada kita merupakan rahmat dan kasih sayang-Nya. Namun sebaliknya, musibah yang menimpa orang kafir adalah hukuman yang Ia timpakan sebagai azab dan murka-Nya.

Bukankah sepucuk duri yang menancap di kaki kita menjadi kafarat dosa. Bahkan, bernilai pahala karena orang yang beriman kepada Allah tidak bakal berkeluh atas setiap peristiwa yang telah menjadi ketetapan kita.

Jikalau hanya sepucuk duri yang menusuk saja menjadi sebab Allah memberikan ampunan, maka pahala yang kita terima atas bencana besar semisal erupsi ini jauh lebih layak disebut sebagai kafarat dosa.

Mengimani Bahwa Semua Bencana Ini Merupakan Bagian dari Qadha’ dan Qadar Allah

Allah shubhanahu wataala berfirman,

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghābun: 11)

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Katakanlah (Muhammad),‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” (QS. At-Tawbah: 51)

Keimanan terhadap Qadha’ dan Qadar inilah yang membedakan antara orang yang beriman kepada Allah dengan tidak beriman. Seberat apa pun bencana melanda, semua itu terjadi atas kehendak Allah.

Dan Allah shubhanahu wataala akan memberikan petunjuk ke dalam hati kita jika kita mengimani dengan sebenar-benarnya bahwa musibah ini datang dari Allah.

Sehingga kita akan selalu optimis dalam menyikapi musibah ini. Optimis bahwa Allah pasti menolong kita hingga pada akhirnya kita bertawakal sepenuhnya kepada-Nya.

Jangan sampai kita seperti orang yang tidak memiliki Allah. Laksana orang-orang yang tidak mengenal-Nya yang mana ketika tertimpa bencana mereka berkata, “Kalau aku tidak berada di tempat kejadian, pasti aku tidak ikut tertimpa musibah.”

Amnesia, bahwa semua ini seolah bukan atas kehendak-Nya.

Menyikapi Musibah dengan Bertawakal Kepada-Nya

Allah shubhanahu wataala berfirman,

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalāq: 3)

Ibnu Rajab rahimahullah memaknai kata tawakal dengan,

Mempercayai dari lubuk hati dengan sebenar-benarnya bahwa Allah adalah Zat yang mendatangkan seluruh maslahat dan Zat yang menghilangkan seluruh mudarat, baik dalam urusan agama dan akhirat.” (Jami al-Ulum wa al-Hikam, Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-Hanbali, 1/436)

Terkait dahsyatnya tawakal, Ibnu al-Qayyim rahimahullah menyebutkan,

Tawakal merupakan penyebab utama (Allah) mendatangkan segala apa yang ia pinta, dan (Allah) menjauhkannya dari segala apa yang ia benci.” (Madariju as-Salikin, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 2/120)

Saudaraku, setelah kita mengimani bahwa musibah ini terjadi atas kehendak Allah, kita menyikapi musibah ini dengan bertawakal kepada-Nya.

Tawakal adalah buah manis dari pohon keimanan kepada Qadha’ dan Qadar. Setelah kita berupaya keras dalam menanggulangi musibah tersebut kita serahkan semua hasilnya kepada Zat yang telah mengirimkan musibah.

Semoga dengan kita bertawakal kepada-Nya Allah segera mendatangkan ganti dari apa yang Ia ambil. Baik tempat tinggal, pekerjaan, dan kesembuhan. Dan ganti terbaik dari orang terkasih yang telah Ia ambil akibat musibah yang terjadi.

Kembali kepada Allah Merendahkan Diri kepada Allah

Allah shubhanahu wataala berfirman,

وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّبِيٍّ اِلَّآ اَخَذْنَآ اَهْلَهَا بِالْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُوْنَ

Dan Kami tidak mengutus seorang nabi pun kepada sesuatu negeri,(lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka (tunduk dengan) merendahkan diri.” (QS. Al-A’rāf: 94)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, kata kesempitan bermakna berbagai macam penyakit kronis yang menjangkiti tubuh mereka, adapun kata penderitaan bermakna apa yang menimpa mereka berupa kemelaratan yang sangat dan yang semisalnya.

Kalimat agar mereka merendahkan diri bermakna berdoa, khusyuk, dan memohon kepada Allah taala agar mengakhiri musibah yang mereka alami. (Tafsir al-Quran al-Adzim, Ismail bin Umar bin Katsir, 3/449)

Sering sekali seseorang yang setelah mendapatkan ujian, justru semakin dekat kepada Allah melebihi kedekatannya kepada-Nya sebelum mendapatkan ujian tersebut.

Kenikmatan yang kita punya barulah benar-benar terasa setelah hilang dari kita. Karena itu, orang yang terkena musibah akan merayu Allah agar mengembalikan segala fasilitas kenikmatan tersebut seperti sedia kala.

Allah azza wajalla memiliki banyak cara agar kita kembali dan merendahkan diri kepada-Nya. Salah satunya dengan mengirimkan musibah. Sehingga para murid alumni dari “sekolah musibah” adalah mereka yang kembali dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ujian Merupakan Sunatullah

Allah shubhanahu wataala berfirman,

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ

Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan,“Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?”(QS. Al-’Ankabūt: 2)

Terkait ayat di atas, ada perkataan menarik dari Ibnu Taimiyah rahimahullah–sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Muflih rahimahullah,

“Termasuk bukti kesempurnaan nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, Ia memaksanya dengan kesusahan dan kepayahan agar mereka mau mengesakan-Nya, ikhlas berdoa kepada-Nya, hanya mengharapkan Allah bukan selain-Nya, dan agar batinnya hanya tergantung kepada-Nya.

Alhasil, seorang hamba yang mendapatkan ujian tersebut bertawakal sepenuhnya kepada-Nya, mau kembali kepada Allah, dapat merasakan manisnya iman, merasakan buah dari kemanisan iman, dan menjauhi syirik–yang sebelumnya seluruh kenikmatan tersebut tidak ia rasakan sebelum mendapatkan kesusahan dan kepayahan.

Kenikmatan-kenikmatan tersebut sejatinya lebih indah daripada diangkatnya penyakit, rasa takut, dan kemandulannya. Lebih baik daripada mendapatkan suatu kemudahan maupun dihilangkan kesulitan dalam hidupnya.” (Al-Adabu asy-Syariyyah, Muhammad bin Muflih al-Maqdisi, 1/165)

Sekali lagi, janganlah kita menganggap musibah sebagai azab, tetapi ujian sebagaimana orang-orang saleh terdahulu juga diuji.

Menjauhi Dosa dan Maksiat

Allah shubhanahu wataala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41)

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata terkait ayat di atas,

Beberapa dampak buruk dari dosa dan maksiat adalah terjadinya bencana yang merusak air, udara, tanaman, buah-buahan, dan rumah-rumah.” (Al-Jawab al-Kafi liman Sa-ala an ad-Dawa-i asy-Syafi, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 157)

Tidaklah bencana terjadi, melainkan akibat dari ulah tangan kita sendiri. Allah mengirimkan berbagai bencana yang bertubi-tubi sebagai pengingat kepada kita akan dosa yang telah menumpuk.

Materi Khutbah Jumat: Yakin dan Tawakal di Kala Sempit dan Lapang

Sehingga kita yang selamat dari bencana tersebut tidak mengulangi kembali dosa yang sebelumnya menjadi rutinitas kita.

Sebaliknya, mereka yang tidak beriman mengukur penyebab terjadinya bencana sebatas dari gejala alam biasa. Semisal, adanya perubahan pada alam baik secara perlahan maupun secara ekstrem.

Sehingga peristiwa sedahsyat itu tidak akan menjadikan mereka, orang yang kafir kepada Allah, berbenah diri dan berhenti dari berbuat dosa.

Di dalam ayat lain, Allah shubhanahu wataala berfirman,

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syūrā: 30)

Bertobat dan Beristigfar

Allah shubhanahu wataala berfirman,

وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfāl: 33)

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas mengutip perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata,

Dahulu sahabat memiliki dua penangkal dari datangnya azab Allah; pertama Nabi shallallahu alaihi wassallam, kedua istigfar. Nabi telah wafat, tersisa istigfar.” (Tafsir al-Quran al-Adzim, Ismail bin Umar bin Katsir, 4/48)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu mengatakan,

Bencana tidak akan melanda, kecuali dengan berbuat dosa. Dan tidak akan diangkat, kecuali dengan bertobat.” (Al-Jawab al-Kafi liman Sa-ala an ad-Dawa-i asy-Syafi, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 179)

Setelah kita tahu, bencana yang ada adalah akibat perbuatan dosa dan maksiat kita maka tidak ada amalan yang lebih utama selain kita bertobat dan memperbanyak beristigfar kepada-Nya.

Bersabar

Allah shubhanahu wataala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”(sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)

Bersabar merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah. Musibah yang menimpa akan segera berakhir, sedangkan pahala tak terbatas telah Allah shubhanahu wataala sediakan kepada hamba-Nya yang bersabar,

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Sejatinya, buah dari kesabaran ini tumbuh dari pohon keimanan kepada Allah. Keimanan inilah yang menjadikan kita bersabar ketika menyikapi musibah sedangkan yang tidak memilikinya (orang kafir) suka berkeluh kesah, lemah.

Ciri orang bersabar dalam menyikapi musibah, terucap dari lisannya,

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”(sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Sehingga, tersenyum indah jiwa raganya tersebab kesudahan ayat,

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Tidak Berkeluh Kesah

Allah shubhanahu wataala berfirman,

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ

Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat.” (QS. Al-Ma‘arij: 19–22)

Beberapa ayat yang terkandung di dalam surat al-Ma‘arij di atas menjelaskan, suka mengeluh bukanlah sifat seorang mukmin yang menjaga salat. Tersebab, seorang mukmin yang menjaga salatnya tidak akan mengeluhkah musibah yang telah menjadi ketetapannya.

Materi Khutbah Jumat: Tazkirah di Balik Musibah Gempa

Marilah kita berintrospeksi diri. Yakin, bila musibah yang menimpa sejatinya akibat dari perbuatan buruk yang telah kita perbuat. Dengannya kita tidak akan mengkambing-hitamkan orang lain.

Jangan pula kita berkeluh kesah atas dampak buruk dari musibah yang terjadi, baik sakit, kehilangan harta benda atau bahkan kehilangan sanak keluarga.

Kita mengimani bahwa apa yang ditakdirkan untuk kita pasti akan kita miliki. Dan apa yang tidak ditakdirkan menjadi milik kita, pasti tidak pernah kita miliki.

Allah telah menetapkan suratan takdir kita jauh sebelum musibah ini terjadi. Tidak ada yang menjadi kewajiban kita selain menerima dan tidak berkeluh kesah.

Optimis dan Berbaik Sangka Kepada Allah

Allah shubhanahu wataala berfirman di dalam hadits qudsi,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ

Aku akan memperlakukan hamba-Ku sesuai dengan sangkaannya kepada-Ku. Aku senantiasa menyertainya, selama ia mengingat-Ku.” (HR. Al-Bukhari No. 6970; Muslim No. 2675)

Allah shubhanahu wataala berfirman,

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirāh: 5)

Jika musibah menyapa, ingatlah begitu banyaknya kebaikan dan kenikmatan yang Allah telah berikan kepada kita selama ini. Dengannya kita akan senantiasa dapat bersyukur di dalam kondisi apa pun.

Jangan sampai musibah ini menjadikan kita berburuk sangka kepada Allah dan berpikir negatif. Allah memerintahkan kita agar selalu optimis dan berbaik sangka kepada-Nya.

Alhasil, Allah akan membersamai kita dalam menghadapi cobaan ini sebagaimana dahulu Ia menolong nabi Ayub dalam melewati setiap ujian karena selalu optimis dan berbaik sangka serta mengingat-Nya.

Mengungsi Ke Daerah yang Aman

Pemerintah telah menetapkan beberapa protokol ketika terjadi bencana. Yang di antaranya adalah mengungsi bagi warga yang berada di sekitar wilayah bencana tersebut.

Memperbanyak Bertasbih

Imam asy-Syafii rahimahullah berkata,

Aku tidak mendapati amalan yang lebih banyak mendatangkan manfaat ketika terjadi bencana, selain memperbanyak bertasbih.” (Hilyatu al-Auliya wa Thabaqatu al-Asfiya’, Ahmad bin Abdullah al-Asbahani, 9/136)

Walaupun kita sedang tertimpa musibah, kita dalam keadaan sempit, janganlah lisan kita ini kering dari bertasbih kepada Allah. Yaitu mengucapkan, “Subhanallah,” (Mahasuci Allah).

Selain memperbanyak bertasbih, di antara perkataan yang diucapkan ketika terjadi bencana adalah mengucapkan tahmid dan memuji-Nya.

Diriwayatkan, Umar bin Khattab radhiyallah anhu ketika terjadi gempa bumi beliau bertahmid dan memuji Allah. (At-Tamhid lima Fi al-Muwaththa min al-Maani wa al-Asanid, Yusuf bin Abdullah bin Abdilbarr, 3/301)

Meminta Perlindungan Allah dengan Doa

Allah shubhanahu wataala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ

Dan Rabb-mu berfirman,‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min: 60)

Ibunda Aisyah radhiyallahu anhuma meriwayatkan, Nabi shallallahu alaihi wassallam bersabda,

Sikap kehati-hatian tidak dapat menangkal takdir, doa bermanfaat atas apa yang terjadi dan yang belum terjadi, musibah pasti turun dan doa akan menghadapinya. Keduanya (doa dan musibah) akan terus bertarung hingga hari kiamat.” (HR. Al-Hakim No. 1856; al-Hakim berkata, sanadnya sahih, meski al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Al-Mustadrak ala as-Sahihain,2/162)

Jangan sampai musibah yang menyapa melupakan kita dari melangitkan doa kepada Rabb pemilik musibah. Panjatkan doa, rayulah Dia, agar Allah mengakhiri musibah yang kita alami, mencatat kesabaran kita sebagai pemberat timbangan, dan mengganti apa yang hilang dari kita dengan yang lebih baik.

Doa Meminta Perlindungan dari Musibah

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda,

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

Pintalah perlindungan Allah dari musibah yang memayahkan, kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk, dan cacian musuh.” (HR. Al-Bukhari No. 6242)

Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan,

Musibah yang memayahkan adalah apa yang menimpa seseorang berupa kesulitan yang amat, yang terlalu berat untuk ia pikul, dan ia tidak sanggup menolaknya.” (Fathu al-Bari Syarhu Shahih al-Bukhari,Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, 11/139)

Doa di atas sering sekali Nabi panjatkan dan sejatinya beliau mengajarkan doa tersebut kepada kita.

Sudah selayaknya kita mencontoh beliau dengan turut melantunkan doa,

A-ūżu billāhi min jahdil balā-i wa darakisy syaqā-i wa sū-il qaā-i wa syamātatil a‘dā-i

Itulah segores pena beberapa tuntunan Islami dalam menyikapi musibah yang datang sehingga sikap yang tepat ini dapat meneguhkan kita.

Semoga tulisan ringan ini melipurkan lara dan memberikan kekuatan kepada kita orang yang beriman kepada Allah ketika menghadapi musibah.

Terakhir, mari kita mendoakan saudara-saudara kita yang sedang mendapatkan musibah agar mendapatkan ketabahan. Aamiin. (Ahmad Robith/dakwah.id)

Baca juga artikel Refleksi atau artikel menarik lainnya karya Ahmad Robith.

Penulis: Ahmad Robith
Editor: Sodiq Fajar

Topik Terkait

2 Tanggapan

alhamdulillah bagus tadz,jazakumullooh khoiron katsiiroo tadz,mohon izin untuk materi kutbah nggih

Alhamdulillah,.. Silakan download. Gratis. Sampaikan informasi ini kepada yang lain, ya.. barakallah fikum 😀

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.