Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Shalat Idul Fitri dengan Sejuta Bahagia — Hadits Puasa #29

Ilustrasi: Flaticon
847

Shalat Idul Fitri dengan Sejuta Bahagia — Hadits Puasa #29

 

عَنِ الزُّهْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ، فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى، وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلَاةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلَاةَ، قَطَعَ التَّكْبِيرَ

Dari az-Zuhri, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika keluar di hari Idul Fitri beliau bertakbir sampai tiba di tempat shalat Idul Fitri, bahkan sampai selesai shalat Idul Fitri. Setelah shalat selesai, beliau menghentikan takbir.” (HR. Ibnu Abi Syaibah No. 5621 dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 1/487)

Baca juga: Keutamaan Malam Lailatul Qadar — Hadits Puasa #22

Hadits di atas adalah hadits mursal, namun sanadnya shahih. Hadits tersebut memiliki beberapa syawahid yang menguatkan status haditsnya. Syawahid hadits ini dapat di jumpai dalam kitab as-Silsilah ash-Shahihah (No. 171) dan Irwaul Ghalil (3/122).

 

Hadits di atas mengisyaratkan adanya syariat bertakbir menuju tempat shalat Id dan bertakbir selama berada di tempat shalat Id. Takbir yang dilantunkan dengan mengangkat suara, bukan takbir dalam hati.

Allah ‘azza wajalla telah mensyariatkan kepada hamba-Nya untuk bertakbir ketika telah sempurna jumlah hari bulan Ramadhan. Dimulai sejak tenggelamnya matahari malam Idul Fitri hingga sampai di tempat shalat Idul Fitri.

Baca juga: Rukhsah Tidak Puasa Karena Safar — Hadits Puasa #18

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Lafal takbir yang dibaca seperti ini,

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Allah ‘azza wajalla telah mensyariatkan shalat Idul Fitri kepada hamba-Nya. Shalat Idul Fitri hukumnya sunnah yang hendaknya tidak ditinggalkan oleh setiap muslim. Bahkan, sebagian ulama ada yang mewajibkan shalat Idul Fitri.

Baca juga: Bersegera untuk Buka Puasa — Hadits Puasa #11

Dalilnya hadits Ummu ‘Athiyah,

أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ

Dari Ummu ‘Athiyah ia berkata,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami agar mengajak serta keluar para gadis dan wanita-wanita yang dipingit pada dua hari raya, dan beliau memerintahkan para wanita yang sedang haidl menjauh dari mushalla (tempat shalat) kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhari No. 980; HR. Muslim No. 890)

Perintah untuk keluar menuju tempat shalat Idul Fitri atau Idul Adha dalam hadits di atas mengandung makna perintah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri atau Idul Adha, bagi mereka yang tidak memiliki uzur syar’i.

Jika perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits itu ditujukan kepada kaum perempuan, maka tentu lebih utama lagi perintah itu dilaksanakan oleh kaum laki-laki.

Baca juga: Mencari Lailatul Qadar — Hadits Puasa #23

 

Keluar Menuju Tempat Shalat Idul Fitri

Hendaknya setiap muslim keluar menuju tempat shalat Idul Fitri dengan penampilan yang terbaik, berhias dengan cara dan bahan-bahan rias yang mubah. Termasuk mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki sebagai bentuk berteladan terhadap perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebaliknya, setiap muslim dilarang berhias dengan hiasan yang terlarang, seperti memotong jenggot, menjulurkan celana di bawah mata kaki, dan semisalnya.

Baca juga: Wajib Mengamalkan Al-Quran — Hadits Puasa #7

Selain itu, dianjurkan pula untuk berangkat menuju tempat shalat Idul Fitri lebih awal, agar tidak ketinggalan shalat bersama imam dan mendapat pahala keutamaan menunggu shalat.

Disunahkan menggunakan jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat shalat Idul Fitri.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,

Ketika datang hari Id, biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusuri jalan yang berbeda.” (HR. Al-Bukhari No. 986)

Disunahkan pula untuk memakan kurma dalam jumlah ganjil, tiga, lima, atau lebih, berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. وَفِيْ رِوَايَةٍ: وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak makan di hari Idul Fitri sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan,

Beliau memakannya dalam jumlah ganjil.” (HR. Al-Bukhari No. 953)

Baca juga: Mandi Janabah Setelah Terbit Fajar — Hadits Puasa #16

 

Perintah Mendatangi Tempat Shalat Idul Fitri bagi Perempuan

Hadits Ummu ‘Athiyah di atas juga mengisyaratkan adanya syariat mendatangi tempat shalat Idul Fitri bagi kaum wanita. Dengan syarat terjaminnya keamanan dirinya dari berbagai bentuk fitnah.

Mereka keluar menuju tempat shalat Idul Fitri tanpa menggunakan parfum pewangi, tanpa berdandan (tabarruj), dan sedikit menjauh dari tempat shalat kaum laki-laki.

Fenomena berkumpulnya kaum muslimin di satu tempat ketika shalat Idul Fitri hendaknya menjadi bahan renungan bagi setiap muslim terhadap kondisi mereka ketika hari kebangkitan di padang mahsyar kelak.

Baca juga: Menyembelih Udhiyyah Setelah Hari Tasyriq, Nggak Jadi Udhiyyah, dong?

Demikian pula, merenungi betapa mulianya kaum muslimin ketika mereka berada dalam persatuan dalam kebaikan yang kokoh. Apalagi jika persatuan tersebut terulang kembali di akhirat kelak.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

اُنْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ وَلَلْاٰخِرَةُ اَكْبَرُ دَرَجٰتٍ وَّاَكْبَرُ تَفْضِيْلًا

Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Dan kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaan.” (QS. Al-Isrā’: 21)

Setiap muslim hendaknya tidak lalai dari zikir dan berucap syukur atas segala nikmat Allah ‘azza wajalla. Memanfaatkan setiap waktu yang ada untuk amal ketaatan, berbuat kebajikan, dan tidak menyia-nyiakannya begitu saja tanpa ada manfaat yang diraih sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan manusia zaman sekarang. Wallahu a’lam [Sodiq fajar/dakwah.id]

 

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيْمَانِ، وَاغْفِرْ لَنَا مَا سَلَفَ وَكَانَ؛ مِنَ الذُّنُوْبِ وَالْعِصْيَانِ، اَللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ بِرِضْوَانِكَ، وَاجْعَلْ مَآلَنَا إِلَى جِنَانِكَ، وَعُمَّنَا بِفَضْلِكَ وَإِحْسَانِكَ، وَاغْفِرْ اَللَّهُمَّ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, teguhkanlah kami di atas iman, ampuni kami dari dosa dan kemaksiatan yang telah lalu. Ya Allah, tutuplah bulan Ramadhan kami dengan segenap ridha-Mu, jadikanlah Jannah-Mu sebagai tempat kembali kami, liputilah kami dengan fadhilah dan kebaikan-Mu. Ampuni dosa kami ya Allah, ampuni dosa kedua orang tua kami dan dosa seluruh kaum muslimin, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Paling Penyayang.

 

Diadaptasi dari kitab: Mukhtashar Ahadits ash-Shiyam
Penulis: Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan