Setiap bulan Rajab tiba, kenangan kita tertuju pada peristiwa luar biasa yang menjadi salah satu mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Itulah peristiwa Isra` dan Mikraj.
Isra` adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sebagian waktu malam, dari Masjidilharam di Kota Makkah menuju Masjidilaqsha di Baitulmaqdis, Palestina.
Mikraj adalah naiknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Masjidilaqsha ke langit yang ketujuh, bahkan ke atasnya lagi, menghadap Allah Ta’ala, berbicara secara langsung dengan-Nya dari balik hijab, dan menerima perintah shalat wajib lima waktu sehari-semalam, kemudian turun kembali ke Masjidilaqsha, berlanjut pulang kembali ke Masjidilharam.
Semua perjalanan dahsyat tersebut dimulai dengan berangkat dari Masjidilharam pada saat mayoritas penduduk Makkah mulai tertidur pulas, dan kembali ke Masjidilharam lagi sebelum tiba waktu shalat Subuh.
Isra` dan Mikraj dilakukan dalam waktu tidak sampai satu malam. Peristiwa Isra` diabadikan di dalam Al-Quran, Surat Al-Isra` ayat 1. Sedangkan peristiwa Mikraj diabadikan dalam Al-Quran, Surat An-Najm ayat 1—18.
Latar Belakang Isra` dan Mikraj
Dakwah Islam di Kota Makkah menghadapi tantangan yang semakin hari semakin hebat dan berat. Sejak Islam didakwahkan secara terang-terangan, grafik hambatan dakwah senantiasa meningkat.
Beratnya hambatan, tantangan, dan gangguan orang-orang kafir Quraisy terhadap dakwah Islam memaksa sebagian sahabat untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) pada tahun 5 kenabian. Meskipun, pada tahun tersebut dua tokoh kafir Quraisy memeluk Islam, yaitu Hamzah bin Abdul Muthallib dari bani Hasyim dan Umar bin Khathab dari bani ‘Adi.
Keislaman kedua tokoh Quraisy itu menaikkan moral kaum muslimin. Namun, membuat kemarahan dan permusuhan kaum kafir Quraisy semakin meningkat. Akibatnya, sekitar delapan puluhan keluarga muslim terpaksa berhijrah kedua kalinya ke Habasyah.
Baca juga: Menjadi Raja Najasyi: Raja Habasyah yang Teliti Informasi
Permusuhan kaum kafir Quraisy semakin menjadi-jadi ketika mereka bersekongkol dalam boikot politik dan ekonomi terhadap kaum muslimin, bani Hasyim, dan bani Muthallib di Syi’ib, di luar Kota Makkah.
Kaum muslimin dan kedua marga pembelanya tersebut tidak bisa melakukan transaksi ekonomi apa pun dengan kaum Quraisy di Makkah, baik jual beli, utang piutang, sewa-menyewa, dan lain sebagainya. Boikot sosial membuat kaum muslimin tidak bisa berkunjung kepada penduduk Makkah maupun dikunjungi penduduk Makkah, menikahi mereka maupun dinikahi mereka.
Kelaparan, kekurangan makanan, dan kemiskinan melanda kaum muslimin dan kedua marga tersebut selama 3 tahun penuh. Dari tahun ketujuh hingga kesepuluh kenabian.
Ketika surat kesepakatan pemboikotan yang digantungkan di dinding Ka’bah itu habis dimakan rayap, pemboikotan itu pun berakhir. Kaum muslimin, bani Hasyim, dan bani Muthallib kembali hidup di tengah Kota Makkah.
Hanya saja, cobaan belum berakhir sampai di sana. Tak lama setelah itu dua tokoh penting yang selama ini menjadi pembela utama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Keduanya adalah sang paman, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, dan sang istri tercinta, ibunda Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha.
Kematian kedua tokoh besar itu meninggalkan luka dan kesedihan yang sangat mendalam bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga tahun kesepuluh kenabian dijuluki ‘am al-huzni, yaitu tahun duka cita.
Tanpa adanya tokoh sepuh yang dihormati penduduk Makkah, Abu Thalib, kaum kafir Quraisy semakin menjadi-jadi dalam memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam situasi yang sangat berat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama budaknya, Zaid bin Haritsah pergi ke Thaif untuk mendakwahi bani Tsaqif pada bulan Syawwal 10 kenabian. Keduanya berjalan kaki menempuh jarak kurang lebih 90 kilometer.
Sungguh berat ujian yang dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Para pemimpin bani Tsaqif pada zaman itu adalah tiga bersaudara: Abdu Yalil bin Amru bin Umair, Mas’ud bin Amru bin Umair, dan Habib bin Amru bin Umair. Beliau berdakwah di Thaif selama 10 hari lamanya.
Para pemimpin bani Tsaqif menolak dakwah Islam dengan ungkapan yang kasar dan menyakiti hati. Lebih dari itu, mereka menggerakkan anak-anak kecil, budak-budak, dan preman-preman untuk mengejek, mencaci-maki, serta melempari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan batu-batu.
Akibat peristiwa tersebut, betis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdarah-darah. Zaid bin Haritsah menggunakan badannya untuk melindungi beliau, sampai kepalanya berdarah.
Dengan susah payah, beliau dan Zaid bin Haritsah meloloskan diri dari kejaran penduduk Kota Thaif hingga tiba di luar sebuah kebun kurma milik dua bersaudara kafir Quraisy, Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah.
Kebun itu terletak sekitar 5 kilometer dari Kota Thaif. Dalam keadaan lapar, haus, lelah, dan terluka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk bersandar kepada tembok kebun. Beliau mengangkat kedua telapak tangannya dan memanjatkan doa yang masyhur,
اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ.
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ، وَأَنْتَ رَبِّي.
إِلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي؟ أَمْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي؟
إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي، وَلَكِنَّ عَافِيَتَكَ هِيَ أَوْسَعُ لِي.
أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ، وَصَلَحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ،
مِنْ أَنْ تَنْزِلَ بِي غَضَبَكَ، أَوْ يَحِلَّ عَلَيَّ سَخَطُكَ.
لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ.
“Ya Allah, aku mengadukan kepada-Mu lemahnya kekuatanku, sedikitnya daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan umat manusia.
Wahai Tuhan yang paling penyayang, Engkau adalah Rabb orang-orang yang tertindas. Engkau adalah Rabbku.
Kepada siapakah Engkau akan menyerahkan diriku? Kepada orang jauh yang akan menghinakanku? Ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?
Jika hal itu terjadi, selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Hanya saja, bagiku keselamatan dari-Mu lebih luas (dari ujian berat-Mu).
Aku berlindung dengan perantaraan cahaya kemuliaan wajah-Mu yang menerangi kegelapan di seluruh alam semesta, dan dengannya segala persoalan dunia dan akhirat menjadi baik.
Aku berlindung kepada-Mu agar kemarahan-Mu tidak turun kepadaku, atau hukuman-Mu tidak menimpaku.
Milik-Mu sajalah kesudahan segala sesuatu sampai Engkau ridha. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas izin-Mu.” (Ibnu Hisyam, Sirah Ibni Hisyam, Juz II hlm. 67—68)
Khutbah Jumat: Pelajaran Berharga dari Isra` Mikraj
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Zaid bin Haritsah dapat masuk kembali ke Kota Makkah, tanpa diganggu oleh kaum kafir Quraisy, setelah mendapatkan jaminan keamanan dari Muth’im bin Adi yang notabenenya adalah orang musyrik Makkah.
Demikianlah, pada saat genting tersebut tidak ada tokoh muslim yang memiliki kedudukan kuat di tengah Kota Makkah, yang dapat menjamin keamanan beliau. Hal itu menunjukkan betapa gangguan dan permusuhan kaum kafir Quraisy berada pada puncak kekuatannya. Tak lama setelah itu Allah Ta’ala memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mukjizat Isra` dan Mikraj.
Epilog
Isra` dan Mikraj adalah peristiwa monumental dalam dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah turun dari langit ketujuh, beliau bersama malaikat Jibril kembali ke Masjidilaqsha di Kota Al-Quds, Palestina.
Di dalam Masjidilaqsha saat itu telah berkumpul ruh semua nabi dan rasul, sejak Nabi Adam sampai Nabi Isa bin Maryam ‘alaihimas salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didaulat untuk maju ke mihrab dan mengimami shalat seluruh nabi dan rasul.
Peristiwa spiritual itu melambangkan beberapa hal penting:
- Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya terkungkung dalam kota suci Makkah saja. Agama Islam akan mencapai tanah suci para nabi dan rasul, yaitu bumi Baitulmaqdis atau Palestina.
- Agama Islam adalah agama Allah yang dianut, diajarkan, dan diperjuangkan oleh seluruh nabi dan rasul.
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pemimpin seluruh nabi dan rasul, bahkan penutup seluruh nabi dan rasul.
- Agama Islam akan menyebar dan berjaya ke seluruh penjuru dunia, sebagaimana para nabi dan rasul terdahulu diutus ke seluruh penjuru dunia, memimpin semua suku dan bangsa di dunia.
- Shalat adalah tiang agama dan ajaran pokok seluruh nabi dan rasul. Shalat adalah mikraj setiap muslim demi menggapai ridha Allah dan surga-Nya.
Setelah peristiwa Isra` dan Mikraj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan dakwah Islam kepada suku-suku dan marga-marga Arab yang datang ke kota suci Makkah pada musim haji. Sedikit pun semangat beliau dalam berdakwah tidak kendor, meskipun gangguan dan tantangan yang beliau hadapi semakin berat.
Dalam kondisi tersebut, Allah Ta’ala memuliakan beliau dengan peristiwa Isra` dan Mikraj. Setelah dua peristiwa agung tersebut terjadi, Allah Ta’ala menurunkan Surat Al-Isra`. Dengan demikian, Surat Al-Isra` diturunkan pada fase-fase akhir dakwah di Kota Makkah, sebelum terjadinya hijrah ke Madinah, pada saat permusuhan kaum kafir Quraisy mencapai puncaknya. Wallahu a’lam bish-shawab. (Yasir Abdul Barr/dakwah.id)
Penulis: Yasir Abdul Barr
Editor: Ahmad Robith
Artikel Refleksi terbaru: