materi kutlum ramadhan orang yang beriman kepada allah dakwah.id

Materi Kultum 10: Orang yang Beriman Ibarat Nakhlah dan Nahlah

Tulisan yang berjudul Orang yang Beriman Ibarat Nakhlah dan Nahlah adalah seri ke-10 dari serial Materi Kultum Ramadhan yang ditulis oleh ustadz Muhammad Faishal Fadhli.

Syaikh Shalih Al-Munajjid, salah seorang ulama kontemporer paling produktif asal Suriah yang menimba ilmu di Hijaz, menyebutkan sebuah kalimat indah, singkat, dan padat dalam menjelaskan kepribadian orang yang beriman kepada Allah.

Di dalam al-Quran dan hadits, kepribadian orang yang beriman kepada Allah disebut dengan kalimat, “Tsaabitun ka An-Nakhlah, wa Naafi’un ka An-Nahlah.” Teguh seperti pohon kurma. Bermanfaat seperti lebah.

Berikut ini ayat-ayat dan hadits yang berkaitan kepribadian orang yang beriman tersebut:

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)

“Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 68-69)

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ ‌مَثَلَ ‌الْمُؤْمِنِ ‌لَكَمَثَلِ ‌النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ فَلَمْ تُكْسَرْ وَلَمْ تَفْسُدْ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan orang yang beriman itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak. ” (HR. Ahmad No. 6872)

Mari kita bahas satu per satu dalil-dalil tersebut.

Orang yang Beriman Teguh Pendiriannya Selayak Nakhlah

Diawali dari surat Ibrahim ayat 24 dan 25.

Para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum sepakat, yang dimaksud “syajarah thayyibah” yang artinya “pohon yang baik” dalam ayat ini adalah pohon kurma. Nakhlah artinya pohon kurma. Akarnya kokoh. Daunnya tidak jatuh berguguran.

Seperti inilah perumpamaan seorang mukmin dalam menjaga akidah. Tidak mudah goyah. Teguh dalam memegang prinsip.

Seumpama pohon kurma: tetap tegak, tidak tumbang saat diamuk badai.

Begitulah kondisi orang beriman menghadapi terpaan fitnah syubhat dan fitnah syahwat yang kian menyambar-menyambar di akhir zaman.

Kemudian, selain kuat dan tinggi menjulang, pohon kurma juga bisa dijadikan tempat bernaung dan buahnya sangat bermanfaat bagi manusia. Bisa dimakan kapan saja; tamr saat musim dingin dan ruthab saat musim panas. Batangnya pun dapat dimanfaatkan untuk bangunan.

Inilah kepribadian seorang mukmin dalam berakidah. Kuat dan bermanfaat.

Orang yang Beriman Istimewa Akhlaknya Selayak Nahlah

Sekarang kita akan mengkaji kepribadian orang yang beriman dalam berakhlak, yang diserupakan seperti lebah. Nahlah artinya lebah. Apa saja keistimewaan lebah?

Pertama, hanya mengkonsumsi yang halal dan thayyib.

Untuk menghasilkan madu, lebah mendatangi bunga-bunga, mengitari buah-buahan, serta mengunjungi tempat-tempat lain yang bersih, segar dan mengandung nektar.

Hal inilah yang menjadi khas ciri orang yang beriman. Dalam mencari rezeki, ia mengutamakan berkah dari pada jumlah.

Orang beriman selayak lebah. Ia mampu melihat dari ketinggian dengan ilmu dan imannya untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Matanya selalu tertuju pada yang halal meskipun harus didapat dengan bersusah payah.

Sebaliknya, ia tidak mudah tergiur pada yang haram, meskipun bertebaran di mana-mana. Lebih baik pontang-panting dengan jual-beli, daripada duduk manis dengan transaksi ribawi.

Kedua, memberi manfaat kepada orang lain.

Lebah memproduksi madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan kenapa makhluk mungil ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia memperoleh manfaat dari madu, sebagaimana diilhamkan oleh Allah kepada mereka.

Selama hidupnya, lebah hanya menghasilkan kebaikan bagi seluruh makhluk. Mulai dari madu, royal jelly, hingga propolis. Seluruhnya, berkhasiat untuk kesehatan. Berbagai jenis penyakit bisa sembuh berkat izin Allah dengan wasilah madu.

Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak. Hasilnya, sangat fantastis. 2002 dari 2094 pasien, sembuh seperti sedia kala. Masih banyak lagi testimoni tentang khasiat madu dalam dunia pengobatan.

Seperti halnya lebah, seorang mukmin selalu memberi kebaikan yang dirasakan oleh manusia dan mahluk lainnya.

Sesuai dengan adagium yang berbunyi, “Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti.”

Khairunnāsi anfa’uhum lin nās.” Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ketiga, tidak mendatangkan mudharat.

Mudharat bisa diartikan kerugian atau segala sesuatu yang berbahaya dan bersifat merusak.

Lebah, adalah serangga mungil paling istimewa. Karena selain mendatangkan manfaat, ia juga mencegah datangnya mudharat kepada siapa pun dan di mana pun, minimal dari dirinya sendiri. Setiap termpat yang dihinggapinya; ranting, tangkai bunga, tidak ada yang rusak.

Beginilah sifat orang yang beriman kepada Allah.

Orang beriman adalah manusia yang punya komitmen kuat untuk tidak menyebabkan kerusakan dan kerugiaan dalam hal apapun; baik secara material maupun non-material. Ia tidak mendatangkan mudharat, baik kepada sekelompok orang atau individu lain. Dia sangat telaten dalam merawat benda-benda di sekitarnya, sebagaimana ia pandai menjaga perasaan sesamanya. Karena menyakiti dan menghina orang beriman adalah salah satu dosa yang dimurkai Allah dan Rasul-Nya.

Keempat, bermental pejuang.

Lebah adalah makhluk yang cinta damai. Mereka tidak akan mengusik kehidupan makhluk lain. Namun, jika eksistensi mereka teracam, lebah tidak akan segan-segan untuk melawan. Meski nyawa taruhannya. Kira-kira demikianlah sikap orang beriman manakala agama mereka dinista.

Kelima, etos kerja yang tinggi.

Lebah melakukan banyak pekerjaan dan mereka berhasil menyelesaikannya dengan baik. Ribuan lebah bekerja bersamaan demi satu tujuan. Rata-rata, 60-70 ribu lebah, hidup dalam satu sarang.

Bayangkan, dengan populasi yang begitu padat, mereka mampu bekerja secara terencana dan rapi. Pembagian job desc-nya jelas, mulai dari: menjaga kebersihan sarang, mencari sumber nektar, menghalau serangga penyusup, serta ada juga yang mengatur suhu dan kelembaban sarang dengan kipasan angin melalui kepakan sayap mereka.

Masyaallah.

Demikianlah hikmah dari penciptaan pohon kurma dan lebah, serta kaitannya dengan kepribadian orang selalu Allah seru dengan kalimat istimewa “Yā ayyuhalladzīna āmanūHai orang-orang yang beriman. Semoga bermanfaat. Amin. (Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

Baca juga artikel Materi Kultum Ramadhan atau artikel menarik lainnya karya Muhammad Faishal Fadhli.

Penulis: Muhammad Faishal Fadhli
Editor: Ahmad Robith

Artikel Materi Kultum Ramadhan sebelumnya:

Topik Terkait

Muhammad Faishal Fadhli

Pengkaji Literatur Islami. Almnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 14.

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: