Gambar Materi Kultum 12 Memahami Hakikat Tasawuf dakwah.id.jpg

Materi Kultum 12: Memahami Hakikat Tasawuf

Tulisan yang berjudul Memahami Hakikat Tasawuf adalah seri ke-12 dari serial Materi Kultum Ramadhan yang ditulis oleh ustadz Muhammad Faishal Fadhli.

Nubuwah yang menjanjikan bahwa umat Islam akan menaklukkan Persia dan Romawi, terwujud pada masa Khulafaurasyidin radhiyallahu anhum. Tepatnya ketika Umar bin Khatthab dan Utsman bin Affan menjadi khalifah.

Kemenangan demi kemenangan diraih. Pembebasan demi pembebasan wilayah berhasil diwujudkan. Dakwah tersebar luas. Tentu saja hal hebat seperti ini, merupakan satu bukti kejayaan umat Islam yang sangat membanggakan.

Tapi, bagi para perindu surga, ada satu efek negatif yang membuat mereka merasa khawatir melihat kejayaan itu. Yaitu ketika pintu-pintu dunia terbuka lebar, kesejahteraan berada di level tertinggi, harta berlimpah.

Semua itu, memang terlihat menyenangkan. Hanya saja, jiwa-jiwa yang selalu tertuju kepada akhirat, mempunyai standar kebahagiaan tersendiri. Mereka mempunyai prinsip bahwa sukses tidak diukur dengan materi.

Lihatlah bagaimana sikap Umar ketika pasukannya memamerkan hasil ganimah. “Celakalah kalian!” Teriak Umar ketakutan. “Persia runtuh gara-gara semua harta benda ini, kenapa kalian malah membawanya ke mari?! Lekas bagikan dengan adil kepada seluruh kaum muslimin!”

Alih-alih menimbun hasil rampasan perang dan memperkaya diri sendiri, Umar justru takut melihat tumpukan harta. Padahal, jika ditinjau dari sudut pandang kehalalan zatnya, harta ganimah termasuk harta yang paling halal. Tapi Umar malah menghindar, karena sikap wara’ dan zuhud sudah terpatri dalam jiwanya.

Tidak lama setelah era Khulafaurasyidin berakhir, umat Islam semakin kaya raya. Budaya glamor dan hedonisme menjadi gaya hidup pada masa kekhilafahan Umawiyah dan Abbasiyah. Penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati, kian menjangkit.

Dalam kondisi seperti itu, muncullah tokoh-tokoh besar yang menyadarkan umat bahwa dunia ini hanya sementara. Mereka berusaha menghidupkan kembali budaya zuhud. Di antaranya:

Rabi’ah al-‘Adawiyah (w. 100 H), Hasan al-Bashri (w. 110 H), Ibrahim bin Adham (w. 162 H), Fudhail bin Iyadh (w. 187 H), Ma’ruf al-Kurkhi (w. 200 H), al-Junaid al-Baghdadi (w. 297), Sahl bin Abdullah at-Tustari (w. 283 H), dan masih banyak lagi.

Mereka adalah lentera-lentera hidayah. Menerangi umat dengan kata-kata penuh hikmah. Menyucikan dan menentramkan jiwa. Mengajarkan dan menjalankan syariat Islam. Menghidupkan sunnah.

Semua itu dilakukan karena mereka merindukan suasana khusyuk ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih hidup. Mereka mendambakan sebuah masyarakat yang harmonis, giat dalam beribadah, tidak gila dunia, dan memandang dunia hanya sebatas wasilah bukan ghayah (tujuan) dalam hidup.

Inilah hakikat tasawuf yang sesungguhnya. Mengajak setiap manusia untuk menginsafi siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan untuk apa ia diciptakan.

Para Ulama Menjelaskan Hakikat Tasawuf

Dalam kitab Awariful Maarif, Imam as-Suhrawardi berkata,

التَّصَوُّفُ أَوَّلُهُ عِمْلٌ، وَأَوْسَاطُهُ عَمَلٌ، وَآخِرُهُ مَوْهِبَةٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى

Bertasawuf itu dimulai dengan ilmu, (harus) berlanjut dengan pengamalan, dan akan berbuah karunia (dari Allah).” (‘Awariful al-Maarif, as-Suhrawardi, 1/68)

Masih dari kitab yang sama, disebutkan perkataan Ma’ruf al-Kurkhi,

التَّصَوُّفُ اَلْأَخْذُ بِالْحَقَائِقِ وَالْيَأْسُ مِمَّا فِيْ أَيْدِيْ الْخَلَائِقِ

Tasawuf adalah mengambil hakikat dan berputus asa dari apa-apa yang dimiliki manusia.”

Maksud dari perkataan Ma’ruf al-Kurkhi ialah: tasawuf membimbing kita untuk memahami hakikat dari segala sesuatu, terutama hakikat kehidupan dunia yang fana. Jadi, tidak perlu terobsesi untuk mengejar dunia. Dan tasawuf mengajarkan agar kita tidak membanding-bandingkan nasib kita dengan nasib orang lain.

Di dalam tasawuf inilah ilmu tentang sabar, syukur, dan ridha kepada setiap ketetapan Allah dipelajari. Sejalan dengan tiga hal tersebut, diterangkan pula bagaimana mengobati penyakit hati yang muncul disebabkan oleh cinta dunia, seperti ujub, riya’, hasad, dan semacamnya.

Ya, tasawuf sejatinya adalah pelajaran akhlak, adab, dan seni mengelola hati agar senantiasa terpaut kepada Allah.

Imam al-Junaid menerangkan hakikat tasawuf, “An takuuna Maallahi bilaa Alaaqah.” Tasawuf adalah satu kondisi ketika Engkau selalu bersama Allah tanpa ada kecintaan dan keterhubungan dengan selain-Nya.

Dan di dalam sebuah ungkapan yang panjang, al-Junaid menerangkan lebih detail hakikat tasawuf,

‌تَصْفِيَّةُ ‌الْقَلْبِ عَنْ مُوَافَقَةِ الْبَرِيَّةِ، وَمُفَارَقَةُ الْأَخْلَاقِ الطَّبِيْعِيَّةِ، وَإِخْمَادُ الصِّفَاتِ الْبَشَرِيَّةِ، وَمُجَانَبَةُ الدَّوَاعِيْ النَّفْسَانِيَّةِ، وَمُنَازَلَةُ الصِّفَاتِ الرُّوْحَانِيَّةِ، وَالتَّعَلُقُ بِالْعُلُوْمِ الْحَقِيْقِيَّةِ، وَاسْتِعْمَالُ مَا هُوَ أَوْلَى عَلَى الْأَبَدِيَّةِ، وَالنُّصْحُ لِجَمِيْعِ الْأُمَّةِ، وَالْوَفَاءُ لِلهِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ، وَاتِّبَاعُ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ الشَّرِيْعَةِ

Memurnikan hati dari ketergantungan kepada makhluk, melepaskan watak bawaan yang buruk, mengendalikan sifat-sifat manusiawi, menjauhi bisikan-bisikan hawa nafsu, membangun sifat-sifat rabani, bertaut pada ilmu-ilmu hakikatdan mengikuti Rasul dalam bersyariat.” (At-Taaruf li madzhab Ahli at-Tashawuf, Abu Bakar al-Kalabadzi, 25)

Selaras dengan pengertian di atas, dalam kitab al-Maqashid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushul at-Tashawuf (hal. 13), Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa fondasi tasawuf itu ada lima.

Pertama, bertakwa kepada Allah di tengah keramaian dan saat sedang sendirian.

Kedua, mengikuti sunnah Nabi dalam perkataan dan perbuatan.

Ketiga, berpaling dari makhluk (tidak menyandarkan diri kepada mereka) saat sedang berhadapan ataupun berpaling.

Artikel Fikih: Tidur Orang yang Puasa Adalah Ibadah?

Keempat, meridhai ketetapan Allah baik banyak ataupun sedikit.

Kelima, kembali pada Allah dalam keadaan lapang ataupun sempit.

Terlihat jelas bahwa ajaran tasawuf berangkat dari spirit keimanan dan ketakwaan. Diambil dari al-Quran dan as-Sunnah. Diilhami dari kearifan salaful ummah. Ditujukan untuk membimbing para salik (penempuh jalan menuju Allah). Nama lain dari ilmu ini ialah ilmu Tazkiyatun Nufus, atau az-Zuhd wa ar-Raqaiq.

Tasawuf sebagai disiplin ilmu olah ruhani, sangat dibutuhkan untuk melengkapi kajian pengajaran ilmu fikih yang terkadang hanya berkutat di ranah halal-haram, hitam-putih dan kering dari sentuhan-sentuhan spiritual.

Maka apabila ada orang zaman sekarang mengaku dirinya sufi atau wali Allah, namun malah meninggalkan shalat dan meremehkan syariat, sejatinya dia bukan belajar ilmu tasawuf, melainkan ilmu kebatinan yang sesat dan menyesatkan. Wal iyadzu billah, wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq. (Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

Baca juga artikel Materi Kultum Ramadhan atau artikel menarik lainnya karya Muhammad Faishal Fadhli.

Penulis: Muhammad Faishal Fadhli
Editor: Ahmad Robith

Artikel Materi Kultum Ramadhan sebelumnya:

Topik Terkait

Muhammad Faishal Fadhli

Pengkaji Literatur Islami. Almnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 14.

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: