Materi Kultum 24: Keutamaan Memperbanyak Bacaan Dzikir

Tulisan yang berjudul Keutamaan Memperbanyak Bacaan Dzikir adalah seri ke-24 dari serial Materi Kultum Ramadhan yang ditulis oleh ustadz Muhammad Faishal Fadhli.

Setiap manusia pasti pernah melupakan sesuatu secara tidak sengaja. Beberapa kondisi menyebabkan terjadinya kelupaan, seperti suasana yang genting, kurang fokus, atau karena faktor usia.

Maka sering kita mendengar perkataan bahwa; al-insān makānu al-khatha’ wa an-nisyān. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Tak terkecuali baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah satu sisi manusiawi beliau adalah pernah lupa dalam suatu perkara.

Di antara contohnya, dan mungkin ini satu-satunya, terjadi ketika beliau menyiapkan pasukan untuk berangkat berjihad di jalan Allah. Semua prajurit diberi bekal logistik oleh Rasulullah.

Setelah semuanya dianggap sudah mendapat bagian, pasukan itu pun diberangkatkan.

Tetapi sebenarnya ada seorang sahabat dari kalangan Anshar yang belum menerima jatah. Dia bernama Hudair. Dalam keadaan itu, Hudair tetap bersabar dan memperbanyak bacaan dzikir kepda Allah.

Hudair menyibukkan diri dengan tasbih, takbir, tahmid, tahlil, dan hawqalah di sepanjang jalan. Berharap mendapat pahala dari setiap kalimat yang ia baca. Setiap kali mengulang-ulang dzikir, Hudair menghibur diri, berkata kepada dirinya sendiri,

Sebaik-baik bekal adalah kalimat dzikir ini wahai Rabbku. Ya, kalimat ini benar-benar bekal terbaik. Nutrisi bagi ruh, hati, dan perasaan di dalam jiwa. Kalimat ini memberi kekuatan non materil yang dapat membantumu untuk tetap teguh dan dengan itu pahalamu terus bertambah. Engkau telah sukses menghadapi ujian ini. Sudah pasti Allah akan menolongmu, apalagi engkau sedang di jalan Allah. Maka berbgemberilah. Rahmat Allah itu sangat dekat.”

Ketika kafilah jihad itu berjalan dan Hudair semakin tenggelam dalam dzikirnya, datanglah malaikat Jibril menghadap Rasulullah bahwa Allah mengutusnya untuk memberi satu informasi penting; bahwasannya, ada satu orang sahabat yang belum mendapat haknya, ia bernama Hudair.

Seketika itu juga Rasul mengutus seorang lelaki untuk menyusul rombongan yang sudah berangkat cukup jauh. Rasul menitipkan salam untuk Hudair dan memberitahukan bahwa beliau telah melupakannya, tetapi Allah mengingatkan Rasul-Nya melalui perantara Jibril untuk memberinya bekal. Masyaallah.

Betapa mulianya kedudukan orang-orang yang melazimi bacaan dzikir. Allah selalu mengingat mereka, sesuai dengan janji-Nya, fadzkuruni adzkurkum, berdzikirlah kalian semua kepadaku, niscaya Aku akan mengingat kalian. (QS. Al-Baqarah: 152)

Begitu Hudair mendengar berita yang luar biasa ini, maka ia langsung memekikkan kalimat tahlil, takbir, tasbih, tahmid, dan hawaqalah. Laa ilaaha illallah. Allahu akbar. Subhanallah. Alhamdulillah. Laa hawla wa laa quwwata illa billahi.

Kemudian ia berkata lagi,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، ‌ذَكَرَنِي ‌رَبِّي ‌مِنْ ‌فَوْقِ ‌سَبْعِ سَمَوَاتٍ، وَمِنْ فَوْقِ عَرْشِهِ، وَرَحِمَ جُوعِي وَضَعْفِي، يَا رَبِّ كَمَا لَمْ تَنْسَ حُدَيْرًا، فَاجْعَلْ حُدَيْرًا لَا يَنْسَاكَ أَبَدًا

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dia telah mengingatku dari atas langit yang tujuh, dan dari atas ‘Arsy-Nya. Dia mengasihi rasa laparku dan kelemahanku. Wahai Rabbku, sebagaimana Engkau tidak melupakan Hudair. Maka, jadikanlah Hudair pernah melupakanmu. Selamanya.”

Kisah yang sangat indah inspiratif ini, tercantum dalam kitab-kitab turats. Di antaranya, Al-Ma’rifah, anggitan Abu Nua’im. Bahkan kisah ini diabadikan dalam dua karya Ibnul Jauzi, Al-Munatzham (4/240), dan Shifatu Ash-Sahfwah (1/743).

Hikmah yang bisa dipetik, keutamaan melazimi dzikir, di mana pun dan kapan pun. Karena Allah mencintai ahli dzikir dan akan selalu mengingat mereka.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa salah satu orang yang doanya terkabul adalah mereka yang memperbanyak bacaan dzikir.

Waktu Terbaik Membaca Bacaan Dzikir

Berikut ini sedikit tambahan maklumat, tentang enam waktu terbaik untuk memperbanyak bacaan dzikir,

Pertama: Pagi dan sore hari.

وَاذْكُرْ رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ

Ważkur rabbaka kaṡīraw wa sabbiḥ bil-‘asyiyyi wal-ibkār.

Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”. (QS. Ali Imran: 41)

Kedua: Waktu Malam, terutama Sepertiga Malam terakhir.

Waṣbir liḥukmi rabbika fa innaka bi`a’yuninā wa sabbiḥ biḥamdi rabbika ḥīna taqụm. Wa minal-laili fa sabbiḥ-hu wa idbāran-nujụm.”

Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar). Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.” (QS. Ath-Thur: 48-49)

Ketiga: Setiap selesai shalat.

وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاَدْبَارَ السُّجُوْدِ

Wa minal-laili fa sabbiḥ-hu wa adbāras-sujụd.

Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaf: 40)

Keempat: Usai menyelesaikan ibadah haji atau umrah.

Fa iżā qaḍaitum manasikakum fażkurullāha każikrikum ābā`akum au asyadda żikrā, fa minan-nāsi may yaqụlu rabbanā ātinā fid-dun-yā wa mā lahụ fil-ākhirati min khalāq

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu”.

Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: ‘Wahai Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)

Kelima: Siang hari, saat matahari tergelincir.

Faṣbir ‘alā mā yaqụlụna wa sabbiḥ biḥamdi rabbika qabla ṭulụ’isy-syamsi wa qabla gurụbihā, wa min ānā`il-laili fa sabbiḥ wa aṭrāfan-nahāri la’allaka tarḍā

Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” (QS. Thaha: 30)

Keenam: Saat berhadapan dengan musuh.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ

Yā ayyuhallażīna āmanū iżā laqītum fi`atan faṡbutụ ważkurullāha kaṡīral la’allakum tufliḥụn

Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45) Wallāhul muwaffiq ilā aqwamith tharīq. (Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

Baca juga artikel Materi Kultum Ramadhan atau artikel menarik lainnya karya Muhammad Faishal Fadhli.

Penulis: Muhammad Faishal Fadhli
Editor: Sodiq Fajar

Artikel Materi Kultum Ramadhan sebelumnya:

Topik Terkait

Muhammad Faishal Fadhli

Pengkaji Literatur Islami. Almnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 14.

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: