materi kultum ramadhan itsar adalah naluri mukmin sejati dakwah.id

Materi Kultum 15: Itsar Adalah Naluri Mukmin Sejati

Tulisan yang berjudul Itsar Naluri Mukmin Sejati adalah seri ke-15 dari serial Materi Kultum Ramadhan yang ditulis oleh ustadz Muhammad Faishal Fadhli.

Selama 13 tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para pengikutnya, sering mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang kafir Quraisy.

Maka dari itu, beliau mengajak seluruh sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib dan bertempat tinggal di sana. Para sahabat pun rela meninggalkan rumah, keluarga, dan harta di Makkah. Kemudian Allah dan Rasul-Nya menamai mereka dengan sebutan “al-Muhajirin.”

Kedatangan mereka disambut gembira oleh penduduk Yatsrib yang sudah memeluk agama Islam. Kaum Muhajirin sangat dimuliakan. Mereka yang menolong Muhajirin ini, Allah beri gelar “al-Anshar.”

Namun demikian, para Muhajirin enggan terlalu merepotkan kaum Anshar. Mereka minta ditunjukkan jalan ke pasar untuk melakukan transaksi jual-beli agar tidak terus-terusan menggantungkan nasib kepada penduduk setempat.

Dalam waktu yang relatif singkat, Allah membuat mereka hidup berkecukupan dengan hasil dari perniagaan. Yatsrib pun berubah menjadi sebuah kota yang aktif. Orang-orang menyebutnya Madinatu Rasulillah. Perlahan, nama Yatsrib berganti menjadi Madinah.

Banyak orang yang berkunjung ke kota baru ini. Mereka adalah dhuyuf (tamu-tamu) Allah dan Rasul-Nya. Namun terkadang, Rasul tidak sanggup menjamu tamunya, meskipun beliau sangat ingin memuliakan siapa pun yang datang menemuinya.

Perlu diketahui, tidak jarang Rasulullah menahan lapar karena tidak mempunyai makanan. Tungku di rumahnya tidak menyala, dan hal itu sudah biasa. Bisa makan, bersyukur. Tidak makan, bersabar. Begitulah kehidupan Rasulullah.

Di saat sedang kesempitan seperti itu, Rasul mengajak tamu-tamunya untuk mendatangi rumah sahabat yang lain. Mereka pun senang dan merasa terhormat dapat menjamu tamu Rasulullah.

Salah satu yang paling sering mengambil peran ini adalah Abu Thalhah al-Anshari. Dia mempunyai kebun yang rindang, asri, dan air di dalamnya begitu sejuk. Dia mencintai dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya

Selang beberapa hari, Madinah kembali kedatangan tamu-tamu yang ingin bertemu dengan Nabi. Abu Thalhah pun kembali mendapat bagian untuk menjamu tamu. Ia menyambut kewajiban itu dengan sangat antusias.

Ia berjalan menuju rumahnya tanpa mengetahui apa yang dimasak oleh Ummmu Sulaim, istrinya. Bahkan ia tidak tahu apakah masih ada persediaan makanan atau tidak.

Sesampainya di rumah, Abu Thalhah mengetuk pintu dan mengucap salam. Ummu Sulaim mejawabnya dan mempersilakannya masuk.

Dengan nada bicara yang menunjukkan ekspresi bahagia seperti orang membawa berita gembira, Abu Thalhah berkata kepada istrinya bahwa ia membawa tamu-tamu Rasulullah. Lalu ia bertanya adakah makanan yang bisa disajikan?

Hanya tersisa makanan untuk anak-anak kita,” Jawab sang istri.

Kini Abu Thalhah berpikir agar tamu-tamunya tidak dibiarkan kelaparan meskipun keluarganya sendiri belum makan. Ia bertekad untuk melawan rasa lapar malam itu, begitu juga dengan istrinya, siap untuk menahan perut keroncongan demi memuliakan tamu.

Pertanyaanya kemudian, bagaimana agar para tamunya tidak merasa sungkan. Sebab sangat tidak etis ketika para tamu sedang lahap menikmati makanan, sementara tuan rumah hanya diam terpana.

Akhirnya Abu Thalhah menemukan ide.

Jika kami sudah siap untuk makan,” kata Abu Thalhah berbisik-bisik di telinga istrinya, “Berpura-puralah memperbaiki lampu dinding, lalu padamkanlah apinya.”

Arahan itu dikerjakan dengan baik oleh sang istri. Seketika ruangan menjadi gelap. Dalam kondisi seperti itulah para tamu dipersilakan makan, sementara Abu Thalhah sendiri hanya berpura-pura ikut menikmati hidangan.

Para tamu dengan lahap menyantap makanan. Malam itu mereka merasa puas dan mengira Abu Thalhah juga sudah kenyang. Padahal, ia tidak makan walau hanya sesuap.

Demikianlah akhlak mulia Abu Thalhah yang mewakili kearifan orang-orang Anshar. Mereka sangat mengutamakan saudara seiman. Sikap seperti inilah yang disebut dengan Itsar yaitu ketika seseorang mendahulukan kebutuhan orang lain daripada dirinya sendiri. Mirip dengan altruisme dalam istilah modern. Altruisme, lawan kata egoisme.

Allah memuji sifat Itsar sahabat Anshar dalam firman-Nya yang berbunyi,

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan bahwa al-Itsar adalah gabungan dari tiga hal: al-Jud, as-Sakha’, dan al-Ihsan. Ketiganya mengandung makna yang sama: berbuat baik dan memberi sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain.

Kemudian Ibnu al-Qayyim menerangkan perbedaan antara al-Jud, as-Sakha’, dan al-Itsar.

Pertama, ketika Anda memberi dalam keadaan lapang, tidak mengurangi apa yang Anda miliki, sehingga sangat mudah untuk memberi, ini disebut as-Sakha’ (kedermawanan).

Artikel Fikih: Kotoran Hewan Ternak Najis?

Kedua, ketika Anda memberi dengan jumlah yang lebih banyak, dan masih mempunyai harta dengan jumlah yang sama, ini disebut al-Juud (kerelaan hati).

Ketiga, ketika Anda memberi sesuatu kepada orang lain, padahal sebenarnya Anda sangat membutuhkannya, ini disebut al-Itsar.

Dapat disimpulkan bahwa Itsar adalah naluri untuk peduli, dan ketulusan dalam memberi. Seorang mukmin sejati, memelihara sifat terpuji ini. Karena Itsar merupakan salah satu indikasi kesempurnaan iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.  (Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

Baca juga artikel Materi Kultum Ramadhan atau artikel menarik lainnya karya Muhammad Faishal Fadhli.

Penulis: Muhammad Faishal Fadhli
Editor: Ahmad Robith

Artikel Materi Kultum Ramadhan sebelumnya:

Topik Terkait

Muhammad Faishal Fadhli

Pengkaji Literatur Islami. Almnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 14.

1 Tanggapan

Alhamdulillah, jazakhallah,,, untuk saya sendiri dan orang lain, Amin

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: