Naskah khutbah Idul Adha yang berjudul Pelajaran Berharga dari Keluarga Ibrahim Alaihssalam ini menguraikan pelajaran spiritual dan sosial dari kisah keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Penulis menekankan tiga pilar utama, yaitu ketundukan total kepada perintah Allah, semangat pengorbanan harta dan jiwa, serta pentingnya menjaga persatuan umat Islam di seluruh dunia.
Melalui refleksi ibadah haji dan kurban, umat diajak untuk mengutamakan ketakwaan dan keikhlasan dibandingkan sekadar menjalankan ritual lahiriah. Pesan ini bertujuan memotivasi jamaah agar mampu mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam menghadapi tantangan zaman demi kemaslahatan bersama.
Terakhir, naskah ini ditutup dengan untaian doa untuk keberkahan bangsa, keselamatan umat yang tertindas, dan persaudaraan kaum muslimin.
Materi Khutbah Idul Adha
Pelajaran Berharga dari Keluarga Ibrahim Alaihssalam
Pemateri: Ustadz Qosdi Ridwanullah
(Mudir Pondok Pesantren Darusy Syahadah, Boyolali)
Mukadimah Khutbah Idul Adha
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Khubah Pertama
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah subhanahu wata’ala, yang telah melimpahkan nikmat yang tak terhitung kepada kita semua.
Di antara nikmat-Nya yang agung adalah nikmat bertemu kembali dengan hari raya Idul Adha. Hari yang penuh kemuliaan, hari yang di dalamnya mengalir rahmat, ampunan, dan keberkahan.
Marilah kita memenuhi detik-detik ini dengan bertakbir, bertahmid, dan bertasbih, mengagungkan nama Allah atas segala karunia yang telah diberikan.
Tak lupa, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan seluruh sahabat yang telah berjuang menegakkan kalimat tauhid.
Kemudian tidak lupa kami mengajak diri pribadi kami dan semua jama’ah untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala, sebagai sebaik baik bekal untuk hidup mulia baik di dunia maupun di akhirat. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 197:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik baik bekal adalah taqwa.”
Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,
Pada hari yang mulia ini, di seluruh penjuru dunia, dari Timur hingga Barat, dari utara hingga selatan, berkumandang gema takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu wallahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.
Suara ini menggema memenuhi angkasa, mengagungkan nama Allah Ta’ala. Dan pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia adalah di Mekah al-Mukarramah. Di sana jutaan kaum muslimin dari berbagai bangsa, suku, dan warna kulit berkumpul bersama, melaksanakan ibadah haji dengan penuh kekhusyukan, memenuhi panggilan Allah: Labbaik Allahumma labbaik.
Ma’asyiral muslimin,
Hari raya Idul Adha bukan sekadar hari memotong hewan kurban dan berpesta pora. Lebih dari itu, hari ini adalah momentum menapak tilasi (mengenang kembali) perjalanan mulia keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sebuah keluarga yang Allah abadikan kisahnya dalam Al-Qur’an sebagai teladan terbaik.
Ada pelajaran-pelajaran besar yang perlu kita gali dan kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hari ini kita akan mengingat pelajaran utama dari keluarga mulia ini.
Pelajaran Pertama: Ketundukan (Taslim)
Pelajaran pertama yang luar biasa adalah ketundukan. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 131:
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Yaitu ketika Tuhannya berkata kepadanya: ‘Berserah dirilah (Islam)!’ Maka dia menjawab: ‘Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam.’”
Perhatikanlah, sejak Ibrahim ‘alaihissalam diperintahkan meninggalkan istrinya Hajar dan bayinya Ismail di lembah Makkah yang tandus, beliau tunduk tanpa protes.
Kemudian ketika diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya yang sudah dinanti-nantikan puluhan tahun, beliau tetap tunduk patuh tanpa menolak.
Demikian pula putranya, Ismail, dengan penuh ketulusan berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat Ash-Shaffat ayat 102,
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.”
Inilah hakikat ketundukan: taslim, menerima perintah Allah tanpa bantahan, tanpa keluhan, tanpa negosiasi.
Dan ini pula yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika mereka masuk Islam, mereka langsung tunduk patuh pada semua syariat. Mereka meninggalkan kebiasaan jahiliyah, mereka mengubah total cara hidup mereka, tanpa reserve. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, radhiyallahu ‘anhum, semuanya adalah contoh sempurna dari jiwa yang tunduk.
Ma’asyiral muslimin,
Inilah yang sangat kita hajatkan hari ini. Di zaman yang penuh fitnah ini, kita perlu kembali menata ketaatan kita kepada Allah. Tidak ada ruang untuk protes ketika ada perintah Allah, tidak ada tawar-menawar dalam menjalankan syariat.
Apakah kita sudah tunduk pada perintah shalat lima waktu? Apakah kita sudah tunduk pada perintah menutup aurat? Apakah kita sudah tunduk pada perintah menjauhi riba, ghibah, dan maksiat lainnya?
Mari kita benahi jiwa kita dengan ruh ketundukan ini.
Pelajaran Kedua: Ruh Pengorbanan
Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah,
Pelajaran kedua yang tidak kalah pentingnya adalah ruh pengorbanan. Lihatlah bagaimana Ibrahim dan Hajar rela mengorbankan apa yang paling mereka cintai—yaitu putra tercinta, Ismail. Dengan hati yang teriris, mereka tetap melangkah menjalankan perintah Allah.
Dan lihat pula Ismail, seorang pemuda yang dengan kesadaran penuh menyatakan kesiapannya untuk dikorbankan demi menjalankan perintah Allah. Subhanallah, inilah puncak pengorbanan.
Allah mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 102,
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Setelah keduanya berserah diri, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba yang besar. Itulah asal-usul syariat kurban.
Materi Khutbah Idul Adha Terbaru: Ujian sebagai Jalan Menuju Kematangan Iman
Generasi sahabat juga mewarisi ruh pengorbanan ini. Mereka rela meninggalkan kampung halaman, harta benda, dan keluarga mereka untuk hijrah ke Madinah demi menyelamatkan agama Allah.
Mereka mengorbankan jiwa dan raga di medan perang Badar, Uhud, Khandaq, dan seterusnya.
Mereka mengorbankan harta untuk membiayai perjuangan Islam, sampai-sampai Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu membiayai pasukan Tabuk (Jaisyul ‘Usrah) dengan harta yang sangat besar.
Pertanyaan untuk kita semua hari ini:
Allah telah memberikan karunia kepada kita—harta, jabatan, kedudukan, ilmu, ketenaran, pengaruh. Namun, apakah kita rela mempersembahkan semua itu untuk agama Allah?
Ataukah kita justru menggunakan potensi itu untuk kepentingan pribadi, untuk bermewah-mewahan, untuk mempertahankan posisi, dan melupakan perjuangan agama?
Hari ini, berapa banyak umat Islam yang diberi potensi besar namun enggan berkorban? Lalu bagaimana dengan kita?
Mari kita bertanya pada diri masing-masing: Sudah sejauh mana pengorbananku untuk Islam? Apakah aku masih pelit dengan hartaku untuk infaq dan kurban? Apakah aku masih malas mengorbankan waktu dan tenagaku untuk kegiatan dakwah dan kemaslahatan umat?
Benarkah ikrar kita selama ini, sebagaimana firman Allah dalam surat al-An’am ayat 162,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
sudah menjadi sebuah kenyataan?
Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah,
Kemudian selain mengikuti teladan keluarga Ibrahim alaihissalam ada pelajaran penting lainnya dari ibadah haji di Makkah al-Mukarramah. Yaitu pelajaran menjaga persatuan dan ukhuwah sesama saudara beriman.
Lihatlah pada hari ini, saat jutaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia—Arab, Afrika, Asia, Eropa, Amerika—berkumpul bersama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Mereka memakai pakaian yang sederhana dan sama, tidak ada perbedaan kaya-miskin, tidak ada beda bangsa atau golongan. Semua berdiri sama di hadapan Allah, hanya membawa ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Anbiya’ ayat 92,
إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
“Sesungguhnya umat yang satu ini adalah umatmu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
Dan firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 103,
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
Ma’asyiral muslimin,
Inilah yang sangat kita perlukan hari ini. Umat Islam saat ini sedang diuji dengan perpecahan. Perselisihan politik, perbedaan mazhab yang disikapi secara ekstrem, pertikaian antar kelompok, seringkali melemahkan kekuatan umat. Padahal, musuh-musuh Islam justru bersatu untuk menghancurkan kita.
Maka, momentum Idul Adha dan haji ini adalah pengingat bahwa semua muslim adalah saudara. Kita harus memadukan semua potensi yang ada—baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun kekuatan spiritual—demi membangun peradaban madani (peradaban yang beradab).
Peradaban madani yang kita idamkan bukan hanya menyelamatkan umat Islam, tetapi juga menyelamatkan seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Peradaban yang menjunjung tinggi keadilan, menebarkan kasih sayang, memakmurkan bumi, dan menjaga lingkungan. Inilah warisan Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ingatlah peringatan Allah dalam hadidts Qudsi, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim hadits nomor 2889,
وَإِنَّ رَبِّي قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ، وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ، وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ، وَلَوِ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا، حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا، وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا.
“Maka Rabbku berfirman:
‘Wahai Muhammad, apabila Aku telah menetapkan suatu keputusan, maka ia tidak dapat ditolak. Aku berikan untuk umatmu:
Aku tidak akan membinasakan mereka dengan paceklik yang menyeluruh, dan Aku tidak akan menguasakan atas mereka musuh dari luar diri mereka yang akan menghancurkan mereka secara total, meskipun seluruh penjuru dunia bersatu melawan mereka, kecuali jika sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain dan sebagian mereka menawan sebagian yang lain.’”
Ma’asyiral muslimin,
Marilah kita jadikan Idul Adha kali ini sebagai titik balik. Kembali kepada ketundukan pada Allah dan Rasul-Nya. Menghidupkan kembali ruh pengorbanan dalam segala aspek kehidupan. Dan memperkuat tali persaudaraan dan persatuan di antara sesama muslim.
Semoga Allah menerima haji jamaah haji yang sedang melaksanakan ibadah, menerima amal kurban kita, dan mengampuni dosa-dosa kita.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهَ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْمَقَامِ الْمَحْمُوْدِ وَالْحَوْضِ الْمَوْرُوْدِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,
Pada khutbah pertama telah kita sampaikan tiga pelajaran besar dari keluarga Ibrahim: ketundukan, pengorbanan, dan persatuan. Kini, sebagai pelengkap, mari kita renungkan sejenak tentang makna kurban yang akan kita lakukan.
Ibadah kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan. Ini adalah simbol kesiapan kita untuk mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi kecintaan kita kepada Allah. Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 37,
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging-daging hewan kurban dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”
Maka, ketika kita berkurban, yang Allah lihat bukan besar-kecilnya hewan, tetapi sejauh mana ketakwaan dan keikhlasan kita.
Apakah kita berkurban karena riya? Apakah kita berkurban sekadar tradisi? Ataukah kita berkurban dengan perasaan bahwa kita sedang meneladani Ibrahim dan Ismail, bahwa kita sedang berlatih mengorbankan kecintaan duniawi demi keridhaan Allah?
Ma’asyiral muslimin,
Mari kita sambung pelajaran kurban ini ke dalam kehidupan kita sehari-hari:
Mampukah kita mengorbankan sedikit waktu tidur untuk shalat malam?
Mampukah kita mengorbankan sebagian harta untuk membantu fakir miskin di sekitar kita?
Mampukah kita mengorbankan gengsi dan ego demi menjaga persatuan?
Mampukah kita mengorbankan posisi atau jabatan jika itu melanggar perintah Allah?
Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua untuk menjadi muslim yang tulus siap berkorban demi kejayaan Islam yang otomatis juga akan menjayakan bangsa dan negara kita.
Jamaah yang berbahagia,
Marilah kita akhiri khutbah ini dengan berdoa kepada Allah, semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya di hari yang mulia ini.
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا طَاعَاتِنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَأَعْمَالَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَٰذَا الْعِيدَ عِيدَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ وَرَحْمَةٍ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعًا
اللَّهُمَّ وَفِّقْ أُمَرَاءَنَا وَعُلَمَاءَنَا إِلَى سَبِيلِكَ الْمُسْتَقِيمِ، وَاجْعَلْ بَلَدَ إِنْدُونِيسِيَا بَلْدَةً طَيِّبَةً وَرَبٌّ غَفُورٌ.
اَللَّهُمَّ أَجِرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِي فِلَسْطِيْنَ وَفِي سُوْرِيَا وَفِي الْيَمَنِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ مِنَ الْبَلَاءِ وَالْقَهْرِ، وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ، وَأَصْلِحْ قَادَتَهُمْ
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ قَبْلَ أَنْ نَمُوْتَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Download PDF Materi Khutbah Jumat
Pelajaran Berharga dari Keluarga Ibrahim Alaihssalam
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?