Majelis Ramadhan #2: Belajar Agama, Emang Penting?

0 328

Artikel yang berjudul Belajar Agama, Emang Penting? ini adalah seri #2 dari serial Majelis Ramadhan.

***

 

Dalam satu kesempatan, saya singgah di sebuah masjid untuk mengerjakan shalat Ashar. Sudah terlambat. Shalat jamaah di masjid sudah bubar. Syukurnya ada seorang laki-laki shalat sendirian, yang sepertinya dia juga terlambat.

Saya berpikir ini kesempatan untuk tetap dapat fadhilah shalat berjamaah, maka saya mendekatinya, berdiri di sisi kanan, menepuk pundaknya untuk memberi isyarat agar ia menjadi imam dan saya menjadi makmum.

Saya pun bertakbir, namun belum sempat tangan saya bersedekap, laki-laki ini menoleh ke arah saya dan bertanya, “kenapa mas?”. Saya terkejut atas responnya. Boleh jadi ia tidak paham maksud sentuhan saya di pundaknya.

Saya yang masih posisi mengangkat tangan bersiap untuk takbiratul ihram kemudian merespon pertanyaan laki-laki ini, “Jadi imam pak.” Sembari mempersilahkan. Laki-laki tersebut kemudian melepaskan sedekap tangannya, kemudian berkata, “Ayo, qamat kalau gitu.”

Ini satu contoh dari sekian kasus serupa, ternyata banyak dari kaum muslimin belum benar-benar mengilmui dan memahami dengan baik soal hal-hal dasar dalam ibadah, seperti shalat yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim mukalaf.

Maka memiliki ilmu tentang hal-hal tersebut menjadi sebuah kewajiban bagi setiap muslim agar bisa mengerjakan ibadah sesuai dengan tuntunan dan tidak salah kaprah.

 

Korelasi Kewajiban Menuntut Ilmu dengan Ibadah

Apa tujuan manusia diciptakan?

Jawaban mayoritas muslim ketika mendapat pertanyaan tersebut adalah; untuk beribadah kepada Allah. Menyembah Allah sebagai Rabb satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.

Saat ditanya dalilnya pun banyak yang hafal di luar kepala, salah satunya mengutip firman Allah Ta’ala dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini menjadi landasan dari TUPOKSI manusia eksis di muka bumi ini. Sebagai hamba, maka tugas manusia adalah menghambakan diri atau menyembah Allah sebagai bukti ketundukan.

Dalam ayat inilah Allah menjelaskan tujuan dari diciptakannya jin dan manusia; untuk beribadah kepada-Nya. Begitu juga para Rasul, mereka diutus untuk menyampaikan kepada manusia; bahwa Allah adalah Ilah yang harus diibadahi. (Taisir Karim ar-Rahman, Abdurrahman as-Sa’di, 967)

Jika beribadah kepada Allah adalah kewajiban, maka menjadi penting untuk mengilmui dan memahami apa dan bagaimana ibadah tersebut harus dilakukan, yang tentunya sesuai dengan apa yang diingingkan dan diridhai oleh Allah, Dzat yang menjadi tujuan ibadah tersebut dilakukan.

Maka memiliki ilmu dihukumi wajib bagi seorang muslim, dan cara untuk memiliki ilmu adalah dengan belajar. Secara sederhana, bisa disimpulkan bahwa belajar tentang ulum syar’i (belajar ilmu agama) yang menjadi tuntunan dan pedoman untuk beribadah menjadi wajib bagi setiap muslim dan muslimah.

Artikel Fikih: Jika Kamu Sengaja Tidak Puasa Ramadhan

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan akan kewajiban menuntut ilmu bagi setiap muslim dan muslimah:

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albani)

Lalu, Ilmu apa yang wajib untuk dipelajari? Tentunya dalam konteks ini adalah ilmu agama, sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya tentang kewajiban beribadah kepada Allah. Maka memiliki ilmu tentang agama Allah adalah kewajiban.

Imam az-Zarnuji dalam Talim wal Mutaallim menjelaskan, bahwa setiap muslim wajib mempelajari atau mengetahui rukun maupun syarat amalan sebuah ibadah yang akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk suatu kewajiban maka mempelajari wasilah (perantara) tersebut menjadi wajib juga. Ilmu agama adalah wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama, maka mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. (Talim wal Mutaallim, Imam Az-Zarnuzi, 5)

 

Kewajiban menuntut ilmu

Orang-orang berilmu punya keutamaan tersendiri. Allah mengangkat derajat mereka mengungguli yang lainnya. Sebagaimana yang telah Allah firmankan,

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِير

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini, lalu berkata, “Wahai manusia, pahamilah oleh kalian ayat ini, dan cintailah oleh kalian ilmu, karena Allah mengangkat derajat mereka yang memiliki ilmu.” (Ma’alim at-Tanzil, Imam al-Baghawi, 8/58-59)

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa ayat ini menjelaskan keutamaan ahlul ilmi berupa pahala kelak di akhirat dan kehormatan saat di dunia. Orang beriman ditinggikan derajatnya atas yang tidak beriman, dan yang berilmu diangkat derajatnya dari yang tidak berilmu. (Al-Jami’ li Ahkami al-Quran, Imam al-Qurthubi, 20/319)

Urgensi ilmu juga bisa dilihat dari; bahwa tidak ada perintah Allah kepada Nabi-Nya untuk meminta bertambahnya sesuatu selain ilmu. Allah berfirman,

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkomentar tentang ayat ini, bahwa ayat ini mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan atas sesuatu kecuali ilmu.

Adapun yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syari’i. Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya dalam masalah-masalah ibadah dan muamalahnya, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, apa saja yang harus dia tunaikan dalam melaksanakan perintah-Nya serta mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan. (Fath al-Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani, 1/92)

Pesan al-Quran lainnya yang memerintahkan untuk mencari ilmu ada pada firman Allah Ta’ala dalam surat an-Nahl ayat 43. Allah berfirman,

فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Secara umum ayat ini menunjukkan pujian terhadap ahlul ilmi, dan termasuk kategori ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang kitabullah (al-Quran). Dan Allah memerintahkan kepada mereka yang tidak mengetahui (sesuatu) untuk kembali kepada al-Quran dalam segala urusan. (Taisir Karim ar-Rahman, Abdurrahman as-Sa’di, 505)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga dalam banyak sabdanya memerintahkan untuk menuntut ilmu dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan ilmu sebagai barometer kebaikan pada diri seseorang.

Dari Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ يٌرِيدِ اللهُ بِهِ خَيراً يُفَقِّهُ فِي الدِّينِ

Barang siapa yang Allah hendaki kebaikan pada diri seseorang, maka Allah akan memahamkannya dalam ilmu agama.” (Muttafaq ‘alaihi)

Kenapa ilmu yang melekat pada diri seseorang menjadi tolok ukur kebaikan? Karena ilmu itu akan menjadi peta bagi seseorang untuk menjalani kehidupannya. Ilmu itu akan jadi pedoman tentang apa dan bagaimana ia harus berbuat, jalan mana yang harus ia tempuh, apa saja yang harus ia kerjakan, dan apa saja yang harus ditinggalkan.

Baca juga: Ilmu Islam itu Sangat Luas, Ini yang Fardhu ‘Ain untuk Dipelajari

Imam an-Nawawi berkata perihal hadits ini dalam syarahnya, bahwa kandungan hadits ini menunjukkan akan keutamaan ilmu dan mendalaminya, serta dorongan kepadanya. Karena ilmu akan menuntun para pencarinya kepada jalan ketakwaan kepada Allah. (Lihat: Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, 7/128)

Adapun ketakwaan adalah ukuran penilaian seorang hamba di hadapan Allah. Sebaik-baik hamba di hadapan-Nya adalah yang paling bertakwa, dan ketakwaan tidak bisa diraih kecuali dengan jalan ilmu.

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Hal senada juga ditegaskan oleh Imam Zarnuji, “Ilmu itu sangat penting karena ia sarana untuk bertakwa. Dengan takwa inilah manusia menerima keuddukan terhormat di sisi Allah, dan memperoleh keuntungan abadi.”

Beliau juga mengutip syair Muhammad bin al-Hasan bin Abdullah yang berkata,

Belajarlah. Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna. Belajarlah ilmu agama, karena ia adalah ilmu yagn paling unggul . ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan takwa.” (Ta’lim wal Muta’allim, Imam az-Zarnuzi, 7)

 

Ilmu adalah warisan para Nabi

Para Nabi dan Rasul tidak mewarisi sesuatu yang lebih berharga dibandingkan ilmu yang mereka tinggalkan bagi umatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Katsir bin Qais dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu,

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Dan sesungguhnya para ulama (ahlu ilmi) adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewarisi dinar ataupun dirham, adapun mereka mewarisi ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya, dia telah mendapat keuntungan yang besar.” (HR. Abu Daud No. 3641)

Allah juga menyebutkan dalam firman-Nya:

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا دَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ عِلۡماۖ

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman.” (QS. an-Naml: 15)

Imam al-Qurthubi menafsirkan ilmu dalam ayat ini adalah ilmu agama dan hukum terkait peradilan. Dan ayat ini menunjukkan kemuliaan ilmu dan tingginya kedudukan ilmu serta kemulian pemiliknya. Dan ilmu termasuk nikmat yang paling agung dan anugerah yang besar, dan siapa yang diberikan ilmu maka sungguh telah diberikan keutamaan dibanding hamba-hamba beriman lainnya. (Al-Jami li ahkami al-Quran, Imam al-Qurthubi, 16/112)

Majelis Ramadhan #1: Belajar Ilmu Mulai dari Mana?

Aku tinggalkan kepada kalian dua perkata, kalian tidak akan tersesat selama berpegang tegug dengan keduanya; kitabullah dan sunnahku.” (HR. Tirmidzi dan al-Hakim)

Jadi, Kapan Mulai belajar? (Fajar Jaganegara/dakwah.id)

 

Baca juga artikel ADAB atau artikel menarik lainnya karya Ustadz Fajar Jaganegara.

 

Penulis: Ustadz Fajar Jaganegara
Editor: Sodiq Fajar

 

Langganan artikel serial Majelis Ramadhan

DAFTAR

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.