kultum ramadhan muhammad bin al-hanafiyah Teladan dalam Adab dakwah.id

Kultum Ramadhan 08: Muhammad bin Al-Hanafiyah Teladan dalam Adab

Tulisan yang berjudul Muhammad bin Al-Hanafiyah Teladan dalam Adab ini adalah seri ke-08 dari serial Materi Kultum Ramadhan yang ditulis oleh ustadz Muhammad Faishal Fadhli.

Setelah Sayyidah Fathimah az-Zahra radhiyallahu anha wafat, Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menikah lagi dengan seorang perempuan dari Bani Hanifah bernama Khaulah binti Ja’far bin Qais al-Hanafiyah.

Dari pernikahan ini, Allah subhanahu wataala menganugerahi Ali seorang anak lelaki yang ia beri nama Muhammad. Dahulu, Ali memang pernah meminta rida kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bahwa jika sepeninggal Rasul ia dikaruniai anak lagi, anak itu akan diberi nama “Muhammad”. Dan Nabi mengizinkan Ali.

Secara nasab, anak ini bernama Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Hanya saja, kaum muslimin yang hidup semasa dengannya, hendak membedakan antara dirinya dan keturunan Ali yang lain dari Fathimah. Mereka memanggilnya Muhammad bin al-Hanafiyah. Ia tumbuh dewasa dan dikenal publik dengan nama tersebut.

Muhammad bin al-Hanafiyah mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat yang sama persis seperti ayahnya. Dia sosok yang karismatik. Pemberani. Cerdas. Tangkas. Dan menjadi andalan dalam medan pertempuran.

Kenapa ayahmu menempatkanmu tidak berdekatan dengan kedua saudaramu; Hasan dan Husein?” tanya orang-orang kepadanya.

Tidak ingin terpancing dengan pertanyaan bernada hasutan, Muhammad bin al-Hanafiyah menanggapi, “Karena kedua saudaraku, ibarat dua bola mata bagi ayahku. Sedangkan aku adalah tangannya. Dia menjaga kedua matanya dengan tangannya.”

Jawaban ini menunjukkan kematangan, kedewasaan dan kualitas seorang putra dari sahabat mulia yang terkenal arif dan bijaksana. Pada kesempatan lain, saat terjadi kesalahpahaman antara Muhammad bin al-Hanafiyah dan Hasan, ia menulis surat kepada kakandanya itu.

Amma badu. Sesungguhnya Allah memberi keutamaan kepadamu melebihi diriku. Ibumu, Fathimah, putri Rasulullah shallalahu alaihi wasallama. Sedangkan ibuku, hanya seorang perempuan biasa dari Bani Hanifah. Kakekmu dari jalur ibu adalah seorang Rasul. Bening akhlaknya. Sementara kakekku dari jalur ibu adalah Jafar bin Qais… maka, apabila telah sampai suratku ini di tanganmu, kumohon agar Engkau berkenan mengunjungiku, dan berdamailah denganku, agar Engkau tetap lebih utama dariku dalam segala sesuatu.” (Tarikh Dimasyqa, Ibnu Asakir, 54/333)

Ketika surat itu sampai kepada Hasan, maka ia bersegera mendatangi rumah Muhammad bin al-Hanafiyah. Akur dan saling menguatkan. Suasana yang hangat dan harmonis. Hubungan antara kakak beradik yang terjalin erat, meskipun mereka dilahirkan dari dua rahim yang berbeda.

Masyaallah.

Dzurriyatan badhuhaa min badh.

Hikmah dari Kisah Indah Muhammad bin Al-Hanafiyah

Banyak hikmah yang bisa kita petik dari kisah indah ini. Di antaranya:

Pertama: sifat tawadhu’ yang memesona

Perhatikanlah pernyataan Muhammad bin al-Hanafiyah yang santun dan diplomatis. Kalimat itu adalah buah dari sifat rendah hati, tahu diri, dan cinta damai. Rasul memuji orang-orang yang menghias diri dengan sifat tawadhu’,

مَا مِنْ بَنِي آدَمَ أَحَدٌ ‌إِلَّا ‌وَفيِ ‌رَأْسِهِ ‌سِلْسِلَتَانِ سِلْسِلَةٌ فيِ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَسِلْسِلَةٌ فِي الْأَرْضِ السَّابِعَةِ فَإِذَا تَوَاضَعَ الْعَبْدُ رَفَعَهُ اللُّهُ بِالسِّلْسِلَةِ الَّتِي فِي السَّمَاءِ وَإِذَا تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى

Tidak ada manusia kecuali di kepalanya ada dua rantai, rantai di langit ke tujuh dan rantai di bumi ke tujuh. Jika ia tawadhu maka Allah akan mengangkatnya dengan rantai ke langit ke tujuh, dan jika ia sombong maka Allah akan merendahkannya dengan rantai ke bumi ke tujuh.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Khara’ithi, Imam al-Hasan bin Sufyan, Ibnu La’al, dan Imam ad-Dailami dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Ibnu Hajar (al-Amali al-Muthlaqah, 92) mengatakan, hadits ini hasan gharib.

Kedua: sikap tenang dan tidak mudah terprovokasi

Dalam hidup yang kita jalani, akan selalu ada para pecundang yang mencoba memperkeruh suasana. Disengaja atau tidak, kata-kata mereka menyebarkan kebencian dan menanam benih-benih permusuhan di antara orang beriman.

Agar tidak larut dalam permainan yang mereka ciptakan, kita harus pandai mengelola perasaan. Jangan sampai terpancing. Sejukkan hati. Kuatkan sabar. Saat kita mendengar narasi provokatif yang berpotensi memecah belah persatuan.

Seperti Muhammad bin al-Hanafiyyah. Peluang untuk konflik di antara dia dan Hasan, sebenarnya sangat besar. Ditambah lagi ada orang yang menghasutnya. Tetapi ia tetap kalem dan tidak tersulut provokasi. Inilah akhlak mulia yang sulit diwujudkan, di zaman penuh fitnah seperti sekarang ini.

Ketiga: adab kepada cucu Nabi

Dalam Islam, orang yang pertama kali memulai perdamaian lebih utama dan lebih terhormat. Maka Muhammad bin al-Hanafiyah memberikan kesempatan itu kepada kakaknya, Hasan. Agar dirinya tidak mengungguli Hasan walau hanya dalam satu hal. Ini bukan sekedar adab seorang adik kepada kakaknya. Lebih dari itu, inilah adab seorang muslim kepada dzuriyyah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan seluruh ahlul bait.

Demikianlah sekelumit kisah dan hikmah dari seorang tabiin mulia, Muhammad bin al-Hanafiyah. Mari kita ambil pelajarannya, semoga berfaedah. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.(Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

Baca juga artikel Materi Kultum Ramadhan atau artikel menarik lainnya karya Muhammad Faishal Fadhli.

Penulis: Muhammad Faishal Fadhli
Editor: Ahmad Robith Artikel

Materi Kultum Ramadhan sebelumnya:

Topik Terkait

Muhammad Faishal Fadhli

Pengkaji Literatur Islami. Almnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 14.

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: