khutbah jumat terbaru cara tobat dari dosa besar dakwah.id

Khutbah Jumat Terbaru Cara Tobat dari Dosa Besar

Terakhir diperbarui pada · 2,006 views

Khutbah Jumat Terbaru
Cara Tobat dari Dosa Besar

Pemateri: Sodiq Fajar

*) Link download file PDF materi khutbah Jumat ada di akhir tulisan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُ، وَاسْتَمْسَكَ بِسُنَّتِهِ وَسَارَ عَلَى طَرِيْقَتِهِ، وَانْتَهَجَ نَهْجَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

وَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا

وَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَسَاۤءُوْا بِمَا عَمِلُوْا وَيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا بِالْحُسْنٰىۚ

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimahullah,

Kami wasiatkan kepada diri kami juga kepada jamaah sekalian untuk terus berusaha meningkatkan kualitas takwa. Mari berusaha untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benarnya takwa.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 197,

 وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Mari wujudkan takwa itu dengan melaksanakan setiap perintah Allah subhanahu wata’ala dan menjauhi setiap larangan-Nya.

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimahullah,

Kita meyakini bahwa iman itu dapat bertambah juga dapat berkurang. Iman bertambah dengan melakukan amal ketaatan. Iman berkurang jika banyak melakukan dosa dan kemaksiatan.

Kita meyakini bahwa dosa itu ada dosa besar dan dosa kecil. Dosa besar mengharuskan pelakunya mendapatkan hukuman had di dunia, sedangkan dosa kecil tidak ada had-nya di dunia.

Kita meyakini bahwa tidak ada manusia yang maksum, bahkan sahabat Nabi sekalipun bukanlah orang yang maksum. Tidak ada yang terbebas dari dosa kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau telah mendapatkan jaminan sebagai manusia yang maksum terbebas dari dosa.

Kisah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Maiz bin Malik al-Aslami radhiyallahu ‘anhu adalah kisah yang cukup terkenal.

Ceritanya, suatu ketika Maiz bin Malik terjebak dalam sebuah perbuatan zina. Hingga beberapa saat setelahnya cahaya iman kembali menyinari hatinya.

Ia melihat seolah di hadapannya tampak dosa sebesar gunung siap menindih dirinya. Lalu mendorong dirinya hingga terjatuh di jurang yang sangat curam.

Sahabat Maiz sangat ketakutan. Hatinya bergemuruh. Air matanya bercucuran. Kesedihan dan penyesalan yang mendalam selalu menghantuinya.

Ia memutuskan untuk datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Terus terang tentang dosa besar yang telah ia lakukan.

Wahai Rasulullah, mohon sucikan diriku!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menanggapi, “Celaka kamu, Maiz. Segera pulang, minta ampun kepada Allah, bertobatlah!”

Gemuruh hati Maiz belum juga reda. Maiz mengulang permohonannya sampai tiga kali. Baru kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menanggapi permintaan Maiz.

Apakah Pelaku Dosa Besar Kekal di Neraka?

Dosa besar itu wujudnya ada banyak sekali. Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah subhanahu wata’ala.

Contoh dosa besar lainnya adalah durhaka kepada kedua orang tua, memberikan kesaksian palsu, minum khamr, zina, makan harta riba, memakan harta anak yatim, membunuh, tuduhan zina, dan masih banyak lagi.

Di antara daftar kitab yang membahas dosa besar adalah Al-Kabair karya Imam adz-Dzahabi, Kitab al-Kabair karya Syaikh Muhammad bin Abdulwahab, Az-Zawajir ‘An Iqtiraf al-Kabair karya Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i, dan masih banyak lagi.

Apakah pelaku dosa besar kekal di neraka? Bagaimana keyakinan kita terkait hal ini?

Kita yang bertekad meniti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama ahlu sunnah meyakini bahwa orang yang melakukan dosa besar ketika di dunia tidak serta merta dicap sebagai kafir.

Seorang muslim yang melakukan dosa besar statusnya tetap muslim dengan keimanannya, dan ia berdosa atas maksiat yang ia lakukan. Keimanannya berkurang karena dosa yang ia lakukan.

Jika ia meninggal, dalam keadaan muslim namun belum bertobat dari dosa besarnya, maka ia berada di bawah kehendak Allah subhanahu wata’ala.

Jika Allah berkehendak, ia akan diampuni. Jika Allah subhanahu wata’ala berkehendak, ia akan dihukum atas dosa yang ia lakukan. Ia tidak kekal di neraka tersebab di dalam hatinya masih ada iman meskipun hanya sebesar biji sawi.

Kita tidak ikut-ikut keyakinan golongan yang meyakini muslim pelaku dosa besar sebagai kafir yang kekal selamanya di Neraka.

Kita tidak ikut-ikut keyakinan golongan yang meyakini dosa besar yang dilakukan oleh seorang muslim sama sekali tidak berpengaruh pada keimanannya.

Kita juga tidak ikut-ikut keyakinan golongan yang meyakini pelaku dosa besar berada di ruangan antara Surga dan neraka.

Bagaimana Cara Menghapus Dosa Besar?

Para ulama menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk menghapus dosa besar adalah dengan tobat nasuha. Berbeda dengan dosa kecil yang dapat terhapus dengan amal kebaikan dan ketaatan.

Ibnu Abdil Barr menjelaskan dalam kitab al-Istidzkar jilid 1 halaman 197, “Dosa-dosa besar tidak dapat terhapus kecuali dengan tobat.”

Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan dalam kitab Ikmal al-Mu’lim bi Fawaid Muslim jilid 2 halaman 15, “Dosa-dosa besar hanya bisa terhapus dengan tobat atau dengan rahmat dan keutamaan Allah.”

Ibnu Bathal menjelaskan dalam kitab Syarh Shahih al-Bukhari jilid 2 halaman 155, “Adapun terkait dosa besar, ulama Ahlu Sunnah sepakat bahwa pelaku dosa besar harus bertobat, mengakui kesalahan, meninggalkan dosa tersebut, dan bertekad untuk tidak kembali melakukannya.”

Bagaimana Cara Tobat dari Dosa Besar

Pertama, jika dosa besar yang dia lakukan hanya berhubungan dengan hak Allah subhanahu wata’ala, seperti syirik dan semisalnya, maka ia harus bertobat kepada Allah subhanahu wata’ala dengan tobat nasuha. Yakni mengakui kesalahan, meninggalkan dosa tersebut, dan bertekad untuk tidak kembali melakukannya.

Kedua, jika dosa besar tersebut berhubungan dengan hak sesama manusia seperti mencuri, memakan harta anak yatim, dan semisalnya, maka pelakunya harus bertobat dan mengembalikan hak tersebut kepada yang bersangkutan.

Islam adalah agama dengan konsep kasih sayang yang sempurna. Hal ini tampak jelas dalam perkara seorang muslim yang melakukan dosa besar.

Di dalam Islam, hukuman had sebagaimana dijabarkan dalam kitab-kitab fikih hanya wajib ditegakkan ketika kasus tersebut sampai kepada pemimpin atau hakim dalam pemerintahan Islam. Dan penegakan had bukanlah syarat dalam bertobat.

Sedang kasus semacam itu jika informasinya tidak sampai kepada pemimpin atau hakim dalam pemerintahan Islam, yang utama bagi pelakunya hanyalah bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya, dan mengembalikan hak jika itu berkaitan dengan hak sesama, serta menutup rapat peristiwa dosa besar tersebut agar tidak menjadi fitnah.

Sikap seperti ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendengar aduan Maiz yang telah berzina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh Maiz untuk pulang dan bertobat sampai diulang tiga kali.

Maksudnya, sebenarnya masih ada kesempatan bagi Maiz untuk tidak diberlakukan hukuman had selama belum sampai kepada pemimpin pemerintahan Islam. Allahu a’lam bish shawab.

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimahullah,

Dalam hadits shahih, riwayat imam al-Bukhari, hadits nomor 3892, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi penjelasan kepada para sahabat yang telah berbaiat kepada beliau untuk tidak berbuat syirik, tidak berzina, dan seterusnya,

وَمَنْ ‌أَصَابَ ‌مِنْ ‌ذَلِكَ ‌شَيْئًا ‌فَعُوقِبَ ‌بِهِ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ لَهُ كَفَّارَةٌ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَسَتَرَهُ اللهُ فَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ، إِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ

Dan siapa saja yang melakukan sesuatu dari hal itu lalu dia dihukum dengannya maka itu menjadi penebus dosa (kafarah) untuknya. Dan siapa saja yang melakukan sesuatu dari hal itu lalu Allah menutupinya maka perkaranya kepada Allah, jika Dia berkehendak Dia memaafkannya dan jika Dia berkehendak, Dia menyiksanya.”

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimahullah,

Demikian materi khutbah Jumat tentang cara tobat dari dosa besar yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjauhkan kita dari setiap bentuk dosa besar dan mengampuni setiap dosa yang pernah kita lakukan. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَبِهِ كَانُوْا يَعْدِلُوْنَ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَليٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا رَخَاءً وَسَائْرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّنَا بِحُبِّكَ وَمَحَبَّةِ لِقَائِكَ، وَلَا تَذُلُّنَا بِحُبِّ الدُّنْيَا وَكُرْهِ لِقَائِكَ، وَأَخْرِجْ هَذِهِ الْأُمَّةَ مِنْ حَبَائِلِ أَنْفُسِهَا وَالشَّيَاطِيْنِ، وَرَدِّهَا إِلَى دِيْنِهَا مَرَدًّا جَمِيْلاً.

اللَّهُمَّ إِنَّا ‌نَسْتَغْفِرُكَ ‌لِكُلِّ ‌ذَنْبٍ تُبْناَ إِلَيْكَ مِنْهُ ثُمَّ عَاوَدْنَاهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِكُلِّ شَيْءٍ جَعَلْتَهُ لَكَ خَالِصًا عَلَى نُفُوْسِنَا ثُمَّ لَمْ نَفِ بِهِ، وَ‌نَسْتَغْفِرُكَ لِكُلِّ عَمَلٍ عَمِلْنَاهُ أَرَدْنَا بِهِ وَجْهَكَ فَخَالَطَهُ مَا لَيْسَ لَكَ، وَ‌نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا دَعَانَا إِلَيْهِ الْهَوَى مِنْ قَبُولِ الرُّخَصِ فِيمَا أَتَيْنَاهُ وَاشْتَبَهَ عَلَيْنَا مِمَّا هُوَ عِنْدَكَ حَرَامٌ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِلنِّعَمِ الَّتِي أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا فَقَوِينَا بِهَا عَلَى مَعَاصِيْكَ، وَ‌نَسْتَغْفِرُكَ لِلذُّنُوبِ الَّتِي لا يَعْلَمُهَا غَيْرُكَ ولا يَسَعُهَا إِلَّا حِلْمُكَ وَعَفْوُكَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى آلَائِهِ وَنِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat Singkat dakwah.id
Cara Tobat dari Dosa Besar di sini:

Semoga bermanfaat!

Topik Terkait

Sodiq Fajar

Bibliofil. Pemred dakwah.id

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: