Materi khutbah Jumat karya Ustadz S.K. Nugroho ini menekankan bahwa standar kemuliaan seorang Muslim diukur dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Melalui teks khutbah Jumat singkat ini beliau menjelaskan bahwa kesuksesan sejati dalam Islam bukan sekadar tentang capaian materi, melainkan dampak positif yang nyata bagi sesama. Terdapat tiga pilar utama kebermanfaatan yang harus diupayakan, yaitu dimulai dari perbaikan kualitas diri, kemudian memberikan kasih sayang kepada keluarga, hingga menjadi solusi bagi persoalan di masyarakat.
Materi Khutbah Jumat
Menjadi Manusia Bermanfaat
Pemateri: Ustaz S.K. Nugroho
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾.
وَقَالَ النَّبِيُّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah sidang shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala
Pada hari yang mulia ini, mari bersama-sama kita haturkan rasa syukur kepada Allah subhanahu wata’ala, Rabb semesta alam.
Karena kasih sayang-Nya kepada segenap hamba-Nya, Allah subhanahu wata’ala menurunkan al-Quran sebagai pedoman yang akan membimbing kita untuk tidak hanya sekedar hidup, tetapi juga menjalani hidup ini dengan lebih bermakna.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada baginda kita, suri teladan umat ini, nabi penutup para nabi, rasul penutup para rasul, Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Nabi dan rasul terbaik yang Allah utus untuk menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Nabi yang telah memberikan manfaat yang sangat luas bagi umat manusia.
Tidak lupa, kami selaku khatib mewasiatkan kepada diri kami dan umumnya kepada jamaah sekalian, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala.
Sebab tidak ada bekal terbaik yang bisa kita bawa untuk menghadap Allah subhanahu wata’ala, selain daripada amal ketakwaan yang kita kerjakan selama di dunia.
Jamaah sidang shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala
Pada kehidupan kita ini, tanpa sadar terkadang kita menilai dan mengukur keberhasilan hanya dengan apa yang dimiliki atau mampu dicapai. Nilai akademik yang tinggi, jabatan yang mentereng, pengaruh yang luas, atau harta yang melimpah.
Memiliki capaian dalam hal tersebut sering kali dianggap sebagai bentuk keberhasilan. Tentu hal ini bukan sesuatu yang sama sekali salah dan keliru. Hanya saja, Islam memberikan kepada kita ukuran yang berbeda.
Agama yang kita yakini tidak mempertanyakan seberapa tinggi posisi kita, seberapa baik nilai kita, atau seberapa banyak harta yang kita kumpulkan.
Itu semua memang penting dan tentu harus terus diupayakan dengan baik, tetapi ada hal yang sepatutnya tidak kita lupakan. Yaitu, seberapa manfaat capaian yang telah kita dapatkan tersebut?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Inilah standar hidup yang digariskan kepada kita selaku umat Islam.
Iman yang benar dan tulus akan senantiasa melahirkan sikap positif yang memberikan dampak nyata. Bukan hanya identitas maupun simbol semata.
Jamaah sidang shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala
Pada kesempatan khutbah ini, khatib ingin menyampaikan tiga kebermanfaatan yang hendaknya kita upayakan bersama, sebagai bentuk pengamalan ajaran Islam yang kita imani.
Pertama: Manusia Bermanfaat bagi diri sendiri
Kebermanfaatan pertama adalah bermanfaat bagi diri sendiri. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Quran Surat asy-Syams ayat 9—10,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa manfaat dan kebaikan akan diraih oleh setiap pribadi muslim jika dia terus berusaha mendisiplinkan jiwanya.
Allah subhanahu wata’ala menjanjikan keberuntungan bagi siapa pun yang terus berusaha membersihkan hatinya.
Jamaah sidang shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala
Kebermanfaatan bagi diri sendiri bukan sekadar tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sebab, betapa banyak orang mengetahui kewajiban shalat, tetapi shalat itu belum mampu menertibkan hidupnya.
Ia shalat, namun masih mudah berbohong. Ia beribadah, tetapi masih ringan melanggar amanah. Ia mengaku beriman, tetapi waktunya habis untuk hal yang sia-sia dan melalaikan.
Padahal, jika iman itu benar-benar hidup, maka ia akan tampak pada kedisiplinan, pada kesungguhan memperbaiki diri, dan pada kemampuan menahan diri dari perbuatan maksiat.
Khutbah Jumat Singkat: 3 Hak Tetangga Ini Jangan Diabaikan
Inilah poin pertama yang perlu kita perhatikan, bahwa Islam mengajarkan umatnya agar terus berusaha mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri sesuai dengan tuntunan syariat.
Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu berkata,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Kebaikan dan kebermanfaat itu hendaklah dimulai dari diri sendiri, dan caranya adalah dengan memperbaiki kualitas diri.
Kedua: Manusia Bermanfaat bagi keluarga
Para jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala
Kedua, adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi keluarga kita.
Setelah berusaha membenahi diri, maka kebaikan itu haruslah dirasakan oleh orang terdekat kita, yaitu keluarga. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Quran Surat at-Tahrim ayat 6,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa keluarga kita bukan hanya sekedar tempat untuk pulang, tetapi padanya ada amanah. Amanah bagi kita untuk mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi mereka.
Banyak orang yang tampak baik di luar rumah. Akan tetapi, keluarganya justru tidak mendapatkan kebaikannya tersebut.
Betapa sering seseorang tampak santun di luar, tetapi justru keluarganya yang paling sedikit merasakan kelembutan sikapnya. Di hadapan orang lain ia menjaga lisan sedemikian rupa, tetapi di rumah ia justru sering meninggikan suara.
Betapa banyak mereka yang berusaha terlihat baik di masyarakat, akan tetapi keluarganya di rumah justru merasakan jarak dan sikap yang keras.
Padahal, tolak ukur kebaikan dan kebermanfaatan seseorang itu justru ada pada keluarga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian, adalah yang paling baik (bermanfaat) untuk keluarganya.”
Hadirin yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala
Kebaikan yang kita berikan kepada keluarga kita tentu tidak cukup hanya dengan harta atau kebaikan materi saja. Akan tetapi, juga kebaikan yang bersifat batin.
Keluarga kita sangat membutuhkan senyuman ramah kita, kasih sayang kita, dan juga sikap baik yang terkadang hanya kita berikan untuk orang selain keluarga kita.
Oleh sebab itu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengingatkan agar seseorang senantiasa mendidik keluarganya dengan adab dan ilmu Beliau mengingatkan agar para orang tua tidak berhenti dengan hanya memberikan manfaat materi saja, tetapi lupa dalam memberikan pendidikan dan teladan yang baik.
Bagaimana dan seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan kepada keluarga, menjadi tolak ukur sejauh mana keimanan kita.
Ketiga: Manusia Bermanfaat bagi masyarakat
Jamaah sidang shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala
Ketiga, Islam menuntut pemeluknya untuk hadir sebagai solusi di tengah masyarakat. Allah subhanahu wata’ala berfirman, dalam al-Quran Surat al-Maidah ayat 2,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.”
Pada ayat tersebut, Allah subhanahu wata’ala mengingatkan kepada kita bahwa sikap hidup individualis yang tidak peduli pada lingkungan dan masyarakat sekitar bukanlah ciri seorang muslim yang baik.
Terkadang kita sudah cukup merasa saleh hanya dengan sering ke masjid, sering membaca al-Quran, atau sering berzikir dan shalawatan. Padahal, tidak demikian Nabi kita mencontohkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok teladan mulia yang hidup baik dalam bertetangga. Beliau hadir bukan hanya sebagai sosok Nabi atau orang saleh yang hidupnya habis hanya di masjid.
Beliau adalah sosok tetangga yang terbaik, sosok pemimpin yang paling adil, dan manusia yang memberikan rahmat bagi seluruh alam.
Jamaah sidang shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala
Kebermanfaatan yang bisa kita berikan, tidak selalunya harus berupa hal besar. Menepati janji, jujur kepada sesama, menjaga lisan, bahkan kebaikan-kebaikan kecil lainnya meski sekedar menyingkirkan gangguan dari jalan merupakan di antara bentuk kebermanfaatan bagi sesama.
Masih hangat dalam ingatan kita, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan tentang seseorang yang diampuni dosa-dosanya tersebab telah menyingkirkan duri dari jalan.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam sahihnya, hadits nomor 624, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ، وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ.
“Saat seorang pria sedang berjalan, tiba-tiba ia mendapati sebuah dahan berduri yang menghalangi jalan. Ia kemudian menyingkirkannya. Maka Allah menerima amalnya dan mengampuni dosa-dosanya.”
Allah subhanahu wata’ala memberikan kita ganjaran pahala, bahkan dari kebermanfaatan kecil yang kita lakukan. Lantas, bagaimana jika kita bisa mendatangkan manfaat yang lebih besar bagi sesama?
Tentu ketika hal itu diiringi dengan keikhlasan dan ketulusan karena Allah subhanahu wata’ala semata, pahalanya akan berlipat ganda.
Jamaah sidang shalat Jumat yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala
Demikianlah Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadi sosok yang terbaik. Tidak peduli seberapa tinggi posisi kita, dan seberapa banyak harta yang kita miliki.
Terpenting adalah seberapa banyak dan seberapa luas manfaat yang bisa kita berikan untuk diri sendiri, keluarga, dan juga masyarakat sekitar kita.
Oleh karena itu, mari kita menjadi seorang muslim yang hidup dengan keimanan yang membawa pada amal kebaikan serta kepedulian kepada sesama.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَاءِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. أَمَّا بَعْدُ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا دَيْنًا إِلَّا قَضَيْتَهُ، وَلَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا قَضَيْتَهَا، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Download PDF Materi Khutbah Jumat
Menjadi Manusia Bermanfaat
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?