materi khutbah jumat menjadi ayah tangguh di masa krisis dakwah.id

Khutbah Jumat Singkat: Menjadi Ayah Tangguh di Masa Krisis

Terakhir diperbarui pada ·

Khutbah Jumat Singkat
Menjadi Ayah Tangguh di Masa Krisis

Pemateri: Ustadz Muhammad Faishal Fadhli

Mukadimah Khutbah Jumat

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا، وَأَفَاضَ عَلَى عِبَادِهِ الصَّابِرِيْنَ خَيْرًا وَفِيْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْبَاسِطُ الْقَابِضُ، الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْأُسْوَةُ الْحَسَنَةُ فِي الصَّبْرِ وَالْيَقِيْنِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Khutbah Pertama

Jamaah sekalian, khususnya para ayah yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa memperkuat takwa kita kepada Allah subhanahu wataala dengan takwa yang sebenar-benarnya.

Di tengah ketidakpastian zaman dan beratnya pundak kita memikul amanah keluarga, ingatlah bahwa ketakwaan adalah kunci utama untuk menjemput segala bentuk jalan keluar sekaligus perisai terkuat untuk melindungi keluarga kita dari berbagai musibah.

Allah subhanahu wataala telah memberikan jaminan yang sangat indah dalam al-Quran, Surat ath-Thalaq: 2—3,

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا * وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.”

Ayat ini adalah pegangan bagi kita, para pejuang nafkah yang memikul amanah. Takwa adalah jalan keluar dari segala krisis ekonomi yang menjepit, dari segala kesempitan hidup, dan dari segala beban tagihan serta urusan rumah tangga yang mengimpit.

Lewat takwa pula, Allah akan mengalirkan rezeki yang berkah untuk bekal kita menafkahi anak istri di dunia; rezeki yang membuat jiwa kita sebagai kepala keluarga merasa cukup, sehingga kita tidak perlu menggadaikan harga diri untuk mengemis atau bergantung pada belas kasihan makhluk-Nya.

Hikmah di Balik Ujian Kehidupan para Kepala Keluarga

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Dalam panggung kehidupan, tidak ada satu pun rumah tangga yang luput dari ujian.

Ketika kesulitan finansial datang mendera, ketika dapur mulai jarang mengepul, ketahuilah bahwa di sana ada hikmah yang teramat agung. Allah, Tuhan yang menitipkan anak istri kepada kita, adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Allah sengaja mempergilirkan roda kehidupan. Ada kalanya kita bisa memanjakan anak istri dengan kelimpahan nikmat, tapi di lain waktu Allah menguji ketangguhan kita lewat masa-masa sulit dan paceklik yang mencekik.

Ujian ini bersifat universal, menyeluruh; menyapa setiap rumah tangga. Sebagai pemimpin, kita dituntut untuk menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah rapuh.

Semua ini adalah batu ujian untuk menguji mental kepemimpinan kita di dalam rumah tangga, sebagaimana firman-Nya, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.”

Materi Khutbah Jumat: Menjaga Akidah Keluarga

Saat ini, kita menyaksikan banyak kepala keluarga harus memutar otak lebih keras; menghadapi mahalnya biaya hidup sehari-hari, biaya pendidikan anak yang melonjak, hingga hantaman pengurangan pendapatan. Bahkan, ada yang terkena PHK dan kehilangan mata pencaharian.

Pertanyaannya: mengapa Allah memvariasikan ujian ini? Tidak lain dan tidak bukan untuk menyaring dan membongkar apa yang tersembunyi di dalam dada kita sebagai pemimpin keluarga.

Dari sana akan terlihat jelas, mana ayah tangguh yang memiliki mental pejuang yang saleh, dan mana yang justru menyerah lalu membawa pengaruh buruk ke dalam rumahnya.

Etos Kerja Ayah Tangguh: Ikhtiar di Atas Tawakal

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ketika badai ujian ekonomi datang melanda, satu hal yang tidak boleh luntur dari diri seorang ayah tangguh adalah semangat untuk tetap tegap berdiri, bekerja, dan berikhtiar.

Ingatlah, tawakal bukan berarti berdiam diri di rumah menyerahkan nasib pada keadaan, sementara anak istri menangis kelaparan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi harga diri seorang lelaki. Maka, jagalah maskulinitas dengan bekerja keras.

Mencari nafkah yang halal, memeras keringat menjadi driver, berdagang kecil-kecilan, atau pekerjaan apa pun—sekecil apa pun hasilnya—jauh lebih mulia di mata Allah daripada kita berpangku tangan, meratapi nasib, atau meminta-minta.

Selama tubuh masih sehat, jemputlah karunia Allah dengan penuh optimis.

Ketahuilah, setiap tetes keringat seorang ayah tangguh yang keluar demi memberi makan anak istrinya secara halal, demi memastikan anak-anaknya bisa tetap sekolah, dicatat sebagai nilai jihad di jalan Allah. Jangan biarkan krisis mematikan harga diri kita sebagai pengayom keluarga.

Ayah yang Dermawan: Tetap Berinfak di Kala Sempit

Maasyiral muslimin arsyadakumullah,

Seorang ayah tangguh yang bertakwa tidak akan membiarkan kesempitan ekonomi mengunci pintu hatinya untuk berbagi. Justru di saat kehidupan terasa sempit, keimanan seseorang sering kali tampak dalam bentuk yang paling nyata.

Allah subhanahu wataala memuji hamba-hamba-Nya yang bertakwa dengan firman-Nya, al-Qurah Surat Ali Imran: 134,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Inilah makna yunfiquna fis-sarrai wadh-dharra’.

Menjadi teladan dalam bersedekah ketika harta berlimpah adalah sesuatu yang dapat dilakukan banyak orang.

Namun, tetap mengajarkan kemurahan hati kepada anak dan istri ketika penghasilan sedang menurun, ketika dompet mulai menipis, dan ketika kebutuhan terasa semakin banyak, itulah kemuliaan yang tidak dimiliki setiap orang.

Wahai ayah, jangan menunggu kaya untuk mengajarkan sedekah kepada keluarga. Sebab anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang kita lakukan.

Ketika mereka melihat ayahnya tetap menyisihkan sebagian rezeki meski sedang sempit, sesungguhnya mereka sedang menyaksikan pelajaran tauhid yang hidup: bahwa pemberi rezeki bukanlah gaji, bukan pelanggan, bukan usaha, melainkan Allah subhanahu wataala semata.

Boleh jadi suatu hari kita hanya mampu memasukkan beberapa lembar uang ke kotak infak. Nilainya mungkin kecil di mata manusia. Namun, siapa yang tahu? Bisa jadi sedekah itulah yang paling dicintai Allah.

Karena ia lahir bukan dari kelapangan, melainkan dari perjuangan; bukan dari kelebihan, melainkan dari pengorbanan.

Jangan pernah meremehkan sedekah yang diberikan saat keadaan sulit. Sebab sering kali yang paling berat bukanlah mengeluarkan uang dalam jumlah besar, melainkan melepaskan sedikit harta yang sebenarnya sangat kita butuhkan.

Di situlah letak kemuliaannya. Di situlah tampak kejujuran iman seorang ayah yang yakin bahwa apa yang berada di tangan Allah jauh lebih banyak daripada apa yang berada di tangannya sendiri.

Potret Ayah Tangguh Kaum Ansar: Mengutamakan Tamu di Atas Perut Sendiri

Maasyiral muslimin arsyadakumullah,

Sifat mulia ini tercermin secara nyata dari lembaran sejarah emas seorang ayah tangguh dari kaum Ansar.

Suatu hari, datang seorang tamu yang kelaparan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Karena di rumah istri-istri Nabi sedang tidak ada makanan kecuali air, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berseru, “Siapakah di antara kalian yang mau menjamu orang ini malam ini? Semoga Allah merahmatinya.”

Seketika, seorang ayah dari kaum Ansar berdiri dan berkata, “Saya, wahai Rasulullah.”

Sahabat Ansar ini lalu pulang dan berbisik kepada istrinya, “Apakah kita punya makanan? Ini tamu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.”

Istrinya dengan berat hati menjawab, “Demi Allah, kita tidak punya makanan apa-apa lagi, kecuali sedikit jatah makan malam untuk anak-anak kita.”

Perhatikanlah jamaah sekalian, bagaimana ketangguhan mental seorang ayah diuji di sini. Ia tidak panik. Ia justru menenangkan istrinya dan mengambil keputusan besar.

Kalau begitu, hiburlah anak-anak kita agar mereka melupakan makannya. Jika mereka meminta makan, tidurkanlah mereka. Nanti, ketika tamu kita sudah siap makan, hidangkan makanan yang sedikit itu, lalu padamkan lampunya. Kita ikut duduk bersamanya dalam kegelapan agar dia mengira kita juga ikut makan.”

Malam itu, seorang ayah tangguh dan ibu yang mulia menahan perihnya lapar demi mengutamakan tamunya, sementara anak-anak mereka tertidur lelap. Pagi harinya, ketika sahabat ini menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau menyampaikan kabar yang menggetarkan hati,

عَجِبَ اللَّهُ مِنْ صَنِيْعِكُمَا بِضَيْفِكُمَا اللَّيْلَةَ.

Allah kagum terhadap apa yang kalian berdua lakukan kepada tamu kalian malam tadi.”

Allah subhanahu wataala kemudian memuji keluarga mulia ini dengan menurunkan firman-Nya, al-Quran Surat al-Hasyr: 9,

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Meneladani Rasulullah dan Komitmen Ayah Menghindari Utang

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Mari kita renungkan. Manusia paling mulia di muka bumi, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sebagai kepala rumah tangga juga pernah mengalami masa-masa sulit. Bahkan beliau sering mengganjal perutnya dengan batu demi menahan rasa lapar.

Namun lihatlah kemuliaan akhlak beliau. Meskipun hidup dalam keterbatasan, beliau mendidik keluarganya untuk menjaga kehormatan diri dan tidak menggantungkan hidup kepada manusia. Karena itu, sebisa mungkin seorang kepala keluarga hendaknya berhati-hati dalam urusan utang.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam senantiasa berdoa memohon perlindungan dari lilitan utang. Sebab utang adalah beban moral yang berat; ia menghadirkan kegelisahan di malam hari dan sering kali menghinakan seseorang di siang hari.

Para ayah sekalian, jangan mudah tergiur untuk berutang, menggadaikan surat-surat berharga, atau terjerumus ke dalam jeratan pinjaman online yang mencekik hanya demi memenuhi gengsi dan gaya hidup yang melampaui kemampuan.

Sampaikanlah kondisi keluarga dengan jujur dan lembut. Hiduplah secara sederhana. Lebih baik makan seadanya dengan hati yang tenang daripada hidup mewah tetapi dihantui tagihan dan utang yang menyesakkan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, hadits riwayat Muslim No. 1886,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ.

Orang yang mati syahid akan diampuni seluruh dosanya kecuali utangnya.”

Hadis ini menunjukkan betapa besarnya perkara utang dalam pandangan syariat.

Karena itu, berhati-hatilah dalam berutang. Apabila terpaksa berutang, berniatlah dengan sungguh-sungguh untuk melunasinya serta berikhtiarlah semaksimal mungkin untuk menunaikan hak-hak manusia.

Sabar: Prinsip Kepemimpinan yang Proaktif

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Allah subhanahu wataala telah mengingatkan kita jauh-jauh hari dalam kitab-Nya, al-Quran Surat al-Baqarah: 155,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Badai ekonomi tidak akan pernah dapat kita nakhodai kecuali dengan kesabaran yang kokoh. Namun, camkanlah baik-baik: sabar bagi seorang ayah bukanlah sikap pasif yang menyerah dan bertekuk lutut di hadapan kesulitan.

Sabar seorang ayah adalah sikap yang produktif. Sabar adalah kemampuan mengendalikan emosi agar tidak melampiaskan tekanan hidup kepada anak dan istri.

Sabar adalah tetap berpikir jernih ketika keadaan terasa sempit, tetap bersemangat mencari nafkah yang halal meski peluang tampak sedikit, tetap ringan berbagi walau sedang kekurangan, serta tetap menjaga keluarga dari jeratan utang dan berbagai jalan yang diharamkan Allah.

Dengan kesabaran seperti inilah seorang kepala keluarga akan menebarkan ketenangan ke seluruh penghuni rumahnya. Ketika ayah tetap tenang, keluarga akan merasa aman. Ketika ayah tetap optimis, keluarga akan memiliki harapan. Dan ketika ayah tetap dekat kepada Allah, keluarga akan memiliki tempat bersandar yang paling kokoh.

Materi Khutbah Jumat: Ketika Uang Menjadi Ujian

Jika mental seperti ini telah tertanam, maka kebahagiaan sejati akan hadir di tengah keluarga kita, sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hadits riwayat at-Tirmidzi no. 2346,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا.

Barang siapa di antara kalian yang memasuki pagi hari dalam keadaan aman di lingkungannya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia beserta segala isinya telah dikumpulkan untuknya.”

Maka wahai para ayah, janganlah mengukur kebahagiaan keluarga hanya dengan banyaknya harta yang dimiliki. Ukurlah kebahagiaan dengan ketenangan hati, keberkahan rezeki, kesehatan keluarga, dan ketaatan kepada Allah subhanahu wataala.

Sebab betapa banyak rumah yang sempit namun dipenuhi ketenteraman, dan betapa banyak rumah yang luas namun kehilangan kebahagiaan.

Demikian materi khutbah Jumat pada siang hari ini. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang kuat dalam ujian, gigih dalam ikhtiar, lapang dalam berbagi, bijak dalam mengelola rezeki, dan sabar dalam membimbing keluarga menuju surga-Nya. Aamiin.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.

اَللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا.

Ya Allah, cukupkanlah kami, para kepala keluarga ini, dengan rezeki-Mu yang halal sehingga kami mampu membentengi anak istri kami dari yang haram.

Ya Allah, kayakanlah hati kami dengan karunia-Mu yang luas, sehingga kami tidak menjadi ayah tangguh yang mengemis kepada selain-Mu.

Ya Allah, mudahkanlah langkah kaki kami dalam menjemput nafkah, jagalah kehormatan kami dari lilitan utang yang menghinakan, dan jadikanlah kami ayah-ayah tangguh yang mampu membawa keluarga kami menuju jannah-Mu, wahai Dzat Yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Menjadi Ayah Tangguh di Masa Krisis
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading