khutbah jumat singkat hukum mendatangi dukun dan praktik perdukunan dakwah.id

Khutbah Jumat Singkat: Hukum Mendatangi Dukun dan Trik Perdukunan

Khutbah Jumat Singkat
Hukum Mendatangi Dukun dan Trik Perdukunan

Pemateri: Sodiq Fajar

*) Link download PDF materi khutbah Jumat ada di akhir tulisan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

عِبَادَ اللَّهِ: اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ فِي تَقْوَاهُ جَلَّ وَعَلَا سَعَادَةَ الدُّنْيَا والْآخِرَةِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ،

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Kami wasiatkan kepada diri kami juga kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benarnya takwa.

Kemudian merealisasikan takwa tersebut dalam kehidupan nyata dengan menjalankan seluruh kewajiban yang telah Allah subhanahu wata’ala bebankan kepada setiap hamba-Nya yang muslim, berakal, dan telah balig. Lalu menggenapinya dengan amalan-amalan yang hukumnya sunnah.

Juga dengan meninggalkan seluruh larangan dan segala sesuatu yang hukumnya haram. Serta menghindarkan diri dari perkara-perkara yang hukumnya syubhat.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Merupakan kewajiban bagi setiap muslim adalah menjalani kehidupan ini dengan penuh rasa takut dan tunduk kepada Allah subhanahu wata’ala. Menghindarkan diri dari segala bentuk dosa dan kemaksiatan yang dapat mendatangkan marah dan azab Allah subhanahu wata’ala.

Perkara yang paling besar untuk dijauhi oleh setiap muslim adalah perkara syirik. Sebab, syirik adalah bentuk kezaliman yang besar. Sebagaimana wasiat Luqman al-Hakim kepada anaknya yang termaktub dalam al-Quran surat Luqman ayat 13,

يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Perbuatan syirik yang paling akrab dengan diri kita dalam kehidupan sehari-hari adalah perdukunan.

Masih banyak di sekitar kita praktik dukun dan perdukunan. Bahkan, di zaman modern ini sudah bermunculan dukun online, baik dukun pria atau pun dukun wanita.

Apa itu Dukun dalam Islam?

Dukun adalah istilah untuk menyebut pelaku yang melakukan perdukunan. Perbuatannya disebut dengan perdukunan.

Dukun dalam Islam disebut dengan al-Kahinu. Sedangkan praktik perdukunannya disebut dengan al-Kahanatu.

Dalam kitab Raddul Mukhtar karya Imam Ibnu Abidin al-Hanafi, jilid 4 halaman 242 disebutkan,

وَالْكَاهِنُ مَنْ ‌يَتَعَاطَى ‌الْخَبَرَ ‌عَنْ ‌الْكَائِنَاتِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَيَدَّعِي مَعْرِفَةَ الْأَسْرَارِ

Dukun adalah orang yang mengambil informasi dari makhluk-makhluk lain tentang kejadian di masa mendatang dan mengaku mengetahui hal-hal yang tersembunyi.”

Dari sini kita bisa memahami kenapa dukun itu disebut orang pintar, karena ia mengaku diri mengetahui hal-hal yang gaib dan tersembunyi.

Ilmu yang dipakai oleh para dukun disebut dengan ilmu hitam karena ilmu tersebut terkait hubungan manusia dengan makhluk gaib seperti jin atau setan.

Di Indonesia, istilah dukun dan perdukunan ini secara resmi dan tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia telah dicampur dengan aktivitas-aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan hal-hal gaib. Seperti dukun bayi yang sebenarnya aktivitasnya adalah membantu proses persalinan dengan cara tradisional tanpa berurusan dengan hal yang gaib.

Namun, dukun dan praktik perdukunan yang dimaksud dalam materi khutbah Jumat kali ini adalah perdukunan yang berhubungan dengan hal-hal yang gaib.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarh Shahih Muslim jilid 14 halaman 223 menjelaskan, dalam tradisi Arab terdapat tiga bentuk praktik perdukunan.

Pertama, dukun yang bekerja sama dengan jin dalam hal informasi yang ia curi dari langit.

Kedua, dukun yang bekerja sama dengan jin dalam hal informasi tentang apa yang ada di bumi baik yang jaraknya jauh atau pun dekat.

Ketiga, dukun yang mendapat informasi tertentu dari pengamatannya terhadap bintang-bintang. Dukun yang seperti ini kita kenal dengan sebutan ahli nujum, atau al-Munajjim, atau al-‘Arraf. Dalam istilah kita disebut dengan tukang ramal atau peramal.

Sedangkan di Indonesia, kita mengenal banyak sekali praktik perdukunan. Ada dukun santet, dukun pelet, dukun klenik, dukun tenung, dukun pawang hujan, dan lain sebagainya.

Hukum Perdukunan

Bagaimana pandangan Islam tentang aksi dukun dan praktik perdukunan yang melibatkan peran jin dan setan ini?

Para ulama sepakat bahwa praktik perdukunan yang mengaku mengetahui hal yang gaib seperti ini hukumnya haram, karena Allah subhanahu wata’ala telah menjamin hanya Allah subhanahu wata’ala lah yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat an-Naml ayat 65,

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ

Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.”

Allah subhanahu wata’ala hanya akan memperlihatkan hal gaib kepada orang yang dikehendaki-Nya dalam rangka mengemban risalah-Nya, bukan dalam rangka dijadikan sebagai pekerjaan manusia, apalagi untuk dijadikan kebanggaan karena mengetahui hal gaib yang tidak bisa diketahui oleh kebanyakan manusia.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Jin ayat 26 dan 27,

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ. اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ

Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya,”

Imam al-Qarafi rahimahullah, seorang ulama mazhab Maliki, menjelaskan dalam kitabnya Al-Furuq jilid 4 halaman 259,

وَأَمَّا ‌مَا ‌يُخْبِرُ ‌بِهِ ‌الْمُنَجِّمُ مِنْ الْغَيْبِ مِنْ نُزُولِ الْأَمْطَارِ وَغَيْرِهِ فَقِيلَ: ذَلِكَ كُفْرٌ

Informasi yang disampaikan oleh seorang dukun bintang atau ahli nujum yang berkaitan dengan hal yang gaib seperti waktu turunnya hujan atau semisalnya, maka ini adalah bentuk kekufuran.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menyampaikan firman Allah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari hadits nomor 846,

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: ‌مُطِرْنَا ‌بِفَضْلِ ‌اللهِ ‌وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

Di pagi ini ada hamba-hamba-Ku yang menjadi Mukmin kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Orang yang berkata, ‘Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya’, maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata, ‘Hujan turun disebabkan bintang ini dan itu’, maka dia telah kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang’.”

Hukum Mendatangi Dukun

Pertanyaannya, bolehkah seorang muslim mendatangi dukun untuk meminta bantuan dengan ilmu perdukunannya?

Para ulama sepakat bahwa mendatangi seorang dukun untuk meminta bantuan dengan ilmu perdukunannya tersebut hukumnya adalah haram.

Para ulama juga sepakat bahwa membenarkan atau mempercayai informasi yang disampaikan oleh seorang dukun terkait dengan hal yang gaib, ini hukumnya juga haram.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana termaktub dalam riwayat Ahmad hadits nomor 9536,

مَنْ ‌أَتَى ‌كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barang siapa mendatangi seorang dukun atau peramal, lalu ia membenarkan perkataannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap ajaran Islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad.”

Apa konsekuensi dari mendatangi dukun untuk meminta bantuan kepadanya melalui aksi perdukunan yang dilakukannya?

Para ulama sepakat, mendatangi dukun, ahli nujum, para normal, tukang ramal, dan sejenisnya dengan niat meminta bantuan dengan ilmu perdukunan yang dimilikinya, maka ini hukumnya haram.

Allah subhanahu wata’ala tidak akan menerima shalat selama 40 hari orang yang mendatangi dukun seperti ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana termaktub dalam kitab Shahih Muslim, hadits nomor 2230,

مَنْ أَتَى ‌عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barang siapa yang mendatangi tukang ramal dan bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.”

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam kitab Syarh Shahih Muslim jilid 14 halaman 227, maksud dari tidak diterima shalatnya selama 40 hari adalah tidak diterima pahala shalatnya. Sedangkan shalat yang dilakukannya selama 40 hari tersebut hanya menggugurkan kewajibannya dalam menjalankan perintah Allah subhanahu wata’ala, sehingga ia tidak perlu mengulangi shalatnya tersebut.

Uang Hasil Praktik Perdukunan

Lalu bagaimana dengan penghasilan dari praktik perdukunan yang dilakukan oleh seorang muslim?

Imam an-Nawawi rahimahullah, seorang ulama mazhab Syafii, menjelaskan dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, jilid 10 halaman 231,

Umat Islam sepakat atas haramnya upah bayaran dukun, sebab itu adalah upah dari perbuatan yang haram juga merupakan bentuk memakan harta dengan cara yang batil.”

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, hadits nomor 1567, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ ‌وَسَلَّمَ ‌نَهَى ‌عَنْ ‌ثَمَنِ ‌الْكَلْبِ، وَمَهْرِ الْبَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang uang hasil jual beli anjing, mahar seorang pezina (prostitusi) dan upah bayaran dukun.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Melalui mimbar Jumat ini, kami nasihatkan bagi diri kami juga jamaah sekalian, jika di antara kita ada yang sudah terlanjur terjerumus dalam praktik perdukunan, mempelajari ilmu dukun, atau bahkan sudah membuka praktik perdukunan, maka mari segera bertobat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Jika dahulu melakukan itu karena belum tahu ilmu penjelasannya dalam syariat Islam, maka nasehat ini adalah sebuah bentuk nasehat takwa sekaligus ilmu pengetahuan Islam, yang mengajak kepada kita semua untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’ala. Mengesakan Allah subhanahu wata’ala dalam segala hal, termasuk urusan pengetahuan terhadap hal yang gaib.

Ketahuilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membongkar trik dukun dan menjelaskan rahasia praktik perdukunan.

Sebagaimana termaktub dalam kitab Shahih Muslim, hadits nomor 2228,

Sekelompok orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang praktik perdukunan. Lalu beliau menjawab menjawab,

لَيْسُوا بِشَيْءٍ

Mereka itu tidak benar!”

Lalu mereka menanggapi jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, “Ya Rasulullah Kadang-kadang apa yang mereka katakan itu memang benar terjadi.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ ‌قَرَّ ‌الدَّجَاجَةِ، فَيَخْلِطُونَ فِيهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ

Adapun perkataan yang nyata (benar) itu adalah perkataan yang dicuri oleh jin, kemudian ia memperdengarkannya di telinga walinya sebagaimana ia seekor ayam mendengkur, lalu mereka mencampur adukkan isinya lebih dari seratus kebohongan.”

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Demikian materi khutbah Jumat tentang hukum mendatangi dukun dan perdukunan. Semoga Allah subhanahu wata’ala menghindarkan kita semua dari segala bentuk perbuatan syirik dan membimbing kita ke jalan yang lurus. Amin

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اَللّٰهُمَّ مَنْ أَرَادَ أَبْنَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ بِسُوْءٍ فَاشْغِلْهُ فِي نَفْسِهِ، وَاجْعَلْ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ، وَأَدْرِ الدَّائِرَةَ عَلَيْهِ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَة أَمْرِنَا، وأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنا الّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اَللَّهُمَّ ارْبِطْ عَلَى قُلُوْبِهِمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بُلْدَانَ الْمُسْلِمِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Hukum Mendatangi Dukun dan Praktik Perdukunan di sini:

Semoga bermanfaat!

Topik Terkait

Sodiq Fajar

Bibliofil. Pemred dakwah.id

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: