Khutbah Jumat Singkat bersatu dalam kebaikan dakwah.id

Khutbah Jumat Singkat: Bersatu dalam Kebaikan

Terakhir diperbarui pada · 2,303 views

Materi Khutbah Jumat
Bersatu Dalam Kebaikan

Pemateri: Marzuki Ibnu Syarqi

  • Link download PDF materi khutbah Jumat ada di akhir tulisan.
  • Jika ingin copy paste materi khutbah Jumat ini untuk keperluan repost di media lain, silakan baca dan patuhi ketentuannya di sini: copyright

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَمَرَنَا بِالْإِتِّحَادِ وَالْوِفَاقِ وَنَهَانَا عَنِ الشِّقَاقِ وَالنِّفَاقِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ.

عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

فَإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةً، وَكُلَّ ضَلَالَةِ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ.

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Kebersamaan dalam kebaikan adalah keindahan yang didambakan setiap insan beriman. Karena kesatuan memberikan semangat, rasa aman, keberanian, dan kekuatan. Bahkan bersatu dalam berbagai skalanya adalah fitrah, sebab manusia adalah makhluk sosial, memiliki kecenderungan untuk berbaur dan saling berinteraksi.

Dan jiwa akan akrab dengan jiwa-jiwa yang sejenis. Yang memiliki kecenderungan, keinginan, cita-cita, atau lebih dalam lagi ideologi dan keyakinan yang sama, atau bahkan sekadar kepentingan yang sama.

Dua Macam Kebersamaan

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Pada kenyataannya ada sebagian yang salah dalam memaknai persatuan. Ada yang menjadikan persatuan sebagai hal yang mutlak, menjadi ukuran kebenaran, yang terpenting bagi mereka adalah persatuan tanpa peduli apakah persatuan itu dalam kebaikan atau sebaliknya dalam keburukan.

Maka tak jarang dengan alasan demi persatuan, nilai-nilai kebenaran disisihkan. Yang demikian jelas adalah persatuan yang batil.

Bahkan jika kebenaran diukur semata-mata dengan jumlah mayoritas, maka akan rusaklah timbangan kebenaran dan keadilan, sebab kebanyakan manusia justru condong kepada keburukan dan kezaliman.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-An’am ayat 116,

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”

Ketika menjelaskan ayat ini, Syekh as-Sa’di berkata, “Ayat ini adalah dalil bahwa kebenaran tidak diukur dengan banyaknya orang yang menganutnya. Sebagaimana sebaliknya, sedikitnya manusia yang menempuh suatu jalan tidak menjadi ukuran bahwa mereka salah. Bahkan yang sering terjadi adalah sebaliknya. Karena para pemegang kebenaran adalah para minoritas, namun mereka lebih mulia kedudukannya di sisi Allah dan lebih besar perolehan pahalanya. Oleh itu, kebenaran dan kebatilan harus diukur dengan kebenaran jalan yang ditempuh.”

Kaum Nabi Nuh bersepakat untuk menolak dakwah yang disampaikan oleh Nabi Nuh. Tidak ada yang mau beriman, kecuali hanya segelintir orang dari kaumnya.

Namun demikian, Nabi Nuh dan pengikutnya, merekalah yang tetap dinyatakan sebagai pihak yang benar. Sementara kaumnya yang mayoritas sebagai kumpulan orang-orang yang ingkar, sesat dan akhirnya ditenggelamkan oleh Allah bersama kesesatan mereka.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Quran surat Hud ayat 36,

Dan diwahyukan kepada Nuh, ‘Ketahuilah tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat.’”

Kaum Nabi Luth bersatu dalam kebatilan dan kekejian: melegalkan perbuatan asusila yaitu homoseksual, lalu memandang Luth sebagai manusia yang sok suci, nyeleneh karena menyelisihi mayoritas. Hampir saja mereka mengusir Nabi atau membunuhnya.

Namun demikian, persatuan mereka dalam kebatilan itu tidak menjadikan mereka berada di pihak yang benar. Mereka tetap menjadi sekumpulan manusia yang bersatu dalam kebatilan, sehingga akhirnya negeri mereka dihancurkan oleh Allah sebagai hukuman atas pembangkangan mereka.

Allah mengisahkan dalam al-Quran Surat al-A’raf ayat 82 tentang penentangan kaum Luth,

وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهٖٓ اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا اَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ قَرْيَتِكُمْۚ اِنَّهُمْ اُنَاسٌ يَّتَطَهَّرُوْنَ

Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, ‘Usirlah mereka (Lut dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.’”

Demikian pula penduduk Mesir dan pengikut Firaun. Mayoritas mereka tidak mau beriman kepada Nabi Musa.

Nabi Musa dan pengikutnya menjadi minoritas di tengah mayoritas manusia yang kafir, di bawah kekuasaan rezim yang zalim.

Allah menyebutkan dalam al-Quran, Surat Yunus ayat 83,

فَمَآ اٰمَنَ لِمُوْسٰىٓ اِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّنْ قَوْمِهٖ عَلٰى خَوْفٍ مِّنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَاىِٕهِمْ اَنْ يَّفْتِنَهُمْ

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain keturunan dari kaumnya dalam keadaan takut bahwa Firaun dan para pemuka (kaum)nya akan menyiksa mereka.”

Sejarah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pun demikian. Pada awalnya mayoritas penduduk Makkah menolak dan menentang risalah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau dan para sahabat menghadapi berbagai tekanan, penentangan, pengusiran, bahkan penyiksaan dan upaya pembunuhan.

Namun, kebenaran tetaplah sebagai kebenaran meskipun sedikit, terusir, dan tersisih. Sebaliknya, kebatilan tetaplah kebatilan meskipun menjadi mayoritas dan berkuasa.

Bersatu dalam Kebaikan

Persatuan yang sesungguhnya adalah bersatu dalam kebaikan. Ikatannya adalah kebenaran, parameternya adalah keselarasan dengan petunjuk al-Quran dan sunah Nabi.

Inilah persatuan yang harus diupayakan dan dirawat agar selalu terjaga dari hal-hal yang merusaknya. Inilah persatuan dalam Islam, persatuan dalam ikatan iman.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 103,

Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Inilah persatuan yang terpuji, yaitu persatuan memegang tali agama Allah. Tidak berselisih dan bercerai-berai karena masalah yang bukan merupakan prinsip agama, atau karena masalah dunia. Sebab tidaklah patut mengorbankan kesatuan dalam kebenaran untuk kepentingan-kepentingan sesaat.

Mewaspadai Perusak Kesatuan

Sidang jamaah shalat Jumat yang berbahagia

Jika prinsipnya adalah tetap bersama selagi dalam kebaikan, maka umat akan terhindar dari selisih dan perpecahan yang tidak perlu. Di antara hal-hal yang perlu diwaspadai agar kesatuan umat tetap terjaga dan bisa terhindar dari perusak kesatuan umat adalah

Pertama: Kebodohan

Kejahilan berarti ketiadaan ilmu. Ketiadaan ilmu adalah kegelapan. Jika orang-orang yang tidak berilmu berbicara tentang masalah keumatan, maka yang terjadi adalah keributan dan kekacauan.

Apalagi dalam masalah terkait urusan keyakinan dan nilai yang sakral, sangat mudah menyulut pertikaian jika yang membicarakannya adalah orang-orang bodoh.

Kedua: Hawa Nafsu

Ini adalah perusak yang kedua. Nafsu kepentingan pribadi, harta, pangkat, jabatan, popularitas, dan kepentingan golongan adalah termasuk perusak kesatuan umat.

Ketika hawa nafsu sudah dikedepankan, maka ikatan kesatuan umat sangat rentan terurai bahkan terputus. Persaudaraan menjadi barang langka yang sulit ditemui dalam kehidupan, masing-masing akan mencari pendukung dan pengikut untuk menjadi pembela nafsu dan kepentingan. Pada akhirnya, yang menjadi korban adalah umat.

Ketiga: Fanatisme Jahililah

Fanatisme jahiliah ialah sikap fanatik terhadap suku, bangsa, kelompok, atau pemahaman tertentu, lalu menjadikan semua itu sebagai pijakan persaudaraan dan permusuhan.

Sikap fanatik adalah buah dari cara berpikir yang picik dan sempit.

Dalam konteks Islam sebagai sebuah ajaran dan nilai, maka Islamlah yang dijadikan sebagai pijakan persaudaraan dan permusuhan. Dalam konteks kaum muslimin sebagai umat, maka semua umat Islam dengan berbagai latar belakang adalah saudara yang berhak atas hak-hak persaudaraan dengan berbagai tingkatannya.

Apabila persatuan dan persaudaraan dibangun berdasarkan selain Islam, maka ancaman perpecahan adalah niscaya.

Jabir bin Abdullah menuturkan sebuah kejadian pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari hadits nomor 3518,

Suatu ketika kami dalam perjalanan perang bersama Rasulullah. Kemudian terjadi insiden seorang Muhajirin memukul seorang Anshar.

Orang Anshar itu lalu berseru, “Wahai orang-orang Anshar, kemarilah!”

Orang Muhajirin juga berseru memanggil kawan-kawannya, “Wahai kaum Muhajirin, kemarilah!”

Kejadian itu didengar oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lantas beliau keluar dan bersabda, “Ada apa dengan seruan jahiliah itu?”

Mereka kemudian menjawab, “Wahai Rasulullah, seorang Anshar dipukul oleh seorang Muhajirin.”

Rasulullah bersabda, “Tinggalkan seruan jahiliah semacam itu. Ia adalah bangkai yang busuk.”

Dalam konteks pemahaman fikih misalnya, bisa saja berubah menjadi fanatisme jahiliah, ketika persoalan furu’ fikih yang masih dalam ranah ijtihad ulama lantas dijadikan sebagai landasan persaudaraan dan permusuhan terhadap sesama muslim.

Menganggap bahwa pandangan guru, syekh, atau ustadznya yang benar, yang menyelisihinya lalu diasosiasikan sebagai pihak yang salah dan sesat, kemudian membuahkan permusuhan dan perpecahan.

Maka dari itu, marilah kita membuang fanatisme kepada pribadi, ijtihad ulama, kelompok, dan golongan, agar kita sesama umat Islam bisa merekatkan persaudaraan dan meminimalisasi perselisihan.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Demikian materi khutbah Jumat tentang bersatu dalam kebaikan. Semoga Allah Ta’ala membimbing kita menuju jalan yang diridhai-Nya, amiin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

أَحْمَدُ رَبِّيْ وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ.

اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوْبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِيْنَ لَهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى، والتُّقَى، والْعَفَافَ، والْغِنَى.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat dakwah.id
Bersatu dalam Kebaikan
di sini:

Semoga bermanfaat!

Topik Terkait

Marzuki Ibnu Syarqi

Concern terhadap ilmu fikih. Seorang penulis, penerjemah buku, aktif di dunia dakwah dan keilmuan. Pernah mengikuti majelis-majelis ilmu seperti daurah Kitab Tauhid, daurah Mujmal Ashul Aqidah Ahlu Sunnah wal Jamaah, daurah Fiqh Ihtisab, daurah kitab al-Yaqut an-Nafis, kitab Umdatul Ahkam, kitab Mudzakkirat fie Ushul Fiqh, dan lain-lain.

1 Tanggapan

Alhamdulillah
Jazk khoiraan Kastiraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading