khutbah jumat singkat bekal untuk belajar islam dakwah.id

Khutbah Jumat Singkat: Bekal untuk Belajar Islam

Khutbah Jumat Singkat
Bekal Untuk Belajar Islam

Pemateri: Sodiq Fajar

*) Link download PDF materi khutbah Jumat ada di akhir tulisan

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي بَارَكَ هَذِهِ الْأُمَّةَ، وَجَعَلَ مَصْدَرَ عِزَّتِهَا فِي شَبَابِهَا، وَجَعَلَ شَبَابَ الْأُمَّةَ مِنْ أَسْبَابِ النَّصْرِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، الْوَاحِدُ الْأَحَدُ، الْفَرْدُ الصَّمَدُ، الَّذِي رَزَقَنَا وَوَهَبَنَا نِعَمًا كَثِيْرَةً، وَجَعَلَ لَنَا الْأَمْوَالَ وَالْبَنِيْنَ، وَبَارَكَ لَنَا فِي أَمْوَالِنَا وَأَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا وَذُرِيَّاتِنَا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الَّذِي بَارَكَ بِالشَّبَابِ، وَأَثْنَى عَلَيْهِمْ، وَحَثَّهُمْ وَنَصَحَهُمْ، وَكَانَ أَرْفَقُ النَّاسِ بِهِمْ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ كَمَا أَمَرَ. قَالَ اللهُ تَعَالى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wata’ala yang Mahabaik lagi Maha Penyayang. Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui. Kita bersyukur atas segala nikmat dan karunianya.

Mari kita wujudkan rasa syukur itu dalam lisan dengan ucapan hamdalah dan zikir-zikir. Kemudian kita wujudkan rasa syukur itu dalam perbuatan dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Shalawat serta salam mari kita curahkan kepada junjungan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sang nabi mulia. Kepadanya Allah subhanahu wata’ala turunkan firman-Nya,

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)

Demikian pula, shalawat tercurah kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang teguh meniti jalan beliau.

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Hal yang paling penting untuk segera dilakukan oleh generasi muda Islam atau seorang mualaf yang baru masuk Islam adalah memelajari ilmu Islam. Sebab, ilmu Islam inilah yang akan mengantarkan generasi muda kita pada puncak keemasan kejayaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini. Karena memang jika kita runut lebih dalam lagi, penanaman nilai-nilai Islam pada generasi muda semestinya sudah dilakukan oleh para orang tua sejak anak-anak mereka masih dalam kandungan yang dilanjutkan pada fase balita, kanak-kanak, dan seterusnya. Orang tua memiliki peran kunci dalam membentuk generasi muda masa depan; apakah generasi kita tetap berada pada fitrahnya, atau justru menyimpang dari fitrahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab shahih-nya, hadits nomor 1319,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Jika kalimat tauhid dan kecintaan kepada Allah subhanahu wata’ala yang merupakan fitrah manusia telah menancap kuat di dalam jiwa anak sejak kecil, maka kedua orang tuanya tidak akan mengalami kesulitan berarti untuk mendorong anak untuk menjadi insan bertakwa; melaksanakan perintah-perintah Allah subhanahu wata’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Meski demikian, perjalanan mempelajari ilmu Islam itu tidak selalunya mudah. Bahkan, kita sendiri sebagai orang tua yang masih merasa minim pengetahuan ilmu Islamnya pun juga terkadang masih bingung, terkadang masih kesulitan dalam belajar ilmu Islam.

6 Persiapan Sebelum Belajar Islam

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Berikut ini enam hal yang perlu disiapkan jika kita ingin belajar Islam secara lebih mendalam. Harapannya, Allah subhanahu wata’ala memudahkan perjalanan kita dalam mendalami ilmu agama-Nya.

Pertama: Bersihkan Hati

Sebelum mulai memelajari ilmu Islam, hendaknya seorang penuntut ilmu membersihkan hatinya dari sifat curang, kotor, dengki, dan hasad.

Selain itu, juga membersihkan hati dari berbagai keyakinan dan akhlak yang buruk agar layak untuk menerima ilmu, menghafalkan ilmu, mengetahui rahasia-rahasia ilmu, dan hakikat ilmu yang tersembunyi.

Belajar Islam itu selayak seseorang yang akan melaksanakan shalat. Badannya harus bersih dari segala bentuk hadats dan najis. Maka, sebagai sebuah ibadah hati, belajar Islam tidak akan menemukan keberkahannya jika hatinya masih kotor dari sifat buruk dan akhlak yang tercela.

Seorang ulama bernama Sahl bin Abdullah at-Tustari, pernah berpesan, sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Jamaah dalam kitab Tadzkiratus Sami’ halaman 67,

حَرَامٌ عَلَى قَلْبٍ يَدْخُلُهُ النُّوْرُ وَفِيْهِ شَيْءٌ مِمَّا يَكْرَهُ اللهُ.

Hati akan terhalang dari cahaya ilmu selama di dalamnya terdapat sesuatu yang dibenci oleh Allah.”

Kedua: Luruskan Niat

Setelah berusaha semaksimal mungkin membersihkan hati dari berbagai sifat buruk dan akhlak tercela, yang perlu dilakukan dalam belajar Islam adalah meluruskan niat. Ikhlaskan niat belajar hanya untuk mengharap ridha Allah subhanahu wata’ala.

Jangan niatkan belajar Islam untuk mendapatkan obsesi-obsesi duniawi, ingin dipandang sebagai alim, ingin disebut sebagai mubaligh kondang, ingin selalu dihormati dan dipuji-puji masyarakat, ingin mendapat jabatan tinggi, atau tujuan buruk semisal itu.

Memelajari ilmu Islam adalah bagian dari ibadah dan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala. Jika belajar Islam diniatkan ikhlas hanya karena Allah subhanahu wata’ala, ilmu itu akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala dan bertambah keberkahannya.

Sebaliknya, apabila diniatkan untuk selain Allah subhanahu wata’ala, terhapuslah pahalanya, hilanglah keberkahannya, dan merugilah pelakunya.

Ketiga: Qanaah dan sabar

Maksud dari qanaah adalah merasa cukup dengan urusan duniawi. Maksud dari sabar adalah sabar menghadapi segala bentuk ujian selama belajar Islam. bisa jadi ujian itu berbentuk kefakiran, kesempitan hidup, dan semisalnya.

Seorang pelajar, jika memang ingin serius belajar Islam, hendaknya ia merasa cukup dengan fasilitas dan logistik yang seadanya. Karena sejatinya di balik kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian dalam mendalami ilmu Islam, di sana tersimpan keluasan ilmu yang tak bertepi.

Di balik jerih payahnya dalam menjaga fokusnya hati dari berbagai angan-angan dan iming-iming duniawi, di sana terpancar sumber-sumber hikmah.

Imam asy-Syafii rahimahullah memberikan nasehat, “Ilmu Islam ini hanya bisa diraih oleh orang yang merendahkan dirinya, menempuh kesusahan hidup, dan berkhidmat terhadap gurunya.” (Tazkiratus Sami’, Imam Ibnu Jamaah, 71)

Imam Malik rahimahullah juga pernah berpetuah, “Seseorang tidak akan dapat menggapai ilmu seperti yang ia inginkan hingga dia siap untuk ditimpa kefakiran dan mendahulukan ilmu atas segala sesuatu.” (Tazkiratus Sami’, Imam Ibnu Jamaah, 72)

Keempat: Sediakan Waktu

Tips berikutnya adalah menyediakan waktu khusus untuk belajar Islam. Sebagai orang tua, mari kita dukung penuh generasi muda kita untuk belajar Islam secara intensif.

Anak-anak muda, janganlah kalian tertipu dengan panjangnya angan-angan duniawi. Jangan tertipu dengan kebiasaan menunda-nunda waktu. Sesungguhnya setiap detik waktu yang telah berlalu, ia tak akan dapat kita ambil kembali.

Sebagian ulama salaf menganjurkan bagi para generasi yang ingin belajar Islam untuk meninggalkan sanak keluarga dan merantau dari daerahnya.

Baca juga: Menuntut Ilmu Islam Harus Mulai dari Mana?

Kenapa ulama salah menganjurkan demikian? Karena belajar islam itu memang membutuhkan waktu khusus agar bisa fokus. Apabila pikiran terlalu banyak bercabang, makai a tidak akan mampu memahami hakikat-hakikat dan rahasia-rahasia ilmu.

Oleh karena itu, apabila kita atau saudara kita memiliki generasi muda yang benar-benar ingin serius belajar Islam secara intensif, salah satu alternatifnya bisa kita daftarkan belajar Islam di wilayah yang menjadi kantong-kantong sumber ilmu Islam seperti Mekah, Madinah, Mesir, Yaman, Sudan, Mauritania, dan lain sebagainya.

Kelima: Konsumsi Makanan Halal

Salah satu faktor terbesar yang membantu memudahkan seseorang dalam belajar Islam adalah faktor makanan. Seorang penuntut ilmu Islam harus betul-betul memastikan bahwa makanan yang masuk ke dalam perutnya adalah makanan yang halal dan thayyib.

Termasuk di dalamnya: tidak berlebihan dalam memakan makanan.

Imam asy-Syafii pernah mencontohkan,

مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشَرَةَ سَنَةً

Aku tidak pernah makan hingga kenyang sejak enam belas tahun silam.” (Tazkiratus Sami’, Imam Ibnu Jamaah, 74)

Terlalu banyak makan dapat menyebabkan banyak minum. Terlalu banyak minum mengakibatkan banyak tidur, badan lemas, lalu malas belajar, sehingga otak menjadi tumpul, panca indera melemah, dan akhirnya menjadi bodoh.

Keenam: Jaga Pergaulan

Pergaulan dapat memengaruhi tingkat konsentrasi dan semangat dalam belajar Islam. Oleh karena itu, perlu kiranya dalam proses belajar Islam seorang pelajar membatasi pergaulannya.

Bergaullah dengan orang yang banyak belajar dan sedikit bermain. Bergaullah dengan orang yang banyak beribadah sedikit berleha-leha. Bergaullah dengan orang yang bisa memberi manfaat, bukan dengan orang yang membahayakan dan membuat kita tidak selamat dunia akhirat.

Dalam sebuah riwayat, yang termaktub dalam kitab Diwan Ali bin Abi Thalib, halaman 263, sahabat Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan,

Jangan bergaul dengan orang bodoh, jauhilah sejauh-jauhnya. Betapa banyak orang baik yang dijerumuskan oleh orang bodoh gara-gara bergaul dengannya. Sesungguhnya seseorang akan dinilai dengan teman bergaulnya.”

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Demikian materi khutbah Jumat tentang beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebagai bekal untuk mulai mendalami ilmu Islam. Tentu masih ada banyak bekal lainnya yang perlu ditempuh sehingga tujuan inti kemudahan dalam belajar Islam dapat tercapai.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan kita semua dalam mendalam dinul Islam ini, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga ikhtiar kita ini dapat menjadi hujjah kita di hadapan Allah subhanahu wata’ala sehingga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan ridha dan rahmatNya kepada kita semua. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْاَحْيَآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ رُدَّ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ وَفَتَيَاتِهِ إِلَى دِيْنِكَ رُدًّا جَمِيْلًا. اَللَّهُمَّ ارْزُقْ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ التَّقْوَى، وَعَلِّمْهُمُ الرِّضَا، وَأَعِنْهُمْ عَلَى طَاعَتِكَ. اَللَّهُمَّ أَيْقِظْ شَبَابَنَا مِنَ الْغَفْلَةِ، وَأَخْرِجْهُمْ مِنْ وَحْلِ الرَّذِيْلَةِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَلْهِمْهُمْ مَحَبَّتَكَ، وَالرِّضَا بِقَضَائِكَ. اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَجَنِّبْنَا مُصَارِعَ السُّوْءِ. اَللَّهُمَّ إِنَّ نُفُوْسَنَا إِلَيْكَ رَاجِعَةٌ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً وَاسِعَةً، وَارْحَمْنَا رَحْمَةً نَافِعَةً.
اَللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ، بَدِيْعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، اَللَّهُمَّ ارْبِطْ عَلَى قُلُوْبِهِمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Download PDF Materi Khutbah Jumat Bekal untuk belajar Islam di sini:

Semoga bermanfaat!

Topik Terkait

Sodiq Fajar

Bibliofil. Pemred dakwah.id

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: